E-Sabak dalam Sudut Pandang Seorang Ibu. Istilah yang akhir-akhir ini cukup sering Chi baca atau dengar di berbagai media, maupun dalam obrolan-obrolan dengan teman maupun keluarga. Coba aja googling dengan keyword E-Sabak, akan ketemu beberapa berita yang menulis ini. Chi bukan termasuk orang tua yang anti digital. Malah rasanya kami sekeluarga cukup akrab dengan dunia digital. Tapi ketika berita tentang e-sabak ini menyebar, yang langsung terlintas di kepala adalah sudah saatnya kah pendidikan di Indonesia masuk ke era digital?

Sempat terpikir lagi sama Chi, bukankah selama ini sudah ada Buku Sekolah Elektronik (BSE)? Sama-sama digital juga, apa bedanya? Berita yang satu dengan lainnya masih sepotong-sepotong walopun sudah banyak beredar. Selain itu, kita juga dituntut untuk berhati-hati dalam bersikap. Sudah terlalu banyak berita hoax. Semakin banyak yang judulnya bombastis tapi isinya gak nyambung.

Untuk mendapatkan berita terpercaya, akhirnya Chi membaca melalui web kemendiknas. Rasanya gak mungkin berita yang ada di web tersebut hoax, ya. Karena itu web resmi pemerintahan, khususnya kementrian pendidikan nasional.


Menurut Mendikbud, solusi ini berbeda dengan buku sekolah elektronik (BSE) selama ini. Materi ajarnya, kata dia, dibuat interaktif. "Bahan kuis juga bisa dikembangkan lewat E-Sabak,"

sumber: web Kemendiknas (http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/siaranpers/3689)

Oke, berarti pertanyaan tentang BSE terjawab. Walopun belum ada bayangan seperti apa yang dimaksud materi ajar interaktif dalam E-Sabak. Mengingat kurikulum 2013 pun sebetulnya lebih interaktif dibandingkan kurikulum yang lain. Tapi, tetap gak bisa terhindar juga dari pro-kontra. Bahkan, mendiknas pun memutuskan untuk mengevaluasi kurikulum 2013 ini.

Trus, bagaimana dengan urusan internet bahkan listrik? Mengingat dunia digital pasti erat kaitannya dengan kedua bagian itu. Yang di kota aja masih suka byar-pet listriknya. Belum lagi koneksi internet yang kadang lancar, kadang megap-megap. Apalagi katanya E-Sabak ini pertama kali akan diterapkan di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). Selain itu, daerah-daerah yang bukan perkotaan biasanya indah pemandangannya. Masih banyak anak-anak yang bermain-main dengan alam, di gunung maupun di pantai. Bagaimana jadinya kalau mereka sudah terpapar dengan dunia digital? Masihkah mereka bermain-main dengan alam?

Tapi, mari kita serahkan saja kepada yang ahli. Hal-hal diatas hanyalah pertanyaan-pertanyaan Chi yang seringkali suka pengen tau urusan kayak gini. Mari kita kembali kepada bahasan parenting. Apa hubungannya parenting dengan E-Sabak dalam sudut pandang seorang ibu? Ibu yang dimaksud di sini tentu aja Chi. Ibu dari Keke dan Naima.

Baru aja beberapa malam lalu, Chi menonton film di HBO yang judulnya ada angka 40 gitu, deh. Chi lupa judul tepatnya. Lagipula nontonnya gak tuntas karena lebih memilih tontonan lain. Tapi kurang lebih ceritanya itu tentang sepasang orang tua yang mulai galau ketika memasuki usia 40 tahun. Mulai galau karena merasa hubungan mereka itu udah berkurang kemesraannya. Karena udah sibuk sama urusan anak.

Ada satu adegan dimana mereka merencanakan ingin melakukan liburan berdua. Kedua anaknya diwanti-wanti apa yang boleh dan tidak. Anak pertama marah karena ibunya melarang jauh dari laptop dan internetan selama mereka tidak ada. Menurut si anak, itu bukan urusan orang tuanya. Lagipula si anak beralasan ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dengan laptop.

Beberapa tahun lalu, saat kami masih cari SD untuk Keke, ada salah satu sekolah yang mengharuskan siswa-inya mempunya laptop saat kelas 3. Hal ini sempat jadi bahan diskusi Chi dan K'Aie. Bukan hanya berdiskusi tentang biaya. Kalau itu masih bisa kami usahakan dan berdo'a. Insya Allah, kalau memang Allah berkenan, usaha dan do'a kami akan dikabulkan. Kami lebih berdiskusi tentang bagaimana persiapan kami ketika harus memberi anak laptop pribadi.

Memang bisa aja untuk awal, diberi laptop bersama. Artinya, harus bergantian pemakaiannya. Tapi ketika tugas sekolah semakin menumpuk misalnya, bisa jadi secara perlahan laptop tersebut akan berganti kepemilikan menjadi hak milik anak. Nanti, bisa-bisa kejadiannya seperti di film HBO yang Chi baru tonton itu.

Keke dan Nai termasuk anak yang akrab dengan teknologi khususnya dunia digital. PC, laptop, tab, hingga hp sudah menjadi 'pegangan' mereka sehari-hari. Chi dan K'Aie memang gak melarang, malah mengenalkan. Tapi tentu saja kami harus mengawasi dan membatasi penggunaannya.

Selain bermanfaat, kita juga tau sisi buruk dunia digital, diantaranya adalah


  • Obesitas
  • Semakin banyak anak yang berkacamata
  • Kurangnya skill bersosialisasi di dunia nyata
  • Mudah emosi
  • Kurang beristirahat
  • Arus informasi yang tidak terbendung dan bahkan tidak terfilter

Sebetulnya masih banyak sisi buruk dunia digital bagi anak-anak. Bahkan ketika beberapa kali mengikuti talkshow parenting, saat sesi tanya-jawab, hampir semua orang tua menanyakan solusi supaya anaknya tidak kecanduan gadget kepada narasumber. Malah ada juga yang udah mulai kecanduan. Padahal topik talkshow parentingnya kadang gak selalu khusus tentang dunia digital. Tapi, masalah yang dihadapi orang tua tentang dampak dunia digital kepada anak memang sepertinya mulai menjadi masalah yang umum dihadapi banyak orang.

Dunia digital sebetulnya bukan hal yang harus ditakuti atau dihindari. Tapi harus diawasi dan diwaspadai. Harus bisa mengelolanya. Ada beberapa hal yang sudah Chi lakukan supaya Keke dan Nai tidak menjadi anak yang kecanduan gadget.


  • Terus menjalin komunikasi yang baik dengan Keke dan Nai supaya secara bertahap mereka paham mana yang boleh dan tidak dilakukan di dunia maya
  • Memberikan batasan waktu. Mereka boleh bermain gadget setiap hari, tapi bukan berarti setiap saat. Ada waktu-waktu yang sudah disepakati bersama.
  • Olahraga. Keke dan Nai harus rutin berolahraga setiap minggunya supaya tidak mengalami obesitas
  • Bersosialisasi di dunia nyata. Keke dan Nai memang cenderung diam bila bertemu dengan seseorang yang baru. Tapi bukan berarti mereka tidak bisa bergaul. Mereka hanya butuh waktu untuk beradaptasi dan mengenali orang yang baru dikenalnya. Kalau di rumah, bisa dilatih dengan menjauhkan gadget ketika sedang terjadi pembicaraan. Terutama ketika sedang terjadi pembicaraan atau diskusi serius. Mata harus ketemu dengan mata. Bukan hanya mulut yang saling berbicara, tapi matanya menghadap ke gadget masing-masing.

4 hal di atas, rutin dilakukan oleh kami. Mungkin masih ada beberapa hal lain kalau lebih diingat lagi. Setidaknya saat ini Keke dan Nai tidak kecanduan gadget walopun akrab dengan barang-barang tersebut.

Chi pernah membaca komentar, katanya di gadget sebaiknya jangan instal game atau hal-hal gak penting lainnya supaya anak gak kecanduan. Mungkin pendapat itu ada benarnya. Di rumah, kami mencoba memproteksi beberapa kata kunci tertentu supaya kalau sampai dengan (tidak) sengaja anak mencoba, tidak akan bisa terbuka. Tapi permasalahannya kan mereka gak cuma buka gadget saat di rumah. Kalau sudah di luar bisa jadi gak terkontrol kalau kita sebagai orang tua kurang awas atau anak tidak paham mana yang boleh dan tidak.

Selama ini Keke dan Nai selalu meminta izin bila ingin menginstall game. Mereka minta izin bukan karena gak bisa install sendiri, tapi memang peraturan di rumah yang mengharuskan begitu. Jangan salah, anak-anak zaman sekarang itu pintar-pintar, lho.

Dulu mamah Chi pernah punya asisten rumah tangga. Kebetulan ibunya itu pernah jadi ART di rumah kami juga dari Chi bayi hingga SMA. Jadi udah kenal dekat, lah. Waktu baru bekerja, anaknya ini lugu sekali. Kurang lancar berbahasa Indonesia. Bahkan barang-barang elektronik seperti kulkas dan apa fungsinya pun dia gak paham.

Setelah beberapa bulan bekerja, bergaul dengan sesama ART lain, dia pun mulai mengenal HP. Dari situ deh Chi merasa keluguannya sedikit demi sedikit menghilang. Dari yang gak paham barang elektronik, bahkan dia mulai bisa menginstall FB di HPnya. Dari yang mulai gak lancar berbahasa Indonesia, dalam waktu singkat bahasa alay pun dikuasainya. Chi udah pusing kalau dia udah sms dengan bahasa alay. Gak cuma itu, yang mengkhawatirkan adalah ketika mulai punya pacar. Ipload foto-foto dan status kata-kata mesra yang kurang pantas mulai ada di FBnya. Chi dan keluarga seringkali jengah melihatnya.

Karena dia gak bisa dinasehati, kami coba memberi tahu orang tuanya. Tapi dengan alasan itu bukan FBnya, FBnya dihack, dan berbagai alasan lainnya orang tuanya pun percaya kepada anaknya. Orang tuanya percaya lebih karena rasa sayang ke anak, sih. Padahal boro-boro ngerti apa itu hack dan lainnya, FB aja sesuatu yang asing bagi orang tuanya karena mereka memang pasangan yang lugu.

Jadi memang kurang tepat rasanya kalau kita tidak menginstal apapun yang gak perlu di gadget, anak gak akan ngerti. Orang tua yang gaptek, anak juga pasti gaptek. Belum tentu itu. Anak-anak sekarang pintar-pintar.


"Anak-anak hidup di dunia digital. Dunia pendidikan harus mengantisipasi." -Anies Baswedan.

Pendapat Anies Baswedan, menteri pendidikan, itu ada benarnya. Suka atau tidak, dunia digital semakin akrab dengan kehidupan.kami sekeluarga juga banyak merasakan manfaat adanya teknologi digital. Termasuk dalam kegiatan belajar.

Kembali ke E-Sabak, kalau sasarannya adalah daerah 3T, Chi membayangkan mereka yang tinggal di sana adalah mayoritas masyarakat yang masih sangat sederhana pemikirannya. Siapkah para orang tua di sana ikut serta mengawasi dan memberi batasan kepada anak-anaknya bila anak mulai akrab dengan dunia digital? Singkatnya, menjadi orang tua digital juga. Jangan sampe seperti kisah ART yang pernah kerja sama mamah Chi itu.

Sampe sekarang, Keke dan Nai belum punya gadget pribadi. Semuanya masih milik bersama. Bahkan ketika Keke mulai bergabung dengan grup Line teman senagkatannya pun Chi mengatakan masih berhak untuk membaca semua isinya. Chi sendiri gak punya Line tapi tetap mengikuti perkembangan Line karena anak. Memang gak boleh gaptek sebagai orang tua walopun kita bukan pengguna.

Untuk urusan teknis E-Sabak, biarlah mereka yang ahli yang menangani. Mereka pasti lebih paham. Tapi gak ada salahnya kan sebagai seorang ibu yang anak-anaknya akrab dengan dunia digital, mengajak ibu-ibu lainnya dimanapun juga mulai melek dengan dunia digital? Dunia digital seharusnya memang menguntungkan manusia. Tapi manusia juga yang akan membuat dunia digital adalah mimpi buruk. Mau menguntungkan atau mimpi buruk? Semua pilihan ada di diri kita masing-masing :)