Akhir Desember 2013, Keke dan Nai terima rapor semester 1. Tahun ini, Keke mendapatkan kurikulum baru 2013. Jadi, rapornya pun baru. Di bawah ini penampakan rapor barunya.

Kiri - rapor kurikulum baru. Kanan - rapor lama


Rapor baru 2013 lebih besar dan lebih tebal daripada rapor lama. Penyebabnya :


  1. Rapor kurikulum baru isinya seperti rapor TK lagi. Penuh dengan deskripsi. Semua tingkah laku anak kita ditulis. Karena penialain kurikulum 2013 adalah karakter bukan angka.
  2. Ada halaman untuk nilai akademisnya juga. Kalau ini, sebetulnya inisiatif sekolah. Karena rapor kurikulum baru harusnya murni berisi tentang karakter anak selama di sekolah. Tapi kenyataannya, gak semua orang tua setuju dengan penilaian murni karakter. Ada beberapa orang tua yang kurang sreg kalau dalam rapor anaknya mendapatkan 'catatan khusus'. Ada kemungkinan jadinya nanti guru-guru dianggap pilih kasih. Untuk menghindari hal tersebut, sekolah berinisiatif untuk memberikan nilai akademis juga diraport. Setidaknya orangtua dapat menilai sendiri kecerdasan anaknya secara karakter maupun akademis.

Ngomong-ngomong tentang nomor 2, Chi setuju sama inisiatif sekolah. Kurikulum 2013 ini menurut Chi lebih baik daripada kurikulum sebelumnya. Tapi, prakteknya lebh sulit. Resikonya juga lebih besar. Oiya, info lengkap seperti apa kurikulum yang baru, silakan baca tulisan Chi yang berjudul "Kurikulum 2013, Siapkah Kita?"

Menilai karakter anak itu gak semudah memberi penilaian akademis. Di penilaian akademis, guru tinggal menilai melalui hasil ulangan harian, UTS, dan UAS. Semua hasil tes itu pun diberikan ke orang tua setelah dinilai. Jadi, orang tua bisa menilai apakah anaknya bisa mengikuti atau tidak.

Sementara karakter gak sesimpel itu. Kita menilai karakter anak sendiri aja seringkali masih terus mencari. Setiap anak mempunyai karakter yang berbeda. Bahkan sesama saudara kandung sekalipun. Nah, kabayang kan kalau setiap wali kelas harus bisa memahami semua karakter anak muridnya satu per satu?

Kalau gak sesuai dengan harapan orangtua, bisa jadi mereka akan menuduh gurunya pilih kasih. Padahal mungkin guru-guru sudah berusaha menilai karakter masing-masing anak seobjektif mungkin. Makanya, akhirnya sekolah berinisiatif untuk memberi penilaian akademis juga di rapor.

Satu lagi yang suka bikin Chi gregetan kalau ngobrol dengan sesama orangtua yang anaknya juga mendapat kurikulum baru (gak cuma orangtua murid di sekolah Keke aja). Sebelum ada kurikulum baru, suka ada aja yang protes katanya pendidikan di kita ini terlalu mementingkan nilai akademis, bukan karakter. Pelajaran anak-anak semakin susah, bikin anak-anak jadi stress sejak kecil. Materi pelajaran SD aja udah berat banget kayak anak SMA jaman orangtuanya dulu. Belom lagi beban tas sekolah yang sangat berat, saking banyaknya buku pelajaran yang harus dibawa.

Tapi, di kurikulum baru banyak hal yang selama ini jadi protes diperbaiki. Yang diutamakan adalah karakter, materi pelajaran lebih mudah (pas untuk anak SD), dan tas sekolah jadi jauh lebih ringan. Eits, ternyata tetep aja ada yang protes, lho.

Katanya, kenapa bobot pelajaran harus diturunkan. Itu sama aja mundur ke belakang karena gak bikin anak jadi pinter. Kenapa karakter? Nanti gak ketauan anak kita pinter atau enggak. Dan, segala protes lainnya. Yang bikin Chi gregetan, yang protes tuh orangnya itu-itu ajah. Duh, ibu-ibu, bapak-bapak, maunya apa, siiiihhhh? Tapi, ya, sudahlah biar itu jadi problem yang suka serba salah hehehe :p

Gimana dengan Keke? Alhamdulillah, penilaian wali kelasnya baik-baik aja. Sebetulnya, rapor Keke diambil sama K'Aie. Chi ambil rapor Nai. Menurut K'Aie dan juga catatan di rapor, secara umum Chi ambil kesimpulan kalau Keke baik-baik aja selama di sekolah.

Penilaian akademisnya pun alhamdulillah juga bagus-bagus. Mayoritas di atas angka 90. Yang lumayan drop adalah pelajaran bahasa Arab. Keke dapet 78, mendekati KKM. Tapi, Chi coba mengerti penyebabnya, yaitu:


  1. Ini pertama kalinya Keke belajar bahasa Arab
  2. Chi juga selama ini gak pernah belajar bahasa Arab. Jadi, Chi dan Keke sebetulnya sama-sama belajar dari nol hehehe. Sekedar info, bahasa Arab tentu aja beda dengan belajar iqro dan membaca Al-Qur'an, ya.
  3. Di sekolah, menurut cerita Keke, untuk pelajaran bahasa Arab sempet gonta-ganti guru. Awalnya guru yang seharusnya mengajar bahasa Arab, cuti melahirkan. Padahal tahun ajaran baru dimulai. Setelah cuti melahirkan, gak taunya resign. Jadinya, gonta-ganti guru pengganti. Namanya juga gonta-ganti guru pengganti, walopun yang diajarkan sama tetep aja akan beda-beda hasilnya. Dan, mungkin sedikit menimbulkan kebingungan. Udah gitu materi UAS juga salah info. Katanya cuma sampe bab 2, tapi gak taunya sampe bab 3.
    Chi gak menyalahkan sekolah, kok. Chi cuma memaklumi kalau Keke dapet nilai 78 untuk bahasa Arab. Sekarang, tinggal gimana caranya mengajarkan Keke mengejar ketinggalannya dlama bahasa Arab. Walopun Chi juga msih sangat belajar untuk bahasa Arab.

Jadi, seperti itu lah kira-kira rapor kurikulum baru di sekolah Keke. Ada yang udah dapet kurikulum baru juga? :)