Minggu, 11 Januari 2015

E-Sabak Dalam Sudut Pandang Seorang Ibu


E-Sabak. Istilah yang akhir-akhir ini cukup sering Chi baca atau dengar di berbagai media, maupun dalam obrolan-obrolan dengan teman maupun keluarga. Coba aja googling dengan keyword E-Sabak, akan ketemu beberapa berita yang menulis ini. Chi bukan termasuk orang tua yang anti digital. Malah rasanya kami sekeluarga cukup akrab dengan dunia digital. Tapi ketika berita tentang e-sabak ini menyebar, yang langsung terlintas di kepala adalah sudah saatnya kah pendidikan di Indonesia masuk ke era digital?

Sempat terpikir lagi sama Chi, bukankah selama ini sudah ada Buku Sekolah Elektronik (BSE)? Sama-sama digital juga, apa bedanya? Berita yang satu dengan lainnya masih sepotong-sepotong walopun sudah banyak beredar. Selain itu, kita juga dituntut untuk berhati-hati dalam bersikap. Sudah terlalu banyak berita hoax. Semakin banyak yang judulnya bombastis tapi isinya gak nyambung.

Untuk mendapatkan berita terpercaya, akhirnya Chi membaca melalui web kemendiknas. Rasanya gak mungkin berita yang ada di web tersebut hoax, ya. Karena itu web resmi pemerintahan, khususnya kementrian pendidikan nasional.
Menurut Mendikbud, solusi ini berbeda dengan buku sekolah elektronik (BSE) selama ini. Materi ajarnya, kata dia, dibuat interaktif. "Bahan kuis juga bisa dikembangkan lewat E-Sabak,"
sumber: web Kemendiknas (http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/siaranpers/3689)
Oke, berarti pertanyaan tentang BSE terjawab. Walopun belum ada bayangan seperti apa yang dimaksud materi ajar interaktif dalam E-Sabak. Mengingat kurikulum 2013 pun sebetulnya lebih interaktif dibandingkan kurikulum yang lain. Tapi, tetap gak bisa terhindar juga dari pro-kontra. Bahkan, mendiknas pun memutuskan untuk mengevaluasi kurikulum 2013 ini.

Trus, bagaimana dengan urusan internet bahkan listrik? Mengingat dunia digital pasti erat kaitannya dengan kedua bagian itu. Yang di kota aja masih suka byar-pet listriknya. Belum lagi koneksi internet yang kadang lancar, kadang megap-megap. Apalagi katanya E-Sabak ini pertama kali akan diterapkan di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). Selain itu, daerah-daerah yang bukan perkotaan biasanya indah pemandangannya. Masih banyak anak-anak yang bermain-main dengan alam, di gunung maupun di pantai. Bagaimana jadinya kalau mereka sudah terpapar dengan dunia digital? Masihkah mereka bermain-main dengan alam?

Tapi, mari kita serahkan saja kepada yang ahli. Hal-hal diatas hanyalah pertanyaan-pertanyaan Chi yang seringkali suka pengen tau urusan kayak gini. Mari kita kembali kepada bahasan parenting. Apa hubungannya parenting dengan E-Sabak dalam sudut pandang seorang ibu? Ibu yang dimaksud di sini tentu aja Chi. Ibu dari Keke dan Naima.

Baru aja beberapa malam lalu, Chi menonton film di HBO yang judulnya ada angka 40 gitu, deh. Chi lupa judul tepatnya. Lagipula nontonnya gak tuntas karena lebih memilih tontonan lain. Tapi kurang lebih ceritanya itu tentang sepasang orang tua yang mulai galau ketika memasuki usia 40 tahun. Mulai galau karena merasa hubungan mereka itu udah berkurang kemesraannya. Karena udah sibuk sama urusan anak.

Ada satu adegan dimana mereka merencanakan ingin melakukan liburan berdua. Kedua anaknya diwanti-wanti apa yang boleh dan tidak. Anak pertama marah karena ibunya melarang jauh dari laptop dan internetan selama mereka tidak ada. Menurut si anak, itu bukan urusan orang tuanya. Lagipula si anak beralasan ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dengan laptop.

Beberapa tahun lalu, saat kami masih cari SD untuk Keke, ada salah satu sekolah yang mengharuskan siswa-inya mempunya laptop saat kelas 3. Hal ini sempat jadi bahan diskusi Chi dan K'Aie. Bukan hanya berdiskusi tentang biaya. Kalau itu masih bisa kami usahakan dan berdo'a. Insya Allah, kalau memang Allah berkenan, usaha dan do'a kami akan dikabulkan. Kami lebih berdiskusi tentang bagaimana persiapan kami ketika harus memberi anak laptop pribadi.

Memang bisa aja untuk awal, diberi laptop bersama. Artinya, harus bergantian pemakaiannya. Tapi ketika tugas sekolah semakin menumpuk misalnya, bisa jadi secara perlahan laptop tersebut akan berganti kepemilikan menjadi hak milik anak. Nanti, bisa-bisa kejadiannya seperti di film HBO yang Chi baru tonton itu.

Keke dan Nai termasuk anak yang akrab dengan teknologi khususnya dunia digital. PC, laptop, tab, hingga hp sudah menjadi 'pegangan' mereka sehari-hari. Chi dan K'Aie memang gak melarang, malah mengenalkan. Tapi tentu saja kami harus mengawasi dan membatasi penggunaannya.

Selain bermanfaat, kita juga tau sisi buruk dunia digital, diantaranya adalah
  • Obesitas
  • Semakin banyak anak yang berkacamata
  • Kurangnya skill bersosialisasi di dunia nyata
  • Mudah emosi
  • Kurang beristirahat
  • Arus informasi yang tidak terbendung dan bahkan tidak terfilter
Sebetulnya masih banyak sisi buruk dunia digital bagi anak-anak. Bahkan ketika beberapa kali mengikuti talkshow parenting, saat sesi tanya-jawab, hampir semua orang tua menanyakan solusi supaya anaknya tidak kecanduan gadget kepada narasumber. Malah ada juga yang udah mulai kecanduan. Padahal topik talkshow parentingnya kadang gak selalu khusus tentang dunia digital. Tapi, masalah yang dihadapi orang tua tentang dampak dunia digital kepada anak memang sepertinya mulai menjadi masalah yang umum dihadapi banyak orang.

Dunia digital sebetulnya bukan hal yang harus ditakuti atau dihindari. Tapi harus diawasi dan diwaspadai. Harus bisa mengelolanya. Ada beberapa hal yang sudah Chi lakukan supaya Keke dan Nai tidak menjadi anak yang kecanduan gadget.
  • Terus menjalin komunikasi yang baik dengan Keke dan Nai supaya secara bertahap mereka paham mana yang boleh dan tidak dilakukan di dunia maya
  • Memberikan batasan waktu. Mereka boleh bermain gadget setiap hari, tapi bukan berarti setiap saat. Ada waktu-waktu yang sudah disepakati bersama.
  • Olahraga. Keke dan Nai harus rutin berolahraga setiap minggunya supaya tidak mengalami obesitas
  • Bersosialisasi di dunia nyata. Keke dan Nai memang cenderung diam bila bertemu dengan seseorang yang baru. Tapi bukan berarti mereka tidak bisa bergaul. Mereka hanya butuh waktu untuk beradaptasi dan mengenali orang yang baru dikenalnya. Kalau di rumah, bisa dilatih dengan menjauhkan gadget ketika sedang terjadi pembicaraan. Terutama ketika sedang terjadi pembicaraan atau diskusi serius. Mata harus ketemu dengan mata. Bukan hanya mulut yang saling berbicara, tapi matanya menghadap ke gadget masing-masing.
4 hal di atas, rutin dilakukan oleh kami. Mungkin masih ada beberapa hal lain kalau lebih diingat lagi. Setidaknya saat ini Keke dan Nai tidak kecanduan gadget walopun akrab dengan barang-barang tersebut.

Chi pernah membaca komentar, katanya di gadget sebaiknya jangan instal game atau hal-hal gak penting lainnya supaya anak gak kecanduan. Mungkin pendapat itu ada benarnya. Di rumah, kami mencoba memproteksi beberapa kata kunci tertentu supaya kalau sampai dengan (tidak) sengaja anak mencoba, tidak akan bisa terbuka. Tapi permasalahannya kan mereka gak cuma buka gadget saat di rumah. Kalau sudah di luar bisa jadi gak terkontrol kalau kita sebagai orang tua kurang awas atau anak tidak paham mana yang boleh dan tidak.

Selama ini Keke dan Nai selalu meminta izin bila ingin menginstall game. Mereka minta izin bukan karena gak bisa install sendiri, tapi memang peraturan di rumah yang mengharuskan begitu. Jangan salah, anak-anak zaman sekarang itu pintar-pintar, lho.

Dulu mamah Chi pernah punya asisten rumah tangga. Kebetulan ibunya itu pernah jadi ART di rumah kami juga dari Chi bayi hingga SMA. Jadi udah kenal dekat, lah. Waktu baru bekerja, anaknya ini lugu sekali. Kurang lancar berbahasa Indonesia. Bahkan barang-barang elektronik seperti kulkas dan apa fungsinya pun dia gak paham.

Setelah beberapa bulan bekerja, bergaul dengan sesama ART lain, dia pun mulai mengenal HP. Dari situ deh Chi merasa keluguannya sedikit demi sedikit menghilang. Dari yang gak paham barang elektronik, bahkan dia mulai bisa menginstall FB di HPnya. Dari yang mulai gak lancar berbahasa Indonesia, dalam waktu singkat bahasa alay pun dikuasainya. Chi udah pusing kalau dia udah sms dengan bahasa alay. Gak cuma itu, yang mengkhawatirkan adalah ketika mulai punya pacar. Ipload foto-foto dan status kata-kata mesra yang kurang pantas mulai ada di FBnya. Chi dan keluarga seringkali jengah melihatnya.

Karena dia gak bisa dinasehati, kami coba memberi tahu orang tuanya. Tapi dengan alasan itu bukan FBnya, FBnya dihack, dan berbagai alasan lainnya orang tuanya pun percaya kepada anaknya. Orang tuanya percaya lebih karena rasa sayang ke anak, sih. Padahal boro-boro ngerti apa itu hack dan lainnya, FB aja sesuatu yang asing bagi orang tuanya karena mereka memang pasangan yang lugu.

Jadi memang kurang tepat rasanya kalau kita tidak menginstal apapun yang gak perlu di gadget, anak gak akan ngerti. Orang tua yang gaptek, anak juga pasti gaptek. Belum tentu itu. Anak-anak sekarang pintar-pintar.
 "Anak-anak hidup di dunia digital. Dunia pendidikan harus mengantisipasi." -Anies Baswedan.
Pendapat Anies Baswedan, menteri pendidikan, itu ada benarnya. Suka atau tidak, dunia digital semakin akrab dengan kehidupan.kami sekeluarga juga banyak merasakan manfaat adanya teknologi digital. Termasuk dalam kegiatan belajar.

Kembali ke E-Sabak, kalau sasarannya adalah daerah 3T, Chi membayangkan mereka yang tinggal di sana adalah mayoritas masyarakat yang masih sangat sederhana pemikirannya. Siapkah para orang tua di sana ikut serta mengawasi dan memberi batasan kepada anak-anaknya bila anak mulai akrab dengan dunia digital? Singkatnya, menjadi orang tua digital juga. Jangan sampe seperti kisah ART yang pernah kerja sama mamah Chi itu.

Sampe sekarang, Keke dan Nai belum punya gadget pribadi. Semuanya masih milik bersama. Bahkan ketika Keke mulai bergabung dengan grup Line teman senagkatannya pun Chi mengatakan masih berhak untuk membaca semua isinya. Chi sendiri gak punya Line tapi tetap mengikuti perkembangan Line karena anak. Memang gak boleh gaptek sebagai orang tua walopun kita bukan pengguna.

Untuk urusan teknis E-Sabak, biarlah mereka yang ahli yang menangani. Mereka pasti lebih paham. Tapi gak ada salahnya kan sebagai seorang ibu yang anak-anaknya akrab dengan dunia digital, mengajak ibu-ibu lainnya dimanapun juga mulai melek dengan dunia digital? Dunia digital seharusnya memang menguntungkan manusia. Tapi manusia juga yang akan membuat dunia digital adalah mimpi buruk. Mau menguntungkan atau mimpi buruk? Semua pilihan ada di diri kita masing-masing :)

post signature

58 komentar:

  1. Pendampingan orang tua tetap diperlukan ya Mak..
    Btw ini typo ya
    ' Keke dan Nai harus rutin berolahraga setiap minggunya supaya obesitas' (bagian olahraga)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, Mak. Orang tua sebaiknya mendampingi. Apalagi kalau udah era digital.

      Bukan typo, sih. Tapi kurang lengkap kalimatnya. Terima kasih banyak, ya. Sudah saya tambahkan :)

      Hapus
  2. intinya orangtua punda andil ya mak,biar anak2 nggak kelewatan. KAsihan juga kalao lihat kasus anak2 yg kelewatan pegang gadgetnya. Aih sama,pusing kalau dapet sms bahasa alay...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Orang tua justru yang harus yang paling utama punya andil terhadap anak-anaknya, Mak :)

      Hapus
  3. jangan terlalu terpengaruh juga oleh gosip yang belom jelas, apalagi udah dapet pencerahan dari pak Anies (sepupu saya).
    selama hati dan getaran hati bilang bahwa yang kita lakukan adalah bagus, ya lanjutkan saja tentu dengan pengawasan, dan jangan lupa pasrahkan anak-anak hanya kepada-Nya.
    hahay...keren kan komentar saya kali ini?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe ya memang jangan mudah terpengaruh. Makanya di tulisan ini pun saya menulis kalau mencari berbagai media pembanding. Dan, berita dari web kemendiknas lah yang menurut saya paling dipercaya.

      Kalaupun saya mempunyai banyak pertanyaan ttg bagaimana e-sabak nanti bukan berarti saya menggiring para pembaca untuk berpro-kontra terhadap metode ini. Saya pun tidak berpikir negatif dg program ini. Karena seperti banyak tulisan saya di blog ini yang menyangkut pendidikan, pada dasarnya saya bersikap positif saja apapun kurikulumnya atau model pendidikan di negara kita. Siapapun menterinya, siapapun presidennya.

      Saya selalu berpendapat ada yang lebih ahli untuk itu. Makanya daripada berpro-kontra, saya lebih memilih 'meramu' kurikulum yang sedang dijalankan anak-anak saya supaya menyenangkan bagi mereka. Kemudia saya pun berbagi pengalaman tersebut di blog ini. Jadi, apa yang yang saya tulis di sini, semuanya berdasarkan pengalaman pribadi.

      Makanya, ketika saya menulis tentang E-Sabak ini tentu saja saya membahas dari sisi parentingnya. Kami memang tidak tinggal di daerah 3T yang artinya tidak/belum mendapatkan ujicoba E-Sabak. Tapi dari beberapa kali mengikuti talkshow parenting, sisi negatif dari gadget memang mulai marak. Walopun anak-anak saya belum sampai kecanduan, tapi saya juga merasakan sendiri kalau mengawasi dan membatasi anak dengan gadget itu bukan perkara gampang. Di sisi inilah yang saya ulas ditulisan ini. Mengajak para ibu untuk tidak gaptek apabila anaknya sudah mengenal dunia digital.Tentu aja sambil jangan lupa untuk berdo'a. :)

      Hapus
    2. setuju banget sama komentar mak myra di atas :)

      Hapus
  4. Semuanya tergantung kita pemakainya ya mak. Kalau kita bisa memanfaatkannya dengan baik, insyaallah ada manfaatnya juga :)

    BalasHapus
  5. Benar sekali, Mbak, persoalan listrik dan internet yang belum merata di seluruh sudut Indonesia tentu menjadi problem bagi pemerataan hak dasar yang bernama pendidikan bila menggunakan E-Sabak ini. Belum lagi persoalan dunia digital dan atau internet tentu berbeda dengan dunia buku cetak yang lebih mudah pemantauannya. Di dunia internet? Lewat pintu inilah seorang anak yang berkembang keingintahuannya bisa menjelajah apa dan mana saja dengan hanya berbekal kata kunci. Sementara, tentu tidak semua orangtua, terutama yang tinggal jauh dari kota, memahami pentingnya mendampingi anak ketika memasuki belantara internet.

    BalasHapus
    Balasan
    1. banyak efek yang bisa ditimbulkan dari sebuah kebijakan ya, Mas. Semoga pemegang kebijakan bsa mempertimbangkan dengan bijak baik dan buruknya

      Hapus
  6. Kalau menurut saya pribadi sih, kalau buku dijadikan e book ya susah karena biayanya tentunya lebih mahal dan belum tentu aman. Dunia IT itu penuh dengan spam dan virus, bagaimana cara mengatasinya......? Kemudian ekonomi yang belum merata tentu akan menjadi kendala tersendiri dalam pengadaan tab ataupun notebook

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya, semoga baik dan buruknya sudah dipertimbangkan masak2 :)

      Hapus
  7. kalo jaman Ibu saya muda, katanya sekolah (SR) masih pake Sabak.
    eh puluhan tahun berselang malah ada tambahan "e" nya ;)
    hi hi hi

    saya sering baca artikel ini tapi baru kenal pas kemaren
    salam kenal mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. sekarang tambah e di depannya, ya hehe

      Hapus
  8. oh ya, mautanya dong mbak, kalo taruh link hidup di komentar maksudnya apa ya?
    seperti misalnya ini: http://www.kekenaima.com/2015/01/e-sabak-dalam-sudut-pandang-seorang-ibu.html?showComment=1421031032255#c5872801215774617758

    maklum, gaptek he he he.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maksudnya ketika mas Choirul Huda komen di blog saya ini jangan taro link mas disini. Cukup berkomentar aja. Karena itu akan merugikan blog saya. Ya kurang lebih contohnya seperti yang mas tulis itu. Tapi ada cara sendiri dimana link itu akhirnya bisa diklik.

      Amannya sih memang tidak mencantumkan link apapun di kolom komentar. Walopun tidak mencantumkan link apapun, insya Allah saya berusaha berkunjung balik, kok :)

      Hapus
  9. bener mak..anak2 sekarang lebih pinter loh dalam urusan pegang gadget. Kita sebage orangtua emang bener2 harus mengawai ekstra penggunaanya ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. selain extra mengawasi juga jangan gaptek :)

      Hapus
  10. wah aku kalah berarti ama keke dan Nai nih, aku kadang masih belum bisa instal sendiri hahaha...bocah sekarang emang pinter2 deh...

    BalasHapus
  11. ini concern kita bersama, para ortu yang anaknya tumbuh kembang di jaman digital.
    makanya selain week end tanpa mall (hindari sebisa yg kita mampu), interaksi dengan gadget pun dijatah. resikonya dikasih muka manyun sama anak-anak hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak apa-apa sesekali dikasih manyun, Mak. Demi kebaikan hehee

      Hapus
  12. baru tau e sabak malah dari sini, bun, setuju anak2 perlu didampingi ortunya

    BalasHapus
  13. dunia digital memang tak bisa dihindari oleh anak2 pada zaman sekarang ini. Dan kita sebagai ortu harus bisa bijaksana dlm menghadapinya.

    BalasHapus
  14. Wah, bener juga Chi. Kalo kebijakan ini cuma bisa diterapkan di pulau Jawa kan rasanya tidak cukup adil. Sementara pendidikan di luar pulau Jawa saja masih banyak yang tertinggal. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. makanya uji cobanya di luar pulau Jawa. Tapi, sebetulnya efeknya bukan hanya tentang adil dan gak adil, sih

      Hapus
  15. Barang apapun itu tergantung yg pakai. Pisau di tangan mak myra menghasilkan makanan yg sedap si tangan penjahat beda lg..pun dgn gadget. Tergantung megang mo jadi poaitif bisa negatif bisa... disinilah peran ortu jd "polisi" utk anak2 yg belum sepenuhnya memahami jagad dunia maya..
    Tfs mak ^-^

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul banget, Mak. Jaid, kembali lagi bagaimana kita menggunakannya :)

      Hapus
  16. Sebetulnya aku sudah memakai digital untuk pelajaran ya Myr, ada rangkuman untuk Pascal di blog tapi memang khusus untuk dia aja ga aku share ke teman-temannya :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. menyimpan secara digital ya, Lid :)

      Hapus
  17. Orang tua memang harus mendampingi anak ya mak, terutama dengan semakin berkembangnya era digital. Kita tidak bisa menutup mata atau menjauhkan anak dari gadget dsb, karena memang saat ini jamannya anak2 bermain2 dg alat itu. Tapi sebagai orang tua tugas kita mendampingi sambil terus membimbing. Semoga apapun materi atau kurikulum yang diterapkan pemerintah tidak akan merugikan anak2...kasihan kalau anak harus jadi kelinci percobaan untuk sebuah uji coba...

    BalasHapus
    Balasan
    1. dari dulu, apapun kurikulumnya, saya sudah memantapkan diri untuk menolak menganggap anak saya sebagai kelinci percobaan, sih. Walopun syaa tetap mengikuti saja apapun kurikulum yang diberikan :)

      Hapus
  18. Yg terpenting adalah dukungan, pengawasan dan bimbingan orang tua ya mbak.

    BalasHapus
  19. kembali lagi memang pada bagaimana kita melakukan pendampingan.

    BalasHapus
  20. Saya sendiri sama istri sih ga ingin anak jadi steril dari godaan dunia digital, tapi pengennya anak resisten sama godaannya. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup! Untuk itu harus dipersiapkan, ya :)

      Hapus
  21. tantangan kita snagai orangtua dijaman era digital ini ya bun..

    BalasHapus
  22. Segala sesuatu memang perlu dikaji dari berbagai sudut ya Mak, terlebih ini untuk pendidikan anak-anak kita. baik dan buruknya harus dicari, konsekuensi dari hal tersebut apa.... Orangtualah yang memang harus mengawasi semuanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup, orang tua juga jangan tinggal diam :)

      Hapus
  23. Pertama buka artikel ini, pandangan langsung tertuju ke logo laptop yang bersinar. :D

    Iya sih, internet banyak banget perannya di era digital ini. Tapi ga sedikit juga efek negatifnya buat anak. Di sini lah peran orang tua diperlukan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe, visual memang suka langsung terlihat, ya

      peran orang tua untuk meminimalkan bahkan menghilangkan efek negatifnya, ya :)

      Hapus
  24. kenapa kubacanya jadi seblak ya, hehe.. kebayang pedes gurih cemal cemol #OOT

    iya setuju, jangan terlalu membiasakan anak hidup di dalam cengkraman gadget. Batasi waktunya. Lebih baik bermain sepeda, lompat tali, pentak umpet, galasin, dll :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kangen sama permainan zaman dulu, ya. Banyak manfaatnya :)

      Hapus
  25. Semoga niat baik itu direncaakan dengan baik, dipersiapkan dengan, dilaksanakan dengan, diawasi dengan baik da juga dievaluasi dengan baik pula. Yang tak kalah penting, program ini berkesinambungan agar tidak terjadi "ganti pejabat ganti kebijakan"

    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itu dia, Pakde. Saya juga berharap jangan ganti pemimpin, ganti kebijakan :)

      Hapus
  26. Semua yang dilakukan sewajarnya, pasti hasilnya bagus, Chi.
    Sama dengan era gadget sekarang ini.
    Saya justru melihat, anak-anak sekarang udah semacam kecanduan dengan alat-alat elektronik canggih yang mereka miliki...
    Ah, ah, jangan-jangan saya yang udah terlalu tua ya!
    :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. detuju, Mbak. Kalau berlebihan jadinya nyandu. Kalau kurang, bisa jadi akan banyakketinggalan informasi :)

      Hapus
  27. menarik memang...mungkin ini bagian dari inovasi kemdikbud..Saya belum tahu persisi E-sabak seperti apa, tapi percaya bahwa apapun program yang dirancang harusnya sudah melalui analisis yang dalam sebelum diimplementasikan. Di sini, Bo et Obi sudah dikenalkan dengan e-learning, di kelas juga banyak alat bantu yang notabene mengandalkan gadget, seperti multimedia facilities. Mereka juga punya kelas khusus untuk multimedia dan IT. Kita bisa mengecek PR, tugas, dan latihan anak-anak secara online di website yang khusus dirancang untuk ortu dan anak-anak mak..tapi anak-anak tetap banyak menggunakan metode belajar tradisional, dengan buku, alat tulis, dan diskusi di kelas. Mereka jadi terlatih untuk kritis, berani mengungkapkan pendapat, bertanya, dan beragurmentasi. Jadi mungkin perlu berimbang, memperkenalkan segala perkembangan teknologi sambil tetap menggunakan metode konvensional yang memang terbukti mampu mengasah kemampuan anak. Oh yaaa...mereka juga banyak kegiatan outdoor, terutama olahraga mak, karena obesitas memang menjadi satu masalah besar, even before the gadgets are included in the lists of root causes :)...Mereka punya satu hari khusus gym dan dianjurkan untuk banyak bergerak, termasuk saat reses atau istirahat :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kita memang gak bisa menghindari yang namanya teknologi terutama dunia digital ya, Mak. Tapi apa yang telah dilakukan sekolah Bo dan Obi rasanya bisa dicontoh juga. akrab dengan dunia digital, tapi tidak melupakan kegiatan ourdoor dan fisik. Semoga program e-sabak pun begitu

      Hapus
  28. Kalo di liat dari perkenbangan sekrng..dunia digital emang udah jd satu keharusan, cuma ya itu tadi pengawasan dan bimbingan dari orang tua ke pd anaknya gak boleh lepas.
    tapi di lain cetita justru yg menjd keprihatinan.. ga sedikit juga para orang tua yg gak mengetahui dan tau soal gadget apalagi dunia internet..

    BalasHapus
    Balasan
    1. orang tua sebaiknya menjaid pengawas agar anak tidak kebablasan

      Hapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge