Senin, 15 September 2014

Parenthood Style di Era Digital

Parenthood Style di Era Digital
 Sumber foto: twitter @mondeboromon

Postingan ini adalah catatan Chi waktu datang ke acara talkshow "Parenthood Style Di Era Digital" bersama Majalah AyahBunda dan Monde Boromon. Anna Surti Ariani, psikolog, menjadi narasumber pada acara tersebut. Chi diundang oleh pihak Monde Boromon. Terima kasih, ya :)

Banyak yang berpikir kalau era digital itu dimulai pada tahun 90-an. Sebenarnya era digital sendiri sudah dimulai sejak tahun 80-an. Generasi anak-anak kita sekarang adalah generasi Digital Natives. Artinya, sejak lahir bahkan mereka sudah akrab dengan yang namanya benda digital. Misalnya, anak-anak sekarang ketika lahir ditimbangnya pakai dengan timbangan digital. Sedangkan, generasi Chi dan K'Aie termasuk generasi Digital Immigrant.

Pernahkah kita mengetahui apa aja risiko berinternet bagi anak-anak? Ini dia risikonya:
  • Pedofil
  • Akses pornografi
  • Konsumerisme
  • Akses keamanan finansial
  • Cyberbullying
  • Terlibat cybercriminal baik disengaja atau tidak
  • Serangan terhadap privasi
Atau yang besar kemungkinan terjadi dikehidupan sehari-hari bagi anak yang sudah akrab dengan dunia digital adalah:
  • Cenderung kurang sabar
  • Maunya segalanya lebih cepat
  • Agak malas bergerak
  • Kurang mampu menunda keinginan
  • Kurang sensitif pada orang lain
Hiii...! Ngeri, ya! Apa kita gak usah ngenalin anak-anak ke gadget aja gitu? Tapi, pertanyaannya adalah apa mungkin? Susah banget pastinya, ya. Sebetulnya gak perlu sampai menjauhkan anak dari dunia digital. Karena dunia digital juga banyak manfaatnya. Yang perlu dilakukan orang tua adalah meminimalkan pengaruh negatif dan memaksimalkan pengaruh positif.

Orang tua mempunyai andil besar untuk membuat anak terpengaruh positif atau negatif dari dunia digital. Banyak orang tua yang menjadikan gadget sebagai penyelamat supaya anak-anaknya tenang. Atau jangan-jangan kita termasuk orang tua yang sudah terjangkit Nomophobia?

Nomophobia sebetulnya istilah baru dan belum resmi. Tapi, karena sekarang ini banyak orang tua yang mempunyai ciri-ciri Nomophobia, sepertinya cepat atau lambat istilah ini akan menjadi istilah resmi. Adapun ciri-cirinya adalah sebagai berikut:
  • Setiap beberapa menit sekali mengecek ponsel
  • Merasa ponselnya bergetar padahal tidak ada getaran sama sekali
  • Lebih suka berkomunikasi via ponsel daripada bertatap muka
  • Tidak menyadari keadaan disekitarnya karena sibuk memfungsikan ponsel
  • Panik dan kebingungan ketika kesulitan sinyal atau battere menipis
  • Jarang mematikan ponsel
Kalau ciri-ciri tersebut ada pada orang tua, maka bersiap-siaplah orang tua mengantarkan anak pada era keburukan digital. Karena anak-anak itu mencontoh orang terdekat. Dan, biasanya orang terdekat adalah orang tua. Tapi, jangan keburu panik, ya. Masih ada cara untuk meminimalkan pengaruh negatif dan memaksimalkan pengaruh baik, kok.

Minimalkan pengaruh baik dengan:
  • Dibawah 2 tahun jauhkan anak dari gadget
  • Dampingi anak ketika bermain di dunia digital
  • Batasi waktu bermain
Maksimalkan pengaruh baik dengan:
  • Mengenalkan fitur apa saja yang boleh dimainkan anak
  • Carikan anti virus terbaik
  • Carikan software untuk memproteksi anak
  • Minta anak untuk membuat karya dari apa yang dia sukai di dunia digital
  • Bantu belajar bedakan yang boleh diklik dan tidak
Di acara talkshow tersebut, saat sesi tanya jawab, ada seorang ibu yang bertanya tentang bagaimana kalau semua tip sudah dipraktekkan tapi tetap tidak bisa melepaskan anak dari ketergantungan terhadap gadget? Kalau sampai terjadi seperti itu, kemungkinan si anak sudah kecanduan. Anak yang sudah kecanduan penanganannya harus lebih intensif lagi. Bahkan kalau diperlukan melakukan terapi.

Tentang Monde Boromon Cookies

Monde Boromon cookies diperuntukan bagi anak usia 1-3 tahun. Bisa dimakan langsung atau dicampur dengan susu. Adapun manfaat dari Monde Boromon cookies adalah sebagai berikut:
  • Sehat dan higienis - cookies ini mengandung komposisi bahan baku, yaitu sari pati kentang, gula, telur, dan madu. Higienis karena 1 box terdiri dari 6 sachet kecil. Setiap sachetnya cukup untuk 1x makan. 
  • Melatih motorik halus - cookies ini mudah lumer bila terkena air liur. Teksturnya yang lembut memudahkan untuk dikunyah, menguatkan otong rahang, dan melatih kotorik halus di sekitar rahang. Motorik halus pada tangan juga bisa dilatih karena cookies ini mengajarkan anak untuk meraih, memegang, menjepit, dan menggenggam. Membantu kemampuan kognitif mengenal bentuk dan warna. Melatih motorik halus berhubungan dengan ketrampilan fisik yang melibatkan mata dan tangan. Sedangkan kemampuan kognitif berhubungan dengan kreatif dan kecerdasan.
 
  • Bergizi dan baik bagi pencernaan - cookies ini mengandung sari pati kentang yang bebas gluten, sehingga aman dikonsumsi oleh anak yang menderita penyakit celiac, intoleransi gluten, alergi gandum, dan lainnya. Anak yang mengalami obesitas juga aman mengkonsumsi cookies ini.
Monde Boromon cookie memang ditujukan untuk konsumsi anak usia 1-3 tahun. Tapi kalau di atas 3 tahun bahkan orang dewasa ingin mengkonsumsi cookies ini juga boleh, kok. Anggap aja camilan. Setelah Chi cobain, rasanya memang enak!

Selain rasanya yang enak, Monde Boromon cookies ini juga bisa melatih motorik anak. Lihat foto jari Chi yang mencapit cookies itu? Buat kita yang udah dewasa, pasti gampang. Malah gak perlu dicapit, langsung aja digenggam dan makan beberapa butir sekaligus. Tapi, belum tentu bagi anak-anak. Mencapit cookies Monde Boromon termasuk latihan buat jari-jarinya. Belajar berkoordinasi antara mata, mulut, dan jari.

Yang perlu diperhatikan adalah, pada saat makan sebaiknya tidak dibarengi dengan aktivitas lain, misalnya menonton tv, sambil bermain gadget, atau ada juga yang disuapi. Banyak orang tua yang membarengi dengan aktivitas lain dengan alasan supaya anaknya mau makan dengan tenang. Padahal itu salah. Konsentrasi anak akan terpecah belah kalau dibarengi dengan aktivitas lain. Anak tidak mengerti arti kenyang saat makan. Motorik anak juga kurang terlatih. Akibatnya, si anak akan mempunyai masalah sulit untuk berkonsentrasi. Kemampuan motoriknya juga buruk.

Tentunya, kita gak mau jadi orang tua yang mengantarkan anak ke era keburukan digital, kan? Yuk, gak perlu ditakuti tapi dimanfaatkan aja sebaik-sebaiknya dengan mengetahui caranya. Salah satunya dengan melatih pake Monde Boromon cookies, dong :)

post signature

40 komentar:

  1. Gak kebayang sama emak yang gaptek sementara anaknya jauh lebih melek teknologi ... *cermin diri ... hehhehehehhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. makanya sebaiknya jangan gaptek, Mak. Minimal kita paham aplikais apa yang lagi dimainin anak walopun kita gak pakai :)

      Hapus
  2. nanti kalau emaknya belajar dari anaknya itu namanya kebo nusu gudhel... hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi, untuk sikon tertentu gak apa-apa juga sih orang tua belajar dari anak :)

      Hapus
  3. monde boromon enak ya di emut hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. enak, Lid, Camilan favorit saya pas masih remaja hehe

      Hapus
  4. Aku juga mulai membatasi anak-anak, Mommy Chi.. dengan cara membelikan sepeda, membelikan bola, main badminton... apa saja asal mereka LUPA sama gadgetnya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. setidaknya ada penyeimbang ya Mak :)

      Hapus
  5. liatnya aja udah berasa enak,,,apalagi saat dimakan,,,hmmm,,,yummy

    BalasHapus
    Balasan
    1. Monde Boromon memang bisa bikin ketagihan, Mak. Karena rasanya yang enak :)

      Hapus
  6. Ibu masa kini kerjanya lebih ektra ya mak dalam mengawasi anak-anaknya :D
    BTW...itu biskuit imut banget yak... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup, harus semakin awas ketika mengawasi anak2

      Biskuitnya imut karena bisa untuk melatih motorik anak, Mak :)

      Hapus
  7. Terima kasih telah berbagi tips dan seluk beluk parenthood. Bahwa agar tidak menjadikan kecanduan, sejak awal kita sebagai orang tua harus tetap memberikan kontrol yang baik terhadap penggunaan gadget

    BalasHapus
    Balasan
    1. orang tua adalah pihak pertama yang harus mengontrol anak2nya ya Pak :)

      Hapus
  8. Aduh, aku suka kelupaan juga kalau di rumah nih, dikit-dikit ngecek hp. Tapi so far aku selalu bilang sama anak-anakku kalau Mama kerjanya di dunia online dan mengharuskan terkoneksi dengan internet. Dalam hal ini, aku juga nggak bisa menganggap ini sebuah pembenaran, bagaimanapun saat bersama anak, quality time memang perlu dijaga ya. Makasih sharingnya, mak

    BalasHapus
  9. Nomophopia????
    Haduhhh, jangan diriku mula kena sindrom ini?
    Saatnya, mengurangi nge-check Hape. Eh, gak juga sih...kalau pas kerja seringnya hp jauh dr jangkauan sehingga ada WA/sms/telp masuk telat bacanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. pokoknya jangan sampe kena nomophobia :)

      Hapus
  10. Bener banget mak. Anakku cenderung kurang sabar. Mesti diterapi nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin bisa dilatih sendiri dulu di rumah, Mak :)

      Hapus
  11. ah mba myra, makasih buat tulisan ini. Membantu ak banget :)

    BalasHapus
  12. Dampak internet memang luar biasa bahayanya bagi anak anak. Dalam berbagai laporan sering kami menerima informasi dari para orang tua yang kedapatan mengetahui anak anaknya banyak membuka situs tidak baik di sela sela jam istirahatnya. Perlunya pengawasan orang tua lebih ketat lagi terhadap akses interet anak anaknya. Memberikan pengertian kepada anak anak tentang bahaya melihat hal yang tidak baik. Ini memang tugas kita semua para orang tua

    BalasHapus
    Balasan
    1. tugas yang tidka mudah pastinya. Tapi, demi kebaikan anak, kita sebagai orang tua harus mau melakukan :)

      Hapus
  13. Wah bermanfaat sekali mak ulasannya untuk anakku. Anakku cenderung suka dengan gadgetnya, bahkan karena kebiasaan suami yang naruh TV di dalam kamar, akhirnya anakku jadi sering beraktifitas didalam kamar, termasuk makan sambil nonton TV. Ketika TV itu aku pindah ia sudah mulai kebingungan...kayaknya perlu dirubah nih kebiasaan buruk, agar tak menimbulkan efek buruk untuk anakku di kemudian hari...TFS ya mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang dibutuhkan disiplin dan konsisten, Mak. Saya juga kadang2 masih bablas. Harus belajar lebih konsisten lagi

      Hapus
  14. Saya masih sering matikan HP dan masih bisa tidak tergantung pada HP ... alhamdulillah tidak termasuk phobia itu :)

    BalasHapus
  15. saya termasuk yang ngelarang anak megang gadget. tapi susah kalau lagi di rumah sepupunya euy. seolah2 dia main game dipuas2in gitu. heuuuu. emang kitanya sih ya harus kreatif bikin sesuatu yang mengalihkan pikiran si anak (dan para sepupunya!) dari gadget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya pernah bikin postingan ttg sinetron di blog ini. Dimana saya gak pernah membiasakan anak2 menonton sinetron. Tapi, kalau lagi betamu ke rumah sodara pada nonton sinetron.

      Memang sih yang saya tulis itu tentang sinetron. Tapi, mungkin caranya bisa dipakai. Seperti yang Mak Ulu bilang, jangan hanya dilarang. Tapi alihkan anak dengan sesuatu yang menarik

      Hapus
  16. Yup. Anak harus dibatasi berinteraksi dengan gadget. Sekarang aku mulai menerapkan hanya Jumat sore Saptu dan Ahad. Walhasil hari-hari tersebut tidak mau diajak pergi. Ya ampun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi selalu ada efek sampingnya, ya

      Hapus
  17. Kemarin ada bunda yang bertanya apa itu inatagram...susah banget njelasinnya. Gmana mau memprotekai ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau saran saya sebaiknya orang tua harus berusaha belajar, Mak. Dulu, mamah saya punya asisten. Kalau lihat akun FBnya itu 'serem', banyak foto yang terlalu mesra sama pacarnya. Keluarga kami, coba kasih tau orang tuanya karena kebetulan kami kenal baik. Tapi, begitu kami gak ada, si anak blg kalau itu bukan FBnya dia. Itu kerjaan orang iseng. Dan karena orang tuanya itu lugu, jai percaya aja sama penjelasan si anak. Ngeri gak sih kalau kayak begitu? :)

      Hapus
  18. kadang kl males2n hpan mulu tp kl males ditaruah aja hehe....

    BalasHapus
  19. nomophobia = no-mobile-phone-phobia = takut kalo gak ada ponsel. dampak yg bisa aja terjadi kalo kita gak pernah memantau kegiatan anak-anak kita dg ponsel mereka.

    gudjob, Chi ... ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya itu kalau udah kecanduan. Padahal kita tetep bisa terus memantau anak2 tanpa harus kecanduan gadget

      Hapus
  20. duh, aq ini ortu yg termasuk nomophobia juga, harus mulai kontrol diri nih biar nggak ngefek ke anak2

    BalasHapus
  21. Wuih.... era digital ini memang harus pandai mensiasati. Paling ngeri dengan dampak negatifnya. Makanya say amembatasi pemakaian internet anak2.

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge