Senin, 29 September 2014

Olahraga Gak Cuma Bikin Badan Bugar

 Run, Keke! Run!

"Anak-anak sekarang umumnya koordinasi auditif motoriknya jelek." Begitu menurut mbak Anna Surti Nina, psikolog yang berbicara pada talkshow "Parenthood Style di Era Digital." Mbak Nini juga menceritakan pengamalan pribadinya ketika sedang mengajak putranya jalan-jalan sore di seputaran komplek. Tiba-tiba dengan santainya, putranya itu membetulkan tali sepatu yang lepas di tengah jalan. Putranya masih belum menyadari kalau dari arah belakang akan ada motor yang melintas.

Menurut Mbak Nina, anak yang koordinasi auditif motoriknya bagus, akan mempunya reflek atau insting yang bagus. Contohnya, ketika sedang berjalan-jalan, seringkali kita tiba-tiba menengok ke belakang karea merasa akan ada kendaraan yang melintas. Dan, ternyata memang benar ada kendaraan yang melintas. Sedangkan anak yang koordinasi auditif motoriknya jelek, tidak mempunyai insting seperti itu. Anak yang koordinasi auditif motoriknya jelek, mempunya tingkat kewaspadaan yang rendah.

Penyebabnya adalah ketagihan gadget. Solusinya bukan dengan cara menghilangkan gadget dari dunia anak. Karena rasanya di zaman sekarang akan terasa sulit sekali apabila anak dijauhkan dari dunia digital. Tapi, orang tua harus melatih anak. Paling tidak, ajak mereka jalan-jalan di sore hari itu sudah melatih koordinasi auditif motorik mereka.

Berkaitan dengan cita-cita, Chi pun mulai merencanakan supaya Keke mulai konsisten berolahraga silakan baca postingan Chi yang berjudul Mencapai Cita-Cita). Selama ini maish tergantung mood. Kalau lagi pengen main gadget, sehabis pulang sekolah, Keke bisa main komputer atau gadget sampai sore. Tapi kalau lagi senang main diluar, bisa dari pulang sekolah dia main di luar sampe sore. Dari mulai lari-larian, main sepeda, bulutangkis, sampai main sepakbola. Kali ini Chi pengen Keke itu konsisten.

Awalnya, Chi minta Keke itu keliling taman pakai sepeda selama 15 menit setiap sore. Tapi, setelah dipikir-pikir, Keke itu kan negotiator. Apapun di nego sama dia. Kalau disuruh keliling 15 menit, bisa-bisa dia cuma lari 1-2 putaran aja, abis itu ngelamain nego untuk mengurangi jatah waktu olahraga. Begitu udah masuk 15 menit, dia akan kesenengan karena jatah 15 menitnya sudah selesai hahaha.

Akhirnya, peraturan pun Chi ubah. Keke harus putar keliling taman sesuai target yang sudah ditentukan. 20x untuk sepeda atau 10 kali untuk lari. Silakan memilih.
Keke memilih bersepeda. Nai juga kepengen ikutan. Sebetulnya Nai gak wajib ikut. Kalau untuk Nai, Chi minta dia setiap hari berlatih berkreasi. Supaya semakin kreatif dan semakin terlatih tangannya. Tapi, kalau Nai juga kepengen ikut Keke untuk latihan, gak akan Chi larang juga.

Ada 3 manfaat yang bisa dirasakan dengan mengajak Keke dan Nai olahraga setiap sore:
  1. Melatih koordinasi auditif motoriknya agak semakin baik. Apalagi sore hari biasanya jalanan di komplek sudah mulai kembali ramai. Tentu harus lebih hati-hati saat mereka bersepeda.
  2. Membuat badan menjadi bugar. Salah satu ancaman terbesar anak yang kecanduan gadget adalah obesitas. Dengan rutin berolahraga, semoga obesitas bisa terhindar dari Keke dan Nai
  3. Melatih ketekunan
Awalnya, Chi gak terpikir kalau dengan berolahraga itu bisa melatih ketekunan. Chi pikir hanya aktifitas motorik halus, seperti menulis sambunglah yang bisa melatih ketekunan. Ternyata olahraga juga bisa melatih ketekunan.

Keke itu anak yang cerdas, tapi agak kurang tekun. Seringkali grasa-grusu. Chi sering kali mengingatkan untuk masalah ketekunan. Memang sih udah mulai ada perubahan, terutama sejak dia harus sering belajar huruf sambung. Tapi, tetep aja sesekali harus diingatkan untuk urusan ketekunan.

Untuk urusan ketekunan memang berbanding terbalik dengan Nai. Chi seringkali bilang ke Keke dan Nai, kecerdasan yang kita miliki suatu saat bisa dikalahkan oleh orang-orang yang tekun.

Ketika baru pertama kali olahraga, terlihat sekali perbedaan ketekunan antara Keke dan Nai. Sejak awal putaran, Nai selalu konsisten. Kecepatannya tidak bertambah maupun berkurang. Tidak sekalipun dia mau beristirahat. Padahal begitu sampai putaran ke-10, Chi tawarkan Nai untuk istirahat sejenak tapi Nai menolak.

Lain dengan Keke. Waktu awal putaran, dia melesat cukup cepat. Nai tertinggal lumayan jauh karena tenaga Keke untuk mengayuh sepeda kan juga lebih besar. Tapi, baru juga 1 putaran, Keke udah berhenti. Yang dia lakukan adalah nego supaya putarannya dikurangi. Udah ketebak hahaha.

Berbagai alasan dan bujukan coba dia keluarin. Tapi, tetep gak berhasil. Peraturan gak bisa diubah pokoknya. Chi malah beberapa kali mengingatkan Keke tentang ketekunan. Merasa usahanya gak berhasil, Keke kembali melesat dengan sepedanya.

Keke kembali melakukan negosiasi setelah melakukan 1-2 putaran berikutnya. Setelah gagal, dia kembali melesat dengan cepat. Begitu terus hingga putaran ke-10. Memasuki putaran ke-10, Keke mulai konsisten. Kecepatannya pun stabil. Gak mendadak cepat, gak juga mendadak lambat. Nai yang selesai lebih dulu. Keke menyusul kemudian. Hanya selisih 1 putaran saja.

Setelah beristirahat, minum, dan hilang napas ngos-ngosannya, Chi mulai ajak anak-anak untuk berdiskusi.

Bunda: "Pemenangnya tadi adalah Naimaaa..!!"
Nai: "Yeaaaayy!! Ima menang!"
Keke: "Ya udah biarin aja."
Bunda: "Eiii, Keke gak boleh anggap santai begitu. Yuk, kita evaluasi."

Chi lalu katakan kalau pesan Chi yang tentang ketekunan bisa mengalahkan orang cerdas mulai ada buktinya. Buktinya Keke bisa kalah dari Nai. Eits! Chi bukan menganggap Keke itu lebih cerdas dari Nai atau beliknya, ya. Tapi disini Keke punya kelebihan dalam hal energi. Badan Keke yang lebih besar tentu aja seharusnya akan menang kalau lomba sepedaan lawan Nai yang kecil mungil. Tapi, nyatanya yang selesai duluan justru Nai. Itu karena Nai konsisten. Sedangkan Keke dengan segala macam alasan dan bujuk rayu, dia lebih banyak berhentinya. Jadinya malah belakangan selesainya.

Bunda: "Ibarat mobil, kalian itu mengendarai mobil yang sama. Tapi, kalau Keke yang nyetir bensinnya jadi boros."
Keke: "Maksudnya? Kok, bisa?"
Bunda: "Ya, karena kecepatan Keke gak stabil. Nanti tiba-tiba ngegowesnya ngebut, tiba-tiba pelan banget, trus brenti-brenti. Mobil juga kalau jalannya kayak gitu bakal boros bensin. Sama lah kayak Keke, makanya dari tadi ngeluh cape terus. Coba kalau stabil kayak Nai, dari awal sampai akhir segitu aja kecepatannya. Konsisten. Gak akan terasa begitu cape."

Di hari kedua, Keke mulai konsisten untik 10 putaran pertama. Mulai melakukan nego justru di 10 putaran akhir. Chi tetap gak menuruti permintaan dia. Hari-hari berikutnya, Keke mulai konsisten. Gak ada lagi yang namanya nego dan bujuk rayu. Kalau Nai masih terus konsisten sampai sekarang. Cuma, akhir-akhir ini dia lebih memilih lari daripada sepedaan. Gak apa-apa. Pokoknya yang penting sesuai target.
Setiap selesai berolahraga, Chi selalu mengajak mereka untuk melakukan evaluasi dengan santai dan menyenangkan. Jangan lupa smoothies gak boleh ketinggalan. Biar mereka semangat juga olahraganya. Trus, Chi sendiri kapan olahraganya? Pas anak-anak sekolah, lah. Kalau ikutan olahraga bareng mereka, nanti siapa yang ngitung putarannya :)

post signature

58 komentar:

  1. Sekarang paling seneng buat ngjakin anak lari-lari di jalanan kompleks yang untungnya ga terlalu rame. Enak malemnya cepet bobonya. Hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau anak cukup cape sama aktivitas katanya sih bikin cepet tidur juga. Kualitas tidurnya membaik, lah

      Hapus
  2. hahahaha seru nih ya punya anak,duh pingiinnn....heloeh,gagal fokus.Berarti yg auditif motoriknya jelek itu g noleh tiba2 belok aja,ish banyak nih nemu dijalan... aktiitasnya seru^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga segera dikabulkan keinginan Mak Hana untuk punya anak, ya. Aamiin

      katanya begitu, Mak. Tingkat kehati2annya rendah

      Hapus
  3. duuh ,, sesudah kagum dengan ceritanya, trus jadi ngikik deh baca kalimat terakhir ^^

    BalasHapus
  4. acara yg seru dan menyenangkan buat anak2 :) walaupun cape tapi bermanfaat

    BalasHapus
  5. ohhhhh gitu toh yang namanya auditif motorik ........
    ^_^

    BalasHapus
  6. perlu dicoba nih... kebetulan tiap sore duo krucil ke tempat ngaji nya pake motor sama bunda... bisa nih diganti pakai jalan kaki atau sepeda... bundanya jadi ikutan olahraga deh :D
    *malemnya minta injek2in krucil ah kwkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah kalau krucil sampe mau bantuin injek2in kan untuk emaknya hehehe

      Hapus
  7. Anak q itu suka copy paste aq, klo aq lari dia lari, aq main tali dia main tali, tapi bemer2 mau aq ajarin olahraga rajin juga sih mak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. dimana2 anak memang pada dasarnya peniru ulung, Mak :)

      Hapus
  8. Inspiratif tulisannya mbak patut ditiru hehehe....mau ikutan ngajari anakku olahraga ah soalnya sdh obesitas bgt gara2 kecanduan gadget...TFS ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau udah obesitas sebaiknya memang harus olahraga, Mak. Biar lebih sehat juga :)

      Hapus
  9. Inspiratif sekali ya bu kekenaima tulisannya. mengajarkan anak untuk olahraga itu sangat baik ..

    BalasHapus
  10. Hiks, saya mah hampir gak pernah olah raga, dan makannya banyak :((

    BalasHapus
  11. Olaraga memang bagus bagi kesehatan.
    Kelak, olahraga bisa jadi lahan rezeki
    Olahrawagan yang sudah ngetop banyak duitnya kan
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
  12. kalau trek larinya seperti yang gambar ke 1 itu, saya langsung pura-pura pingsan ajah deh ah...:D

    BalasHapus
  13. Olahraga perlu dilakukan sejak dini, anak2 maupun dewasa juga

    BalasHapus
  14. Foto yang paling atas lokasinya bagus ya.
    Dimana lokasinya itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. alun-alun surya kencana, gunung gede

      Hapus
  15. setujuuuu mak :)...go out and play adalah tema kami di rumah sekarang...apalagi karena jam sekolah lumayan panjang, pulang sudah hampir jam 3 siang, plus homework, then outdoor exercise is a must :)..kami memaksimalkan weekend :0)...TFS maaak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. di US ternyata ada PR juga ya, Mak hehe

      Iya, Mak sekarang olahraga memang penting deh. Tabungan kesehatan

      Hapus
  16. Sebenarnya yang membuat anak malas berolahraga atau main di luar karena kebanyakan orangtua yang over protektif, takut kotor takut luka, takut jatuh dan lain sebagainya. Makanya kebanyakan anak-anak jaman sekarang jadi anak rumahan dan olahraganya ya hanya olah raga jari (main gadged atau PS)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hal seperti itu juga bis ajadi penyebabnya, Mas

      Hapus
  17. dikau memang bunda yg oke banget deh Chi..
    semoga anak2 makin semangat olahraganya

    BalasHapus
  18. depan rumah mak chi sepi bget ya,,,enak kalo seperti itu dibuat olahraga,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebentulnya pas olahraga itu, gak lagi sepi juga. Cuma pas di foto pas dapet sepinya :D

      Hapus
  19. bermain bola dan naik sepeda dengan teman-teman dalam area kompleks juga sudah olah raga kan buat anak-anak skalian bersosialisasi. salut untukmu mak yang tekun menemani anak-anak berolah raga.jangan lupa sisi having fun yaitu bermain lebih ditonjolkan supaya Keke gak perlu repot-repot beradu nego ya mak.btw, kompleks rumahnya asri ya jadi pengen ikutan gabung nih sama Keke dan Nai skalian dibikinin smootie jugaaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keke memang selalu bernego dalam kondisi apapun, Mak. Kebiasaannya seperti itu hehe

      Having fun yg saya buat saat olahraga adalah menyediakan smoothies. Sehingga mereka bersemangat :)

      Hapus
  20. memang sesuatu yang menyenangkan untuk anak-anak, salam perkenalan ya bu

    BalasHapus
  21. Wah, ternyata manfaat olah raga nggak hanya untuk kesehatan saja ya mak. Alhamdulillah anakku mulai rajin renang nih mak.

    BalasHapus
  22. Waaa keren nii postingannya teh chiii

    BalasHapus
  23. Mbak Chiiiii...itungin juga putaran lari aku dooong *kayak yg suka lari ajah* hihihhi.
    tapi iya, konsisten itu perlu bgt kalo dalam olahraga.

    BalasHapus
  24. jadi pingin lari-lari juga... nanti bareng dede bayi boleh ngga yaaa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah lagi hamil, ya? Selamat! Semoga selalu sehat :)

      Hapus
  25. Duuuh...dah lama ga OR...kayanya harus larii lagi...tp bukan lari dari kenyataan lho :) ...senangnya OR bareng ma anak-anak


    Salam

    BalasHapus
  26. Suka ih sm postingan nya..

    BalasHapus
  27. Baca artikel ini serasa dibawa ke jaman 90-an. Dulu sebelum ada gadget, mainnya paling banyak diluaran. Klo belum keringetan sambil mukanya hitam kepanasan pada gak mau berhenti :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. anak2 generasi 90an ke bawah memang akrab sama suasana di luar rumah :)

      Hapus
  28. pernah dengar anekdot seperti ini Bu
    "Banyak yang mati mendadak ketika berolahraga, namun sangat jarang orang mati mendadak ketika merokok"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pernah dan sering. Tapi, anekdot seperti ini sebetulnya hanya cocok digunakan oleh orang yang paham maksudnya. Kalau dianggap serius oleh orang yang gak paham nanti jadinya salah kaprah dan bisa berbahaya

      Hapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge