Milenial dan Gen Z Tidak Apatis Politik

By Keke Naima - February 12, 2024

"Gen Z mana tau sejarah. Gen Z taunya bla ... bla ... bla ..."

Rasanya agak gimana membaca kalimat-kalimat seperti itu. Apalagi Chi punya 2 anak Gen Z. InsyaAllah tahun ini menjadi pemilih pemula. Menurut Chi, tidak semua Millenial dan Gen Z apatis politik.


Milenial dan Gen Z Tidak Apatis Politik

Pada dasarnya, Chi memang tidak suka mengeneralisir untuk hal apapun, termasuk urusan politik. Tidak semua Gen Z apatis dan buta politik. Ada juga yang berpikir cerdas dan kritis. Lagipula, faktanya ada juga generasi di atas millenial yang juga masa bodoh bahkan buta sama politik.

Alhamdulillah, Keke dan Nai tidak termasuk yang apatis politik. Chi lihat di berbagai platform media sosial, terutama X, juga banyak anak muda generasi millenial dan gen Z yang cerdas dan kritis beropini tentang politik.
 


Mengajak Anak Berdiskusi tentang Politik


Karena Keke dan Nai pemilih pemula, Chi jadi pengen tau pandangan mereka tentang politik. Tapi, Chi gak pernah sekalipun mengarahkan mereka untuk memilih paslon tertentu. Walaupun seringkali tergoda juga hahahaha.

Chi pernah berada di usia mereka. Usia di mana merasa diri paling tau segalanya. Terkadang juga suka susah dikasih tau. Makanya Chi sadar banget, mengarahkan untuk memilih paslon tertentu malah nantinya bisa bikin mereka kesel.

Lagian Chi lebih tertarik dengan cara pandang mereka. Paling tidak jangan sampai mereka mudah percaya hoaks. Pendapat mereka harus ada alasan yang jelas. Mereka sesekali mengikuti perkembangan berita, membaca buku sejarah, atau menonton juga film dokumenter. 

"5 tahun ke depan, insyaAllah, Keke udah kerja. Bahkan mungkin sudah mulai berpikir menikah. Kalau harga beras masih gak stabil kayak gitu, gimana tuh, Ke?"

Ya, ngomong politik memang gak harus dengan suasana serius. Kayak ngajak orang rapat akhir tahun hehehe. Bisa sambil nonton berita, makan siang bareng, atau apapun lah. Topiknya pun bisa random. Bisa juga disesuaikan dengan situasi terkini.

Atau beberapa hari lalu, Nai menonton film Eksil. Setelahnya dia cerita tentang filmnya sambil kami makan malam nasi uduk sekeluarga di salah satu warung kaki lima. Terkadang gak harus orangtua yang mulai obrolan. Bisa aja anak-anak duluan, kayak waktu itu pernah berdiskusi tentang Aksi Kamisan.

"Lho ternyata tau tentang Aksi Kamisan?"

Ya, kan, katanya anak zaman now gak pernah tau sejarah. Tapi, Alhamdulillah, Keke dan Nai seringkali tau juga sejarah tanpa kami sodorin harus baca ini ini. Mereka aktif mencari tau sendiri.


Tips Agar Anak Mau Berdiskusi Politik dengan Orang Tua


Sebetulnya tipsnya sama aja dengan topik diskusi lainnya. Anak mau berdiskusi dengan orang tua karena merasa nyaman. Apapun opini mereka, orang tua gak mudah menghakimi dengan kalimat, "Kamu tau apa, sih?"

Balikin aja ke diri sendiri, kalau kita ngobrol ma orang trus diremehin gitu juga pasti ilfil, kan. Abis itu gak mau lagi ngobrol ma orang tersebut. Begitu pun dengan anak kalau selalu diremehin ma orang tuanya.

[Silakan baca: Anak Muda Memangnya Tau Apa?]

Apalagi di usia segitu, anak lagi seneng didengerin pendapatnya. Kalau pun dirasa ada yang salah, diarahin pelan-pelan. Perlu juga ajak mereka untuk berpikir.
 
Membuat anak mau berdiskusi juga bukan proses instan. Prosesnya bisa dari mereka kecil dengan terus menjaga bonding. Kayaknya kecil kemungkinan, anak yang tadinya gak dekat sama orang tua, trus tau-tau mau dan bisa ngobrol santai dengan orangtuanya. 

Tidak hanya berdiskusi, bimbing anak agar senang membaca. Meskipun Keke dan Nai juga sama kayak kebanyakan anak di usianya yang lebih sering membuka hp. Tetapi, setidaknya masih ada buku-buku yang mereka baca. 
 
Bahkan Chi sering takjub sama pilihan buku Keke dan Nai. Kayaknya di usia mereka, Chi masih lebih suka baca cerpen, novel remaja, atau malah komik. Mereka seringkali baca buku dengan tema yang cukup berat.

[Silakan baca: 2 Tips Jitu Mengajarkan Anak Membaca]

"Bunda udah mulai tua. 5 tahun ke depan, mungkin udah gak pusing lagi mikirin biaya sekolah. Untuk urusan makan dan kebutuhan harian lainnya pun juga udah gak banyak kalau hanya untuk Ayah dan Bunda. Tapi, Keke/Nai masih masuk usia produktif. Mau jadi apa di 5 tahun ke depan? Pemimpin atau Presiden yang terpilih bisa mempengaruhi hidup kalian melalui berbagai kebijakannya. Jadi berusaha pilih calon pemimpin dengan benar. Perjalanan hidup kalian masih panjang."

Chi gak bermaksud mendahului ketetapan Allah SWT. Tetapi, memilih pemimpin juga bagian dari ikhtiar. Setidaknya kita yakin pemimpin yang dipilih adalah sosok yang tepat. Meskipun akhirnya belum tentu dia yang menang. Paling gak kitanya ikhtiar dulu, lah.

"Hati-hati menyebarkan berita. Kalau sampai berita itu hoaks, tapi kita terlanjur menyebarkan, takutnya jadi dosa jariyah. Naudzubillah min dzalik."

cara memilih paslon pilpres

"Jangan golput, ya. Mendingan kalian pusing sekarang karena menyeleksi calon pemimpin sampai ketemu yang sreg. Daripada pusing 5 tahun ke depan. Ini namanya ikhtiar memilih yang terbaik."

Ya, sesekali boleh membuat pernyataan tegas ke anak hehehe. Penting juga menyelipkan pesan agama ketika ngobrolin politik.

Semoga semakin banyak Millenial dan Gen Z yang tidak apatis politik. Tidak buta sejarah. Manfaatkan dunia digital sebaik mungkin. Berlaku juga nih buat anak-anak di generasi bawahnya. Yuk, jalin terus komunikasi sama anak.

  • Share:

You Might Also Like

20 comments

  1. Aku sebenarnya paling ga suka ngobrol sama orang yang mengotak-kotakkan generasi dan merasa generasinya lah yang paling baik dan super. Contoh seperti, anak jaman sekarang mana pernah merasakan bla bla bla, anak jaman 90an tuh hebat bla bla bla. Setiap generasi memiliki kekuatannya masing-masing. Kalau kita generasi yang lebih tua terus merendahkan generasi muda tanpa mengarahkan kapan mereka bisa jadi lebih baik? Ya kan... anakku sekarang masih TK jadi belum bisa diajak ngobrolin politik entah nanti disebut generasi apa ya? Terima kasih tipsnya bisa ku lakukan buat mengajak diskusi pada topik lain. Tapi buat anak TK baiknya diajak diskusi apa ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama. Saya pun gak suka mengkotak-kotakkan generasi.

      Menurut saya, untuk anak usia dini bisa diajarkan hal-hal dasar, berani bersikap, dibimbing agar senang membaca, dll. Karena menurut saya, hal-hal seperti itu bisa menjadi modal dan benteng kuat buat anak.

      Misalnya, di era gempuran informasi jadi tidak mudah percaya begitu aja. Akan selalu mencari tau. Berani bersikap tanpa ikut-ikutan arus.

      Delete
  2. Alhamdulillah kalau Keke dan Nai mau diajak diskusi politik ya. Politik ga selalu berat dan njwlimet. Yg penting mereka tahu apa saja manfaat melek politik dan bisa berpikir kriris.

    ReplyDelete
  3. Gak semua anak Gen Z gak tau sejarah padahal, banyak juga dari mereka yang memang belajar dan mencari tau. Apalagi politik sekarang, ya memang sih berasa kayak mereka cuek padahal mah yang gak cuek ya ada cuma gak terekspos aja. Semangat memilih Keke dan Nai, semoga apa yang kita pilih pada hari ini menjadi yang terbaik dan membawa Indonesia lebih baik.

    ReplyDelete
  4. Benar Mak, anak-anakku yang masih sekolah pun mulai tertarik dengan politik mungkin karena ramai ya bahas politik pas kampanye, untungnya mereka mau kuajak diskusi jadi paham bagaimana kondisi negara sekarang l, jangan sampai kita salah pilih pemimpin bakal sengsara berjamaah huhu

    ReplyDelete
  5. Sebenarnya banyak juga kok milenial dan gen z yang melek politik
    Tapi emang paling pas ya mengajak anak berdiskusi soal politik di rumah
    Biar anak tak apatis tehadap politik

    ReplyDelete
  6. Aku pun udah ngenalin mereka dengan politik karena mereka gak kenal dengan orde baru dan kekejamannya. Jadi ya dikasihtau dikit-dikit. Sepertinya buku sejarahnya gak update ya.

    ReplyDelete
  7. anak sulungku tahun ini ikutan nyoblos. Lima tahun ke depan anak kedua ikutan pemilu. Ternyata kita udah tua ya hahah... emang perlu banget ikhtiar memilih pemimpin. Sebagai orang tua kami terus memberikan pengarahan agar anak-anak mengetahui informasi yang benar dan akhirnya memahami apa pilihannya.

    ReplyDelete
  8. Banyak sekali memang yang melatarbelakangin seseorang untuk memilih sesuatu.
    meski agak gak nyambung, tapi aku cuma mau bilang, alhamdulillah ada pilihan. Daripada beberapa tahun silam, saat aku masih kecil, pilihannya memang ada beberapa, tapi yang menang uda pasti salah satu paslon. Ini agaknya menjadi sejarah kelam Indonesia sih yaa..

    Semoga genzi semakin paham pentingnya memilih dengan mencari tau sebanyak-banyaknya fakta masing-masing paslon dari berbagai sumber terpercaya.

    ReplyDelete
  9. Iya nih nbak, sejak jadi ibu prioritas dan pandangan hidup beda, malah yang banyak dipikirin adalah masa depan anak.
    Btw soal politik, jangankan yg anak2 remaja atau kuliahan, ini di rumah bocil2 SD juga udah tahu copras capres bahkan punya pilihannya.
    Diskusi juga tapi ya lbh santai ma lucu2an ajaa.
    Sebagai ortu jangan sampai generasi selanjutnya apatis pada politik yaa. tahun ini aku pun melihat banyak genzi antusias pada poliyik, udah ada capres yang membuat politik jd lbh fun buat diobrolin.
    Semoga ke depannya edukasi politik untuk anak2 muda makin baik yaaa

    ReplyDelete
  10. Bagus lhooo sejak dini sudah melek politik. Jadi anak2 bisa mempertimbangkan calon pemimpin negara yang tepat menurut pandangan mereka. Terlepas dari menang atau kalah si calon ini, paling tidak sudah ada ikhtiar utk memilih.

    ReplyDelete
  11. Bersyukur anak-anak yang tahun ini menjadi pemilih pemula sudah memantau pergerakan peta politik Indonesia.

    Dan kami tuh sering banget diskusi tentang karakter para pemimpin bangsa, mulai dari presiden pertama hingga yang sekarang, jadi anak-anak memiliki bekal yang baik. Nah, sebelum memilih juga kami diskusi loh, karena kan tiap kepala punya pemikiran sendiri-sendiri.

    ReplyDelete
  12. Nah, penting banget nih biar gen z dan milenial bis amelek politik, tidak sebaliknya yaitu apatis. Bagaimanapun nantinya mereka yang menjadi penerus.

    ReplyDelete
  13. Saya udah apatis duluan mbak, semcam pesimis sama pemerintahan.
    Boro-boro ngajak anak ngomong politik, saya sendiri aja udah hilang semangat, hehe
    Padahal penting ya untuk paham setidaknya sedikit tentang politik. Minimal paham visi misi dari pasangan yang akan kita pilih.
    Duhh, gimana ini biar bergairah lagi untuk mau melek ya, hehee

    ReplyDelete
  14. Setiap generasi ada plus minusnya ya, tapi bukan berarti generasi satu lebih baik dari generasi lainnya. Apalagi di zaman sekarang, semua serba mudah diakses.
    Anak-anak muda gen Z juga jadi lebih melek politik.

    ReplyDelete
  15. Gen Z di rumah saya awalnya juga mau milih "pasrah" katanya, kalau sudah terbaca dari awal siapa yang mau menang, bukannya Pemilu itu mubadzir, jadi kita diskusi yang namanya ikhtiar memilih dari calon yg ada, yang paling sedikit mudharatnya, kalah menang itu biasa dalam kompetisi. Anaknya senyum, 'iya sih' dan pas hari H semangat ke TPS :)

    ReplyDelete
  16. Mengenalkan anak pada dunia politik, menurut saya, adalah kewajiban pendidikan yang dimulai dari orang tua atau keluarga atau lingkungan terkecil dari seluruh masyarakat. Tentu saja pada saat anak-anak sudah memiliki nalar yang tajam pada berbagai unsur kehidupan. Anak-anak harus sadar bahwa pengetahuan politik kita akan berpengaruh pada banyak sisi kehidupan dan masa depan bangsa. Alhamdulillah, saya sendiri sudah melakukan ini saat anak-anak saya SMP. Pelan-pelan ngasih pemahaman dan mengajak mereka agar lebih kritis saat tiba waktunya mereka memilih.

    ReplyDelete
  17. PilPres 2019, saya dan keluarga besar hampir satu suara
    Beda dengan PilPres 2024, tapi saya senang karena berarti kita berbeda namun tetap saling menghargai
    Geliat gen Z di media sosial juga bikin bangga, karena muncul anies bubble yang mirip K-pop terus ada Desak Anies selepet imin dll

    ReplyDelete
  18. sebagai generasi muda jaman now memang jangan apatis sama politik,
    terlebih buat pemilu tahun ini yang unik, jadi menarik untuk sampaikan hak suara

    ReplyDelete
  19. Krucil saya baru kelas 2 SMP, tapi kemarin sudah ngomong soal paslon 1,2 dan 3, Mbak. terus antusias juga menyimak perhitungan suara. kayaknya dia tidak sabar ikut nyoblos juga. Makanya kalau dia ngomong politik, saya simak saja. kalau sudah jauh membahas, saya rem juga. Biar dia tau politik seusai usainya saja hehehe.

    ReplyDelete

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^