Saturday, June 26, 2021

Mamah Sudah Divaksin Sinovac untuk Lansia

Mamah Sudah Divaksin Sinovac untuk Lansia awal Maret untuk yang pertama. Sedang awal April untuk yang kedua. Jedanya memang sebulan.
 
persiapan traveling agar perjalanan aman dan menyenangkan
Mamah pakai double masker saat ke rumah sakit. Padahal saat itu belum ada himbauan untuk menggunakan 2 masker


"Kapan, ya, mamah divaksin?"

Berkali-kali mamah bertanya seperti itu. Terutama sejak mulai beredar berita kalau vaksin sudah mulai diproduksi. Mamah semakin sering bertanya ketika tau kalau adik Chi yang tinggal di US sudah divaksinasi.

"Indra aja udah divaksin. Masa' mamah belum?"

Hadeuuuhh, Mah. Beda kali pelaksanaan vaksinasi di US dan Indonesia hihihi. Chi berusaha memaklumi aja, lah. Sangat maklum karena pandemi memang sangat melelahkan lahir dan batin. 
 
Mamah nyaris tidak pernah ke mana-mana sejak pandemi. Sekadar ke minimarket depan komplek pun tidak dilakukan. Belanja sayur pun diantar ke rumah.

Mungkin secara fisik, Mamah kelihatan tidak capek. Tetapi, sangat kangen sekali dengan anak dan cucu. Lebih dari 6 bulan di awal pandemi, kami gak ketemu sama sekali. Hanya berkomunikasi lewat smartphone dan sesekali video call. Mamah juga kangen ingin ke kuburan papah.
 
Mamah sempat agak mutung karena dapat kabar kalau lansia gak boleh divaksinasi. Chi memahami kesedihan mamah. Juga harus jelasin beberapa kali kalau semua vaksin saat ini masih bersifat darurat. Jadi tentu harus berhati-hati penggunaannya. 


Banyak Pilihan Lokasi Vaksinasi COVID di Jakarta

 
Ketika mengetahui kabar kalau vaksin untuk lansia sudah ada, kami gerak cepat mencari informasi cara mendapatkannya. Mamah memiliki KTP DKI, tapi sudah tidak tinggal sesuai dengan domisili yang ada di KTP. Makanya kami harus aktif mencari informasi.

Tadinya mamah mau ikut di tempat adik Chi. Mamah sedang tinggal di sana untuk beberapa waktu. Ternyata, rumah sakit dan puskemas terdekat hanya melayani vaksinasi yang sesuai dengan domisili. Mau bikin surat domisili, pak RTnya baru aja wafat karena Covid.Adik Chi juga warga baru di sana. Jadi masih bingung mengurus berkas kalau pak RT udah wafat.

Di puskesmas dekat rumah Chi juga bisa, asalkan ada surat domisili. Tadinya mau diurus ke pak RT. Tetapi, kemudian adik dapat kabar kalau RS Duren Sawit menerima semua peserta vaksinasi dari mana pun. Asalkan  memiliki KTP DKI. Gak harus daftar online juga. Bisa langsung datang ke lokasi.
 
Alhamdulillah, di Jakarta banyak pilihan lokasi vaksinasi COVID-19. Gak bisa di tempat kita tinggal, kemudian langsung dapat informasi tempat-tempat lainnya. Mamah juga bisa dapat kuota dari kantor adik Chi. Tetapi, karena udah lebih dulu divaksinasi di RS Duren Sawit, maka mamah gak daftar lagi.

 

Tekanan Darah Mendadak Tinggi Menjelang Divaksinasi

 
Adhi: "Teh, mamah tensinya tinggi sampai di atas 200. Udah beberapa kali diulang cuma turun dikit. Diulang lagi aja atau gak jadi vaksin?"
 
Chi: "Coba ulang 2-3x lagi. Kalau masih tinggi juga, ajak pulang aja. Gak bagus juga buat mamah berlama-lama di rumah sakit. Insya Allah tetap sehat meski pun gak divaksinasi."
 
Adhi: "Iya, Teh."
 
Perbincangan pagi itu antara Chi dan adik via Whatsapp. Sebelum divaksin, peserta diberikan beberapa pertanyaan dulu. Khusus untuk lansia ada pertanyaan tambahan yaitu
 
  1. Apakah kesulitan menaiki 10 anak tangga?
  2. Apakah sering merasa kelelahan?
  3. Apakah memiliki paling sedikit 5 dari 11 penyakit yaitu hipertensi, diabetes, kanker, penyakit paru kronis, gagal jantung kongestif, serangan jantung, asma, nyeri dada, nyeri sendiri, dan penyakit ginjal.
  4. Apakah mengalami kesulitan berjalan kira-kira 100-200 meter
  5. Apakah mengalami penurunan berat badan yang bermakna dalam 1 tahun terakhir?
 
Alhamdulillah, mamah tidak mengalami semuanya. Kalau pun tensi mamah tinggi saat mau divaksinasi bukan karena hipertensi.
 
Tekanan darah naik belum tentu karena hipertensi. Ada banyak penyebabnya. Stress dan kecapean juga bisa membuat tensi menjadi tinggi.
 
Ketika Chi menceritakan tentang tensi mamah yang mendadak naik menjelang divaksinasi, banyak yang mengalami hal sama. Dan, gak semuanya lansia. Beberapa teman mengalaminya sendiri. 
 
Bisa jadi memang penyebabnya karena capek. Mungkin di jalanan terkena macet atau susah cari parkiran. Stress karena mau disuntik juga bisa menjadi salah satu penyebab.

Mamah memang takut saat mau divaksinasi. Selama pandemi gak pernah keluar. Sekalinya keluar malah ke rumah sakit terus. Tempat yang paling berisiko terhadap virus. 
 
Selama di rumah sakit, mamah gak berani minum. Padahal katanya haus banget menunggu lumayan lama. Mamah juga bawa botol minum sendiri. Tetapi, takut banget buka masker, Mana ketika dipanggil gak boleh ditemenin. Semakin membuat mamah tegang.
 
Para nakes gak akan langsung meminta peserta vaksinasi pulang bila tensi di atas 180. Peserta diminta untuk beristirahat sekitar 10-15 menit untuk kemudian ditensi lagi.
 
Ada sekitar 4-5x mamah diulang. Berarti hampir 1 jam lamanya. Makanya Chi menyarankan ke adik untuk dibawa pulang aja bila tinggi terus. Nanti di rumah diajak ngobrol biar gak tegang kalau diajak vaksin lagi.
 
Selama pandemi, kan, mamah di rumah aja. Sekalinya ke luar rumah untuk ke periksa kulitnya yang gatal. Ke luar rumah yang kedua dan ketiga untuk vaksinasi. Selain itu, mamah hanya di rumah.

 
Insya Allah tetap aman meski gak divaksin. Tinggal kitanya aja yang masih ke luar rumah untuk lebih ketat dengan prokes. Jangan sampai bawa virus ke rumah. Apalagi sampai nularin semua orang. Naudzubillahi min dzalik. 

Vaksinasi kedua bukan berarti menjadi lebih lancar. Mamah malah lebih banyak pengulangan tensinya. Kata mamah, saat vaksinasi kedua justru perasaannya lebih tegang. Makanya tensinya susah turun hehehe.


Vaksinasi Pertama dan Kedua Harus di Tempat yang Sama


Alhamdulillah, vaksinasi Sinovac mamah sudah komplit. Jeda antara yang pertama dan kedua itu sebulan karena lansia. Menurut nakesnya, kalau yang lebih muda jedanya 2 minggu.

Menurut mamah, RS Duren Sawit tempat mamah divaksinasi pelayanannya bagus dan tertib. Para nakesnya juga ramah.

Banyak tingkah laku para lansia yang udah kayak anak-anak lagi. Udah dibilang jangan mondar-mandir atau turun-naik tangga, tetapi tetap aja dilakukan. Super duper sabar, deh, para nakesnya. Kata mamah udah kayak di sekolah TK hehehe.

Tetapi, antreannya memang lama. Karena go show, K'Aie yang jalan duluan ke rumah sakit setelah sholat Subuh untuk ambil nomor. Sekitar pukul 7 pagi, mamah dan adik berangkat. Sampai sana masih harus menunggu sekitar 3 jam. Agak melelahkan bagi lansia.

Makanya kami berencana mencari lokasi vaksinasi yang bisa drive thru aja untuk tahap 2. Biar mamah bisa istirahat di mobil ketika menunggu.

Ternyata gak bisa. Mamah harus divaksinasi kedua di tempat yang sama. Untungnya pengalaman kedua gak lama antreannya. Karena pihak rumah sakitnya duluan yang menghubungi. Mengingatkan jadwal vaksinasi kedua. 
 
Mamah termasuk yang awal divaksinasi. Jadi, Chi gak tau peraturannya masih sama atau enggak. Seharusnya, sih, kalau semua data masuk ke situs Peduli Lindungi, bisa divaksinasi di mana pun untuk dosis berikutnya, ya. Tinggal lihat datanya aja. Tetapi, memang ada baiknya tanya dulu, deh. Siapa masih harus di tempat yang sama atau bisa beda.


Efek KIPI Setelah Divaksinasi Sinovac


Setelah divaksinasi jangan langsung meninggalkan lokasi. Tinggal dulu sekitar 30 menit untuk memantau ada efek KIPI atau tidak. Bila terjadi efek yang berat, kan, bisa langsung segera ditangani.

Setelah vaksinasi pertama mamah gak merasakan efek apapun. Biasa aja seperti sebelum divaksin. Mamah baru merasakan ada efeknya saat yang kedua. Mengantuk luar biasa sampai gak bisa ditahan. Seharian setelah divaksin, Mamah tidur terus. Alhamdulillah, hanya itu efek yang mamah rasakan pasca divaksinasi.

Baidewei, seminggu yang lalu, Chi dan K'Aie baru aja divaksinasi AstraZeneca. Serem gak efek KIPInya? Nanti Chi ceritakan, ya. 

Pokoknya yang penting udah divaksin pun tetap wajib patuh protokol kesehatan 5M. Indonesia masih jauh dari herd immunity. Jadi, jangan abai dengan prokes dan bersedia divaksin kalau ingin pandemi berakhir.
 
Keke Naima
Keke Naima

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

42 comments:

  1. Alhamdulillah mamah Mbak Myra sudah divaksin 2x ya. Semoga senantiasa sehat dan makin kuat.

    Kalau dengar dari cerita teman-teman lain yang orang tua atau saudaranya vaksin, memang ada beberapa yang mengalami tensi tinggi saat hendak vaksin. Kemungkinan katanya karena faktor kelelahan, misal kelamaan antri, kepanasan, dehidrasi, dll. Mungkin karena tegang juga ya. Aku pernah baca juga di artikel kawan, anaknya sampai pingsan segala, ternyata ya itu tadi, kecapekan nunggu dari pagi sampai siang, dan nggak makan :D

    Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan ya mbak. Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul, Mbak. Memang banyak faktornya. Belum tentu karena ada oenyakit

      Delete
  2. Alhamdulillah semua ibunda selalu sehat ya ..Mamaku juga sudah sinovac juga... insyaallah gak ada efek yang mengganggu ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sehat-sehat selalu, ya, Aamiin Allahumma aamiin

      Delete
  3. Alhamdulillah ya Chii, si MAma akhirnya menerima vaksin, semoga ikhtiar untuk selalu sehat.Dan ceritanya hampir sama sama Mamaku pas awal maret udah divaksin,sempat tekanan darah tinggi juga, tapi alhamdulillah mamaku ga punya riwayat penyakit apapun. Kebeneran rumah Mama pinggir puskesmas dan kader di sana jadi dipermudah pas divaksin.

    Intinya bener banget..
    Tekanan darah naik belum tentu karena hipertensi. Ada banyak penyebabnya. Stress dan kecapean juga bisa membuat tensi menjadi tinggi.

    Hahhaa, jadi ngakak, Mamaku mah stress di rumah aja, ga kmana mana selama pandemi, biassanya muter sana sini, hihiii.

    Ahh, semoga mamah2 kita diberikan kesehatan selalu yaa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mamah saya juga biasanya aktif, Teh. Untungnya selama pandemi nurut hehehe

      Delete
  4. Noted mbaa, utk daftar pertanyaan bagi lansia yg mau divaksin:
    Apakah kesulitan menaiki 10 anak tangga?
    Apakah sering merasa kelelahan?
    Apakah memiliki paling sedikit 5 dari 11 penyakit yaitu hipertensi, diabetes, kanker, penyakit paru kronis, gagal jantung kongestif, serangan jantung, asma, nyeri dada, nyeri sendiri, dan penyakit ginjal.
    Apakah mengalami kesulitan berjalan kira-kira 100-200 meter
    Apakah mengalami penurunan berat badan yang bermakna dalam 1 tahun terakhir

    Semogaaa semua sehaattt ya
    Uti sehaattt selalu yaaa

    ReplyDelete
  5. di daerahku masih sulit banget nih. rata2 masih pakai ktp domisili kan. sementara di domisiliku ya masih gitu2 aja.
    apalagi bentar lagi anak2 juga bisa vaksin, padahal yg dewasa aja belum kedapetan semua nih.

    mungkin enak kalau semua langsung kali ya? di data per lingkungan

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah. Ikut seneng untuk mama. Semoga selalu sehat ya Tante. Mamaku sendiri belom nih. Tempat vaksinnya masih jauh2. Jadinya berisiko juga bawa mama. Semoga bisa segera deh yang deket. Khawatir ya kalo lansia. Walopun sebenernya, aku sendiri khawatir dengan diri sendiri. Kepengen juga segera vaksin. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tetap prokes aja dulu kalau belum divaksin. Sesudah divaksin pun masih harus prokes

      Delete
  7. Sehat terus ya buat mamanya Mak Myra. Pandemi memang bikin lelah jiwa dan raga, apalagi sudah hampir satu tahun lebih ngak kemana-mana dan ngak leluasa bergerak. Aku aja sejak pandemi lebih banyak belanja online bahkan sayuran pun kadang belanja via online atau diantar mamang sayur.

    Btw...aku belum vaksin nih, jadwalnya akhir bulan ini soalnya di Kab. Tangerang vaksin baru dimulai pertengahan Juni untuk umum. Aku bedain jadwal dengan suamiku biar saling merawat satu sama lain plus ada yang handel urusan anak-anak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga begitu, Mbak. Sengaja dibedain jadwalnya. Jaga-jaga kalau sampai sakit

      Delete
  8. Alhamdulillah Mamah sudah divaksin..smeoga sehat selalu Mamahnya ya Mbak Myra
    Saya juga vaksin Sinovac 5 hari lalu dosis pertama, KIPI-nya ngantuk polll kwkwk. Seharian tiduran. vaksin kedua 28 hari setelah yang pertama, masih sabar menunggu saya

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah mamanya sudah di vaksin ya mbak, vaksin sebagai upaya kita menghadapi pandemi ini ya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga pandemi lekas berlalu. Aamiin Allahumma aamiin

      Delete
  10. Alhamdulillah..
    Ibunda tercinta sudah selesai di vaksin.
    Ibukku juga sudah selesai vaksin pertama dan kedua setelah drama takut untuk divaksin. Beruntung dikuatkan oleh saudara dan keponakan yang menjadi dokter.
    Katanya, aman dan semoga bisa menjadi benteng ketika (naudzubillah) si virus menyerang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sehat-sehat selalu, ya. Aamiin Allahumma aamiin

      Delete
  11. Mamaku juga udah vaksin Mba. Dari sekolahnya. Katanya agak lemes udahnya. Yang kedua agak meriang. Nah, aku Kan kemarin vaksin yang pertama, bawaannya ngantuk luar biasa. Agak cepet lelah kalau dibawa aktivitas RT. Memang begitu kali ya efeknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayak anak saya yang pertama. Setelah divaksin efeknya lemas. Tetapi, hanay di hari pertama

      Delete
  12. untuk sekarang dengan Jakarta PPKM selama dua minggu, vaksin udah banyak yang drive thru ya mba, jadwalku sama suami buat vaksin kedua nanti tanggal 24 Juli, kebetulan orangtua sudah lengkap vaksinnya alhamdulillah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah. Semoga semakin banyak yang divaksin

      Delete
  13. wah alhamdulillah mamahnya udah vaksin sinovac. Ibuku dapatnya yang AZ jadi ada jeda 3 bulan, nih. Bulan Juni baru vaksin pertama. Berhubung di Gresik, kota kecil, jadi enggak semudah Jakarta untuk dapat slot vaksin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi, kalau AZ memang jeda 3 bulan setahu saya

      Delete
  14. Kok sama ya Chi, saat akan divaksin di Puskesmas, ibuku dan rombongan satu kelurahan tuh tensinya tinggi-tinggi. Padahal menurut mereka semua, tidak capek maupun takut lho. Akhirnya sekampung gagal vaksin deh.

    Lalu cari informasi, di salah satu RS swasta deket rumah ada jatah vaksin lansia juga. Hanya saja memang per hari hanya sejumlah orang saja, nggak banyak-banyak. Untungnya temanku ada yang kerja di sana, jadi bisa dicarikan hari yang pas kosong. Alhamdulillah, 2 kali vaksin sinovac ibu ga ada efek apa-apa. Ngantuk pun enggak kata beliau.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang banyak faktor tensi menjadi tinggi. Tidak hanya lansia yang mengalami. Orang yang masih muda pun bisa

      Delete
  15. Alhamdulillah sudah vaksin ya mam... Insya Allah saua July ini vaksin, tapi belum tahu mau vaksin yang mana. Pengennya sih AZ mam, tapi pasrah aja, yang penting terlindungi. Salam sehat selalu mam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga dilancarkan vaksinasinya. Karena stok maish terbatas, memang sebaiknya jangan pilih-pilih dulu vaksinnya :)

      Delete
  16. Wah keren mamanya berani divaksin, lansia sekitar rumahku pada takut divaksin, aku vaksin 1 sinovac ngantuk dan lpr bawaan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngebujukin lansia harus pelan dan sabar, ya

      Delete
  17. Alhamdulillah ya mbak, sudah divaksin, sekarang mau vaksin susah, penuh terus kabarnya. semoga yang sudah divaksin terjaga imunitas tubuhnya, mama sehat sehat selalu yaaa.

    ReplyDelete
  18. alhamdulillah kalo sudah divaksin yah Mba, saya mah belum divaksin sebab ada alergi berat, hehehe. semoga kita semua sehat yah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah semoga semakin banyak yang divaksin. Slaah satu tujuannnya memang untuk melindungi yang gak bisa divaksin

      Delete
  19. Rata rata keluhan habis di vaksin ini pada ngantuk banget ya mak. Ibuku alhamdulillah sudah divaksin 2 kali. Sekarang sepertinya yang luar daerah bisa vaksin di tempat Domisili ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, Mbak. sudah banyak banyak yang tidak mensyaratkan domisili

      Delete
  20. Syukurah Mama sudah divaksin ya
    Mamaku aja nih yang takut vaksin
    Soalnya ada sahabatnya yang meninggal
    Padahal amarhumah itu memang ada penyakit bawaan
    Ada indikasi tidak jujur saat divaksin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, ini yang harus terus diedukasi. Jangan sampai terjadi salah paham tentang vaksin

      Delete
  21. Tetap jaga kesehatan ya buu, semoga sehat terus. Semoga corona ini segera terhempas biar bisa leluasa buat pergi2 dan silahturahmi sama sodara jauh

    ReplyDelete

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^