Pengalaman Pertama Divaksinasi AstraZeneca - Awal Juni lalu, Chi dan K'Aie sudah divaksinasi AstraZeneca yang pertama. Serem gak vaksin ini? Karena banyak beredar berita kalau efek KIPI AstraZeneca itu menyeramkan. Bahkan sampai ada yang wafat. 
 
pengalaman pertama divaksinasi astrazeneca
Ekspresi lelah menunggu dipanggil dengan perasaan sedikit tegang hahaha!

 

Sejujurnya Chi memang ada rasa sedikit takut. Tapi, kalau dipikir lagi, rasanya lebih menyeramkan bila pandemi gak segera usai. Chi bersyukur kami sekeluarga masih diberi kesehatan. Tetapi, pandemi yang berkepanjangan bikin lelah lahir dan batin.
 
Selalu meyakini kalau segala sesuatu yang terjadi memang sudah ditakdirkan Allah SWT. Tetapi, sebagai manusia tetap harus berikhtiar dan tawakkal. Gak boleh pasrahan dan kemudian bilang kalau semua udah takdir.

Divaksinasi merupakan salah cara ikhtiar. Insya Allah pandemi segera berakhir karena herd immunity bisa tercapai. Badan juga tetap sehat. Aamiin Allahumma aamiin.


Persiapan Menjaga Kondisi Tubuh Sebelum dan Sesudah Divaksin AstraZeneca


Sejak lama kami berniat divaksinasi di puskesmas dekat rumah. Alhamdulillah, pak RT di sini aktif kasih info, termasuk tentang vaksin. Warga usia 18+ tahun sudah diinfokan untuk bersiap divaksinasi sejak mulai Ramadan. Beberapa hari sebelum dimulai, warga kembali diinfokan. Kami pun sesekali melihat informasi dari akun IG Puskesmas dekat rumah. 
 
Kami tidak tau akan mendapatkan vaksin AstraZeneca atau Sinovac. Tetapi, karena saat itu yang ramai diberitakan kalau di DKI vaksinnya adalah AZ, maka kami mulai melakukan persiapan yang matang. 

Sebetulnya persiapan ini tidak hanya untuk vaksinasi AstraZeneca. Divaksin apa pun kami akan melakukan hal sama. Tips ini kami dapatkan dari dokter anak langganan kami. Beliau selalu mengharuskan anak-anak dalam kondisi yang benar-benar fit ketika divaksinasi.


Berdoa

Terus jaga iman dan imun di saat pandemi. Insya Allah tetap aman.

Sebetulnya gak hanya di saat pandemi, ya. Iman dan imun memang harus terus dijaga. Tetapi, memang terkadang masih suka ada lupanya. Nah, saat pandemi lebih dikencengin lagi. Saat mau divaksinasi terus berdoa supaya berjalan lancar dan tidak ada efek KIPI yang mengkhawatirkan.

 

Tidur Lebih Cepat, Berhenti Begadang 

Sudah sejak lama banget Chi pengen memperbaiki pola tidur. Berhenti begadang dan tidur sebelum lonceng jam Cinderella berbunyi. Tetapi, susahnya minta ampun. Ya, karena memang sebatas niat aja, sih. Belum sampai ke level disiplin.

Chi masih suka merasa lebih nyaman beraktivitas saat malam. Gak hanya berkegiatan di dunia maya. Seringkali lebih seneng beberes rumah di atas pukul 11 malam. Kayaknya lebih produktif dan bertenaga aja gituuuu.

Beberapa hari sebelum divaksinasi, Chi berusaha tidur paling gak 2 jam lebih cepat. Bukan hal yang mudah. Di beberapa hari pertama, Chi cuma gelundungan di kasur. Menahan diri untuk tidak pegang smartphone. Karena kalau udah megang, pasti bakal begadang lagi. 
 
Lama-kelamaan bisa juga tidur lebih cepat. Chi lakukan ini sampai beberapa hari setelah divaksinasi. Sayangnya sekarang mulai ngebandel lagi. Duh! Memang harus menegur diri sendiri, nih!


Pola Makan yang Teratur dengan Gizi yang Cukup

Kalau yang ini gak terlalu masalah. Malah pola makan seperti ini sudah terbentuk sejak lama banget. Setiap hari selalu masak. Kadang-kadang kalau akhir pekan memang suka libur masak. Memilih makan di luar atau order. Tetapi, sejak pandemi kami sangat jarang jajan.
 
Menu yang Chi masak setiap harinya selalu beragam. Kami tidak picky eater. Jadwal makan keluarga pun sudah terpola sejak lama. 3x makan utama dan 2x selingan.Tetapi, kadang-kadang agak cheating juga. Gak apa-apa selama gak berlebihan.

 

Hindari Stress

Stress juga bisa menurunkan imun. Mengetahui efek KIPI vaksin AstraZeneca yang lebih besar dari Sinovac bikin Chi deg-degan juga. 

Udah lah berusaha gak terlalu dipikirin. Banyakin ngobrol atau cari konten yang receh. Nonton film yang seru juga bisa. Pokoknya cari yang bisa bikin ketawa dan relax.

 

Berolahraga Ringan

Bila rajin berolahraga, usahakan yang ringan aja. Kalau pun gak sempat berolahraga, paling gak jangan mager. Gerak-gerak dikit dengan cara beberes rumah. Tapi, jangan sampai kecapean.


Berhenti Ngopi

Chi selalu ngopi segelas sehari. Banyak yang menyarankan paling gak sehari sebelum dan sesudah divaksinasi berhenti dulu ngopinya. Ya udah Chi ikutin aja sarannya.


Perut Gak Boleh Kosong Saat Divaksinasi

Wajib sarapan ketika mau divaksinasi. Karena memang gak disarankan divaksin dalam keadaan perut kosong.

Perut kosong, kan, suka bikin bada jadi lemas, pusing, dan lain sebagainya. Ditambah lagi kalau tegang saat menunggu vaksinasi. Khawatirnya bikin efek KIPI jadi berat.

Kalau perlu bawa makanan kecil dan minuman. Chi udah sarapan dari rumah. Tetapi, baru divaksinasi hampir 3 jam kemudian. Mendekati jam makan siang. Perut rasanya udah mulai lapar. Untung aja kondisi tubuh masih terasa fit. Cuma berasa lapar hehehe.
 
Jangan biarkan perut kosong apalagi sampai bikin sakit kepala, lambung perih, dan sebagainya. Tetaplah diisi perutnya. Tetapi, harus sangat hati bila ingin mengisi perut.

Perlu diperhatikan, bila ingin ngemil dan minum harus cari tempat yang sepi. Cuci tangan dengan sabun dan di air mengalir terlebih dahulu lebih baik daripada hanya menggunakan hand sanitizer.

 

Tahapan Vaksinasi COVID-19

 
Vaksinasi di puskesmas dekat rumah dilakukan secara go show. Gak ada pendaftaran online. Chi datang sekitar 30 menit sebelum dimulai. Udah dapat nomor 44. 

Suasana berjalan tertib dan tidak berdesakan. Peserta vaksinasi diminta naik ke lantai 2 puskesmas per 10 orang. Setelah menunggu sekitar 3 jam, rombongan Chi pun dipanggil untuk naik ke lantai 2.

Entah kenapa rombongan 20 orang pertama rasanya lama sekali. Karena ketika rombongan Chi dipanggil, prosesnya terasa cepat. Tebakan Chi mungkin ada beberapa peserta yang tekanan darahnya mendadak tinggi. Sehingga harus diulang berkali-kali. Seperti yang terjadi pada mamah ketika divaksinasi Sinovac.

Gak sampai 5 menit menunggu di lantai atas, Chi dipanggil masuk ruangan. Langsung ditensi dan alhamdulillah di angka normal. Kemudian diberi beberapa pertanyaan oleh Nakes.

Jawab sejujurnya ketika ditanya, ya. Bertanya juga bila dirasa perlu. Jangan ada jawaban yang disembunyikan. Jangan pula sungkan untuk bertanya.
 
"Ibu memiliki alergi?"
 
Chi bilang punya alergi debu. Kulit menjadi sangat gatal bila sedang kambuh. Ternyata kalau alerginya seperti itu  gak apa-apa divaksinasi. Alergi yang harus diwaspadai kalau bikin sesak napas.

"Boleh gak divaksinasi kalau sudah pernah positif COVID-19"

Ini pertanyaan titipan dari salah seorang teman. Menurut nakes, seseorang yang sudah pernah positif harus menunggu 3 bulan sejak dinyatakan sudah sembuh.

Idealnya, sehari sebelum divaksinasi melakukan SWAB antigen dulu. Biar ketahuan ada kemungkinan positif atau enggak.

Adik Chi divaksinasi di kantornya. Di sana diwajibkan membawa surat keterangan SWAB antigen dengan keterangan negatif. Tetapi, di puskesmas tempat kami divaksinasi tidak ada syarat itu. 

Setelah ditensi dan menjawab semua pertanyaan, Chi diminta menunggu lagi. Gak sampai 5 menit, sudah dipanggil untuk masuk ke ruang vaksinasi.

"Ibu turunin sedikit jaketnya. Duduk menghadap tembok ya, Bu."

Baru juga duduk menghadap tembok, tau-tau udah selesai disuntik. Cepet banget!

Teman-teman yang berhijab, sebaiknya gunakan pakaian yang memudahkan nakes menyuntik.
 
Memakai pakaian yang memudahkan nakes bekerja bisa menghemat waktu. Chi hanya perlu menurunkan sedikit lengan jaket untuk disuntik. Kalau pakai pakaian lengan panjang akan butuh waktu lebih lama menggulung lengan baju. Apalagi kalau ukurannya agak ngepas ke badan.

Chi disuntik di ruangan tertutup. Hanya ada Chi dan satu orang nakes. Tetapi, pernah lihat di berita atau foto-foto di berbagai medsos, kalau vaksinasinya dilakukan di ruang terbuka. Di depan masyarakat lain yang akan divaksinasi. Bila harus menggulung lengan baju, tentu aurat akan lebih banyak terlihat. Jadi, dipertimbangin banget ya pakaian yang akan dipakai.
 
Setelah divaksinasi, diminta menunggu sekitar 20-30 menit. Petugas menginput data pribadi yang sudah divaksinasi. Sekaligus memantau apakah ada efek KIPI. Setelah selesai, nama kami dipanggil satu persatu dan dikasih 6 butir paracetamol. Diminum kalau ada demam.

Setelah divaksinasi sangat disarankan untuk tidak langsung pulang. Tunggu sekitar 30 menit untuk melihat efek KIPI. Bila terjadi efek yang lumayan berat, petugas kesehatan bisa langsung segera menangani.
 
"Ibu, nanti kembali lagi tanggal 8 September untuk vaksinasi kedua, ya. Gak boleh kurang dari tanggal 8, tetapi lebih sedikit boleh."  
 
 daftar rumah sakit rujukan kipi vaksinasi covid


Petugas memberikan selembar kertas tanda sudah divaksinasi AstraZeneca dosis 1. Di lembaran kertas itu juga ada contact person yang bisa dihubungi bila terjadi kondisi darurat pasca divaksinasi. 
 
Di Jakarta ada beberapa rumah sakit yang dijadikan rujukan bila terjadi KIPI. Tetapi, di lembaran bukti vaksin yang kami terima juga sudah tertera contact person. Bila teman-teman belum tau rumah sakit atau contact person yang harus dihubungi bila terjadi KIPI dengan gejalan sedang ke berat, sebaiknya bertanya ke nakes yang memvaksinasi.

Jeda vaksin pertama dan kedua untuk AstraZeneca tuh 3 bulan. Lebih panjang dari Sinovac. Chi gak tau pasti alasannya karena gak nanya. Mungkin karena efek KIPInya bisa lebih tinggi, ya.
 


Efek KIPI Setelah Divaksin AstraZeneca


Chi dan K'Aie memutuskan vaksinasi di waktu yang berbeda. Chi datang hari Rabu, K'Aie memilih Jumat. Kami memilih jadwal yang berbeda karena kalau mengamati pengalaman banyak netizen kebanyakan merasakan demam dan beberapa efek lainnya. Kami pikir kayaknya enakan pisah jadwal biar kalau sakit gak barengan. Jadi bisa bergantian ngurusan yang lagi sakit.

KIPI adalah salah satu reaksi tubuh pasien yang tidak diinginkan yang muncul setelah pemberian vaksin. KIPI dapat terjadi dengan tanda atau kondisi yang berbeda-beda. Mulai dari gejala efek samping ringan hingga reaksi tubuh yang serius seperti anafilaktik (alergi parah) terhadap kandungan vaksin.

Perlu diingat, KIPI tidak selalu terjadi pada setiap orang yang diimunisasi. Munculnya gejala ringan cenderung lebih sering terjadi dibandingkan reaksi radang atau alergi serius terhadap vaksin.

Sumber: HelloSehat

 
Bila hanya mengalami demam ringan dan efek lainnya yang juga cenderung ringan, gak perlu khawatir dengan KIPI. Apalagi sampai curiga kalau vaksinnya begini-begitu. Semua vaksin memang berisiko menimbulkan KIPI. Gak hanya vaksin untuk Covid.

Makanya kalau ada yang membuat status menakutkan tentang KIPI, Chi suka cek akunnya kalau lagi gabut. Kalau yang komen masih remaja, ya, anggap aja belum mengerti tentang vaksin. Tetapi, seharusnya googling dulu, lah. Kan, mereka seharusnya lebih melek digital.

Bila yang komen begitu orang tua, apalagi masih punya bayi atau anak kecil, suka bikin Chi heran. Lha, memang anaknya gak pernah divaksinasi? Kok, bisa gak tau KIPI?
 
Faktanya memang ada yang tewas usai divaksinasi AstraZeneca, kan?
 
Iya, ada. Tapi, kan, harus dicari tau dulu penyebab KIPInya. Seperti yang dijelaskan di situs HelloSehat, gejala ringan lebih sering timbul daripada yang berat. Lagipula setiap vaksin yang sudah diberikan ke masyarakat pastinya udah melewati beberapa kali uji klinis dan disetujui berbagai lembaga. Gak mungkin lah baru sekali dibuat langsung diberikan ke masyarakat.

Makanya penting banget bicara jujur saat divaksinasi. Jangan diam-diam aja. Dan ini gak hanya berlaku untuk vaksinasi Covid. Setiap kali anak-anak divaksinasi, pasti dokternya tanya-tanya ke kami dulu tentang kondisi anak. Wajib banget jawab sejujurnya. Selain menjaga kondisi tubuh yang fit tentunya. Kalau nakesnya kurang komunikasi, kitanya yang wajib bertanya. Jangan diam-diam juga.

Buat kita yang masyarakat awam, jangan ambil kesimpulan sendiri. Mungkin iya bener kejadiannya sesaat pasca divaksin. Tetapi, kan, bisa saja karena punya penyakit penyerta dan tidak dikomunikasikan ke nakes. Bisa juga penyebab lainnya.

KIPI gak selalu terjadi, kok. Keke dan Nai jarang banget demam pasca divaksinasi apa pun. Mungkin karena kondisi tubuh mereka benar-benar fit setiap kali divaksinasi. Dokter anak mereka yang mewajibkan seperti itu. Lagi ada batuk pilek ringan aja, dokternya gak mau memvaksinasi. Mending dimundurin sebentar dari jadwal. Tunggu sampai benar-benar sehat.

Alhamdulillah, kami berdua gak mengalami efek KIPI. Hanya sedikit pegal di area bekas suntikan. Sedikit banget kayak abis kepentok pintu. Ya wajar, lah, namanya juga kulit abis ditujes ma benda tajam (baca: suntikan). Tetapi, di hari kedua juga mulai berangsur hilang pegalnya.

Pasca divaksinasi, kami tetap menjalankan hidup tertib. Perhatikan pola makan, istirahat yang cukup, berolahraga ringan, dan berhenti ngopi. Berdoa sih pasti yang utama. Kami melakukannya hingga hari ketiga. Karena nakes bilang terus dipantau hingga 3x24 jam. Bila sudah lewat waktu tersebut, insya Allah aman.
 
Di keluarga kami ada 4 orang yang divaksinasi menggunakan AstraZeneca yaitu Chi, K'Aie, serta adik dan istrinya. Kami mengalami KIPI yang berbeda-beda. Hanya Chi dan K'Aie yang gak merasakan efek apapun. Baidewei, adik ipar Chi ini ibu menyusui. Tetap boleh divaksinasi AstraZeneca.

Kondisi tubuh yang fit memang sepertinya sangat mempengaruhi. Adik ipar Chi divaksinasi dalam kondisi yang sedikit lelah. Malam sebelum divaksinasi, bayinya gak bisa tidur. Entah apa penyebabnya. Akhirnya adik ipar agak kelelahan. 
 
efek kipi pasca divaksin astrazeneca
Chi mention sepupu yang tinggal di Malaysia. Waktu suaminya divaksinasi AstraZeneca dapat goodie yang isinya banyak, enak, dan bergizi. Hanya yang divaksinasi AZ yang dapat goodiebag, sedangkan yang Sinovac enggak. Karena rata-rata KIPI pasca vaksinasi AZ lebih berat dari Sinovac.

 

Sekitar 2-3 jam setelah divaksinasi, adik ipar muntah-muntah. Demam turun naik hingga hari kedua. Tetapi, perlahan berangsur membaik. Di hari ketiga sudah gak terasa efeknya.

Sedangkan adik Chi berasa sangat pegal di kakinya. Katanya kakinya kayak abis dipakai jalan kaki yang jauh banget.

konsep kerja vaksin herd immunity


Begitulah pengalaman kami divaksinasi menggunakan AstraZeneca. Divaksinasi merupakan salah satu ikhtiar kami agar segera terbentuk herd immunity (kekebalan imunitas). Karena untuk mencapai herd immunity dibutuhkan minimal 70% dari total jumlah masyarakat.
 
Ya tinggal pilih aja mau herd immunity dengan cara alami atau vaksin? Kalau dengan cara alami, berarti minimal 70% masyarakat udah positif Covid-19. Hiii ... merinding ngebayanginnya! Tsunami Covid yang terjadi sekarang aja berasa ngeri.
 
Di negara kita jumlahnya masih sedikit banget yang divaksinasi. Kayaknya di Indonesia belum sampai 10%, deh. Tetapi, kalau di Jakarta, sih, udah lumayan tinggi persentasenya. Padahal udah pengen banget kayak beberapa negara lain yang kelihatannya udah bisa hidup bebas, ya. 
 

Sekarang Chi lagi menunggu jadwal vaksinasi untuk Keke dan Nai. Di Jakarta sudah dibuka jadwal untuk usia 12 tahun ke atas di beberapa tempat. Tetapi, kami masih menunggu di puskesmas dekat rumah. Biar gak jauh-jauh jalannya.

Jakarta termasuk yang tertinggi angka penambahan hariannya di Indonesia. Tetapi, kami juga bersyukur sentra vaksinasi ada di mana-mana. Antusias masyarakat juga termasuk tinggi.

Chi datang 30 menit sebelum jadwal vaksinasi dibuka udah dapat nomor 44. Makanya Chi menyarankan K'Aie untuk datang 1 jam sebelum dibuka. Eh, gak taunya K'Aie dapat nomor 79. Senang juga lihat antusia yang tinggi begini. 

Ayo lah divaksinasi bila memungkinkan. Maksud memungkinkan, tuh, tentang kondisi fisik. Bukan membahas tentang keyakinan bersedia divaksin atau enggak. Ada orang-orang yang gak bisa divaksin karena punya komorbid atau alaergi tertentu. Anak-anak usia di bawah 12 tahun juga belum bisa divaksinasi COVID.
 
Nah kalau semakin banyak yang divaksinasi, tidak hanya melindungi diri sendiri. Kita juga melindungi mereka yang gak bisa divaksinasi. Tentu udah tau kan ya prinsip kerja vaksin yang saling melindungi. Jangan sampai berpikir kalau vaksin itu obat.

Karena tingkat vaksinasi di Indonesia masih rendah, maka patuh protokol kesehatan masih wajib banget. Yang sudah divaksinasi pun masih bisa kena, lho. Salah seorang tante dan 2 orang keponakan Chi positif Covid.

Kalau gitu percuma dong divaksinasi? 

Enggak, lah. Nanti, deh, di postingan berikutnya Chi ceritain ketika sebagian keluarga besar terkena Covid.

Sehat-sehat ya untuk semua. Lekas disembuhkan untuk yang sakit. Aamiin Allahumma aamiin.