Bolehkah Anak Laki-Laki Menangis?

Bolehkah Anak Laki-Laki Menangis? - "Udah berhenti nangisnya! Anak laki-laki kok menangis, kayak perempuan aja!"

Seorang anak laki-laki berusia sekitar 5-6 tahun sedang menangis. Chi gak tau apa yang membuatnya menangis. Chi juga gak tau sudah berapa lama dia menangis. Tapi yang pasti, seorang ibu membentaknya untuk berhenti menangis.

Kalau melihat situasi begitu suka bikin serba salah yang lihat. Rasanya pengen langsung negur. Idealnya begitu, kan? Kita tegur baik-baik supaya si ibu sadar. Tapi apa iya selalu begitu hasilnya? Manusia kadang suka defensif kalau ditegur. Suka malah jadi balik marahin yang menegur. Atau bisa juga hanya diam, tapi anaknya bakal tambah dimarahin karena dianggap udah bikin malu dan ibunya ditegur orang. Padahal kita udah negurnya baik-baik. Serba salah kalau begini, ya.

Chi kemudian berpikir, apa iya laki-laki gak boleh menangis? Keke pernah menangis. Bahkan ayahnya pun pernah menangis. Terakhir kali Chi lihat K'Aie menangis itu saat mamahnya wafat sekitar 4 bulan yang lalu. Apakah mereka terlihat jadi seperti perempuan saat menangis? Enggak sama sekali.

Menangis adalah salah satu cara untuk mengungkapkan emosi. Biasanya manusia menangis karena sedih atau marah. Walaupun ada juga menangis karena bahagia atau terharu. Laki-laki menangis? Wajar aja, sih. Laki-laki kan juga manusia punya rasa dan punya hati. *trus nyanyi*

Chi gak pernah melarang Keke untuk menangis. Chi hanya selalu mengingatkan untuk jangan berlebihan ketika menangis. Kalau ini sih gak hanya untuk Keke. Naima pun suka Chi ingatkan untuk tidak berlebihan saat menangis. Cuma mungkin mungkin porsi menangis antara laki-laki dan perempuan aja yang berbeda, ya. Selain karena urusan hormonal, perasaan perempuan memang lebih peka daripada laki-laki. Jadi wajar saja kalau perempuan lebih banyak atau mudah menangis.

[Silakan baca: Memahami Arti Tangisan Bayi]


Bolehkah Anak Laki-Laki Menangis?

Kadang gak hanya menangis, terlihat sedih aja udah semacam hal yang tabu buat laki-laki. Kalau kayak gitu, Chi malah khawatir nanti gak punya atau minim rasa empati. Bagaimana laki-laki bisa mengerti rasa sedih perempuan kalau dia sendiri dilarang untuk bersedih, apalagi sampai menangis?

Sering kan kita mendengar atau mungkin merasakan sendiri kalau laki-laki tuh makhluk yang paling gak peka? Ya penyebabnya mungkin berbagai macam. Bisa jadi cara laki-laki dan perempuan mengungkapkan rasa sayang memang berbeda, makanya kelihatan gak peka. Tapi bisa saja beneran gak peka dalam artian terlalu cuek, gak bisa jaga perasaan pasangan, hingga melakukan kekerasan terhadap perempuan. Duh, jangan sampai terjadi, ya 😖

Bayi yang baru lahir aja, normalnya semua menangis, kan? Apa iya ada larangan kalau sebaiknya bayi laki-laki gak boleh menangis? Jadi ya gak apa-apa lah laki-laki menangis tapi beri pengertian supaya jangan menangis berlebihan. Kadang Chi juga suka menegur Keke kalau menangisnya berlebihan. Tapi jangan sampai dia berpikir kalau menangis udah pasti cengeng.

Seorang laki-laki memang harus kuat, tidak hanya dalam artian fisik. Laki-laki harus kuat dan tangguh menghadapi berbagai hal dalam hidup. Apalagi kelak, seorang laki-laki akan menjadi pemimpin. Paling tidak menjadi pemimpin keluarga.

Seorang pemimpin yang kuat bukan berarti yang gak  punya perasaan. Jadi biarkan sesekali laki-laki mengungkapkan perasaannya dengan menangis. Jangan lupa memberikan anak pelukan dan usapan sebagai tanda kalau orang tua mengerti kesedihannya. Bertanya apa yang membuatnya menangis setelah tangisannya reda, supaya anak juga merasa diperhatikan. Kalau perlu, tawarkan bantuan untuk mencari solusi.

Dengan tidak menghakimi anak laki-laki menangis sebagai anak yang cengeng apalagi kayak perempuan, tidak membuat perasaannya semakin down. Dan dengan tidak menghakiminya juga menandakan kalau orang tua akan selalu berusaha mengerti perasaannya. Setidaknya itu yang Chi lakukan untuk Keke. Ya semoga aja Keke menjadi laki-laki yang peka terhadap siapa pun. Aamiin.

[Silakan baca: Beri Mereka Penjelasan]