"Bun, Boleh Ikut Demo?" - Keke Naima

Minggu, 29 September 2019

"Bun, Boleh Ikut Demo?"

"Bun, boleh ikut demo?"

Bagaimana reaksi teman-teman ketika anak ikut demonstrasi? Atau paling gak minta izin dibolehkan demo. Langsung melarang atau diizinkan dengan banyak syarat?

ketika anak ikut demonstrasi

Beberapa hari terakhir ini, Chi jadi semakin sering mengikuti berita. Dari mulai masalah Kahutla, KPK, hingga tentang RKUHP dan RUU lainnya yang dianggap bermasalah. Secara pribadi, Chi mendukung demo mahasiswa.

Tentu yang murni tuntutan mahasiswa, ya. Bukan yang merembet jadi bentuk dukungan atau penolakan terhadap rezim tertentu. Kalau untuk satu ini, Chi bener-bener no comment. Gak pernah golput. Tetapi, sudah menjadi prinsip untuk tidak mau menunjukkan siapa yang didukung. Pastinya berusaha seobjektif mungkin. Jangan sampai cinta buta terhadap seseorang atau golongan tertentu.

Kembali ke demo mahasiswa. Meskipun Chi mendukung aksi ini, tetapi ketika anak sendiri minta izin untuk ikutan rasanya bikin lemes dan deg-degan. Kenapa? Chi ceritain selengkapnya di sini. Tetapi, mau flashback sedikit tentang aksi demo tahun '98.

Ikutan Demonstrasi Mahasiswa Tahun '98, Gak?


Beberapa waktu lalu, seorang teman yang pernah satu kampus dengan Chi nyetatus tentang nostalgia ketika ikut demo tahun 98. Tapi, yang bikin agak gak enak dibaca tuh kesannya apa yang dinikmati saat ini seolah-olah hanya jasa mahasiswa yang turun ke jalan. Mungkin karena Chi juga lagi rada baper. Jadinya agak kzl aja bacanya karena gak pernah ikutan demo.

Pada saat itu Chi udah kuliah memasuki tahun ke-3. Mana boleh ikut-ikutan demo sama orang tua. Udah gitu, Chi tipe anak yang gak berani bicara. Apapun yang dibilang orang tua ya diturutin.

Terlepas dari Chi berani bicara atau enggak, inget banget deh pada saat kejadian lagi nemenin mamah ke supermarket. Kami sempat bingung kenapa tiba-tiba rolling door mulai ditutup. Untungnya pas kami selesai bayar jadi bisa segera pulang. Dari radio kami mendengar berita mulai terjadi kerusuhan di beberapa lokasi.

Chi bersyukur kami sampai di rumah dengan selamat. Tetapi, adik ketiga Chi yang saat itu SMA tertahan di sekolah dan terpaksa menginap. Kepsek melarang anak-anak pulang demi keselamatan. Papah akhirnya bisa pulang ke rumah saat malam hari. Itupun setelah putar balik dengan menjebol pagar pembatas jalan. Tentu aja papah gak melakukan sendiri. Semua pengendara mobil saling bantu menjebol pagar karena gak mungkin terus maju. Di depan sudah mulai terjadi kerusuhan.

Dulu, kami belum mengenal hp, apalagi media sosial. Info tercepat ya mendengarkan radio. Kebayang gak cemasnya seperti apa? 2 anggota keluarga belum pulang ke rumah. Kami gak bisa menghubungi sama sekali. Pada saat itu, Chi bersyukur gak ikutan demo. Kalau enggak mamah cuma berduaan ma adik yang paling kecil yang saat itu usianya 5 tahun. Wah, bisa panik banget tuh mamah kalau begitu.

Demonstrasi Mahasiswa dan Keberanian Anak STM Tahun 2019


Ketika Keke minta izin ikut demo, reaksi pertama Chi jelas kaget dan lemas. Pengennya sih langsung ngomong, "Gak usah ikutan dan kamu harus menurut apa kata orang tua!"
Tetapi, Chi menahan diri untuk tidak terburu-buru bertindak seperti ini. Ini tentang kebebasan berpendapat. Kalau Chi langsung melarang malah jadinya gak pernah tau alasan kenapa Keke ingin ikut demo.

[Silakan baca: Begini Cara Berkomunikasi dengan Remaja]

Beberapa hari lalu, Keke datang bersama temannya meminta izin untuk dibolehkan ikut demo. Chi larang dan Keke menurut. Setelah itu, Chi lihat Keke mengambil uang tabungannya untuk dikasihkan ke teman. Katanya untuk ongkos atau uang makan mereka. Tetapi, pemberian Keke ditolak.

"Jangan, Ke. Kita gak enak terimanya kalau lo gak dikasih izin. Udah lo nurut aja sama orang tua."

Chi berusaha menahan nangis di balik pintu, lho.  Biar bagaimanapun Keke sudah remaja. Dia pun termasuk generasi Z yang melek digital. Dia punya hak untuk didengar dan bersikap. Setelah temannya berangkat, hal pertama yang Chi ucapkan adalah, "Apa yang Keke tau? Sepertinya Bunda tertarik, nih!"

[Silakan baca: Instagram dan Generasi Milenial]

Mau Keke tau banyak atau cuma seuprit, ya gak apa-apa. Bahkan kalaupun dia bilang demi solidaritas pun tetap akan Chi dengarkan. Berusaha menghindari tuduhan, "Kamu tau apa, sih? Masih anak-anak mendingan belajar!"

Dengan berdiskusi, apalagi ketika bundanya bilang menarik, bikin dia jadi semangat untuk mengemukakan pendapat. Ini juga bagian dari pembelajaran. Tetapi, kalau menuduh dengan kalimat 'Kamu tau apa? Masih anak-anak!' Chi malah khawatir akan mengerdilkan pikiran dia. Paling enggak, dia jadi males untuk terbuka dengan orang tuanya. Keke pun bercerita apa yang dia tau dan Chi mendengarkan. Setelah itu baru berdiskusi. 

Kemudian Chi jelaskan ke dia kalau larangan itu murni karena rasa khawatir seorang ibu. Apalagi Keke masih SMA. Jadi bukan tentang dukung atau tidak mendukung. Pengennya sih memberi kebebasan bertanggung jawab. Tetapi, rasa khawatir Chi masih sangat besar bila dia harus langsung turun ke jalan.

Kerusuhan tahun '98 masih jelas terbayang. Chi tidak menyalahkan aksi mahasiswa saat itu. Bila tida terjadi demo, mungkin saja kita tidak merasakan kehidupan berdemokrasi seperti saat ini. Tetapi, memang apapun itu imbasnya gak selalu semuanya positif. Seperti kejadian tahun '98, kerusuhan menjadi sesuatu yang harus dibayar mahal oleh masyarakat Indonesia.

Itulah kenapa Chi masih melarang Keke untuk berdemo pada saat ini. Silakan aja kalau ingin mengeluarkan pendapat dengan cara lain. Perjuangan 'kan gak selalu harus turun ke jalan. Semua punya cara dan peran masing-masing. Makanya, ketika Keke setiap hari menyuarakan pendapatnya di Instagram Stories, Chi biarin aja. Sekadar dipantau dan didiskusikan setelahnya.

Bunda: "Ke, teman-teman mu bagaimana?"
Keke: "Gimana apanya?"
Bunda: "Jadi demo? Di daerah mana?"
Keke: "Jadi. Ya di Senayan dan sekitarnya."

Bunda: "Pada pulang jam berapa?"
Keke: "Jam 12 malam."

Chi membayangan kalau Keke ikutan. Bakalan berapa puluh atau ratusan pesan di WA yang Chi layangkan ke dia. Khawatir banget pastinya.

Chi juga bersyukur karena tidak terjadi bullying. Khawatir disangka gak punya solidaritas karena gak ikutan demo. Alhamdulillah ternyata gak kejadian. Malah jadi menambah pelajaran buat Chi kalau anak SMA pun bisa menghargai perbedaan.

Tetap, bukan persoalan yang mudah juga. Biar bagaimana Keke masih memiliki darah muda. Jadi emosinya pun masih turun naik. Bukan emosi dalam artian memaki-maki, ya. Chi berusaha tarik ulur ketika mengajak dia berdiskusi. Kalau bisa jangan sampai malah jadi obrolan yang membosankan. Ya harus banyak memaklumi, lah. Supaya ada win-win solution juga.


[Silakan baca: Darah Muda]

Mungkin lain ceritanya kalau Keke udah kuliah. Tentu aja, mau sampai usia berapapun, Chi maunya anak-anak jangan sampai ikutan demo. Sekali lagi, ini murni karena rasa khawatir sebagai orang tua. Bukan karena dukung atau tidak dengan apa yang didemokan. Semakin besar, anak semakin dilepas dan diajarkan untuk bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya. Pastinya apapun itu, do'a orang tua gak putus.

Tentunya Chi berharap juga gak akan ada demo-demo lagi. Kalau ada demo, apalagi semakin besar skalanya, berarti ada sesuatu yang salah di negeri ini. 

Gak usah baper ketika Chi katakan ada yang salah. Ini gak mengarah ke salah satu pihak. Tetapi, ibarat dalam keluarga, bila ada 1 aja anggota keluarga yang protes, berarti ada sesuatu yang harus diselesaikan. Ya belum tentu juga yang diprotes yang salah. Bisa jadi memang protesnya gak jelas. Tetapi, bisa jadi juga salah semuanya.


Keke Pernah Ikut Demonstrasi


Etapi, Keke beneran gak pernah ikut demo? Pernah. Dia ikut demo tentang Krisis Iklim yang diadakan Greenpeace Indonesia. Itupun Chi gak langsung kasih izin. Keke harus menjelaskan dengan detil alasan ikut demo dan kami juga berdiskusi.

Tak lupa kami berikan bekal alias pesan-pesan yang banyak. Apalagi pesan dari Chi. Biasalah di mana-mana ibu kayaknya suka lebih banyak pesannya hehehe.

Ini demo dengan skala kecil dengan tema yang global. Tidak sebatas tentang masalah Kahutla. Demo berjalan cukup lancar. Selesainya pun sore. Chi pun memantau dari IGS-nya.

Kalau cek di berbagai media sosial, demo tentang lingkungan ada di berbagai belahan dunia manapun.  Memang kenyataannya bumi sedang sakit. Coba deh teman-teman nonton animasi The Lorax. Bumi kita belum sesakit itu, tetapi mungkin saja terjadi bila gak disembuhkan. Generasi Keke ke bawah yang akan menikmati masa depan. Kalau gak ada kepedulian dari sekarang, kasihan mereka.

[Silakan baca: Kisah The Lorax yang (Sepertinya) Mulai Jadi Kenyataan]

Kenapa harus demo? Apa gak ada cara lain? Ada, kok. Banyak cara yang bisa dilakukan. Chi pribadi juga lebih suka tanpa demo. Kadang-kadang mau sekecil apapun demo, tetap ada potensi penyusup atau mengganggu ketertiban umum. Capek 'kan kalau lagi di jalan trus kejebak macet karena demo.

Tetapi, seperti yang Chi tulis di atas. Setiap orang punya peran masing-masing. Demo hanyalah salah satu cara. Bila sampai turun ke jalan biasanya tujuannya supaya suara lebih didengar. Jadi, bukan berarti setelah demo, tugas mereka selesai. Bisa jadi mereka ini lebih peduli lingkungan daripada kita. Sudah mempraktekan di kehidupan sehari-hari.

Memang jadi pelajaran juga buat Keke. Apalagi kalau dia sudah berani menunjukkan di depan umum. Jangan sekadar berani menyuarakan pendapat. Tetapi, tidak berusaha mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya dimulai dari hal kecil dulu ketika mulai peduli dengan lingkungan.

44 komentar:

  1. Aku bingung mau bilang apa.. Hehe pasti sebagai orang tua kan khawatir ya bun apalagi kalau sampe anak ikut demo ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya. Larangan saya pun murni karena alasan kekhawatiran

      Hapus
  2. Aku gak ikut demo waktu 98, tapi nyaris terjebak gak bisa pulang sam akumpulan mahasiswa yang mau demo. Masih inget aku sampai manjat pagar kampus buat pulang waktu itu.
    Wah aku bis abayangin deh perasaannya waktu Keke minta izin demo, pasti sebagai seorang ibu ada rasa khawatir ya. Gak ikutan demo buakn berarti gak bisa menyarakan hati ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tahun '98 berasa mencekam ya, Lid. Sebetulnya saya juga gak kepikiran bakal ada demo besar-besaran lagi. Ternyata pas Keke mulai remaja ada demo seeprti ini

      Hapus
  3. ikut deg2an seandainya anaku ikutan demo. kalo aku sama suami kayaknya idem sama mak myra, ga kasi ijin buat demo :)

    BalasHapus
  4. demo gak apa2 asal gak anarkhis...
    masalahnya hari gini, yg beneran demo sekalipun rawan disusupi...
    atuhlah bbrp hari belakangan ini melihat sendiri anarkhisme anak STM yang entah beneran anak sekolah atau gimana, kyk pd mabok juga lempar2 batu segede gaban di depan mata kita.. bawaannya segala macam... hiks, mau demo atau tawuran?
    prihatin klo caranya begini...
    sebenernya udah sering dan terbiasa sm yang demo, tp klo sm semencekam yg kemarin, capek deh dakuu... pulang ke rumah badan rontok, belum lagi gas air mata...efeknya ga langsung hilang
    demo masak aja aku maaah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya turut prihatin ya, Mbak. Apalagi Mbak Ophi juga kerjanya di daerah sana.

      Memang secara UU pun demo dibolehkan asalkan gak anarkis. Tetapi, seperti yang saya tulis di artikel ini, semakin besar jumlah massa potensi disusupi juga semakin besar. Udah kecontohan di tahun'98 yang lebih mencekam. Makanya saya pun berharap gak terulang lagi.

      Pelajaran sih buat semua. Para pendemo semoga lebih tertib dan gak gampang terprovokasi. Aparat keamanan lebih humanis. Para petinggi juga lebih mendengarkan atau paling tidak jangan mengeluarkan statement yang memancing emosi.

      Hapus
  5. Kalau Keke sudah mulai berpikir untuk ambil andil dalam demo, kurasa memang benar anak anak seusia Keke sekarang ini sudah mulai peka, Chi.

    Demo dan kerusuhan itu sebenarnya jauh beda konteksnya. yang satu memang turun ke jalan menyuarakan aspirasinya, karena berkoar di media sosial tidak ditanggapi, dan pemerintah daerah juga tidak mengerti cara menanggapi.

    untuk para demonstran yang turun ke jalan, mereka lah pahlawan sejati tanpa tanda jasa. Jika pun terjadi sesuatu pada mereka, mereka hanya mempermudah mendapatkan tiket ke surga. saya berdoa sepenuh hati untuk para pejuang cilik the real Avengers team.

    sementara kerusuhan jelas diciptakan untuk membuat situasi chaos, dan yang diuntungkan jelas bukan masyarakat bukan mahasiswa dan absolutely bukan anak anak pelajar.

    siapa dalangnya? tak usah diselidiki oleh kita pun jelas terlihat jika kita peka.

    tak usah berpihak pada oknum A atau B memang benar, dan saya sepakat
    kemarin tidak membiarkan orang tau saya ada di pihak siapa, kecuali samar saya tunjukkan.

    pada akhirnya, untuk Keke dan para demonstran pelajar dan mahasiswa, Salut!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup! Demo dan kerusuhan jelas hal yang berbeda. Meskipun ketika demo ke jalan, semakin besar jumlahnya, maka semakin besar juga peluang untuk dimasuki perusuh. Itu juga yang saya tekankan ke Keke. Ketika dia sudah berani menyatakan pendapat, maka bisa jadi akan ada risiko yang mengikuti

      Hapus
  6. jaman 98, aku ikut demo dan ortu di rumah khawatir banget.
    setelah jadi orang tua, sekarang aku lebih bisa memahami "perasaan khawatir" orang tua. Pantesan dulu ortu-ku galau banget kalau aku ikut demo

    BalasHapus
    Balasan
    1. Akhirnya harus menjadi orang tua dulu supaya paham rasa khawatir pada saat itu ya, Mbak hehehe

      Hapus
  7. Aku pernah ikut demo long March aksi danai tahun 1998. Kayaknya pas itu semua mahasiswa kampusku turun ke jalan.

    Sekarang punya anak. Jujur kalau anakku ijin ikut demo aku gak kasih. Pokoknya campur aduk aja alasannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, murni kekhawatiran orang tua. Tetapi, di sisi lain, saya juga mencoba memahami jalan pikiran mereka. Makanya berusaha mencari jalan tengah

      Hapus
  8. Keke sudah lebih dewasa ya bun, kritis dan peduli, semoga nanti menjadi mahasiswa semakin cemerlang dan polapikirnya kian matang

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin. Semoga memang proses pembelajaran yang baik untuk dia

      Hapus
  9. Jadi belajar banyak Chi setiap kali baca postingan tentang parenting di blog ini. Aku kan juga udah punya anak yang remaja nih, yang gejolak kehidupannya sudah mulai berbeda. Semoga aja bisa sekomunikatif dirimu dan Keke ya. Soalnya kami terkendala jarak dan waktu pertemuan juga sih, ngobrolnya cuma sebulan sekali :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, Mbak. Menjaga anak remaja memang lebih jumpalitan hehehe

      Hapus
  10. Keke dan teman2nya keren.. entah kalo nanti anakku meminta ijin seperti ini aku akan sanggup objektif apa engga

    BalasHapus
  11. Ya begitulah. Kalau inget2 jaman tahun 98 emang serem ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup! mudah-mudahan kali ini gak sampai kerusuhan seperti tahun '98

      Hapus
  12. Kalau aku lebih prefer tidak memberi izin dahulu, bukan hanya karena usia anak masih muda dan masih rentan tersulut emosinya, tapi juga mereka belum memahami apa sih yang sebenarnya mereka tuntut itu. Aku juga ingat dulu waktu 98 ikutan demo ya karena harus, karena semua temanku ikut dan semua kelas di kosongin, mau pulang juga ngak bisa karena akses pulang terblokir, tapi aku waktu itu ngak paham kenapa sih demo, maklum masih tunduk dengan kakak tingkat hahaha. Aku lebih setuju kalau anakku demo buat perbaikan lingkungan terutama urusan sampah dan pencemaran, soalnya jelas kerusakan lingkungan ngak hanya akan mereka alami di masa yang akan datang tapi juga saat sekarang apalagi kita sudah mengalami Global Warning, bagaimana bumi kita setelah mereka dewasa nanti? Masihkah layak buat ditinggali. Aku ingin anakku punya empati masalah isu lingkungan ini sejak dini...semoga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tentang paham atau tidak, saya berencana membuat postingan lain. Saya agak sedikit berebda pendapat di sini.

      Hapus
  13. Kayaknya kalau nanti anak-anakku minta ijin mau ikut demo, saya bakalan spontan melarang deh. Salut buat mbak Myra, yang bisa menahan diri dan mengajak Keke untuk berdiskusi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masalahnya anak saya gak bisa langsung dilarang begitu aja. Harus ada alasan kuat. Ya mungkin karena dibiasakan seperti itu. Semua harus ada alasannya

      Hapus
  14. pernah ngerasain jadi mahasiswa dan pernah ikut demo. Setiap ada keramaian berita, ibu saya pasti nelpon langsung ngelarang demo yang sebenarnya saya nggak mau dilarang-larang gitu aja hehehe. Tapi kalau mbak tanya gimana kalau punya anak ikut demo? ya saya pasti minta anak pikirkan dan dilihat dulu, hehehe

    Berdasarkan pengalaman, ada beberapa hal yg bisa bikin demo tertib: tujuannya jelas, ada arahan sebelum berangkat, korlap tahu data peserta demo dan peserta tau korlapnya, jangan keluar barisan tanpa diketahui yg lain, ada tim medis, dan mesti pake tanda tertentu, entah pakaian, entah pita, ikat kepala khusus, ini penting biar gak gampang disusupi.

    Iya mbak, meski pernah ikut demo, tapi lebih enak gak perlu ada yg didemokan (kecuali demo masak)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Demo masak memang paling enak hehehe. Ya memang bagusnya apapun itu ada tata tertibnya

      Hapus
  15. LIKE BANGET sama tulisan ini.



    Saya juga sih, lebih memilih anak gak demo tapi saya tahu gerakan mahasiswa yang murni itu memang untuk membela kepentingan yang besar. Akan banyak manfaatnya jika anak saya suatu saat ingin ikut berdemo. Cuma ya .. itu ... dia harus tahu apa yang diperjuangkannya. Tahu risikonya dan udah menelusuri banyak informasi bukan asal ikut-ikutan atau asal solidaritas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu, makanya meskipun Keke gak jadi ikut demo, saya tetap bertanya ke dia tujuan apa. Saya ingi tau seberapa banyak dia memahami masalah

      Hapus
  16. Berdiskusi adalah koentji supaya anak merasa lebih dihargai dan lebih terbuka pemikirannya ya, Bundaaaaaaa. Makasih sharingnya. ;)

    BalasHapus
  17. Aku pas demo 98 itu masih sekolah. Tapi karena kami tinggal di Surabaya, jadi hanya memantau dari berita di TV.
    Kenapa?
    Karena Bapak rahimahullah kerja di Jakarta waktu itu...
    Rasanya tiap hari pergi-pulang naik ojek, gak berani bawa mobil sendiri karena kejadian mobil dibakar dan digoyang, dipukul sampai kaca pecah itu selalu ada.

    Semoga Allah damaikan Indonesiaku.

    BalasHapus
  18. haduh deg-degan banget pasti kalo anak anak ikut demo ya Mak.. kalo masih SMA mgkn masih bisa kita rem-rem ya.. kalo udah kuliah mgkn beda lagi ya situasinya.. huhuhu

    BalasHapus
  19. Memiliki anak yang sudah remaja tentu punya tantangan sendiri ya chi. Aaah, ga kebayang kalau aku diposisi chi nanti. Semoga bisa memberikan yang terbaik untuk sang buah hati

    BalasHapus
  20. Susah yaaa jadi orang tua. Tapi kerennn menurutku pendekatan mbak ke anak2 remaja. Bener banget, klo dilarang langsung malah bikin penasaran. Paling ndak mereka ngerti lah apa sih visi misi demo itu. Dan bnr juga bahwa berjuang itu tidak hanya turun ke jalan. Itu yang harus dipahami.

    Btw, masih gak ngeh nih Chi drmn asal katanya ya? Keke juga drmn? *kepoo

    BalasHapus
  21. MashaAllah mba, anaknya sudah Bujang:)

    Btw, waktu kerusuhan demo 98, ketika itu aku masih anak-anak yang tinggal di sekitaran Trisakti. Kala itu keadaan bener-bener menyeramkan sekali mbak

    BalasHapus
  22. Waduh, baca status Makchie beberapa waktu lalu bikin aku kepikiran. Takut banget anakku bakal begitu juga. Semoga deh nanti saat kuliah, gak banyak demo kayak sekarang. Takut mau ngijinin. Padahal dulu, aku selalu ikut demo. :)))

    BalasHapus
  23. Anak-anak sekarang umurnya baru 8 sama 5 tahun.. baca tulisan ini jadi kebayang gimana kalo mereka makin gede deh :D
    Tks ceritanya ya mbak..

    BalasHapus
  24. jadi flashback ke demo jaman dulu yaaa, demonya mahasiswa trisakti yg...wah ngeri kalau ingat2. saya masih SD kayaknya. alhamdulillah demo yg sekarang masih bisa terhandle dg baik

    BalasHapus
  25. aku juga kepikiran kek mana kalau anakku minta izin ikut demo. Yang jelas harus ku tanyakan dulu alasan kuatnya apa dan rencana dia dari berangkat sampai pulang gimana. Kalau bapaknya sih malah semangat ikutan demo.

    BalasHapus
  26. Kebayang galaunya ortu saat anak minta izin ikut demo.
    Di sini juga anak2 smk di sekitar rmh saya pada ikut demo. Ibu2 mereka khawatir tapi herannya kok ya tdk dilarang....

    BalasHapus
  27. Langsung deg-degan. Zamannya anak saya besar nanti akan gimana ya? Bisakah saya berbesar hati mengizinkannya atau melarang. Kayaknya sih bakal melarang hahahaha. Tapi keren Mbak komunikasinya dengan Keke, jadi pelajaran buat saya dan keluarga.

    BalasHapus
  28. cara mba berkomunikasi dan diskusi dengan anak2, perlu banget aku cth ;). akupun ga mau lgs serta merta menolak kalo anak minta sesuatu. memang hrsnya kita ajak bicara dulu sebelum memutuskan ya mbaaaa.. jd ga berkesan mentang2 ortu bisa otoriter. krn yg aku takutin, anak2 malah main dr belakang :(

    BalasHapus
  29. anak saya skrg masih kecil (TK dan SD)..Nah pas kemarin ramai demo kan di medan pelajar juga ikutan demo. Trus pas mereka lewat depan sekolah anak2 pas berangkat demo. Jadi anak2 memohon2 mau lihat demo (karena penasaran demo itu seperti apa). Dan memang kalau jadi ibu itu beda yaaa...ya jelas saya nggak ngizinin bocil nonton demo dengan alasan keamanan. Di rumah kami jadi bareng nonton youtube demo untuk memberikan penjelasan apa itu demo pada anak2 ^_^

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^