VIVAtalk - Perempuan, Ayo Berdaya!

Perempuan berdaya, Indonesia maju. Setuju 'kah dengan pernyataan ini?

Hmmm ... kenapa harus perempuan? Bukankah seharusnya laki-laki yang berdaya? Kan sudah menjadi kodrat laki-laki untuk mencari nafkah.

Sebagian dari kita mungkin akan langsung mengatakan setuju. Tetapi, sebagian lagi akan menjawab dengan ragu atau bahkan menolak. Berbagai pertanyaan akan timbul. Beberapa pertanyaan di antaranya seperti contoh di atas.

perempuan berdaya indonesia maju

VIVAtalk - Perempuan, Ayo Berdaya!


Selasa (3/12) Chi hadir di acara VIVAtalk dalam rangka menyambut Hari Ibu ke-91 yang diselenggarakan di Hotel Millenium, Jakarta. Acara yang diselenggarakan bersama Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Republik Indonesia ini bertema "Perempuan Berdaya Indonesia Maju, Perempuan di Era Digital".

"Hari ibu bukanlah sekadar perayaan. Tetapi, merupakan tongak emansipasi untuk mewujudkan perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia," ujar Henky Hendranantha, Chief Operating Officer (COO) VIVA Networks.

Dengan adanya acara ini diharapkan semakin banyak perempuan yang menyadari pentingnya kesetaraan gender demi Indonesia lebih maju. Perempuan Indonesia menjadi lebih kreatif dan dapat memberdayakan dirinya.

Indra Gunawan, Deputi Bidang Partisipasi Masyarakat Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Republik Indonesia, pertisipasi perempuan berdaya dapat meningkat Pendapatan Domestik Bruto (PDB) di suatu negara, termasuk Indonesia. Oleh karena itu pemerintah terus berupaya mengatasi segala tantangan yang terkait dengan isu-isu perempuan agar kesetaraan gender semakin tercapai.

Antara Kodrat dan Kesetaraan Gender


konsep gender, kesetaraan perempuan
sumber: web KPPPA

Rasanya cukup sering mendengar kata 'kesetaraan gender'. Apakah itu artinya kaum perempuan ingin melawan kodrat?

Tentu tidak.

Menurut Eko Bambang Sudiantoro, Chief of Research at Polmark dan Aliansi Laki-Laki Baru, kodrat perempuan dan laki-laki itu berbeda dan gak bisa ditukar. Kodrat perempuan seperti menstruasi, hamil, melahirkan, dan menyusui itu gak mungkin dimiliki oleh laki-laki. Sedangkan kodrat laki-laki itu membuahi (memiliki sperma).

Contoh kesetaraan gender adalah bila laki-laki bisa berdaya hingga memiliki karir yang bagus, maka perempuan pun seharusnya juga berhak memiliki hak yang sama. Dalam kehidupan rumah tangga, urusan anak seharusnya menjadi kewajiban bersama.

Berbicara tentang pemberdayaan perempuan memang tidak sebatas urusan ekonomi. Tetapi, perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan laki-laki dalam segala aspek. Perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam hal pelayanan kesehatan, ekonomi, pendidikan, perlindungan hukum, dan lain sebagainya. Perempuan yang berdaya mampu menentukan apa yang menjadi pilihan hidupnya.

Komitmen Bersama untuk Mencapai Kesetaraan Gender


kesetaraan gender

Sedikit flashback ke beberapa tahun silam, saat Keke dan Nai masih kecil. Salah seorang teman, pernah menganggap Chi sudah memperlakukan suami seperti seorang asisten rumah tangga. Gara-gara dia tau kalau Chi lagi me time, anak-anak diasuh sama ayahnya.

Chi tau kalau K'Aie gak merasa seperti itu. Tapi, omongan teman Chi itu cukup membekas di hati. Sampai jadi uring-uringan dan bikin menangis.

K'Aie tertawa saat Chi curhat. Tentu aja tertawanya untuk mendinginkan suasana supaya istrinya ini lebih santai. K'Aie menegaskan kalau dia tidak merasa diperlakukan seperti itu. Urusan anak adalah tanggung jawab bersama. Sesekali istrinya mau me time sejenak, silakan aja.

Dr. Sri Danti Anwar, Pakar Gender, mengatakan kalau saat ini dunia semakin terbuka. Dewasa ini, mulai terlihat laki-laki mengantar anak ke sekolah dan belanja. Sedangkan perempuan memiliki karir, bahkan lebih tinggi dari pasangannya. Pemandangan seperti ini mulai terlihat lumrah.

Tetapi, memang belum di semua wilayah. Masih menjadi tantangan besar untuk mencapai kesetaraan gender. Diskriminasi masih terjadi di mana-mana. Dan yang paling terkena dampaknya adalah perempuan dan anak.

Untuk mencapai kesetaraan gender memang membutuhkan komitmen bersama. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencapainya, yaitu

Menciptakan Suasana Harmonis

Suasana ini dimulai dari lingkungan terdekat dulu. Bila memiliki pasangan, diskusikan apakah memiliki kesamaan pandangan tentang kesetaraan gender. Di lingkungan keluarga, apakah sebagai perempuan dibolehkan untuk berdaya sama halnya dengan laki-laki.

Berhenti Menghakimi

"Ibu Tina sukses banget ya karirnya. Tapi, kasihan anaknya kalau ibunya sibuk berkarir."

Masih ada beberapa fakta di lapangan bila melihat seorang perempuan berkarir akan menimbulkan pertanyaan tentang siapa yang mengasuh anaknya. Beda halnya bila laki-laki yang berkarir. Rasanya tidak ada yang mempertanyakan siapa yang mengurus anak bila seorang laki-laki sibuk dengan karir.

Kemudian timbul gunjingan bahkan menghakimi. Padahal bisa jadi kita sebenarnya gak tau isi 'dapur rumah tangga' orang lain. Siapa tau sebetulnya anaknya terurus dengan baik karena mereka memang keluarga yang harmonis. Bahagia menjalankan rumah tangga sehingga semua bisa terurus dengan baik.

Penghakiman seperti itu bisa membuat perempuan lagi jadi ragu untuk berdaya. Khawatir digunjingkan dan dihakimi.

Memahami dari Berbagai Sudut, Termasuk Perspektif Laki-Laki

komitmen bersama menciptakan kesetaraan gender

Di masyarakat kita juga masih banyak yang menganggap kalau laki-laki itu harus kuat dan gak boleh menangis. Kalau menangis dianggap cengeng. Curhat pun juga sulit. Padahal laki-laki juga manusia yang memiliki perasaan. Dan mencari nafkah untuk keluarga merupakan tanggung jawab yang besar.

Sikap istri, keluarga, dan masyarakat sekitar bisa membuat seorang laki-laki menjadi semakin memiliki beban. Misalnya dicemooh karena berpenghasilan kecil, padahal sudah berusaha keras mencari nafkah. Bila dia mengizinkan istrinya bekerja, nyinyiran justru semakin tertuju kepadanya.

Ego seorang laki-laki itu tinggi. Gara-gara stigma tersebut, bisa membuat seorang suami terkoyak egonya dan melarang istri untuk berdaya. Bahkan ada juga yang sampai melakukan KDRT.

Mencari Informasi yang Tepat

Saat ini VIVA Networks sedang menyiapkan platform khusus bagi perempuan agar para perempuan dapat mencari informasi yang tepat. Tujuannya agar menjadi manusia yang tangguh dan memiliki daya saing.

Melakukan Pendekatan dengan Berbagai Tokoh

Tantangan kesetaraan gender tidak selalu datang dari keluarga. Ada juga yang lingkupnya lebih luas, misalnya di masyarakat. Biasanya dengan alasan budaya atau agama.

Bila kondisinya seperti ini, bisa melakukan pendekatan dengan tokoh di wilayah tersebut. Melakukan diskusi dan pendapat dengan tokoh yang dianggap paling berpengaruh di sana.

Membuat Berbagai Kebijakan dan Payung Hukum untuk Melindungi Perempuan dan Anak

Pemerintah bisa membuat berbagai peraturan yang bisa melindungi perempuan dan anak. Salah satu yang baru direvisi adalah tentang UU Perkawinan, di mana batas minimum usia laki-laki dan perempuan untuk menikah adalah 19 tahun.

Dalam UU Pernikahan yang baru direvisi tersebut tidak ada lagi diskriminasi usia. Sebelumnya, minimal usia perempuan boleh menikah lebih rendah. Usia 19 tahun dianggap sudah matang untuk berkeluarga. Paling tidak dari sisi pendidikan, di usia tersebut setidaknya sudah lulus SMA/SMK. Diharapkan kelak bila menjadi orang tua juga bisa mendidik anak dengan baik.

Ibu adalah sekolah pertama bagi anak. Kelak anak-anak ini akan menentukan nasib bangsa. Sehingga penting bagi seorang perempuan untuk terus mengembangkan diri menjadi terbaik versi dirinya, keluarga, dan juga negara.

Peluang Besar untuk Berdaya Secara Ekonomi di Dunia Digital


manfaat bonus demografi
sumber: web KPPPA

Diperkirakan Indonesia akan mengalami bonus demografi pada tahun 2030. Di mana pada masa itu usia produktif (15 -64 tahun) berjumlah sekitar 64%.

Bonus demografi ini bisa menjadi positif, bisa juga menjadi negatif. Idealnya memang bonus demografi ini mampu membuat suatu negara menjadi maju. Pada masa bonus demografi, mayoritas penduduk di negara tersebut berusia produktif.

Tetapi, tentunya butuh strategi yang matang. Berbagai langkah perlu dilakukan oleh pemerintah dan berbagai pihak agar bonus demografi ini bisa dimanfaatkan secara maksimal. Kualitas SDM Indonesia harus semakin ditingkatkan. Sisi pendidikan dan ketrampilan harus ditingkatkan.

Chi membayangkan Nai yang saat ini masih termasuk usia anak, 10 tahun ke depan dia akan menjadi salah satu masyarakat yang masuk ke usia produktif. Tentu Chi harus persiapkan dari sekarang. Agar dia bisa berkarya dengan baik di saat usia produktif.

industri kreatif bagi perempuan

Jumlah perempuan di Indonesia juga banyak. Bila para perempuan berdaya maka akan menjadi satu kekuatan untuk memajukan Indonesia.

Di masa lalu beberapa lapangan pekerjaan bisa menjadi alasan keterbatasan perempuan untuk berkarya. Dianggap pekerjaannya tidak cocok untuk perempuan. Tetapi, dengan hadirnya dunia digital, sekat pembatas semakin tipis. Banyak lapangan pekerjaan yang terbuka bagi perempuan di dunia digital. Perempuan juga tidak harus meninggalkan rumah bila ingin berdaya.

perempuan berdaya indonesia maju

Diajeng Lestari, Founder HIJUP, mengatakan bila seorang perempuan bisa berdaya kelak bisa bisa mempengaruhi masyarakat lainnya untuk berdaya. Misalnya bila seorang perempuan memiliki usaha terima jahitan pakaian, semakin besar usahanya tentu akan membutuhkan karyawan. Itu artinya memberdayakan orang lain juga.

Saat ini Indonesia menempati posisi ke-3 sebagai pasar konsumsi fashion terbesar di dunia. Menurut Diajeng, peringkat ini belum membanggakan karena masih menunjukkan sebagian besar masyarakat Indonesia masih menjadi konsumen. Indonesia masih menempati peringkat ke-6 sebagai negara yang melakukan ekspor ke banyak negara OKI.

3 negara pengekspor terbesar ditempati oleh China, India, dan Turki. Menurutnya kebijakan negara China dan India mendukung industri manufaktur. Memang jadinya agak sulit untuk menandingi. Tetapi, produsen fashion Indonesia bisa mengambil sudut lain, misalnya memproduksi pakaian yang sustainable.

Media sosial dan kanal digital sangat potensial sebagai platform marketing untuk mempromosikan produk dan menciptakan suatu branding

Tantangan menjadi perempuan untuk berdaya di era digital ini juga semakin besar. Bullying terhadap perempuan semakin besar di dunia digital. Biasanya mengarah ke body shaming, Mirisnya lagi sesama perempuan juga yang paling sering melakukannya.

Tetapi, jangan sampai gentar. Sudah saatnya harus saling mendukung. Perempuan berdaya, Indonesia maju!

46 Comments

  1. Aku pernah berada di posisi yang Mbak Chi ceritakan di atas, aku berkerja sementara suami mengurus anak di rumah. Nyinyiran pun semakin gencar karena aku sering melakukan perjalan dinas. Tapi memang benar, Mbak. Rumah tangga kita, kita yang tau dalamnya. Selagi suami tidak merasa keberatan, bodo amat nyinyiran org lain. Suamiku bilang gini, "yang aku uruskan anakku sendiri, kenapa mereka yang sibuk? Kecuali yg aku urus anak tetangga baru mereka boleh komentar." Hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwkw begitulah, Mbak. Tapi, kalau suami langusng mendukung mah lega rasanya, ya

      Hapus
  2. Jadi ingat tanggal 5-7 kemarin dapat tawaran tugas ke belitung. Pengen tapi lama menimbang-nimbang, karena tanggal 6 dan 7 ART minta ijin libur.

    Akhirnya "curhat" ke suami kalau lagi galau, antara ambil pekerjaan itu atau cuti saja dan menemani anak-anak di rumah. Kata suami, ambil aja, anak-anak biar aku yang urus. Hoho... baiklah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mantaaap! Menyenangkan kalau begitu, ya ^_^

      Hapus
  3. Saya banget itu ninggalin anak-anak dengan suami saat saya liputan. Lha gimana lagi? Kami mah santai aja dengan perkataan orang-orang lha ini kan rumah tangga kami, hehehe. Yang penting komunikasi dan hubungan hangat bisa tetap terjaga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup! Sesungguhnya kita lah yang lebih tau isi dapur masing-masing

      Hapus
  4. Selalu ada komentar2 tdk enak didengar thd keputusan yg kita jalankan ya Mak. Selama keputusan kita baik, jalani saja💪 semangaatt perempuan Indonesiaaaa😍

    BalasHapus
  5. Toss haha saya suka ninggalin neng Marwah juga sama suami, kadang titipin mamah juga wkwkwk. Body shamming pun saya sering huhuh , setiap yang ketemu pasti komentar gendutan , kesel sih tp lama - lama ya udah cuekinaja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, abaikan aja. Apalagi kalau orang sekitar justru peduli ma kita :)

      Hapus
  6. Nah, herannya ya Mbak Chi perempuan yang minta kesetaraan, perempuan juga yang getol bully sesamanya. Padahal dah bener-bener gak zaman ah. Skrg waktunya perempuan saling mendukung, sehingga potensinya bisa sama2 makin bersinar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah uniknya perempuan hihihi. Padahal kalau semakin bersatu, semakin kuat

      Hapus
  7. Nah aku yang punya anak cowok, sejak kecil keduanya aku ajak ikut bantu pekerjaan rumah. Bahkan yang sulung sekarang udah kerja, aku tekankan bahwa kelak kalo udah nikah harus mau bantuin istrinya jaga anak-anak juga. Bantu pekerjaan rumah juga, seenggaknya nyapu atau bersihin kamar mandi, gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini juga saya banyak belajar dari mertua. Anaknya laki-laki semua. Tetapi, semauanya mau bantuin mamahnya mengurus rumah tangga

      Hapus
  8. Setujua teh perempuan itu harus berdaya juga menurut aku sekalipun ibu rumah tangga. Yang namanya berdaya itu bukan berarti harus selalu menghasilkan uang. Bukan. Berdaya itu artinya luas tapi kebanyakan orang mikirnya berdaya itu harus menghasilkan uang dan harus berkarier. Nggak juga. Ketika hidup kita sekalipun ibu rumah tangga tapi ada sesuatu nilai yang bisa kita berikan dan lakukan untuk menebar manfaat. Itu juga temasuk berdaya menurut aku. Misalnya sebagai blogger, walau banyak di rumah tetapi kita menulis dan mengedukasi banyak orang lewat konten positif kita. Kita jua termasuk perempuan berdaya juga ya. Semangat kita smua para perempuan untuk menjadi perempuan berdaya dan produktif dimanapun dan kapanpun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup! Memang seperti itulah arti berdaya, Perempuan mempunyai hak dan kewajiban yang setara dan bahagia. Kalaupun di bagian akhir ditekankan tentang bisnis digital, itu karena potensi ekonomi di dunia digital sangat besar. Dan para pelaku bisnisnya juga kebanyakan perempuan

      Hapus
  9. kalo aku disuruh gawe lagi, malah ogah. disuruh kuliah s2 juga ogah. lebih suka memberdayakan diri di rumah saja :)

    biar cuma di rumah, banyak hal yg bisa ibu rumah tangga lakukan agar bisa bermanfaat untuk orang lain. salah satunya ya jadi blogger ini menurutku bisa menebar kebaikan dengan share tulisan yg bermanfaat untuk orang lain :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, karena artinya berdaya seperti itu. Gak harus juga kerja kantoran atau kuliah lagi, kok :)

      Hapus
  10. K'Aie seperti suamiku, kalau aku kerja atau pergi kemana gitu yang ga bisa bawa anak ya dia yang handle anak. Alhamdulillah enggak protes selama enggak mengganggu tanggung jawab utamanya dia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pokoknya saling berbagi, ya. Rumah tangga dikelola bersama

      Hapus
  11. Iyap banyak juga yang mudah meghakimi. ENtah kadang menyadari atau tidak namun jika tersampaikan di sesama perempuan, jadi menganggu bener. Kuncinya ya harus saling berdaya antar sesama

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu, mestinya saling support supaya sama-sama berdaya

      Hapus
  12. Justru kadang kaum perempuan sendiri yang membuat kesetaraan gender ini tidak tercapai. kayak itu, hobi ngomongin perempuan lain yang sukses di karier, terus bilang kasihan anak-anaknya kurang diperhatikan. Bisa bikin mental ngedrop kan kalau seperti ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hambatannya justru banyak juga dari kaum perempuan, ya. Memang butuh kesadaran bersama, nih

      Hapus
  13. Padahal kaum perempuan juga bisa setara ya dengan laki-laki, dan sebenarnya sudah dibuktikan juga sih. Kita juga sebagai perempuan harus tetap update akan informasi-informasi yang berkembang. Dulu soalnya aku berkaca dari mamahku, yang sukses dalam karirnya bahkan melampaui papaku. Tapi sekarang semenjak gak kerja dan di rumah justru aku juga harus bisa buktikan sama suami kalau di rumahpun aku tetap bisa berdaya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama. Mamah saya juga dulu waktu masih berkarir lebih tinggi jabatannya dari papah. Tetapi, setelah resign pun juga tetap berdaya

      Hapus
  14. Menjadi perempuan sekarang jadi isu feminis dimana2 ya mba. Pdhl menurutku gender apapun bisa saling bersinergi dan menguntungkan. Apalagi skrg semua serba mudah, perempuan juga banyak prestasinya.

    Tapi bener seh kadang sesama perempuan kita kurang sling dukung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Problem banget ya ini. Semoga semakin banyak perempuan yang bersatu

      Hapus
  15. Terkadang yang menghambat kemajuan karir seorang perempuan ini justru para perempuan sendiri. Mereka yang iri dengan kemajuan karir teman perempuannya. Ini nih yang seringkali makan hati. Bahkan bisa bikin seorang perempuan patah arang sebelum selesai berjuang memcapai tujuannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kalau support systemnya kurang bagus dan perempuan ini rapuh, makin lah gak semangat untuk berdaya bola diperlakukan seperti itu

      Hapus
  16. Apalagi aku, suamiku gak cuma jagain anak, malahan bantuin kerjaan RT yang aku gak bisa kerjain wkwwk, pasti tambah nyinyir temenmu mbak hehe :D
    Ya kesetaraan gender pernting utnuk dipahami, gak cuma oleh laki2 tapi sesama perempuan, tapi juga tetap bisa melakukan aktivtas sesuai kodrat, Intinya ya saling bantu, saling kerja sama :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyeees! Karena kesetaraan gender sebetulnya bukan untuk menentang kodrat

      Hapus
  17. Nah aku setuju banget. Pencerahan buat kaum perempuan dan kaum Adam sekaligus

    Saat ini, perempuan memiliki karir, bahkan lebih tinggi dari pasangannya. Pemandangan seperti ini mulai terlihat lumrah dan kesenjangan ekonomi juga sudah mulai tidak terasa jomplang beda kayak dulu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di kota besar udah mulai lumrah yang seperti ini ya, Mbak :)

      Hapus
  18. Selalu seru ya kalau membahas kesetaraan gender... Apapun keputusannya setiap perempuan punya pertimbangan masing-masing, kalau enggak bisa mendukung, minimal jangan menghakimi ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju. Hindarkan deh sikap menghakimi apalagi sampai bullying

      Hapus
  19. Kalau saya mending ayah ya yang tahu soal keputusna ini sehingga kelak bisa bantu mendidik anak sesuai fitrah sesksual anal tersebut

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maksudnya perempuan gak boleh tau dan gak bisa mendidik anak sesuai fitrah? Bukankah ibu juga yang akan mendidik anak? *Maaf, saya agak kurang paham dengan komentarnya, Mbak

      Hapus
  20. Kesetaraan gender ciri orang yang dalam konteks dirinya tidak mmapu menerima apa yang ada bahkan bisa jadi karena faktor masa lalu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini maksudnya bagaimana, Mbak?

      Saya pribadi bersyukur karena mempunyai keluarga dan suami yang menghargai kesetaraan gender tanpa saya harus berteriak. Tetapi, di luar sana masih banyak perempuan yang berjuang dengan hal ini

      Hapus
  21. setuju mbak walau kodrat kita dengan lelaki berbeda perempuan punya hak yang sama untuk berprestasi dan berkarya
    yang sedih sih sesama kaum perempuan saling nyinyir

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga yang nyinyir semakin berkurang, ya

      Hapus
  22. Dulu pas aku sering-seringnya mengejar ilmu parenting ke sana kemari juga seringnya anak-anak sama Abinya. Hihii~
    Terus ada yang bilang gitu juga, kak..."Kok tega amat siih...ninggalin anak?"

    Aku jawabnya,"Anak-anak juga perlu quality time sama Abinya. Kan sehari-hari uda sama emaknya..."

    Alhamdulillah,
    Aku percaya banget kalau perempuan cerdas dan melek literasi, maka Indonesia akan maju.

    BalasHapus
  23. Alhamdulillah, suamiku juga pengertian, kami saling bagi tugas rumah tangga dan jaga anak..jadi bisa lancar semuanya yang penting ngobrol dulu

    BalasHapus
  24. Setuju banget kak... tantangan perempuan di era digital emang besar banget.. selain utk perempuan itu sendiri juga utk anak2 dan keluarganya

    BalasHapus
  25. Suami sudah paham sejak awal, kalau saya seorang pekerja sehingga setelah menikah tetap boleh memberdayakan diri, entah gabung komunitas yang mendukung hobi maupun mengerjakan kerjaan yang saya sukai.

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^