Sebetulnya lagi agak hilang semangat untuk ngeblog. Secara gak sengaja Chi menghapus banyak sekali komentar dari teman blogger yang masuk. Ada 15 postingan yang berubah jadi 0 jumlah komentarnya. Padahal komentar-komentar itu salah satu penyemangat ngeblog. Langsung lemes begitu nyadar. Gak ngerti gimana cara ngebalikin semua komentar itu. Maaf, ya. Insya Allah Chi tetep blogwalking, kok. Apalagi komentar yang masuk kan tetep ada di email. :(

--------

Tau mainan loom band yang lagi ngetrend saat ini? Cari aja di google apa itu loom band :p

Chi mulai tau mainan ini pas lebaran lalu. Sepupu lagi seneng main loom band. Tapi, Chi gak tertarik. Anak-anak juga keliatan nyantai aja. Setelah loom band semakin ngetrend, Nai pun mulai minta dibeliin.

Sebetulnya Chi males banget beliinnya. Tapi, karena Nai bilang belinya pake uang THR dia, susah juga buat ditolak. Itu uang kan hak dia mau dipake untuk apa, selama bukan untuk yang terlarang.

Setelah beli, Chi masih cuek. Yang terlihat menikmati justru Keke. Nai masih harus dibantuin kalau bikin. Lama-lama, Chi pun ikut ketagihan tertarik. Chi dan Nai bahkan berencana membuat beberapa loom band untuk dikasih ke beberapa sahabat Nai. Semacam gelang persahabatan gitu.

Belom juga jadi gelangnya, tau-tau di socmed dan hape rame banget pada share link berita tentang loom band yang katanya beracun kandungannya. Ada rasa gak rela karena baru aja mulai suka masa' udah harus brenti? Seperti biasa, kalau ada berita heboh, Chi gak mau langsung ikuitan heboh. Chi suka membiasakan cek-ricek dulu. Cari berita pembanding.

Chi belum ngomong tentang berita ini ke Keke dan Nai karena awalnya sempat khawatir kalau mereka jadi berhenti bermain loom band. Padahal loom band itu bagus buat berkreasi, lho. Ada beberapa manfaat yang bisa didapat anak-anak ketika berkreasi dengan loom band.

Sampe Selasa lalu (2/9), Nai mulai tanya ke Chi apa benar kalau loom band itu beracun? Dia dapat info dari salah seorang temannya. Dan, temannya berhenti pakai loom band. Awalnya, Chi cuma bilang kalau loom band itu masih aman.

Hari berikutnya, Nai masih menanyakan hal yang sama. Dia kelihatan agak sedih. Rencana untuk kasih gelang persahabat ke para sahabatnya bisa terancam gagal karena berita loom band beracun. Padahal dia udah seneng banget sama rencana itu.

Bunda: "Oke, sekarang kita buka google. Keke coba ketik di google dengan kata kunci loom band beracun. Pilih salah satu berita, silakan kalian berdua baca dulu. Setelah itu, Bunda minta pendapatnya kalau udah selesai, ya."

Keke lalu membuka berita tentang loom band yang beracun ini dari portal Bo** Ki**si*

Keke: "Beritanya kurang jelas, Bun. Cuma disebut ada kandungan phthalates. Tapi, berbahayanya gimana?"
Bunda: "Di web itu, ada sumbernya gak dapet dari mana?"
Keke: "Dari web K**pa*, Bun."
Bunda: "Kalau gitu, coba cari berita dari web K**pa* trus dibaca."



Keke: "Bunda, ada yang aneh! Judul beritanya gelang loom band, tapi pas Keke baca sampe abis yang dibilang beracun itu hiasan tambahannya."
Bunda: "Pinter, Keke! Udah paham sekarang kenapa dari tadi Bunda minta kalian untuk baca beritanya sampai habis."
Keke: "Gak terlalu paham, sih."
Bunda: "Tadi, Keke bilang kalau ada yang aneh. Antara judul sama isi berita kelihatan kurang nyambung, kan? Sekarang ini banyak banget berita yang judulnya heboh tapi begitu dibaca isinya suka gak sesuai dengan judulnya. Sayangnya, masih banyak orang yang boro-boro mau melakukan cek-ricek dengan mencari berita pembanding. Sekedar untuk baca beritanya sampai tuntas pun enggak. Langsung termakan sama judul, emosi langsung kebakar."
Keke: "Jadi, kita harus benar-benar membaca, ya, Bun?"
Bunda: "Tepat banget! Coba Keke lihat lagi, ada kira-kira yang mau Keke tambahin lagi pendapatnya?
Keke: "Katanya, berbahaya kalau terhisap atau tertelan. Berarti kalau kita gak hisap atau tertelan, aman ya, Bun? Masa' kita mau nelen karet hehehe."
Bunda: "Yup! Makanya di bungkus mainan itu kan selalu ada standar usia. Kita harus benar-benar patuh. Loom band ini gak boleh untuk anak batita. Karena anak batita itu, apa-apa masih dimasukin ke mulut. Yang kandungannya aman pun belum tentu aman kalau dimasukin ke mulut. Kalau bendanya kotor gimana?"
Keke: Kayak Zahra, ya, Bun. Semua dimasukkin ke mulut. Susah dikasih taunya."
Bunda: "Namanya juga masih batita. Trus, yang di K**pa*s itu, beritanya dari mana sumbernya?"
Keke: "Daily mail."
Bunda: "Silakan Keke buka beritanya di Daily Mail. Atau di BBC juga gak apa-apa. Sama beritanya. Baca dulu, abis itu kasih tau Bunda pendapat Keke, ya"



Keke: "Bunda, kalau diberita ini judulya charm isinya juga tentang charm."
Bunda: "Oke. Truuuss...? "
Keke: "Ada tulisan 'Some'. Some ini artinya gak semua charm itu berbahaya, kan? Cuma beberapa?"
Bunda: "Ya. Tapi, coba Keke tonton videonya untuk memastikan."

Chi lalu mengingatkan lagi tentang penting cek dan ricek. Benar-benar mencari sumber aslinya. Jangan cuma percaya katanya, katanya. Jangan juga langsung main share dan berkomentar macem-macem kalau belum melakukan cek-ricek.

Keke: "Keke boleh bagiin beritanya ke temen-temen, Bun? Biar kalau ada temen yang tanya kenapa Keke masih main loom band padahal beracun, Keke tinggal kasih lihat beritanya."
Bunda: "Silakan aja. Setidaknya kita udah ngasih berita pembanding."

Saat itu yang banyak berdiskusi memang Chi dan Keke. Nai lebih banyak diam, duduk manis di samping Chi.

Nai: "Jadi, Ima tetep kasih gelang gak, Bun?"
Bunda: "Terserah Ima."
Nai: "Kalau temen Ima tetep gak mau terima karena takut racun gimana? Padahal misalnya Ima udah jelasin beritanya."
Bunda: "Nah, sekarang Bunda terserahin ke Ima. Kalau tetep mau kasih, Ima gak boleh marah dan sedih kalau sahabat menolak karena takut. Sahabat Ima kan juga punya alasan. Tapi, kalau Ima gak siap ditolak, sebaiknya batalin dulu rencana kasih gelang persahabatan. Lagian, ada atau enggak ada gelang persahabatan, tetep bisa bersahabat, kan?"
Nai: "Iya, Bun."

Keputusan sementara, rencana untuk kasih gelang persahabatan dibatalkan dulu. Tunggu situasi aman hihihi. Kalau kami, sih, tetep aja berkreasi dengan loom band. Setelah mencari berita pembanding dan pakai feeling juga, kayaknya masih aman.

2 hari setelah diskusi itu, Nai manggil-manggil Chi

Nai: "Bundaaa, sini lihat tv, deh. Loom band katanya berbahaya."

Kami pun menonton berita tersebut sampai selesai.

Nai: "Jadi, beneran berbahaya, ya, Bun?"

Nai berkata dengan nada yang terdengar lemas. Diberita itu katanya ada seorang anak kecil yang matanya buta karena keselepet loom band. Trus, satu lagi ada anak kecil yang pergelangan tangannya nyaris diamputasi karena membiru gara-gara terlalu ketat mengikat loom band dipergelangan tangan.

Chi bilang ke Nai, benda apapun kalau kena mata bisa menimbulkan berbagai resiko. Dari yang ringan hingga buta. Begitu juga dengan pergelangan tangan. Pake jam tangan mahal sekalipun kalau makenya terlalu ketat juga bakal bikin pergelangan tangan membiru. Lama-lama bisa diamputasi karena aliran darah gak lancar bahkan berhenti.

Jadi, gak serta merta salah loom band. Tapi, gimana cara kita berhati-hati. Apalagi kalau anak kecil yang main. Orang tua tetep harus mengawasi dan mewanti-wanti.

Nai terlihat diam. Tapi, gak apa-apa. Nanti, lama-lama juga dia akan mengerti. Mungkin saat itu dia sedang kecewa karena rencananya jadi gagal.

Ada beberapa alasan kenapa Chi mengajak Keke dan Nai berdiskusi tentang loom band ini. Gak semata-mata karena loom band lagi ngetrend. Ini alasannya:


  1. Keke dan Nai udah mulai melek dunia internet. Walaupun ada beberapa kata yang kami 'lock' di internet, tapi bukan berarti 100% aman untuk mereka. Contohnya seperti berita tentang loom band ini
  2. Dengan melek internet, Chi anggap Keke dan Nai udah mampu diajak berdiskusi. Tentu aja disesuaikan dengan gaya bahasa dan cara berpikir mereka.
  3. Zaman sekarang banyak banget berita yang judulnya itu bikin heboh. Padahal isinya gak seperti itu. Sayangnya, banyak juga masyarakat yang cuma baca judul langsung main share. Chi gak kepengen banget Keke dan Nai seperti itu. Biasakan membaca sampe tuntas. Dicerna tulisannya. Lakukan cek-ricek kalau memang diperlukan.
  4. Membiasakan diri untuk selalu membaca sampe tuntas juga artinya membiasakan mereka untuk membaca.
  5. Membiasakan untuk cek-ricek juga membiasakan mereka untuk hati-hati dalam berpendapat. Di dunia maya ini banyak yang berpendapat hanya karena alasan kebebasan berpendapat. Tapi, sebetulnya pendapat mereka hanya asal-asalan. Akhirnya, ada beberapa netizen yang kesandung sama pendapatnya sendiri. Kalau udah gitu, sanksi sosialnya bikin serem.
  6. Yang Chi lakukan ini sebetulnya salah satu bentuk dari sikap orang tua untuk melindungi anak. Abis kalau cuma sekedar dilarang, mereka akan penasaran. Jadi, ajak juga Keke dan Nai berdiskusi. Dengan berdiskusi, Chi juga jadi tau apa jalan pikiran Keke dan Nai