Ranu Pane


Mas Yanto : “Semeru, Mas? Waduh! Jauh itu. Nambah, ya?”

Kemudian terjadi tawar menawar. Mas Yanto meminta IDR1,2juta, sementara K’Aie menawar IDR1juta. Sambil menunggu kesepakatan, Chi memilih menikmati keindahan Savana dari balik kaca Jeep. Mau keluar males, udara mulai panas. Baju yang Chi pake baru berasa tebel :D

Akhirnya terjadi kesepakatan di angka 1,1 (ini total keselurah pembayaran, ya. Bukan harga untuk lanjut ke Bromo). Ngomong-ngomong tentang harga Jeep memang lumayan berasa hehehe. Kalau baca info lewat google, harganya lebih rendah dari yang kami bayar saat itu. Tapi waktu kami liburan itu, BBM baru aja naik. Bisa jadi harga sewa Jeep pun ikut naik atau mungkin kami yang kurang 'kenceng' nawarnya.Gak apa-apa lah, selama perjalanannya asik trus supir Jeepnya juga baik :)

Bawa kendaraan sendiri tidak disarankan oleh perkumpulan Jeep di sana. Alasannya medannya lumayan berat. Itu pun harus mobil 4WD. Tapi kalau ada yang tetap ngotot ingin bawa kendaraan sendiri, silakan aja. Cuma kalau sampe terjadi sesuatu, perkumpulan Jeep males ngebantuin karena sebelumnya kan udah dikasih peringatan. Salah sendiri gak nurut.

Lumayan jauh juga perjalanan ke Semeru. Jalannya muter-muter dan sempit. Beberapa kali Chi merasa ngeri kalau Jeep lagi papasan sama Jeep dari arah berlawanan. Kalau sampe tergelincir ke bawah. Hiiiii ngeri! Di sepanjang perjalanan kami sering menemui segerombolan anak muda membawa tas-tas besar. Mungkin baru turun dari Semeru atau ada juga yang baru mau mendaki.

Kami juga melewati perkebunan suku tengger. Enak banget kayaknya kalau liat perkebunan. Hasilnya seger-seger. Oiya, waktu di Bromo, selain banyak yang menawarkan jaket, di sana banyak juga yang menjajakan cabe. Chi gak tau cabe apa. Bentuknya kayak paprika, gendut-gendut gitu tapi lebih kecil. Warnanya merah. Rasanya Chi baru liat cabe seperti itu.

Sampai juga kami di Ranu Pane. Kalau di papan petunjuk, tertulis “Ranu Pani”. Tapi sepertinya orang lebih banyak yang menyebutnya Ranu Pane. Katanya, sih, sama aja. Ranu Pane saat itu sepi. Hanya ada kami. Dari Ranu Pane, kami bisa melihat megahnya gunung Semeru yang sesekali ‘batuk’.


Dari balik pepohonan itu terlihat kemegahan Semeru. Subhanallah.


Chi, tuh, emang selalu aja merinding kalau lihat gunung apalagi gunung berapi. Gimana, ya, cantik tapi misterius. Ah, pokoknya merinding, lah! Sementara itu K’Aie juga bernostalgia karena pernah beberapa kali mendaki Semeru.

K’Aie : “Kapan-kapan kita ke sana, ya, berempat.” *sambil menunjuk Semeru.

Chi senyum-senyum aja dengernya sambil dalam hati berkata, “Aamiin.”

Chi tau mendaki Semeru bukanlah suatu hal yang gampang. Jangan mentang-mentang ada film 5cm trus kita semua merasa bisa mendaki Semeru. Pasti butuh persiapan yang sangat matang. Belum tentu juga Chi sanggup. Mendaki bukit kecil aja udah ngos-ngosan :D Tapi gak ada salahnya kita mengaminkan sebuah harapan baik, kan? Lagipula Chi pikir kalaupun gak akan pernah bisa ke Semeru, minimal dengan adanya harapan tersebut siapa tau suatu saat kami akan kembali lagi ke Bromo.

Setelah menikmati Ranu Pane, kami pun memutuskan kembali ke Lava View Lodge. Rasanya masih belum rela meninggalkan Semeru begitu cepat, sepanjang perjalanan Chi pun menikmati kemegahan Semeru. Tau-tau… DUARR!! Ya, saking terpukaunya dengan kemegahan Semeru yang sesekali ‘batuk’, Chi gak sadar kalau posisi kepala terlalu dekat sama kaca Jeep. Akhirnya kejedot, deh. Benjol lumayan besar heuuuuu.


 
Di parkiran Ranu Pane
 Belum pengen meninggalkan Semeru sebetulnya. Makanya dipandangin terus tapi akhirnya bikin kepala benjol :p
Berhenti sejenak. Menikmati Savana dari atas sambil foto-foto


Pasir Berbisik


2 pemandangan yang kontras. Yang hijau adalah Savana dengan padang rumputnya. Sedangkan yang abu-abu adalah hamparan pasir dimana ada pasir berbisik di sana.


Dalam perjalanan menuju penginapan kami melewati Pasir Berbisik. Tadinya Chi pikir yang namanya pasir berbisik adalah lautan pasir yang banyak kudanya itu. Ternyata bukan. Pasir berisik itu gundukan-gundukan yang seperti bukit kecil dari pasir. Kalau angin bertiup terdengar seperti suara berbisik. Tapi memang harus hati-hati, kalau bisa pakai masker takut kena mata pas angin bertiup.

Mas Yanto sempat menawarkan kami untuk berhenti dan berfoto-foto. Sayang, pas sampe sana Keke-Nai udah tidur. Mereka mungkin kecapean karena harus bangun dari malam trus tidurnya juga kurang. Kalau Chi paksain bangun, bisa-bisa rewel nanti.

Sampai penginapan sekitar pukul 11 siang. Walaupun udara udah mulai gerah tapi tetep gak berani mandi pake air dingin, ah. Berlama-lama di kamar mandi dengan shower air hangat setelah cape jalan-jalan itu memang nikmaaaattt :D Pukul 12.00, kami check out. Kembali menyantap pop mie untuk makan siang. Perjalanan pun dilanjutkan ke Malang. Rencananya mau nginep di Malang.

Perjalanan ke Bromo dan Semeru berkesan, walopun kami masih ingin kembali ke sini. Gak puas kalau Cuma sekali. Hanya sedikit disayangkan, perjalanan kemanapun selalu ada aja yang kurang bertanggung jawab, ya. Kayak, Chi liat ada salah satu batu yang besar tapi penuh coret-coretan pylox :(

Dah Bromo dan Semeru! Semoga suatu saat kami bisa ke sana lagi dan bisa lebih lama. Masih pengen punya foto bertaburan bintang, pengen menikmati pemandangan dari penginapan, pokoknya masih banyak pengennya.


Titip jejak sepatu Nai di lautan pasir Bromo. Insya Allah, suatu saat kami akan kembali. Aamiin


Bersambung...

Cerita sebelumnya tentang perjalanan ini :


  1. Liburan Setengah Nekat
  2. Gagal ke Masjid Demak
  3. Mencari Penginapan di Semarang, Susah-Susah Gampang
  4. Perjalanan Menuju Bromo
  5. Lava View Lodge - Bromo
  6. Bromo yang Menakjubkan