Jangan Lakukan Ini Bila Mengajak Anak Bertamu - Beberapa hari ini sedang viral cerita seorang netizen yang merasa kesal karena koleksi mainannya dibawa pulang oleh keponakannya. Ketika ditagih, orangtua si anak mengganggap, "Itu kan hanya mainan seharga Rp50 ribu."
 
Wogh! Chi bacanya ikut geregetan, lho. Rasanya pengen ikut kruwes-kruwes. Errgh! 
 
jangan lakukan ini bila mengajak anak bertamu

Beberapa hari kemudian, Chi baca thread di Twitter tentang kisah viral ini. Katanya, sih, itu cerita bohong yang sengaja dibuat. Netizennya lagi nge-halu aja. Akun yang menceritakan kisah mainannya itu pun sudah menghilang.

Terlepas dari itu cerita fiktif atau enggak, yakin banget kejadian seperti itu bisa terjadi di dunia nyata. Paling gak Chi pernah mengalami yang kurang lebih sama. Ya, memang bukan mainan yang harganya sampai ratusan ribu apalagi jutaan. Tetapi, gregetan banget ketika barang pribadi diacak-acak oleh tamu. 
 
Nah, apa aja sih yang sebaiknya jangan dilakukan saat mengajak anak bertamu?


Orangtua Jangan Keasikan Ngobrol dan Mengabaikan Anak


Beberapa tahun lalu, mamah pernah kedatangan tamu yang membawa 2 orang anaknya yang masih kecil-kecil. Ketika mamah dan tamunya sedang asik ngobrol, kedua anaknya masuk ke ruangan lain. Kemudian membongkar box berisi perlengkapan bento milik Chi.

Perlengkapan bento memang banyak yang lucu. Makanya mungkin disangka mainan. Chi udah dengan sangat pelan kasih tau supaya jangan diberantakin. Tapi, gak digubris kedua anak itu. Setiap kali Chi beresin ke box, dikeluarin lagi ma mereka.

Chi tau persis orangtuanya melihat yang dilakukan anak-anaknya. Tetapi, gak melakukan tindakan apapun. Tetap aja asik ngobrol. Padahal perasaan Chi udah campur aduk. Antara kesel karena barang pribadi diacak-acak. Juga merasa gak enak hati sama orangtua. Khawatir dianggap menjadi tuan rumah yang gak menyenangkan.

Catatan nih buat para orangtua yang ajak putra/putrinya bertamu. Pastikan bisa duduk manis. Gak 'house tour' tanpa pengawasan. Apalagi sampai ngacak-ngacak barang pribadi milik tuan rumah. 

"Tapi, anak saya memang tipe yang gak bisa diam dalam waktu lama. Makanya dia jalan-jalan."

Setiap orangtua pastinya harus mengenal karakter anaknya masing-masing. Coba deh bawa mainan, camilan, atau apapun yang sekiranya bisa bikin anaknya diam dalam waktu lama. Kalau memang gak bisa juga, orangtuanya yang harus sadar diri.
 
Jangan hanya karena masih kangen sama tuan rumah, lagi seru-serunya ngobrol, trus ngebiarin aja anaknya masuk ke ruangan lain dan ngeberantakin serta mengambil apapun semaunya. Kalau memang sudah gak bisa diminta lagi untuk tetap diam, sebaiknya pamit pulang. Seseru apapun obrolan yang sedang dibahas  bisa dilanjutin di lain waktu.


Stop Menormalisasi Kalimat 'Namanya Juga Anak-Anak'


Sekitar 6 tahun lalu Chi pernah membuat postingan tentang seorang anak usia 4 tahun yang selalu tantrum ketika permintaannya gak diturutin. Anak ini juga pernah terlihat nyubitin dan memukul sodaranya ketika sodaranya menolak diajak bermain. Ibunya coba melerai dan mengingatkan anaknya. Tetapi, sama bapaknya malah dibela dengan alasan, "namanya juga anak-anak."

Chi gak bermaksud ingin mencampuri urusan keluarga orang lain. Tetapi, secara pribadi menganggap bahwa gak semua hal bisa dimaklumi dengan alasan "namanya juga anak-anak."

Iya, anak-anak gak selalu salah. Malah seringkali mereka gak paham yang dilakukan itu bener atau salah. Apalagi kalau gak ada yang ngajarin.

Nah, di sinilah peran penting orangtua. Anak usia berapapun juga bisa diajari, kok. Malah memang bagusnya diajari kebaikan sedini mungkin. Tentu aja disesuaikan dengan daya pikir seusianya.

Balik lagi ke masalah mainan yang viral itu. Kalau baca salah satu screenshot WAnya, ibu tersebut membela anaknya dengan alasan anaknya selalu rewel kalau permintaannya gak diturutin. Seriusan Chi gregetan lho bacanya.

Orangtua tetap harus mengajarkan ke anak untuk jangan mengambil barang milik orang lain. Lalu bagaimana kalau anaknya tetap rewel saat bertamu karena menginginkan barang tuan rumah?

Kalau anak udah susah dibujukin dan tetap rewel, sebaiknya pamit pulang. Jangan membuat tuan rumah menjadi terpaksa memberikan sesuatu yang diinginkan anak kita. Perkara anaknya bakal terus rewel kalau permintaannya gak diturutin, ya itu urusan orangtuanya. Intinya jangan membenarkan tingkah lakunya hanya karena si anak masih kecil.
 
[Silakan baca: Namanya Juga Anak-Anak]

 

Jangan Meremehkan Barang Milik Orang Lain


koleksi diecast tomica dan hot wheels

Dulu Keke dan ayahnya punya koleksi diecast. Buat Keke, diecast gak sekadar mobil-mobilan. Tapi, dia mainin dengan apik. Bahkan sampai tau ciri-ciri semua koleksinya dengan detil.

Kemudian koleksinya itu sempat kami simpan dalam waktu lama. Karena ada sepupu Keke yang tinggal serumah, trus kalau mainin diecast sering dibanting, dilempar, dll. Pokoknya diperlakukan dengan kasar.

Udah sering banget dibilangin. Bahkan dibeliin terpisah supaya gak mengganggu koleksi Keke. Tapi, tetap aja pengennya punya Keke. Jadi dengan terpaksa kami simpan dulu. Gak tega lihat Keke yang terus sedih melihat koleksinya satu per satu jadi bocel-bocel.
 

Di kasus yang viral itu, si ibu kayak meremehkan harga mainan yang diambil anaknya. Menganggap mainan 50 ribuan aja kok diributin. Padahal menurut si pemiliki mainan, harganya Rp500 ribu dan Rp1,8 juta.

Menurut Chi, poin permasalahannya bukan di harga mainan. Tetapi, tentang mengambil barang milik orang lain tanpa izin. Memangnya kita boleh seenaknya ambil barang orang lain tanpa izin kalau harganya murah? Enggak kaliiii.

Lagipula harga murah kan belum tentu nilai historisnya juga murah. Siapa tau ada kenangan yang gak bisa dilupakan dari barang tersebut.

Jadi jangan deh ya meremehkan barang milik orang lain. Apalagi kemudian merasa berhak mengambil dengan alasan apapun. Kalau mengambil tanpa izin seharusnya bisa dibilang mencuri. Tapi, pasti tersinggung kan kalau dibilang pencuri? Nah, sebelum tersinggung, sebaiknya mulai deh menghargai barang orang lain tanpa meremehkan apalagi ambil seenaknya.
 
koleksi minions

Contohnya, nih, Chi punya beberapa koleksi Minions dari paketan Happy Meal McDonad's. Sebetulnya, Chi gak terlalu suka sama filmnya. Tapi, selalu gemes banget ma karakternya. Makanya waktu McD ngeluarin paketan ini, bisa setiap minggu makan Happy Meal. Bahkan dalam seminggu bisa beberapa kali hahaha!

Ya mungkin harganya gak seberapa. Apalagi kalau dibandingin ma berbagai figurine yang memang untuk dikoleksi. Tapi, kan, tetap aja ada sejarahnya. Jadi tetap aja bisa bikin Chi kesel kalau ada yang seenaknya mainin koleksi Minions. Kecuali memang udah dikasih izin.

Sebetulnya adab bertamu lebih banyak lagi. Menjadi kewajiban orangtua untuk mengajarkan. Intinya sih bertamu seharusnya niatan untuk bersilaturahmi. Jadi pastinya jangan hanya tuan rumah dituntut memuliakan tamu. Tamu pun juga harus punya etika bertamu.