Tips Memberi Pujian yang Efektif Kepada Anak

Saat datang ke sekolah Keke untuk mengambil hasil tes minat dan bakat, Chi gak menyangka akan ada sesi parenting dulu. Kirain langsung ambil hasilnya aja.

Ternyata, semua orang tua yang hadir berkumpul di aula sekolah. Kemudian mendengarkan sesi parenting dengan tema "Pujian untuk Anak Kita" yang disampaikan oleh guru BK.

tips memberikan pujian kepada anak

Tips Memberi Pujian yang Efektif Kepada Anak




Chi juga gak menyangka kalau penyampaiannya akan menarik. Tau gitu bawa recorder atau peralatan tulis biar gak lupa hehehe. Jadi, sambil mendengarkan, Chi motretin beberapa materi yang disampaikan. Dan baru sempat publish sekarang.

[Silakan baca: Hasil Tes dan Minat Bakat Keke]


Hindari Memberi Hukuman yang Memalukan Anak


Guru BK mengawali materi dengan menceritakan tentang beberapa anak kelas 7 yang bolos pelajarannya. Beliau paham, biasanya mereka bolos karena malas turun naik. Kelas 7 kan ada di lantai 4. Sedangkan ruangan BK ada di bawah.

Beberapa anak menawarkan diri untuk memanggil teman-temannya yang masih di kelas, tetapi beliau menolak. Kalau dipanggil, mereka akan terpaksa masuk kelas. Kemudian kemungkinan besar, mereka jadi malu karena ketahuan bolos. Apalagi kalau sampai disorakin sama teman-temannya.

Kalau sudah merasa malu, anak akan jadi susah untuk dikasih tau. Jadi menurut beliau, selama bolosnya masih di dalam kelas, biarkan saja dulu. Nanti setelahnya baru deh dipanggil ke ruang BK. Gak perlu sampai orang tuanya tau juga selama kesalahan muridnya masih dalam batas yang bisa ditoleransi.

Chi agak nyengir pas guru BK cerita ini. Meskipun beliau tidak menyebutkan nama-nama  murid dan kelas 7 mana, kemungkinan besar Keke termasuk salah satunya.

Kok tau?

Ya karena beberapa hari sebelumnya, Keke cerita ke bundanya. Kalau diingat lagi memang jadi lucu juga. Bukan berarti Chi membolehkan Keke bolos, lho. Tetapi, lucu aja gitu mendengar pengakuan Keke. Kalau dulu Chi mana berani cerita begini ke orang tua. Ngebayangin orang tua sampai tau aja udah keringat dingin duluan hahaha!

Chi sepakat banget dengan sikap guru BK. Anak yang membolos tentu saja salah. Gak apa-apa kalau memang harus dapat hukuman. Tetapi, memang jangan sampai memalukan anak. Nanti malah anaknya jadi kesel karena merasa dipermalukan. Selain itu juga membuka peluang siswa lain untuk ngeledekin temannya yang ketahuan bolos.


Back to Content ↑


Ciri-Ciri Anak Millenials


Pernah gak kita merasa gregetan melihat anak belajar, tapi sambil melakukan hal lain? Misalnya, belajar sambil nonton YouTube atau internetan.

Menurut Guru BK, jangan langsung marah kalau lihat anak zaman sekarang belajarnya seperti itu. Zamannya sudah beda. Dulu, yang namanya belajar bisa jadi duduk manis dan buka buku. Tetapi, kebanyakan generasi millenials lebih multitasking. Mereka bisa belajar dengan banyak cara dan sambil melakukan hal lain. Biarkan saja mereka menentukan sendiri gaya belajar yang cocok.

Berikut beberapa ciri anak milenials

  1. Gampang bosan pada barang yang dibeli
  2. 'No gadget, no life'
  3. Hobi melakukan pembayaran cashless
  4. Suka dengan yang serba cepat dan instan
  5. Memilih pengalaman daripada asset
  6. Berbeda perilaku dalam grup satu dengan yang lain
  7. Jago multitasking
  8. Kritis terhadap fenomena sosial
  9. Sedikit-sedikit posting di media sosial
  10. 'Sharing is cool'

Ciri-ciri di atas tentu saja tidak untuk mengeneralisir semua anak millenials seperti itu. Hanya pada umumnya memang demikian. Dari situ kita bisa belajar untuk memahami seperti apa karakter anak zaman sekarang.


Back to Content ↑


Membentuk Mindset Seorang Anak


"Kamu jangan pernah bicara ngotot di depan Mama!"

Bila seorang ibu selalu bicara seperti itu kepada anak, maka akan tercipta mindset kalau marah adalah hal yang buruk. Pada akhirnya, anak akan selalu berusaha menekan amarahnya. Dia akan selalu berusaha menyenangkan orang lain.

Tentu saja bersikap menyenangkan orang lain itu bagus. Tetapi, jangan sampai juga diri sendiri menjadi tertekan karena tidak berani mengungkapkan rasa marah. Suka ada kan kejadian di mana akhirnya seseorang menjadi meledak marahnya.

Hati-hati kalau orang tua ingin memberikan nasihat kepada anak. Maksudnya mungkin baik, tetapi caranya salah. Apapun yang terucap dari mulut orang tua akan membentuk pola pikir atau kebiasaan pada anak.


Back to Content ↑


Memberikan Pujian yang Efektif


Orang tua cenderung mudah memberikan hukuman ketika anak salah. Tetapi, sulit memberikan pujian. Padahal seharusnya berimbang.

Kapan waktu dan cara yang tepat untuk memberikan pujian?

  1. Saat anak melakukan hal baik
  2. Saat anak memperbaiki kesalahan yang sudah dilakukan
  3. Saat anak berusaha mempelajari ketrampilan yang baru

Sebaiknya jangan sekadar berkata "kamu hebat", "luar biasa", "anak Mama memang pintar!", dan lain sebagainya. Pujian akan efektif bila dibarengi dengan penjelasan. Anak pun jadi paham kenapa dirinya dipuji.

Memberi hadiah  juga gak apa-apa, kok. Gak harus berupa barang yang mahal. Asalkan dalam batas yang wajar itu hadiah yang bagus.


Back to Content ↑


Harus Tegas Kepada Anak


Meskipun generasi millenials lebih suka diajak berdiskusi, tetapi ada beberapa hal yang di mana mereka juga harus diberi ketegasan. Guru BK mengatakan kalau beliau selalu terbuka kepada semua muridnya. Terima pendapat pro kontra dan berusaha untuk tidak kaku.

Tetapi, untuk urusan agama, beliau lain lagi sikapnya. Selain sebagai guru BK, beliau juga mengajar agama kristen. Menurutnya, untuk pelajaran agama, peraturannya lebih ketat. Jangankan membolos, ada yang kelihatan ngobrol aja, langsung orang tua dipanggil.

Ya, setiap orang tua juga pasti punya batas dan prinsip masing-masing. Mana yang masih bisa lebih longgar aturannya. Tetapi, tentu saja ada hal-hal tertentu, anak wajib menurut orang tua tanpa ada bantahan.

[Silakan baca: Minat dan Bakat Anak vs Keinginan Orang Tua]

Back to Content ↑

29 Comments

  1. Harus seimbang juga ya antara memberikan hukuman dan juga pujian, biar anak jadi semangat kalo dipuji. Makasih banyak infonya mbak.😊

    BalasHapus
  2. Sekarang yang jadi masalah tuh mengendalikan penggunaan gawai pada anak. Duh serasa tak berdaya banget

    BalasHapus
  3. Salut sama Guru BKnya, kekinian banget yaengjadapi anak didik millenials.
    Ahh,masih beruntung ya Chi Keke masih mau bercerita, beneran anak jaman now kudu diperlakuak sebagai sahabat sewaktu waktu.

    Pujian yang so sweet tuh, yang jelas tetep ngasih reward buat anak, meski dengan kata2.

    BalasHapus
  4. Daging semua ini isi artikelnya. Langsung diserap dengan seksama...lumayan ada beberapa poin yang menyentil hehe. ya walaupun anak paling besar baru 3 tahun, tapi ilmunya bisa saya siapkan dari sekarang ya...Terimakasih banyak Mba :))

    BalasHapus
  5. waa terima kasih tips tips nya ya mbak, ini berguna banget nih, walaupun au belum punya anak, tapi bisa diterapkan ke para keponakan dan anak tetangga hihihi

    BalasHapus
  6. Guru BK-nya awesome bangeeettt!
    Ini tips yg keliatannya susah, tapi BISA BANGET untuk kita praktikkan ya
    Bismillah.
    Semangaaattt mendidik anak!

    BalasHapus
  7. Chi, itu Keke ya yg foto bareng Chi? Kl iya, ketemu 7 th yl madih imut ys, taunya skrng udah jauh lbh tinggi dari mamanya. Gak heran sih paling beda 1 th sa Ayman, cucu bunda yg sekarang tingginya dah 193cm. Ayman suka bolos kl pelajaran Pramuka. Dia padtiv1 minghu sekali tuh bolos karena katanya "sumpek dan pengap pramuka di lantai dua. Gak asyik. Gak ada ydara segar. Gitu, Chi. Jd ya peljrn pramuka di skip sekalian. Emang belajarnya ditemenin gadget kadang sambil ngobrol video call-an ma temennya, bahas soal.yah, kalah canggih deh bunda orang zaman baheula nih. Chi, Keke ganteng.

    BalasHapus
  8. yang dilema tuh penggunaan hape ya mbak, disisi lain banyak manfaatnya, tapi keseringan juga nggak baik, tapi banyak juga info dan manfaat yg bisa diambil dari penggunaan hape :(

    BalasHapus
  9. Ngadepin millenials kid emang harus pake trik khusus ya. Karena pola pikir nya serba instan

    BalasHapus
  10. Melihat generasi sekarang memang treatment nya pun berbeda mbak. Si kecil saya suka diberi pujian saat memang melakukan hal positif mbak.

    BalasHapus
  11. Wah iya, kadang ortu suka memberi hukuman tapi kadang lupa ya memberi pujian untuk anak. Padahal pujian yg efektif untuk anak juga sangat penting.
    Btw itu Keke tingginya udah jauh melampaui emaknya hehe.

    BalasHapus
  12. Jadi orang tua memang mesti hati-hati ya, emosional sedikit saja ke anak, akibatnya panjang.
    Anak yang sering diberi hukuman bisa minder pasti.

    BalasHapus
  13. harus tegas ke anak tapi gak bikin takut ya. Cewe biasanaya agak emosian nih eh itu sih aku hehehe. Tapi harus dibicarakan dengan anak-anak ya supaya mereka ngerti. Dikasih pujian biar tambah semangat tapi gak bikin besar kepala

    BalasHapus
  14. Haha ini aku kalo beri pujian agak pelit nih *tutup muka pake serbet.
    Milih milih juga soalnya kalo mo ngasih pujian, mana yang mesti dikasih mana yang nggak, jadi gak diobral pujiannya, wakaka *pelit ya XD

    BalasHapus
  15. Memberi pujian ke anak memang membutuhkan seni ya mbak... Terutama buat anak2 yg udah remaja.

    BalasHapus
  16. Memang pujian penting ya mba.. aku pernah punya pengalaman kebanyakan muji si sulung akhirnya jadi anti kritik sejak itu jadi lebih proposional aja hehe...

    BalasHapus
  17. Waahh setuju banget nih, aku harus banyak belajar agar anak juga mau terbuka ke ortunya biar ga crita ke orang yang salah, kan bahaya.

    BalasHapus
  18. Merawat anak memang tantangan banget ya Mba, dari hamil aja udah perjuangan
    masyaAllah jadi ibu rasanya bahagia dan pahala meraih surga
    Semoga aku bisa jadi ibu yang baik kelak

    BalasHapus
  19. Hehehe bener banget. No gagdet no life kalau anak millenial. Sampai-sampai mereka itu update banget. Saya sebagai guru hampir kewalahan biar tidak kalah update. Terus mereka canggi banget kalao soal teknologi. Gurunya bisa kalah.

    BalasHapus
  20. Dapat ilmu baru tentang parenting terima kasih bund. Jadi nambah ilmu memang lebih baik berbicara positif kepada anak dibandingkan berbicara yang kurang mengenakkan ya.

    BalasHapus
  21. Pujian yg membangun ya mba, memang tantangan mba kalo membesarkn anak di era milenial lagi soalnya perbedaan jauh dari pada dulu

    BalasHapus
  22. Huhuhu...anak anak milenials memang butuh treatment berbeda ya. ini anak anakku dua orang perlakuannya juga musti beda. yang satu mempan dengan pujian, yang satu dipuji tetep gak memperbaiki sikap. Apakah karakter anak juga berpengaruh Chi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya rasa memang berpengaruh. Karena saya pun memperlakukan Keke dan Nai sering juga disesuaikan dengan karakter

      Hapus
  23. Aku mau tanya doonk, kak Chie... Misalkan memberitahukan kelemahan anak gitu, bolehkah?
    Kalau boleh, bagaimana caranya?
    Banyak yang bilang, lebih baik meninggikan gunung dan meratakan lembah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut saya boleh banget. Saya sering kok melakukannya. Tujuannya supaya anak tau apa kelebihan dan kekurangannya. Tetapi, saya lakukan dalam bentuk diskusi. Ya siapa tau aja saya salah menilai, kan

      Hapus
  24. Makasih sharingnya mba Chi, saya mesti banyak belajar nih untuk pola asuh anak, kadang menemani anak belajar tuh bikin spanneng, bawaannya emosi apalagi kalau si anak ngeyel terus

    BalasHapus
  25. Seru ya kalo di sekolah juag guru peduli demgan memgadakan swminar oarenting gini. Jadi bisa bekerja sama antara guru dan orang tua kalo sama-sama faham.

    BalasHapus
  26. Ciri anak milenialnya banyak benarnya tuh... kebetulan anak semata wayangku ya punya ciri begitu. Dan mereka memang lebih kritis sih. Perlu banget tahu cara didik yang sesuai dengan masa kini, biar bisa bantu anak untuk kembangkan potensinya dengan lebih maksimal ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup! Mendidik anak sesuai dengan zamannya

      Hapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^