Hasil Tes Minat dan Bakat Keke - Beberapa waktu lalu, orang tua murid angkatan Keke diminta hadir ke sekolah untuk menerima hasil tes minat dan bakat anak yang pernah diselenggarakan sekolah bekerjasama dengan salah satu psikolog. Pastinya Chi pengen banget hadir. Rasanya penasaran dan deg-degan dengan hasilnya.

hasil tes dan minat bakat anak

Mundur sedikit ke waktu Keke akan melakukan tes minat dan bakat. Beberapa hari sebelum melakukan tes tersebut, Chi minta Keke untuk tetap jaga kesehatan. Pada hari H, Keke diminta untuk sarapan dengan benar. Chi pengen Keke serius melakukan tesnya. Supaya hasilnya mendekati akurat.

Acara diawali dengan pesan parenting dari guru BK. Menarik pemaparannya, tetapi Chi tulis di postingan terpisah aja, ya. Biar gak melebar ke mana-mana.

Setelah guru BK selesai memberikan pesan, giliran psikolognya yang berbicara. Awalnya sunyi senyap karena kami semua mendengarkan penjelasan. Baru ramai saat sesi tanya jawab. Apalagi saat sesi tersebut, hasilnya juga dibagikan.

[Silakan baca: Festival Literasi Sekolah 2019 - Cerdas Berliterasi Membangun Masa Depan Generasi Milenial]


Tujuan Tes Minat dan Bakat


Kepala sekolah sudah menegaskan kalau kesempatan untuk pindah jurusan dari IPA ke IPS atau sebaliknya sudah tertutup. Bahkan sudah ada pengumuman. Jadi, apapun hasil tes minat dan bakat yang diterima orang tua tidak bisa dijadikan rujukan supaya anak bisa pindah jurusan di SMA.

Bagaimana kalau ada anak IPA yang ternyata hasil tesnya justru cocoknya di bidang IPS atau sebaliknya?

Ya udah terima nasib aja. Ups! Enggak, ding hehehe. Ya tetep aja gak bisa pindah jurusan di SMA. Tetapi, bisa dijadikan acuan saat anak memilih jurusan saat kuliah. Mumpung masih punya waktu sekitar 3 tahun. Jadi masih cukup waktu untuk menganalisa dan mempertimbangkan.


Minat dan Bakat Gak Selalu Sama


Secara sederhana, minat itu artinya apa yang kita inginkan. Sedangkan bakat adalah suatu bawaan yang sudah ada sejak awal kehidupan.

Minat dan bakat idealnya memang klop. Tetapi, kalaupun berbeda, bukan berarti menjadi sesuatu yang terpisah. Keduanya seharusnya menjadi satu kesatuan yang saling mendukung.

Seseorang yang mempunyai bakat di bidang A, belum tentu bisa berhasil di bidang tersebut kalau gak memiliki minat. Itu karena gak memiliki motivasi untuk mencapainya.

Sebaliknya, bila seseorang memiliki minat di bidang B, tetapi bisa berhasil meskipun tidak atau kurang berbakat. Dengan catatan, dia harus bekerja lebih keras dibanding orang lain yang memiliki bakat dan minat di bidang tersebut.


Menganalisa Hasil Tes Minat dan Bakat Keke


Laporan tes minat dan bakat yang diberikan ada beberapa lembar. Tetapi, intinya minat dan bakat Keke klop. Seperti yang Chi tulis di postingan sebelumnya, gak merasa kaget dengan hasilnya. Semua sesuai perkiraan Chi.

Di laporan tersebut ada 21 peminatan. Bidang IPA mendominasi urutan terbawah. Dan yang berada di posisi buncit adalah peternakan.

Sebaliknya, bidang IPS berada di atas. Berarti tepat banget nih kemauan Keke saat memilih jurusan SMA. Saat PPDB dia bersikeras memilih jurusan IPS. Sama sekali gak mau IPA karena alasan gak ada minat ke sana.

[Silakan baca: Bagaimana Mengetahui Potensi Anak?]

4 minat terbesar (ini dari urutan tertinggi) Keke berdasarkan laporan tersebut adalah


  1. Hukum
  2. Seni Rupa dan Seni Pertunjukan
  3. FISIP
  4. Ekonomi

Dari tes tersebut, berdasarkan bakatnya, Keke disarankan untuk masuk jurusan

  1. Law and Social Sciences: International Law and Legal Studies, Criminology, International Relations
  2. Fine and Performing Arts: Music, Music Performance, Music Pedadogy
  3. Business and Management: Marketing, Business Administration and Management, International Business/Trade/Commerce

Yup! Semuanya sesuai dengan ekspektasi. Hasil diskusi panjang bersama Keke yang kami lakukan secara rutin.

Kalau minat dan bakatnya klop berarti jalannya lebih mudah dan didukung banget, dong?

Errrr ... Chi bahas nanti aja. Di postingan lainnya karena masih ada sedikit perbedaan pendapat antara Keke dan orang tuanya hehehe.


Pertanyaan dari Beberapa Orang Tua


Saat hasilnya dibagikan, banyak orang tua yang ingin bertanya. Gak semua mendapatkan kesempatan karena keterbatasan waktu. Chi coba rangkum beberapa, ya.

Anak saya IQnya selalu superior, tetapi kenapa gak pernah juara kelas?

Ini bukan Chi lho yang bertanya. Meskipun di postingan sebelumnya, Chi juga bahas tentang IQ Keke yang superior dan nilai akademisnya yang biasa aja hehehe.

Menurut psikolog, anak-anak yang selalu juara kelas bahkan ikut olimpiade akademis pun ada juga yang IQnya biasa aja. Kalau mereka sampai berprestasi itu berarti mereka berusaha beberapa kali lipat lebih keras dari anak yang IQnya lebih tinggi. Jadi, anak yang berprestasi gak semata-mata karena IQ tinggi. Ada faktor lain yang mempengaruhi.

[Silakan baca: Perlukah Tes Minat dan Bakat untuk Anak?]

Anak saya selalu bilang kalau dia ingin jadi pengacara. Tetapi, kok di sini malah disarankan untuk ke jurusan Seni A (Chi lupa nama jurusannya. Pokoknya berkaitan dengan dunia digital gitu, deh. Jurusan yang kekinian)? Hukum malah ada di urutan ke-8!

"Ibu yakin anaknya ingin menjadi pengacara? Ibu sudah tau alasannya?" tanya psikolog.

Menurutnya, minat anak yang ada di laporan tersebut tidak sekadar berdasarkan apa yang diinginkan anak. Tetapi, ada serangkaian tes yang dilakukan hingga didapat kesimpulan urutan minat masing-masing anak.

Lebih lanjut psikolog menjelaskan, bisa jadi ketika si anak bilang ingin menjadi pengacara hanya karena terpukau dengan kehidupan Hotman Paris yang serba wow.  Tetapi, setelah dilakukan serangkaian tes, baru ketahuan kalau ternyata anak tersebut sebetulnya gak memiliki minat sama sekali di bidang hukum.

Yang saya tau, anak saya selalu bilang ingin jadi psikolog. Tetapi, di laporannya, psikolog malah ada di urutan ke-6 berdasarkan minat. Masih mungkin gak ya dia tetap memilih psikolog?

Mungkin saja. Asalkan keinginannya untuk menjadi psikolog diperkuat lagi. Urutan ke-8 itu masih mungkin sekali untuk naik. Yang tidak mungkin atau sangat terjadi itu, minat yang berada di urutan terbawah, kemudian bisa naik ke atas.

Kalau untuk Keke kayaknya dia gak mungkin ambil bidang IPA. Anaknya IPS banget. Semua bidang IPA ada di urutan terbawah apalagi peternakan, bioteknologi, dan MIPA.

Minat dan bakat anak saya bertolak belakang banget. Tetapi, saya lebih setuju dengan minatnya. Kira-kira, dia bisa tetap bisa ambil jurusan yang sesuai minat gak meskipun gak ada bakat ke sana?

Tetap bisa. Dengan catatan anaknya mau berusaha lebih keras dibandingkan dengan anak yang memiliki bakat dan minat yang sama di bidang tersebut.

Bagi anak yang minat dan bakatnya berbeda akan ada catatan khusus di laporannya. Kelemahan apa saja yang harus dikejar bila anak memilih jurusan berdasarkan minat padahal bakatnya kurang mendukung.

Karena laporan minat dan bakat Keke sama, maka tidak ada catatan khusus di laporannya. Tetapi, apa ini akan mempermudah Keke? Nanti aja Chi ceritainnya, ya hehehe.