Desperate Motherhood - Drama Ibu-Ibu di Sekolahan. Pernah gak kita merasa putus asa menjadi seorang ibu? Padahal ya kalau dipikir lagi, kita tuh sebetulnya punya keluarga yang bahagia. Punya suami yang bertanggung jawab dan pengertian banget. Anak juga tumbuh kembangnya sehat.

desperate motherhood, drama ibu-ibu di sekolahan
Sumber foto: AsianWiki
 



Kok, bisa tetap merasa putus asa?

Bisa jadi penyebabnya adalah pergaulan para ibu di sekolah hehehe. Tentu aja, Chi tidak bermaksud mengatakan alau semua ibu-ibu di sekolah kayak gitu. Tetapi, kenyataannya memang ada yang begini. Makanya Chi pengen menulis di sini berdasarkan dari dorama yang baru aja selesai ditonton.

Desperate Motherhood ini dorama tahun 2011. Jadi maafkan kalau spoiler banget, ya. Mungkin udah banyak yang nonton juga. Tetapi, memang menulis ini gak untuk review doramanya, sih. Chi menulis beberapa catatan penting yang didapat dari dorama ini.

Meskipun dorama jadul, tetapi kalau kata Chi masih recommended banget untuk ditonton. Jalan ceritanya masih cocok dengan kondisi pergaulan beberapa MACAN TERNAK (Mama Cantik Antar Anak) ke sekolahan zaman now. Setidaknya di Indonesia. Tau deh di Jepang sendiri kondisinya masih begini atau enggak.


Back to Content ↑


Keluarga Ideal


Menceritakan tentang keluarga Yuko Akiyama. Tadinya Yuko adalah seorang ibu yang bekerja kantoran. Urusan pengasuhan anak, dia dan suaminya saling bekerjasama meskipun sama-sama bekerja.

Tetapi, lama-kelamaan kerjaanya semakin banyak. Malah bossnya sampai bilang kalau menolak bakal kena pecat. Yuko pun dengan enteng memilih resign. Menurutnya, keluarga jauh lebih penting.

Semakin gak tega lihat anaknya yang jadi suka telat dijemput dari day care. Lagipula, suaminya juga selalu mendukung pilihannya. Mau jadi ibu bekerja atau di rumah, gak masalah. Setelah resign, mereka pindah ke apartemen yang memang udah diimpikan. Lingkungan bagus dan ada TK yang bagus juga.

Keluarga impian banget deh ini. Punya suami yang pengertian banget dan peka sama istri. Sesibuk apapun suaminya bekerja, tetapmau ikut bantuin mengurus rumah tangga. Termasuk memasak dan mengasuh anak semata wayang mereka bernama Kenta.

Udah deh pokoknya hidup mereka tuh gambaran tipe keluarga menengah yang sempurna. Udah kayak gak bakal ada masalah. Family goals kalau iztilah zaman sekarang. Mungkin di dunia nyata, kalau Yuko menulis tentang semua kebaikan suaminya di FB, bakal banyak emak netijen yang komen ‘Ayah (sambil ngetag nama suaminya) baca, nih!’ hehehe. *pisss, Mak! Piiisss!


Back to Content ↑


Pergaulan Ibu-Ibu Sekolahan yang Bikin Depresi


Awalnya juga Yuko menganggap semua ibu di sekolahan tuh baik. Mereka ajak Yuko ngumpul, tapi ada iuran minum teh per bulan sebesar 600 Yen. Kalau di sini mungkin iuran arisan, ya πŸ˜‚.

Ternyata cuma indah awalnya aja. Faktanya, kalau lagi ngumpul kayak yang akrab. Tetapi, kalau lagi masing-masing suka saling ngeghibah

“Eh, mama Rara itu sok sosialita banget ya gayanya. Padahal tampang orang kaya aja gak ada. Tinggal di kondominium juga belinya unit yang paling murah.”

Itu salah satu ghibahan mereka. Ngeselin banget, ya πŸ˜‚.

Mereka juga punya aturan kelompok. Gak boleh motret anak dan gak boleh jadi blogger *Waduh Chi udah auto gak diterima kalau kayak begini hehehe

Awalnya, Chi gak paham dengan aturan itu. Terutama larangan menjadi blogger. Setelah episode kesekian baru ketahuan kalau sebelumnya pernah ada anggota mereka yang juga suka ngeblog.

Niatan ngeblognya sebetulnya sederhana. Sama kayak niatan Chi ngeblog yaitu ingin menceritakan keseharian anak sendiri. Ya semacam bikin diary online gitu. Tetapi, karena ketidaktahuannya, ibu ini memotret kegiatan anaknya yang sedang mengikuti kegiatan renang di sekolah. Di samping anaknya,  anak lain (perempuan) yang sedang mengenakan pakaian renang.

Foto tersebut diupload di blog. Kejadian deh sesuatu yang gak diinginkan. Foto anak perempuan berpakaian renang tersebut disalahgunakan oleh seseorang gak bertanggung jawab. Emang bikin parno sih kalau begini. Reminder banget nih buat para mom blogger atau siapapun yang suka upload foto anaknya. 

Kejadian itu bikin orang tua dari anak perempuan tersebut jadi stress dan memilih pindah sekolah. Ibu yang juga blogger, awalnya tetap bertahan di sana. Tetapi, jadi dikucilkan bahkan sampai dibikin tertekan mentalnya sama para orang tua murid lainnya. Puncaknya dia melakukan percobaan bunuh diri.

“Udah jangan ngomong apa-apa dulu. Jangan-jangan karena salah satu ucapan dari kita yang membuat kita jadi pembunuh!”ujar salah satu orang tua murid, saat ada ibu lain yang mengajak ngobrol ghibah tentang kejadian tersebut.

Hmmm … Memang ada benernya juga. Ya meskipun itu usaha bunuh diri. Tetapi, kan jadi melakukannya karena tekanan pergaulan para ibu di sekolah.

Suami dari ibu blogger itu akhirnya memutuskan untuk mengajak anak istrinya pindah ke rumah orang tua. Berarti pindah sekolah juga. Menurutnya, pergaulan di lingkungan sekolah anaknya udah toxic banget. Selain itu istrinya kan juga dekat dengan orang tuanya. Jadi ada harapan mentalnya akan pulih.


Back to Content ↑


Para Ibu yang Kompetitif


Mereka kalau udah ngumpul juga obrolannya gak jauh dari ngebanding-bandingin. Kalau gak ngebandingin karir suaminya, ya ngebandingin kehebatan anak-anaknya.

Semua saling berlomba menunjukkan punya keluarga yang bahagia. Padahal sebetulnya masing-masing punya drama dan luka. Terutama, hubungan dengan suami masing-masing. Malah ada juga yang ditambah dengan masalah sama mertua. Kecuali, keluarga Yuko tentunya yang nyaris tanpa drama.

Di Jepang, kalau mau masuk SD unggulan (baca: sekolah swasta) juga ada tes masuk. Makanya banyak yang masukin anaknya ke bimbel. Tetapi, ketika salah seorang ibu yang selama ini anaknya dikenal paling pinter di kelas ditanya tentang tips mengajar anak, jawabannya “Ah, anak saya sehari-hari cuma main aja, kok.” 

[Silakan baca: Pilih Sekolah Swasta atau Negeri?]

Sebetulnya itu bohong banget! Anaknya tuh kut bimbel. Malah ibu itu juga banyak melakukan tekanan halus ke anaknya. Contohnya waktu anaknya dapat skor 86, bukannya dipuji malah dibilang, “Kok kamu bisa kalah sih sama Kenta? Padahal Kenta gak ikut ikut bimbel!” Padahal nilainya cuma selisih 2. Kenta dapat 88.

Anaknya pun gak melawan digituin sama ibunya. Sebelumnya, si anak pernah gagal tes masuk TK yang lebih favorit. Dan kejadian itu diingetin terus sama ibunya. Dengan alasan jangan sampai gagal kayak waktu TK. Akhirnya masuk TK yang mau nerima. Padahal ya sekolahnya yang sekarang itu juga bagus.

Yuko dan suaminya memang gak masukin anaknya ke bimbel. Menurut mereka, biar deh anak tumbuh kembang sewajarnya. Selama anak belajar dengan senang dan tumbuh kembangnya bagus itu udah cukup banget. Gak apa-apa mau dapat nilai berapa juga.

Malah Yuko sempat berpikir hanya orang tua yang egois yang masukin anak ke bimbel di usia dini. Hasilnya dia dijulidin dong sama para emak! Sampai ada yang bilang mendingan jangan coba-coba punya pendapat berbeda kalau gak mau dinyinyirin ma para ibu di sekolah. πŸ˜…

Tetapi, lama-kelamaan Yuko juga sempat galau. Ya karena tekanan halus para ibu. Akhirnya sempat berpikir jangan-jangan malah dia yang egois. Karena keputusannya gak ngebimbelin anak, membuat anaknya ada kemungkinan gak keterima di SD unggulan. 

[Silakan baca: Tanpa Bimbel, Nilai UN Tetap Bagus? Bisa!]


Back to Content ↑


Bullying


Ini bagian yang paling sedih. Anak TK juga bisa melakukan bullying bahkan akting memutar balikkan fakta, lho. Play victim gitu, deh.

Chi suka banget dengan anak kecil yang jadi Kenta. Gemesin banget aktingnya. Apalagi pas dia jadi korban bullying. Dapat banget ekspresi sedihnya.

Untuk beberapa waktu, Kenta sempat dianggap anak yang suka membully teman-temannya. Dianggap anak liar yang gak dididik baik sama orang tuanya. Yuko pun sempat dicecar oleh para orang tua karena dianggap gak bisa mendidik anak. Padahal kejadian sebenarnya justru Kenta yang selalu dibully dan gak ada yang mau nemenin.

Sebetulnya banyak yang mau nemenin. Tapi, ada satu anak perempuan yang dominan dan menghasut anak lain untuk musuhin Kenta. Anak perempuan ini juga sebetulnya pengen bertaman dengan Kenta. Tetapi, ibunya yang melarang dan meminta untuk musuhin Kenta. Ibunya melakukan itu karena ngiri dengan Yuko.

Anak-anak usia TK memang masih pada polos. Mereka sampai membully kebanyakan karena faktor orang tua. Contohnya ketika Kenta selalu diejek teman-temannya karena tulisannya paling jelek. Itu karena orang tua anak-anak lain suka ngebanding-bandingin. Padahal anak seusia itu masih wajar banget kalau tulisannya acak-acakan. Apalagi Kenta kan memang gak pernah ikut segala macam kursus, termasuk kursus calistung.

Kenta juga pernah diejek teman-temannya karena cuma ngasih tempat pensil ke salah seorang temannya yang ulang tahun. Sementara teman-temannya berlomba-lomba memberi kado yang mewah. Kenta marah dan mendorong temannya karena kartu ucapan ulang tahunnya dirobek. Tetapi, temannya malah ngadu sambil nangis ke ibunya kalau Kenta udah jahat. Sukses bikin ibu tuh anak marahin Yuko.

Sedih banget waktu Kenta mengaku ke ibunya kalau dia sedih bukan karena hadiahnya dianggap paling jelek. Dia sedih karena kartu ulang tahun untuk temannya itu kan dia buat spesial bareng ibunya. Dia gak pengen ibunya jadi sedih kalau sampai tau kartunya dirobek. Makanya dia marah.

Kenta juga sering diejek karena jadi satu-satunya anak yang belum tau bahasa Inggris. Pokoknya banyak aja bullying yang diterima Kenta.


Back to Content ↑


Berkomunikasi yang Tepat dengan Anak


"Kalau kamu sedih, ibu juga ikut sedih."

Keseringan dibully bikin Kenta jadi anak yang pendiam dan cenderung murung. Wali kelas dan orang tuanya menyadari perubahan Kenta. 

[Silakan baca: Wali Kelas]

Mengorek cerita dari Kenta juga bukan hal mudah. Sekian lama, dia tetap tutup mulut. Malah berusaha tetap terlihat cerita. Padahal udah beberapa kali berusaha diajak ngobrol secara baik-baik.

Ternyata penyebabnya bukan karena Kenta takut sama orang tua. Dia selalu teringat ucapan ibunya yang bilang kalau Kenta sedih, makanya ibunya juga jadi sedih. Nah, dia gak mau kalau cerita tentang kesedihannya malah bikin ibunya jadi sedih.

Padahal maksud ibunya bukan seperti itu, ya. Tapi, ya begitulah polosnya anak. Makanya memang harus tepat juga komunikasinya.

Untung aja Kenta akhirnya mau terbuka. Dia pun kembali jadi anak yang beneran ceria. Bukan sekadar pura-pura bahagia.


Back to Content ↑


Seorang Ibu Harus Percaya Diri


“Gak ada ibu yang gak bingung. Kuncinya harus percaya diri dan jangan berteman dengan ibu-ibu di sekolah.”

Yuko sedih banget karena ternyata semua gak berjalan seperti yang dibayangkan. Gak pernah ngebayangin bakal banyak drama di sekolah. Yuko makin sedih karena udah gak punya ibu. Padahal menurutnya kalau aja masih punya ibu, pasti akan ada sosok yang mengajarinya menjadi seorang ibu.

Kemudia ibu yang blogger kasih saran seperti itu. Sejak itu mereka mulai akrab. Tapi, baru juga bersahabat, terdengar kabar kalau sahabatnya ini melakukan percobaan bunuh diri.

Menurut sahabatnya, menjadi seorang ibu memang kerap bingung dengan drama masing-masing. Kuncinya ya harus percaya diri. Jadi apapun keadaanya, gak mudah galau. Tapi, Chi ngikik juga pas bagian jangan berteman dengan ibu-ibu sekolahan hehehe.

Jangankan menghadapi drama macan ternak. Bagi beberapa ibu, dipanggil seperti ‘mama Kenta’, ‘mama Keitaro’, ‘mama Sow’, atau lainnya bisa merusak rasa percaya diri.

Jadi merasa identitasnya ‘cuma’ sebagai ibu. Merasa seolah-olah gak punya kemampuan apapun. Makanya lebih senang kalau dipanggil dengan nama sendiri. Rasa percaya diri jadi bangkit.

Pergaulan dengan para ibu juga bisa bikin makin konsumtif. Berlomba-lomba supaya terlihat gaya penampilannya. Tetapi, kalau kita gak pede, juga akhirnya memaksakan diri. Padahal sebenernya ekonominya pas-pasan. Kayaknya cuma Yuko aja yang nyantai. Ke sekolah cuma pakai kemeja atau kaos dengan bawahan jeans. Dandannya pun biasanya.

Di antara mereka memang ada yang suaminya cuma berprofesi jadi supir. Tapi, tanpa sepengetahuan suaminya, sang istri ngebohong. Dari mulai ngaku kalau suaminya tuh lulusan Universitas Tokyo sampai melakukan pencurian demi gaya hidup supaya bisa diakui dalam pergaulan. Kayaknya kalau udah sampai mencuri bukan lagi BPJS (Biaya Pas-pasan Jiwa Sosialita), deh.

Sebagian besar drama para ibu memang bisa terjadi di sini. Walaupun ada beberapa part mungkin berlebihan. Sampai saya ngoceh sendiri, “Duh! Sampai segitunya demi diakui dan anak bisa keterima di SD unggulan.” Saking kompetitifnya tuh para ibu. Gak cuma saling julid dan ghibah. Bahkan sampai bikin fitnah yang kejam juga.

Bahkan Yuko yang sebetulnya tipe ibu santuy pun ikut terseret segala drama. Penyebab utamanya tuh karena Kenta jadi anak paling pintar di kelas. Padahal dia baru di sekolahnya. Baru masuk ke sana tuh TK B. Gak ikut bimbel pula. Emang jadinya bikin ngiri para ibu yang terlalu kompetitif.

Etapi, mungkin di sini pun ada drama-drama ibu sekolahan separah ini. Gak tau juga, sih. Karena di lingkungan Chi masih termasuk yang level aman. Paling saya suka denger aja cerita-cerita yang begini-begitu di tempat lain.

Ya memang bagusnya bergaul sama yang positif aja, lah. Jauh-jauh deh dari toxic people. Kalau gak memungkinkan untuk pindah sekolah. Mending gak usah jadi ibu yang aktif di sekolahan hehehe. Etapi, bukan berarti semua ibu di sekolahan kayak begini, ya. Banyak juga yang positif dan asik.

Back to Content ↑