Pernahkah teman-teman terbahak-bahak saat mendengar adik atau anak yang Gen Alpha berbicara asal bunyi alias asbun? Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan ciri khas komunikasi Generasi A yang tumbuh besar di ekosistem digital yang serba cepat. Namun, benarkah mereka hanya asal bicara? Perlu gak ya dikontrol? Semenarik apa sih ngobrol sama gen alpha ini?
Lagi asik scrolling TikTok, tiba-tiba lewat video bocil dengan celotehannya yang random. Terkadang Chi ikutan ngakak, tapi beberapa kali juga berkerut kening sambil berkata dalam hati "kok gini?" Komen-komennya pun biasanya seperti berikut ...
"Gen Alpha, A-nya apa? Asbun!"
"Gen Alpha terbuat dari apa, sih? Asbun banget!"
Bahkan sampai ada beberapa konten yang bikin Gen Alpha core untuk berbagai
kelakuan mereka yang random. Benarkah generasi ini se-asbun seperti yang
dilontarkan banyak netizen?
Asbun: Celoteh Lucu dan Polos Anak di Semua Generasi
Menurut Chi, setiap anak di setiap generasi pada dasarnya asbun. Beberapa celoteh asbun Gen Alpha pernah juga diucapkan oleh Keke dan Nai. Bahkan di blog ini ada file Celoteh Anak yang memang khusus menceritakan kepolosan Keke dan Nai ketika masih kecil."Tapi, kayaknya Gen Alpha memang paling asbun dibandingkan generasi lainnya, deh!"
Opini tersebut ada benarnya, tapi tentu ada penjelasannya. Yang pasti bukan berdasarkan becandaan beberapa netizen yang katanya Gen Alpha terbuat dari tanah sengketa makanya asbun banget!
Kedekatan Anak Gen Alpha dengan Orang Tua
Chi perhatiin orang tua zaman sekarang lebih dekat dengan anak-anaknya. Chi memang gak bisa memastikan seberapa banyak karena tidak menggunakan data. Hanya melihat dari orang-orang sekitar yang dikenal serta berbagai konten medsos. Kedekatannya tidak hanya antara ibu dan anak. Tapi, ayah juga ikut terlibat dalam pengasuhan.Tentu ini bagus. Bisa jadi, ini juga yang bikin anak Generasi Alpha semakin berani bicara karena ada kedekatan dengan orang tua. Tidak merasa takut dimarahi, dihakimi, atau dihukum.
Generasi Alpha dan Budaya Digital
Kalau Gen Z aja udah akrab dengan dunia digital. Tentu Generasi Alpha
bisa lebih akrab lagi. Dari lahir sudah bersentuhan dengan dunia
digital.
Makanya jangan heran kalau Generasi Alpha sejak balita terlihat seperti
luwes banget dengan smartphone. Terkadang, orang tua merasa gak pernah
ngajarin. ternyata anaknya bisa lebih tau. Pengaruh dunia digital ini
juga bisa membuat Generasi Alpha terlihat semakin asbun, lho. Belum lagi
bahasa mereka seperti rizz, skibidi, mewing, dll. Duh! Chi dengernya aja
udah pusyiiiing hehehe.
Silakan baca:
Cara Orang Tua Memahami dan Menghormati Budaya Digital Gen Z
Keasbunan Gen Alpha Tetap Harus dalam Kontrol Orang Tua
Suatu hari, Chi tidak sengaja menyimak obrolan 2 anak kecil. Dari cara bicara dan postur tubuh, tebakan Chi usia mereka 4-6 tahun.
"Cieeee pacaran, cieeee!" (Mereka sedang meledek seseorang yang lebih
besar. Mungkin kenalan mereka).
Anak 1: "Nanti punya anak dulu, baru nikah."
Anak 2: "^&%&^$&)($@# ..." (gak kedengeran jelas ngomong
apa)
Anak 1: "IIIIHHH! YANG BENER PUNYA ANAK DULU BARU NIKAAAAH!"
Hah??? Chi langsung melongo dan merasa gimana gitu, ya ... Udah pasti
lah mereka asbun. Tapi, ini asbun yang mengkhawatirkan. Sama sekali gak
lucu!
Ya, menurut Chi, gak semua keasbunan anak kecil itu terdengar lucu dan
menggemaskan. Sebagai orang dewasa, justru harus waspada. Rasanya aneh
banget kalau anak seusia itu bisa bilang "punya anak dulu baru
nikah."
"Namanya juga anak-anak. Mereka mana ngerti maksudnya. Paling asal
nyeplos."
Heiiii! Alasan
namanya juga anak-anak
gak bisa selalu dijadikan pembenaran. Jangan lupakan kalau daya spons
anak kecil itu masih kualitas terbaik. Chi yakin banget kalau itu anak
pernah melihat kalimat tersebut dari medsos atau orang sekitarnya. Gak
mungkin ujug-ujug anak kecil bisa nyeplos "punya anak dulu baru nikah"
tanpa ada sumbernya.
Keasbunan anak tetap harus dikontrol oleh orang tua. Kasih tau mana
yang boleh dan tidak. Kalau kalau dibiasain tanpa rem, nanti repot
ketika mereka sudah besar. Terbiasa ngomong tanpa paham rambu-rambu
etika. Ketika ditegur/dimarahi orang, anak gak tau salahnya di mana
karena memang gak pernah diajari batasan. Padahal yang tadinya terasa
lucu saat masih kecil, bisa jadi sangat menyebalkan keasbunannya ketika
sudah besar.
Takut Hubungan Anak dan Orang Tua menjadi Renggang Bila Ditegur
Ya, Chi pernah beberapa kali mendengar alasan seperti itu. Mungkin
karena orang tuanya dulu langsung 'dikerasin' oleh orang tua ketika
asbun. Ada yang bilang bisa dikepret mulutnya. Makanya jadi takut untuk
bicara.
Ketika menjadi orang tua, jadi gak mau keras sama anak, tapi malah jadi
permisif. Sangat sayang ke anak, tapi minim batasan. Sikap permisif ini
berbeda ya dengan gentle parenting.
Anak tetap harus dikasih tau. Bisa kasih tau dengan lemah lembut, ajak
anak diskusi, dan lain-lain. Sehingga anak tetap nyaman berbicara
meskipun pernah ditegur. Positifnya kalau diajak diskusi baik-baik malah
bisa mengasah daya pikir kritis anak, lho.
Bagi Chi, usia anak justru harus banyak diajarin. Dikasih tau mana
yang benar dan salah. Kalau udah besar, nanti malah repot kalau anak
terbiasa dibenarkan semua perilakunya. Tetapi, tentu kembali lagi
tentang bagaimana cara orang tua mengajarkannya.
Anak di Rumah Aja, Tapi Informasi dari Mana-Mana Leluasa Masuk
Generasi sekarang kelihatan semakin banyak yang jadi anak rumahan.
Kalau pun keluar rumah, tetap asik dengan dunianya melalui medsos. Kalau
zaman Chi kecil dulu, mungkin bisa aman aja ya banyak di rumah. Tapi,
sekarang belum tentu. Informasi bisa leluasa masuk melalui layar
hape.
Makanya kalau balik lagi ke cerita 2 anak kecil tadi, bisa jadi
kepengaruhan dari berbagai konten medsos. Tanpa kontrol dari orang tua,
anak balita bisa bebas menonton konten apapun.
Mungkin saat ini mereka hanya membeo "punya anak aja dulu". Tanpa paham
artinya. Tapi, kalau hal seperti tidak segera ditegur, lama-lama jadi
mindset. Menganggap hal seperti itu adalah sesuatu yang wajar dan keren.
Naudzubillah.
Ya, dunia digital membuka informasi sebesar-besar ke kita semua,
termasuk ke anak. Ngeri kalau anak bisa bebas menyimak tanpa kontrol
orang tua atau orang dewasa lainnya. Mirisnya lagi, malah orang tua atau
lainnya menganggap semua keasbunan Gen Alpha itu lucu. Padahal gak
semuanya, lho.
Jadi, jangan larang anak kecil untuk asbun. Itu salah satu karakter
alamiah anak. Anak juga mengasah daya pikir dan imajinasi melalui
asbunnya. Daya berpikir kritisnya yang harus terus diasah. Tapi, juga jangan sampai loss. Keasbunan tetap harus
dikontrol. Jangan sampai kebablasan sampai tidak paham tentang etika.




0 Comments
Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)
Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^