Google.org Mendukung Meningkatkan Minat Baca Anak Indonesia - Beberapa bulan lalu dalam sebuah acara yang bertemakan tentang minat baca anak, Chi baru mengetahui kalau berdasarkan studi "Most Littered Nation In the World 2016", Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara. Wuiiihh, hampir jadi yang paling rendah! Menyedihkan, ya. Apa sih yang menjadi penyebabnya?


Kamis (14/12 '17), bertempat di hotel Fairmont Jakarta, Google.org mengadakan acara talkshow sekaligus workshop tentang peningkatan minar baca anak Indonesia. Penyebab rendahnya minat baca anak Indonesia ternyata lebih disebabkan karena kesenjangan. Bagi anak-anak yang tinggal di kota besar dan ekonominya mampu, ketersediaan buku sebetulnya bukan masalah. Hanya saja banyak anak-anak yang perhatiannya sudah teralihkan ke gadget. Sebetulnya tidak salah menggunakan gadget, asalkan digunakan dengan benar.

[Silakan baca: Berbagi Buku untuk Indonesia di Hari Anak Nasional]

Kemudian cobalah lihat anak-anak Indonesia di bagian timur. Atau bahkan di pelosok kota besar seperti Jakarta masih banyak anak Indonesia yang jangankan memiliki gadget, buku saja tidak punya. Padahal ketika diberikan buku, anak-anak tersebut sangat antusias membaca. Jadi pada saat ada orang tua yang pusing dengan pelajaran anak yang semakin njlimet, di sisi lain ada anak yang bahkan membaca saja belum mampu.


Saat ini diperkirakan bahwa setiap 100 murid yang masuk sekolah, hanya 25 murid yang memenuhi standar minimum internasional dalam kemampuan membaca dan berhitung.

Selama ini, teman-teman pasti sudah kenal banget dengan Google. Nah, kalau Google.org adalah inisiatif filantropi dari Google yang mendukung berbagai organisai non profit yang menggunakan teknologi untuk mengatasi berbagai masalah kemanusiaan. Sejak didirikan pada tahun 2005, Google.org mendambakan dunia yang adil bagi semua orang dan meyakini bahwa teknologi serta inovasi dapat memawa perubahan di 3 bidang, yaitu pendidikan, ekonomi, dan kesetaraan.

[Silakan baca: Menulis Itu Asik!]

Pada bulan Maret 2017, Google.org berkomitmen menyumbangkan 50 juta USD untuk mendukung organisasi non profit dalam hal mengembangkan solusi proses belajar-mengajar berdasarkan teknologi untuk mengatasi tantangan pendidikan di berbagai negara berkembang. Khusus untuk Indonesia, Google.org memberikan bantuan sebesar 2,5 juta USD.


"Kami yakin bahwa apa yang dipelajari anak-anak sekolah saat ini akan membentuk dunia di masa depan. Itulah mengapa berincestasi di dunia pendidikan sangatlah penting bagi kami di Google. Melalui hibah ini, kami ingin menciptakan platform berskala besar untuk menghadirkan konten pengajaran digital bagi para guru di seluruh Indonesia, kami berharap anak-anak akan lebih berminat untuk membaca. Kemampuan membaca yang bagus sangatlah penting bagi masa depan negara mana pun," kata Shinto Nugroho, Head of Public Policy, Google Indonesia.

Kemampuan membaca adalah sebuah dasar. Bahkan untuk pelajaran seperti matematika dan ilmu pengetahuan alam pun perlu membaca. Dana bantuan sebesar 2,5 juta USD akan dihibahkan kepada 3 organisasi non profit (IniBudi, Room to Read, dan Taman Bacaan Pelangi) yang memang sangat peduli dengan minat baca anak, khususnya di Indonesia.


Yuk mengenal lebih dekat dengan 3 organisasi ini melalui profil singkatnya masing-masing.

[Silakan baca: 2 Tips Jitu Mengajarkan Anak Membaca]


IniBudi


IniBudi adalah organisasi yang berdiri sejak tahun 2013. Berinisiatif meningkatkan mutu pendidikan dengan cara membagikan berbagai flashdisk berupa video belajar yang berkualitas. Berbagai kendala di dunia pendidikan Indonesia saat ini seperti sulitnya akses menuju lokasi sekolah, minimnya fasilitas di beberapa daerah terpencil, tidak sebandingnya jumlah guru dan murid, hingga bagaimana menciptakan kegiatan belajar yang menyenangkan menjadi perhatian IniBudi.

Bahkan untuk sekolah yang sudah difasilitasi internet pun penggunaannya masih kecil. Padahal, anak-anak akan lebih mudah menerima pelajaran bisa suasananya menyenangkan. Menonton video juga menjadi salah satu solusi agar para guru belajar bagaimana mengajar dengan cara yang menyenangkan. Para siswa pun akan senang belajar dengan menonton video.

Ada 4 program IniBudi, yaitu:


  1. #GuruBerbudi - Mengajar tidak hanya untuk yang berprofesi sebagai guru. Siapapun yang ingin berpartisipasi dan membagi ilmunya bisa menjadi pengajar di program ini.
  2. Sahabat IniBudi - Bagi siapapun yang berminat menjadi relawan dalam program IniBudi, bisa bergabung di program ini. Misalnya, ingin membantu membuat video, proses shooting, berkampanye tentang IniBudi, dan lain sebagainya.
  3. #TemanBelajar - Program ini adalah untuk para siswa dari kelas 3 SD hingga 3 SMA. PAsa siswa bisa saling membagikan atau memberikan video tentang pelajaran yang menarik dan menantang. Program ini bisa membantu para siswa untuk saling berkomunikasi dan memahami materi pelajaran.
  4. #DukungBelajar - Cara lain yang bisa teman-teman berikan adalah dengan cara mendukung penyebaran video ke berbagai sekolah. Teman-teman bisa berdonasi berupa flashdisk, video player, dan lain sebagainya


Room to Read


Room to Read adalah organisasi non profit yang memiliki misi meningkatkan literasi dan kesetaraan gender dalam bidang pendidikan di sleuruh kawasan geografis baru. Director of Strategic Expansion Room to Read, Joel E. Bacha, memiliki pengalaman lebih dari 15 tahun di bidang pendidikan sehingga memiliki pemahaman yang kuat  tentang berbagai isu dan tantangan yang dihadapi sistem pendidikan di seluruh dunia. Pengalamannya yang telah bekerja di lebih dari 30 negara untuk berbagai isu seperti pendidikan guru, pengembangan kurikulum, pengembangan kemampuan membaca dan ketrampilan hidup, pendiidkna multibahasa, serta air bersih dan sanitasi di sekolah.


Taman Bacaan Pelangi


Organisasi nirlaba yang didirikan oleh Nila Tanzil pada tahun 2009 ini berfokus untuk mendirikan perpustakaan anak-anak serta menyediakan akses buku bacaan untuk anak-anak yang tinggal di berbagai daerah terpencil di kawasan Indonesia bagian timur. Hingga Juli 2017, sudah ada 63 perpustakaan anak-anak yang didirikan oleh Taman Bacaan Pelangi dan tersebar di 15 pulau di Indonesia Timur. Setiap perpustakaan memiliki minimal 1.000 s/d 3.000 buku cerita anak. Dan sudah sekitar 17.000 anak berusia 5-13 tahun yang telah diberikan akses buku serta memberikan pelatihan kepada 520 guru.

Dana hibah dari Google.org ini nantinya akan dipergunakan untuk mengembangkan platform digital yang menggabungkan materi pengembangan profesional bagi guru sekolah, penulis, dan ilustratrol. Akan ada lebih dari 150 buku cerita digital berbahasa Indonesia. Platform tersebut akan bersifat open source dan dioptimalkan agar ramah dengan pengguna online maupun offline.

3 organisasi nirlaba ini akan bekerjasama dimulai dari penentuan cakupan dan pembuatan platform, pemanduan, hingga perluasan cakupan. Diharapkan dalam kurun waktu 3 tahun, sekitar 200.000 anak Indonesia usia sekolah akan mengalami peningkatan minat baca.

Sejatinya, pendidikan memang tanggung jawab kita semua. Prof. Dr. R. Agus Sartono, Deputi Menko PMK, pada acara tersebut juga mengatakan kalau selama ini banyak yang membandingkan pendidikan Indonesia dengan Finlandia, pada kenyataannya permasalahan di Indonesia memang lebih kompleks. Dalam hal karakter saja, masyarakat Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke memiliki beragam karakter yang berbeda. Masyarakat A bisa setuju dengan program pendidikan seperti ini, belum tentu dengan masyarakat B, C, dan lain sebagainya. Belum lagi kalau bicara tentang akses dan lain sebagainya.

Salut dengan banyak pihak yang peduli dengan minat baca anak Indonesia. Termasuk para guru yang terus berusaha menciptakan suasana kegiatan belajar-mengajar yang menyenangkan. Pada acara tersebut, setelah talkshow dan ishoma, juga diadakan workshop yang diikuti beberapa perwakilan guru dari seluruh Indonesia. Senang rasanya melihat antusias para guru dalam mengikuti workshop tersebut.

[Silakan baca: Membaca Itu Bisa atau Biasa?]


(Kiri-kanan) Director of Strategic Expansion Room to Read, Joel Bacha ; Deputi Menko PMK, Agus Sartono, Founder Inibudi.org, Najeela Shihab ; Founder Taman Bacaan Pelangi NilaTanzil ; Head of Public Policy, Google Indonesia, Shinto Nugroho ; dan perwakilan Google.org, Hannah