Google.org Mendukung Meningkatkan Minat Baca Anak Indonesia - Keke Naima

Entri yang Diunggulkan

5 Aksesoris Handphone yang Bisa Membantu Meningkatkan Produktivitas

5 Aksesoris Handphone yang Bisa Membantu Meningkatkan Produktivitas Jika teman-teman membeli smartphone, sebaiknya jangan sekadar untuk...

Rabu, 03 Januari 2018

Google.org Mendukung Meningkatkan Minat Baca Anak Indonesia


Beberapa bulan lalu dalam sebuah acara yang bertemakan tentang minat baca anak, Chi baru mengetahui kalau berdasarkan studi "Most Littered Nation In the World 2016", Indonesia berada di  peringkat ke-60 dari 61 negara. Wuiiihh, hampir jadi yang paling rendah! Menyedihkan, ya. Apa sih yang menjadi penyebabnya?

Kamis (14/12 '17), bertempat di hotel Fairmont Jakarta, Google. org mengadakan acara talkshow sekaligus workshop tentang peningkatan minar baca anak Indonesia. Penyebab rendahnya minat baca anak Indonesia ternyata lebih disebabkan karena kesenjangan. Bagi anak-anak yang tinggak di kota besar dan ekonominya mampu, ketersediaan buku sebetulnya bukan masalah. Hanya saja banyak anak-anak yang perhatiannya sudah teralihkan ke gadget. Sebetulnya tidak salah menggunakan gadget, asalkan digunakan dengan benar.

Kemudian cobalah lihat anak-anak Indonesia di bagian timur. Atau bahkan di pelosok kota besar seperti Jakarta masih banyak anak Indonesia yang jangankan memiliki gadget, buku saja tidak punya. Padahal ketika diberikan buku, anak-anak tersebut sangat antusias membaca. Jadi pada saat ada orang tua yang pusing dengan pelajaran anak yang semakin njlimet, di sisi lain ada anak yang bahkan membaca saja belum mampu.
Saat ini diperkirakan bahwa setiap 100 murid yang masuk sekolah, hanya 25 murid yang memenuhi standar minimum internasional dalam kemampuan membaca dan berhitung.
Selama ini, teman-teman pasti sudah kenal banget dengan Google. Nah, kalau Google.org adalah inisiatif filantropi dari Google yang mendukung berbagai organisai non profit yang menggunakan teknologi untuk mengatasi berbagai masalah kemanusiaan. Sejak didirikan pada tahun 2005, Google.org mendambakan dunia yang adil bagi semua orang dan meyakini bahwa teknologi serta inovasi dapat memawa perubahan di 3 bidang, yaitu pendidikan, ekonomi, dan kesetaraan.

Pada bulan Maret 2017, Google.org berkomitmen menyumbangkan 50 juta USD untuk mendukung organisasi non profit dalam hal mengembangkan solusi proses belajar-mengajar berdasarkan teknologi untuk mengatasi tantangan pendidikan di berbagai negara berkembang. Khusus untuk Indonesia, Google.org memberikan bantuan sebesar 2,5 juta USD.
"Kami yakin bahwa apa yang dipelajari anak-anak sekolah saat ini akan membentuk dunia di masa depan. Itulah mengapa berincestasi di dunia pendidikan sangatlah penting bagi kami di Google. Melalui hibah ini, kami ingin menciptakan platform berskala besar untuk menghadirkan konten pengajaran digital bagi para guru di seluruh Indonesia, kami berharap anak-anak akan lebih berminat untuk membaca. Kemampuan membaca yang bagus sangatlah penting bagi masa depan negara mana pun," kata Shinto Nugroho, Head of Public Policy, Google Indonesia.
Kemampuan membaca adalah sebuah dasar. Bahkan untuk pelajaran seperti matematika dan ilmu pengetahuan alam pun perlu membaca. Dana bantuan sebesar 2,5 juta USD akan dihibahkan kepada 3 organisasi non profit (IniBudi, Room to Read, dan Taman Bacaan Pelangi) yang memang sangat peduli dnegan minat baca anak, khususnya di Indonesia.


Yuk mengenal lebih dekat dengan 3 organisasi ini melalui profil singkatnya masing-masing.

IniBudi

IniBudi adalah organisasi yang berdiri sejak tahun 2013. Berinisiatif meningkatkan mutu pendidikan dengan cara membagikan berbagai flashdisk berupa video belajar yang berkualitas. Berbagai kendala di dunia pendidikan Indonesia saat ini seperti sulitnya akses menuju lokasi sekolah, minimnya fasilitas di beberapa daerah terpencil, tidak sebandingnya jumlah guru dan murid, hingga bagaimana menciptakan kegiatan belajar yang menyenangkan menjadi perhatian IniBudi.

Bahkan untuk sekolah yang sudah difasilitasi internet pun penggunaannya masih kecil. Padahal, anak-anak akan lebih mudah menerima pelajaran bisa suasananya menyenangkan. Menonton video juga menjadi salah satu solusi agar para guru belajar bagaimana mengajar dengan cara yang menyenangkan. Para siswa pun akan senang belajar dengan menonton video.

Ada 4 program IniBudi, yaitu:
  • #GuruBerbudi - Mengajar tidak hanya untuk yang berprofesi sebagai guru. Siapapun yang ingin berpartisipasi dan membagi ilmunya bisa menjadi pengajar di program ini.
  • Sahabat IniBudi - Bagi siapapun yang berminat menjadi relawan dalam program IniBudi, bisa bergabung di program ini. Misalnya, ingin membantu membuat video, proses shooting, berkampanye tentang IniBudi, dan lain sebagainya.
  • #TemanBelajar - Program ini adalah untuk para siswa dari kelas 3 SD hingga 3 SMA. PAsa siswa bisa saling membagikan atau memberikan video tentang pelajaran yang menarik dan menantang. Program ini bisa membantu para siswa untuk saling berkomunikasi dan memahami materi pelajaran.
  • #DukungBelajar - Cara lain yang bisa teman-teman berikan adalah dengan cara mendukung penyebaran video ke berbagai sekolah. Teman-teman bisa berdonasi berupa flashdisk, video player, dan lain sebagainya
Room to Read

Room to Read adalah organisasi non profit yang memiliki misi meningkatkan literasi dan kesetaraan gender dalam bidang pendidikan di sleuruh kawasan geografis baru. Director of Strategic Expansion Room to Read, Joel E. Bacha, memiliki pengalaman lebih dari 15 tahun di bidang pendidikan sehingga memiliki pemahaman yang kuat  tentang berbagai isu dan tantangan yang dihadapi sistem pendidikan di seluruh dunia. Pengalamannya yang telah bekerja di lebih dari 30 negara untuk berbagai isu seperti pendidikan guru, pengembangan kurikulum, pengembangan kemampuan membaca dan ketrampilan hidup, pendiidkna multibahasa, serta air bersih dan sanitasi di sekolah.

Taman Bacaan Pelangi 

Organisasi nirlaba yang didirikan oleh Nila Tanzil pada tahun 2009 ini berfokus untuk mendirikan perpustakaan anak-anak serta menyediakan akses buku bacaan untuk anak-anak yang tinggal di berbagai daerah terpencil di kawasan Indonesia bagian timur. Hingga Juli 2017, sudah ada 63 perpustakaan anak-anak yang didirikan oleh Taman Bacaan Pelangi dan tersebar di 15 pulau di Indonesia Timur. Setiap perpustakaan memiliki minimal 1.000 s/d 3.000 buku cerita anak. Dan sudah sekitar 17.000 anak berusia 5-13 tahun yang telah diberikan akses buku serta memberikan pelatihan kepada 520 guru.

Dana hibah dari Google.org ini nantinya akan dipergunakan untuk mengembangkan platform digital yang menggabungkan materi pengembangan profesional bagi guru sekolah, penulis, dan ilustratrol. Akan ada lebih dari 150 buku cerita digital berbahasa Indonesia. Platform tersebut akan bersifat open source dan dioptimalkan agar ramah dengan pengguna online maupun offline.

3 organisasi nirlaba ini akan bekerjasama dimulai dari penentuan cakupan dan pembuatan platform, pemanduan, hingga perluasan cakupan. Diharapkan dalam kurun waktu 3 tahun, sekitar 200.000 anak Indonesia usia sekolah akan mengalami peningkatan minat baca.

Sejatinya, pendidikan memang tanggung jawab kita semua. Prof. Dr. R. Agus Sartono, Deputi Menko PMK, pada acara tersebut juga mengatakan kalau selama ini banyak yang membandingkan pendidikan Indonesia dengan Finlandia, pada kenyataannya permasalahan di Indonesia memang lebih kompleks. Dalam hal karakter saja, masyarakat Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke memiliki beragam karakter yang berbeda. Masyarakat A bisa setuju dengan program pendidikan seperti ini, belum tentu dengan masyarakat B, C, dan lain sebagainya. Belum lagi kalau bicara tentang akses dan lain sebagainya.

Salut dengan banyak pihak yang peduli dengan minat baca anak Indonesia. Termasuk para guru yang terus berusaha menciptakan suasana kegiatan belajar-mengajar yang menyenangkan. Pada acara tersebut, setelah talkshow dan ishoma, juga diadakan workshop yang diikuti beberapa perwakilan guru dari seluruh Indonesia. Senang rasanya melihat antusias para guru dalam mengikuti workshop tersebut.

(Kiri-kanan) Director of Strategic Expansion Room to Read, Joel Bacha ; Deputi Menko PMK, Agus Sartono, Founder Inibudi.org, Najeela Shihab ; Founder Taman Bacaan Pelangi NilaTanzil ; Head of Public Policy, Google Indonesia, Shinto Nugroho ; dan perwakilan Google.org, Hannah

37 komentar:

  1. Nama organisasinya (iniBudi)ngingetin aku saat jaman kelas satu SD saat belajar baca :)

    BalasHapus
  2. Aku juga jarang melihat ponakanku pada baca-baca buku yang bukan buku pelajaran sekolah, Mbak. Dari lingkungan sendiri saja sudah minim, ya. Hiks Keren lah google.org ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, segala sesuatu sebaiknya dari lingkungan terdekat dulu

      Hapus
  3. sebenarnya peran orangtua juga penting sih untuk meningkatkan minta baca anak. miris juga sama orangtua yang jarang memperhatikan anaknya dan dibiarkan fokus pada gadgetnya. hmmm.
    oraganisasi seperti inilah yang harus didukung masyarakat dan perlu disosialisasikan khususnya kepada anak dan orangtua

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, Mbak. Urusan pendidikan adalah urusan bersama.

      Hapus
  4. Wah saya tertarik tuh dengan progran IniBudi yang #GuruBerbudi karena saya bukan guru professional tapi diberi kepercayaan untuk mengajar Bahasa Inggris di sebuah yayasan non-profit di desa saya. Miris juga dengan minat baca anak-anak Indonesia yang sangat rendah. Di yayasan tempat saya kerja juga ada perpustakaan tapi anak-anak lebih antusias untuk nonton YouTube.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yuk, join. Insya Allah kalau emakin banyak yang peduli, semakin maju pendidikan anak Indonesia. Aamiin

      Hapus
  5. wah keren ya google.org ini keren ya MBak.... membantu meningkatkan minat baca yg masih sangat kurang ini... mudah2an minat baca di Indonesia semakin meningkat ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Semoga semakin banyak juga yang tergerak untuk peduli meningkatkan minat baca anak

      Hapus
  6. Yaa!! Semoga apa yang telah diberikan Google.org bisa membawa kreativitas bagi anak bangsa seluruh nusantara...

    BalasHapus
  7. Membaca sebagai rekreasi bergeser menjadi membaca serasa beban ya Jeng Chi. mari tebarkan kesukaan membaca di sekitar lingkungan keseharian kita. salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mbak Prih. Semoga banyak yang kembali menyukai aktivitas membaca

      Hapus
  8. Langsung google, nama adik Budi, Iwan ternyata :).

    Buku adalah jendela dunia, membaca adalah kuncinya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehehe. Iya, Mbak. Banyak manfaatnya dari kegiatan membaca

      Hapus
  9. keren banget ya, sangat membantu

    BalasHapus
  10. salut bangettt bacanya.. semoga anak2 Indonesia makin gemar membaca yaa

    BalasHapus
  11. Mungkin karena baca status fb dan blog ndak diotung kali ya mba... makana jadi hampir yang paling rendsh... moga semakin meningkat minat bacanya di negeri ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin begitu. Tapi kalau scmed kayaknya rawan hoax juga. Jadi harus hati0hati menyikapinya

      Hapus
  12. Semoga anak-anak Indonesia jadi semakin minat membaca

    BalasHapus
  13. Miris ya kalau sampai minat baca anak-anak kurang. Beruntung Sekar suka baca dan suka haus buku kalau lagi habis bahan bacaan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Ani. Semoga makin banyak anak Indonesia seperti Sekar

      Hapus
  14. Semoga juga para guru masa kini juga mengajak anak-anak untuk senang membaca apa saja. Bukan buku pelajaran saja. Karena ini terjadi sekolah dekat rumah yang gurunya marah saat tahu anak2nya baca buku cerita :( #sedih

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah, itu. Padahal gak apa-apa juga baca buku cerita. Banyak buku cerita yang bagus

      Hapus
  15. Program wajib dari tiap sekolah, mulai dari PAUD, pengennya sih. Bukan kemampuan baca dulu, menumbuhkan minat baca jauh lebih penting. Kalo lihat banyak buku dlm rangka obralan, semoga bisa segera dialokasikan utk yg lebih membutuhkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. insya Allah, kalau udah minat yang ditumbuhkan biasanya gak sulit mengajak anak membaca

      Hapus
  16. Menurutku Mbak bukat minat baca kita yang kurang, tapi fasilitas yang tidak memadai. Apa lagi anak-anak yang tinggal di pelosok. Mereka suka dengan bahan bacaan, tapi sayangnya keterbatasan merekalah yang membuat kesempatan baca itu berkurang. Begitu juga dengan budaya kita yang terlau tabu dengan orang yang suka membaca, diberi lebel sok pintar lah, kutu buku atau lebeling lainnya kepada orang yang suka membaca buku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di artikel ini pun saya tulis begitu. Sebetulnya anak-anak punya minat baca yang tinggi tapi ketersedian bukunya yang suka bermasalah.

      Hapus
  17. Dari ketiga organisasi tersebut aku paling familiar sama inibudi.org karena sudah lama mengikuti sepak terjang Mbak Ela Najeela Shihab ddi dunia pendidikan. Semoga suatu saat bisa ikut bergerak di bidang pendidikan juga, khususnya untuk masyarakat pinggiran

    BalasHapus
  18. Ini budi legendaris banget ya. Pertama bisa baca dan menulis ya ini budi, sampai hafal urutan penulisan ini budi i ni bu di dan lalu kangen ke jaman dulu, yang anak SD aja pada gemar baca buku and now?

    BalasHapus
  19. Semoga dengan hadirnya Inibudi angka rendahnya minat baca anak Indonesia menjadi lebih baik.

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^