Menulis Itu Asyik!

Menulis Itu Asyik! - Salah seorang teman di sekolah Keke dan Nai beberapa kali meminta Chi untuk memberikan pelatihan menulis kepada anak-anak usia 9-14 tahun. Berangkat dari kekhawatiran orang tua yang melihat anak-anak zaman sekarang susah kalau disuruh menulis. Kalaupun menuangkan cerita lebih suka membuat komik.

Maunya orang tua, anak-anak bisa menulis cerita seperti kayak tugas zaman sekolah dulu bikin karangan. Lebih bagus lagi kalau bisa menulis reportase. Nilai plus kalau tata bahasa tulisannnya pun sesuai dengan KBBI. Buat orang tua kemampuan ini akan berguna bila suatu saat mereka harus bikin karya tulis, skripsi, dan lain sebagainya.

Awalnya Chi menolak. Lha, Chi aja masih banyak belajar untuk urusan penyusunan kata-kata. Seringkali masih suka lihat KBBI supaya bisa menulis dengan tepat. Lagipu anak-anak Chi sama seperti anak-anak lainnya. Nai juga lebih suka membuat komik dan Keke lebih suka bercerita langsung daripada ditulis. Keke juga kayaknya dia lebih tertarik nge-vlog dari nge-blog. Jadi bagaimana mungkin bisa ngasih pelatihan untuk anak-anak lain kalau buat Chi aja masih PR banget.

Chi pun mengusulkan untuk ganti topik. Bukan tentang pelatihan menulis tetapi memberikan motivasi. Menurut Chi, anak-anak harus dibangkitkan dulu minatnya. Terlebih sekarang era digital dan anak-anak sangat akrab dengan gadget. Bakal susah meminta mereka untuk menulis di selembar kertas bila tidak memiliki minat.

Apapun media yang mereka gunakan, bebaskan saja. Mau di buku, kertas gambar, blog, atau socmed juga biarkan saja. Mau cerita seperti membuat cerpen, novel, atau komik pun gak apa-apa. Yang penting timbulkan minatnya dulu dan pelan-pelan anak mau belajar bagaimana menulis atau bercerita dengan benar.

Perubahan topik pun disepakati, giliran waktunya yang mundur melulu. Teman Chi ini sudah meminta sejak tahun 2015. Tapi, waktunya yang gak klop. *(Sok) sibuk sekali Chi ๐Ÿ˜‚* Setelah berkali-kali mundur, akhirnya sepakat acara dilakukan pada awal April 2016.


Membangkitkan Minat Menulis


Sesi Motivasi

Karena topiknya berubah, Chi memilih lebih memberi motivasi bukan pelatihan. Kegiatan dilakukan 2 sesi. Sesi pertama memberikan motivasi dengan bercerita tentang kegiatan menulis. Karena Chi seorang blogger, jadi banyak bercerita tentang blog. Di akhir sesi pertama, semua peserta diminta untuk membuat cerita pengalaman yang berkesan. Dikumpulkan pada saat sesi kedua.

Chi mulai mengenalkan apa itu blog, bagaimana membuat blog dengan blogspot, serta keuntungan menjadi blogger termasuk diantaranya job review. Ketika menceritakan job review, Chi gak berharap mereka langsung berpikir tentang monetize. Yang Chi harapkan adalah konsisten menulis dulu. Tapi, sedikit saja diulas tentang job revie supaya jadi salah satu penyemangat.

Seperti yang sudah Chi duga, anak-anak tersebut gak gaptek. Memang sih ada beberapa anak terutama yang masih kecil-kecil belum mengenal social media apalagi blog. Tapi untuk yang ABG udah ada beberapa yang mulai menulis di blog. Biasanya mereka menulis di Tumblr.

Karena sebagian sudah akrab dengan dunia digital, Chi pun mengingatkan mereka tentang pentingnya netiket. Jangan pernah berpikir untuk menjadi bijaksana ketika sudah dewasa. Karena sebetulnya sikap bijaksana itu gak berbanding lurus dengan usia. Bijaksana juga bukan berarti sok tua. Tetap aja menulis seperti yang kita mau asalkan tidak melanggar dan menyakiti apapun/siapapun. Gak lucu kan kalau status atau postingan yang kita buat menjadi viral karena pemberitaan negatif apalagi kena UU ITE.

Hanya karena tidak bertatap muka, jangan pernah menganggap kita bisa menulis seenaknya di dunia maya. Karena sebetulnya di dunia maya kita tidak sendiri. Catatan digital kita bisa terbaca oleh banyak orang.


"Everything you post on social media impacts your personal brand. How do you want to be known?" - Lisa Horn, a.k.a The Publicity Gal

Chi juga membahas tentang idola. Apalagi untuk anak-anak abege yang sudah melek digital, idolanya mungkin sudah bukan Dora The Explorer, Barney, atau Hi-5. Beberapa nama vlogger ngetop sekarang menjadi idola. Tapi karena ini bahasannya tentang menulis, maka Chi memberi contoh beberapa influlancer muda yang bisa dijadikan idola. Sebut saja diantaranya adalah Evita Nuh, Sri Izzati, Kartika Putri Mentari, Astari Radnadya, Handiko Rahman, Fatur Rosiy, Indi, dan beberapa nama lainnya. Chi menyebutkan nama-nama tersebut sambil menceritakan sedikit profil mereka. Chi perlihatkan juga blog mereka. Beberapa ada yang perlihatkan IGnya juga.

[Silakan baca: Ngeblog Asyik Itu Diawali Dari Niat]


Menulis Cerita dan Berdiskusi

2 minggu berikutnya lebih banyak ke arah diskusi. Ada seorang anak berusia 9 tahunan yang menunjukkan tulisannya. Dia membuatnya di selembar kertas karena belum memiliki social media. Awalnya malu-malu. Kemudian setelah dibaca, Chi ajak berdiskusi sama-sama supaya tulisannya semakin enak dibaca. Chi berusaha untuk tidak menggurui karena masih banyak belajar. Bisa dibilang kami sama-sama belajar di sini.

Ada salah seorang anak remaja yang pada sesi pertama kelihatan mengantuk. Sikapnya bikin Chi sempat grogi. Jangan-jangan cara Chi berbicara memang ngebosenin? Tapi, Chi berusaha percaya diri aja karena melihat anak-anak lain banyak yang semangat.

Nah, pas pertemuan sesi kedua Chi gak menyangka kalau anak ini akan datang lagi *memang gak ada keharusan datang 2 sesi karena bayarnya kan per sesi*. Udah gitu anak ini terlihat semangat berbeda dengan pertemuan pertama. Rupanya dia semangat karena bisa menunjukkan karyanya. Dia sangat gemar menggambar. Chi perhatikan gambarnya bagus dan bercerita. Di sini pun Chi jadi tambah yakin kalau anak akan semangat bila sudah tertarik apalagi sudah menemukan passionnya. Ketika Chi ajak ngobrol tentang menggambar, dia senang banget.

Sekitar 15-20 anak yang ikut dengan usia yang beragam. Untuk anak-anak yang remaja udah lumayan tertib. Nah, yang kecil-kecil ini yang belum duduk rapi berlama-lama. Ada yang jalan-jalan, ada yang ngemil melulu, pokoknya ada aja tingkah mereka. Tapi Chi sih senang aja. Cuma kalau disuruh rutin mungkin mikir juga, ya. Betapa hebat para guru yang bisa mengajar anak-anak dengan sabar, ya ๐Ÿ˜‚

[Silakan baca: Bila Anak Kecanduan Game, Cari Solusi Hingga ke Akarnya]


Faktor Hambatan Menulis


Menulis Itu Asyik!

Di akhir sesi pertama sempat ada tanya jawab tentang social media yang mereka tahu. Dari foto di atas terlihat kalau sebagian diantara mereka memang sudah melek digital. Seperti yang Chi tulis di atas pun sudah ada yang punya Tumblr.

Sekarang, apa sih hambatan menulis sehingga merasa sulit?


Kurang Inspirasi / Ide

Masalah klasik banget ini, ya. Dan, anak-anak pun mengalami hal sama. Padahal kata Ani Berta, ide itu seperti udara yang mudah ditemukan dimanapun. Chi pun coba mengajak mereka memancing ide. Caranya dengan memberi beberapa pertanyaan seperti ini ...

  1. Siapa yang setiap pagi rajin sarapan? *Sebagian ada yang bilang iya, sebagian lagi tidak
  2. Apa alasannya gak mau sarapan? Masih ngantuk? Belum lapar? Atau ada alasan lain?
  3. Apa alasan untuk yang rajin sarapan? Diharuskan oleh orang tua? Karena menunya enak? Atau juga ada alasan lain?
  4. Menu sarapan paling enak yang pernah dimakan itu apa dan kenapa?

Dari rangkaian pertanyaan sederhana seperti itu aja bisa menciptakan berbagai ide, misalnya

  1. 5 Menu Sarapan Favorit Untuk Saya
  2. Resep Nasi Goreng Buatan Bunda
  3. 5 Alasan Kenapa Saya Tidak Sarapan

Jadi, ide beneran ada di mana-mana, kan ๐Ÿ˜Š


Males, Pegel, Kurang Waktu, dan Ngantuk

Untuk poin nomor 2 s/d 5 Chi satuin karena saling berkaitan. Anak-anak sekarang beban pendidikannya lebih berat. Zaman Chi sekolah, masih punya banyak waktu untuk bermain. Sedangkan kebanyakan anak-anak zaman sekarang sebagian besar waktunya diisi untuk belajar.

Pulang sekolah udah sore. Trus masih banyak yang lanjut untuk ikut berbagai macam les. Sampe rumah udah selepas maghrib. Belum lagi kalau ada PR. Bisa-bisa larut malam mereka baru tidur cuma untuk urusan belajar akademis.

Gak heran kalau mereka merasa kurang waktu untuk melakukan kegiatan pribadi termasuk menulis. Sampe rumah badan udah pegal, mata pun mengantuk. Kalau udah gitu, males mau melakukan kegiatan lain. Lebih suka tiduran nonton tv atau pegang hape.


Alat Pendukung Kurang Nyaman

Gak punya laptop, bolpen buat menulisnya gak enak, dan masih banyak alasan lain yang bikin mereka menunda-nunda latihan menulis. Chi mencoba memotivas bahwa untuk menulis gak perlu harus punya laptop dulu, bolpen yang mahal, atau punya ini-itu. Keterbatasan jangan bikin kita jadi brenti beraktivitas.


Kurang PD

Khawatir dibilang karyanya jelek menjadi salah satu alasan kurang percaya diri. Memang sebaiknya kita pun jangan mudah menghakimi supaya gak bikin orang lain jadi minder. Kita juga harus belajar untuk percaya diri. Dipilih-pilih aja pendapat berbagai orang. Ada kalanya kita mendengarkan termasuk ketika mendapat kritikan membangun. Tapi kalau yang menghakimi sih abaikan aja.

Prakteknya memang gak gampang. Chi aja kadang masih suka ilang timbul rasa percaya dirinya. Yang penting tetap berusaha ๐Ÿ˜ƒ

Sebagai penutup, Chi bilang ke anak-anak itu untuk terus berusaha. Sebaiknya jangan mengharapkan proses instan. Tapi bagus banget kalau mereka mau belajar menulis sejak dini. Karena untuk berkembangnya masih sangat besar. Apalagi anak-anak pemikirannya masih kreatif. Coba aja perhatikan para blogger atau vlogger muda. Kreatif-kreatif, kan?

Selesai acara, Chi lupa buat foto-foto sama mereka. Cuma fotoin yang di papan tulis itu aja. Jadi gak ada kenangan fotonya. Apalagi pas sesi kedua, Chi langsung ngacir setelah selesai acara karena mau main detektif di Kemang. Tapi, setidaknya ini juga jadi pengalaman berharga buat Chi. Senang bisa berbagi pengalaman bersama anak-anak ๐Ÿ˜Š

[Silakan baca: Serunya Menjadi Detektif di Escape Hunt Jakarta]