"Om telolet om"


Beberapa hari ini, kalimat 'om telolet om' viral banget. Sampe beberapa Dj kelas dunia pun ikut meramaikan. Bahkan dalam hitungan hari versi dangdutnya juga udah ada ๐Ÿ˜… *Cari sendiri di YouTube, ya ๐Ÿ˜„

Sebetulnya apa sih 'om telolet om' itu?


Trend telolet ini sebetulnya udah cukup lama. Sekelompok anak-anak kecil di daerah Jawa Tengah yang suka dengan suara klakson, umumnya klakson bus. Kalau baca beberapa media, katanya awalnya di Jepara. Tapi, menurut sepupu Chi yang dari Gombong, di Kebumen pun udah sejak lama anak-anak kecil suka dengan aktivitas ini. Mereka berkumpul di pinggir jalan dan meminta bus untuk membunyikan klakson. Bila klakson berbunyi mereka akan kesenangan dan suara klakson tersebut direkam di telepon genggam mereka.

Udah lumayan lama Chi tau tentang kebiasaan ini. Ada beberapa teman di FB yang pernah membuat status tentang ini jauh sebelum telolet mendunia. Kalau gak salah ingat, dulu pernah juga ada sedikit reportasenya di salah satu stasiun televisi swasta.

Ketika sekarang telolet mendunia, Chi gak tau penyebab pastinya apa. Dan gak berusaha mencari tau juga. Tapi, Chi termasuk yang ikut tertawa-tawa dengan trend ini. Sejenak merasakan ademnya timeline yang akhir-akhir ini penuh pro kontra. Perdebatan yang lebih banyak adu ototnya dibanding adu otak.

Etapi, timeline Chi sebetulnya lumayan adem, sih. Berbeda pendapat memang ada, tapi gak sampe yang heboh banget. Cuma kadang Chi suka baca status beberapa teman tentang panasnya timeline. Bikin Chi kepo dan cari tau. Ternyata memang bener, sih. Ternyata hawanya panas juga hehehe.

Setelah sejenak menikmati trend 'om telolet om', mulai ada hal-hal lain seperti pertanyaan kenapa harus telolet? Kan, suara klakson bus gak hanya telolet? Apa sih lucunya telolet sampe pada kesenangan begitu? Ada juga yang protes kalau fenomena ini membahayakan. Bahkan sampe ada yang mengartikan lain-lain yang ... begitulah.

No comment untuk yang mengartikan trend ini ke hal lain. Apalagi ke hal-hal yang sekarang ini sedang sensitif. Gak jelas juga kan siapa yang memulai? Bisa jadi bukan pihak yang sedang berpro-kontra tapi pihak ketiga yang niatnya memang cuma ingin memanaskan suasana biar kembali saling ejek. Ya, siapa tau?

[Silakan baca: Tips Belajar Asik dan Menyenangkan bagi Anak]

Bermain Untuk Anak


Sebetulnya Chi udah mulai gregetan sejak lama. Sejak ada pernyataan, bahkan ada berbagai meme, kalau anak zaman dulu lebih beruntung. Masih menikmati permainan tradisional. Gak seperti anak-anak sekarang yang 'cuma' kenal gadget. Mungkin ada benarnya juga. Setidaknya zaman dulu lahan bermain masih lebih banyak.

dunia anak dunia bermain

Tapi, bukan salahnya anak-anak sekarang juga kalau akhirnya mereka lebih mengenal gadget, kan? Chi rasa kalau dulu udah ada gadget juga akan sama seperti sekarang. Menganggap gadget itu asik. Ya, setidaknya sejak kecil pun Chi udah mengenal video game. Tapi masalah kecanduan atau enggak kan kembali ke kitanya. Orang tua masih mengenalkan aktivitas lain. Lingkungan juga begitu.

Makanya, walaupun sekarang generasi digital, Chi pun tetap mengajarkan hal sama ke Keke dan Nai. Mereka tetap mengenal permainan tradisional. Lagu anak-anak zaman dulu. Dan berbagai hal lain yang pernah Chi lakukan saat kecil.

[Silakan baca: Anak Generasi Gadget, Juga Bisa Lupa Gadget]

Kembali ke trend telolet, kalau ada yang mengkritik ulah anak-anak itu sebenarnya solusinya apa, ya? Udah pernah ajak mereka untuk menikmati hal lain belum? Udah pernah mengingatkan mereka untuk tidak bermain di pinggir jalan? Apalagi sambil berlari-larian padahal jalanan sedang ramai.

Menurut Chi, mereka itu sebenarnya hanya ingin bermain. Dunia anak adalah dunia bermain. Keinginan mereka sesederhana itu.

Kadang ketika bermain, mereka gak mengerti bahaya atau tidak. Itulah kenapa masih harus ada orang dewasa yang mengawasi dan mengarahkan. Kalau cuma dikritik atau diolok-olok manalah mereka mengerti.

Sama kayak gadget. Kita bersuara kalau kalau gadget itu gak baik, gadget itu candu bagi anak. Lebih berkualitas aktivitas anak-anak zaman dulu. Tapi, tetep aja kita juga yang secara sadar memberi mereka gadget. Bahkan membiarkan anak-anak berlama-lama dengan gadget dengan alasan biar anteng. Tanpa pernah mengenalkan kepada mereka aktivitas asik lain. Kalau cuma gitu manalah anak-anak mengerti?

Bahagia Itu Sederhana


Sejujurnya, Chi pun gak mengerti di mana letak kelucuan 'om telolet om.' ๐Ÿ˜‚ Chi juga tidak akan membiarkan Keke dan Nai berada di pinggir jalan membawa kertas bertuliskan 'om telolet om'. Apalagi sampe ngejar-ngejar. Dan, Chi rasa Keke atau Nai juga gak kepikiran sampai sana walaupun mereka tau trend ini dan tertawa melihat berbagai video yang beredar.

Terlepas dari pro kontra kalau trend ini berbahaya atau tidak, yang Chi tangkap dari trend ini adalah bahagia itu sederhana. Dan, karena banyak yang bahagia, Chi juga jadi ketularan bahagia hehehe.

[Silakan baca: Bahagia Itu SEDERHANA]

Untuk kebahagian yang sederhana, anak-anak memang jagonya. Chi sering belajar dari Keke dan Nai. Sebetulnya gak ngerti apa yang mereka ketawain. Tapi daripada bilang, "Kayak gitu aja ketawa. Apanya yang lucu?" Mendingan Chi ikut ketawa aja. Biasanya hati Chi juga jadi ikutan senang.

Sepertinya kita harus sering melakukan hal yang bahagia dengan cara sederhana. Kalau trend telolet ini dianggap membahayakan, ya cari aja kebahagian sederhana lain. Pastinya banyak, kok. Gak perlu Chi contohin, lah. Cari masing-masing aja. Lagian masa iya maunya ribut melulu (di social media)? Sering-seringlah menciptakan kebahagiaan yang sederhana *self reminder*

Gak baik untuk kesehatan mu (kalau ribut melulu). *minjem kata-kata mas Mul, OK Jek* ๐Ÿ˜„