"Itu, sih, biasa kalau udah di usia kita, Myr."

Chi diam sejenak ketika membaca jawaban salah seorang teman. Biasa? Masa' sih? Perasaan banyak banget yang sepantaran bahkan jauh lebih tua yang kelihatannya masih sehat. Masih bisa beraktivitas normal.
 
tidak bisa jalan karena radang sendi lutut

Kalau sekadar pegel atau nyeri-nyeri tulang mungkin memang banyak yang mengalami. Tapi, belum tentu sampai gak bisa jalan. Sempet rada nyesel udah cerita. Ya, mungkin Chi juga masih baper pada saat itu hehehe.
 
Oiya, cerita tentang kaki ini lanjutan dari postingan sebelumnya di bulan Agustus. Baru dilanjutin lagi 😂
 


Tiba-Tiba Mengalami Patah Kaki


Kejadiannya sekitar 3 bulan yang lalu. Saat itu, Chi mau ke sekolah Nai untuk hadir di rapat orang tua murid dan sekolah di awal tahun ajaran baru. Ketika ojol yang dipesan datang, Chi bersiap untuk naik. Tau-tau ....

Gubrak!!

Tiba-tiba Chi terjatuh dengan keras. Lutut kiri kayak ada yang matahin kaki trus didorong hingga langsung tersungkur ke aspal dengan keras. Gak bisa bangun sendiri, sampai minta tolong driver ojol untuk bantuin berdiri.

"Ibu gak apa-apa? Tetap berangkat, Bu?"
"Iya, gak apa-apa. Tetap berangkat, Mas."

Gubrak!!

Baru juga berdiri sebentar, Chi jatuh lagi untuk kedua kalinya. Kali ini langsung menyerah. Minta tolong dibangunin lagi dan dipapah sampai teras rumah. Perjalanan ke sekolah dibatalkan, tetapi tetap bayar ojolnya.

Kejadiannya sangat tiba-tiba dan gak diduga sama sekali. Bener-bener gak ada tanda apapun. Bahkan pagi harinya Chi masih sempat olahraga. Bayangin kayak kaki meja yang tiba-tiba patah karena gak sanggup menahan beban. Ya kira-kira seperti itu. Lutut kaki kiri bener-bener kayak ada yang matahin.

Chi duduk di teras, menunggu K'Aie dan Keke pulang Jumatan untuk minta tolong dipapah ke dalam rumah. Setelah beristirahat sejenak, Chi merasa badan mulai agak enak. Paling agak sedikit ngilu di lutut kiri dan perih-perih di bagian pipi sama tangan. Ya, akibat nyusruk ke aspal. Jadi, kulit mengalami lecet di beberapa bagian.

Chi pengen minum. Pelan-pelan bangun dan ambil minum sendiri. Tau-tau ...

Gubrak!!

Ya, jatuh lagi untuk yang ketiga kalinya 😭😭😭

Malah di kejadian yang ketiga ini, Chi gak hanya bisa bangun sendiri. Kaki kiri dari lutut ke bawah terlihat bengkok kayak ranting yang abis dipatahin. Dengan sigap, K'Aie meluruskan kaki Chi yang bengkok.

Trak!

Rasanya .... Hmmmm .... Pastinya Chi sangat menjerit. Kebayang lah ya sakitnya kayak apa.


Gak Bisa Tidur Semalaman


24 jam pertama sejak kejadian, Chi cuma menangis. Sedih, marah, patah hati ... campur aduklah pokoknya. Gak bisa tidur semalaman karena kaki rasanya sakit banget. Obat pereda nyeri hanya bisa mengurangi rasa sakit, gak sampai menghilangkan. Kaki kiri pun mulai terlihat bengkak. Kelihatan gede sebelah dibandingkan yang kanan.

Ketika tangisan mulai mereda, Chi membuka Facebook. Membaca status salah seorang teman yang baru bisa jalan kembali tanpa pakai tongkat. Chi langsung WA untuk menanyakan penyebabnya. Ternyata, penyebabnya karena kelebihan berat badan.


Waspada dengan Penambahan Berat Badan


waspada dengan penambahan berat badan
Foto terakhir sebelum kejadian jatuh. Ke mana-mana masih sat set sendiri. Gak kelihatan gemuk, kaaaaan hehehe.


Teman Chi ini cerita selama pandemi berat badannya naik. Sebetulnya kenaikannya gak sampai overweight. Tapi, menurut dokternya, orang yang sejak kecil terbiasa kurus, kalau sampai nambah berat badan sebaiknya jangan banyak-banyak. Karena tulang kakinya tetap kaki orang kurus.

Jujur, sampai sekarang Chi belum ngecek ke dokter. Tapi, dipikir lagi apa yang diceritakan teman Chi ini bisa jadi menimpa Chi sekarang. Di postingan berikutnya (kalau gak males nulisnya hehehe) akan diceritain alasan belum ke dokter juga sampai sekarang, ya.

Ini bukan kejadian yang pertama dialami. Sekitar 5-6 tahun lalu juga pernah. Waktu itu gak sampai patah kaki, tapi hanya sering ngilu di bagian lutut. Agak susah dibawa jalan, terutama kalau turun tangga. Sempat ketergantungan sama pain killer yang spray. Tiap malam semprot-semprot supaya ngilunya berkurang. 
 
Herannya, sanggup-sanggup aja diajak mendaki gunung Prau. Trus lanjut naik Bukit Sikunir. Kalau dipikir lagi, nekat juga ya waktu itu hehehe.
 

Waktu itu, K'Aie menyarankan buat nurunin berat badan. Alasannya, Chi kan aslinya kurus. Malah cungkring karena jarang sampai 40kg. Tapi, Chi suka agak ngambek kalau K'Aie nyaranin kurus.
 
"Coba nurunin berat badan dulu, Bun. Kalau udah turun, masih sakit juga, baru cek ke dokter."

Akhirnya, Chi pun menurut. Bener kata K'Aie. Setelah berat badan turun, sakit lutut pun langsung hilang. Gak pernah lagi kasih pereda nyeri. Alhamdulillah.

Saat pandemi, berat badan Chi mulai naik. Sebetulnya di tahun pertama masih terjaga berat badannya. Tapi, menjelang akhir pandemi, berat badan naik lagi. Mulai bosen dengan situasi. Jadi, mulai lalai menjaga pola makan, berhenti olahraga, banyak ngemil, dan leyeh-leyeh.

Lama-lama sakit kaki mulai muncul. Tapi, kali ini bukan di lutut. Sakitnya justru di telapak kaki kiri. Setiap subuh pasti jalan Chi terpincang-pincang karena kakinya sakit. Menjelang siang, rasa sakit berangsur menghilang. Begitu terus setiap hari.

Karena setiap subuh jalan terpincang-pincang, Chi mulai merasa itu warning. Jangan sampai sakitnya naik ke lutut kayak beberapa tahun lalu. Chi pun mulai atur pola makan dan olahraga lagi. Gak nyangka banget ada insiden kaki patah. Padahal baru juga memulai kembali hidup sehat. Yang tadinya optimis bakal kembali sehat, malah jadinya patah hati.

Baidewei, gak hanya teman Chi ini yang mengalami masalah di kaki sampai harus pakai tongkat. Beberapa hari kemudian, ada 2 tetangga di rumah mamah juga mengalami hal sama. Usianya kurang lebih sepantaran ma Chi.

Keduanya juga udah konsultasi ke dokter. Sama kayak teman Chi ini, menurut dokter penyebabnya karena berat badan. Sarannya pun sama, diminta untuk menurunkan berat badan. Semakin yakin deh, kalau yang Chi alami ini juga penyebabnya sama. 
 
Kalau lihat foto-foto di atas, gak kelihatan gemuk, kan? Meskipun berat badan bertambah selama pandemi, secara itungan BMI (Body Mass Index) masih termasuk normal. Tapi, kalau diingat lagi berdasarkan pengalaman beberapa tahun lalu, memang berat badan Chi harus dijaga maksimal 55kg. Kalau udah lewat dikit aja, mulai berasa ada yang sakit di tulang kaki kiri. Pas kejadian patah kaki itu berat badan nyaris 60kg. Ya, cuma kelebihan 4-5kg, tapi dampaknya kayak gitu.


Pertama Kali Ngerasain Berjalan dengan Bantuan Tongkat


Akhirnya ngerasain berjalan dengan bantuan tongkat dan deker. Gak bisa jalan kalau gak pakai alat bantu. Itupun awalnya juga gak mudah. Badan sebelah kiri rasanya pegel-pegel. Kalau kata K'Aie karena kaki yang harusnya jadi tumpuan berpindah ke tangan. Makanya jadi pegel-pegel badannya. Ya, ternyata gak langsung mudah jalan menggunakan tongkat.

Selain itu, Chi juga gak bisa beraktivitas lama untuk gerakan yang sama. Gak bisa berjalan lama. Duduk kelamaan juga gak bisa. Begitu juga untuk tidur. Pasti lutut kiri langsung berasa sakit banget. Makanya, setiap bangun tidur terkadang suka nangis kalau udah terasa sakit banget. Posisi tidur apapun jadi serba salah.

Tentu berimbas ke berbagai aktivitas sehari-hari, termasuk ngeblog. Gimana mau nyaman ngeblog kalau duduk agak lamaan aja bikin kaki jadi sakit?

Alhamdulillah, sekarang udah jauh lebih baik kondisinya. Udah banyak aktivitas harian yang bisa dikerjain. Tapi, perlu pecutan semangat untuk ngeblog, nih. Padahal udah bisa duduk agak lamaan. Tapi, semangatnya masih rada ngedrop karena sempat jarang ngeblog hehehehe.


Proses Pemulihan Fisik dan Trauma


proses pemulihan fisik dan trauma

Sekarang udah bisa jalan tanpa harus pakai tongkat. Deker hanya dipakai kalau jalan-jalan. Beraktivitas di rumah udah gak pakai alat bantu apapun. Bentuk kaki udah kembali normal. Tadinya, kan, bengkok kayak ranting patah gitu. Tapi, belum bisa lompat dan lari. Shalat juga masih pakai kursi untuk sujud dan tasyahud awal serta akhir. Alhamdulillah, tetap banyak yang disyukuri.

Meskipun gitu, tetap masih belum berasa normal sepenuhnya. Masih ada rasa yang aneh kalau kaki dibawa jalan. Merasa belum sekuat sebelumnya. Terkadang juga suka ngedrop. Suka berasa agak sakit lagi kalau digerakin. Gak sampai bikin nangis, sih. Tapi, berasa nyeri aja.

Pernah ngalamin tiba-tiba jatuh lagi. Berarti kejadian yang keempat. Meskipun efeknya gak sampai kayak kejadian sebelumnya. Cuma butuh istirahat beberapa hari dan kembali membaik.

Tapi, yang masih susah hilang nih traumanya. Abis kejadiannya kan mendadak banget. Gak diduga sama sekali. Malah kalau dibandingin lagi sama kejadian beberapa tahun lalu, Chi merasa sakit kakinya sebelum kejadian tuh gak seberapa. Jadi, Chi berpikir semacam warning, jangan sampai tiap hari kasih obat pereda nyeri lagi kayak dulu. Eh, gak taunya malah ambruk kakinya.

Bersyukur banget kejadiannya persis di depan rumah. Gak bisa ngebayangin kalau kejadiannya saat jauh dari rumah. Kondisi kaki memang berangsur membaik, tetapi traumanya yang masih susah hilang.

Makanya, sampai sekarang gak boleh keluar rumah kalau gak ada yang nemenin. Sekarang jadi makin selektif kalau ada tawaran liputan ngeblog. Harus nanya dulu ke orang rumah, ada yang bisa anterin atau enggak. K'Aie atau anak-anak hanya mengantar sampai lokasi. Gak ikut masuk ke acara. Tapi, dengan diantar jemput kan setidaknya lebih menjaga Chi tetap aman.

Memang belum berani dan belum boleh naik transportasi umum sendirian. Meskipun transportasi umum di Jakarta udah bagus. Khawatir mengalami kejadian berulang saat lagi di jalan. Chi juga masih trauma banget.

Ah, jangankan tawaran ngeliput. Diajak jalan-jalan ma K'Aie aja, gak selalu mau. Lihat kondisi kaki dulu. Makanya, selama beberapa bulan ini, Chi kembali jadi anak rumahan hehehe.

Beberapa minggu lalu, sempat jalan-jalan ke Mall Kelapa Gading sama Nai naik LRT Jakarta. Pertama kalinya, naik transportasi umum setelah insiden kaki ini. Di postingan berikutnya Chi ceritain alasan berani naik LRT Jakarta, ya. Sekaligus cerita proses penyembuhan yang udah Chi lakukan selama ini.

Kuat! Kuat! Kuat! InsyaAllah bisa semakin sehat. Aamiin.