5 serba-serbi membawakan bekal untuk anak. Kadang ada drama-drama tentang bekal gitu, deh :D

Teman-teman suka membawakan bekal untuk anak di sekolah? Atau lebih memilih untuk memberikan uang jajan? Kalau Chi, lebih suka membawakan bekal. Sejak Keke dan Nai mulai sekolah, maka bekal pun selalu dibawa. Pengennya, sih, kebiasaan ini terus dilakukan sampai mereka dewasa. Sampai mereka bisa menyiapkan bekal sendiri.

Nah, meskipun selalu dibawakan bekal sejak beberapa tahun lalu, bukan berarti gak ada masalah. Ada aja masalah baru tentang urusan perbekalan. Ups! Gak selalu masalah, sih. Tapi serba-serbi tentang bekal, lah.


Harus Nasi


Keke dulu gak suka camilan. Bundanya banget kalau begini. Tapi, itu dulu, ya ... Sekarang kami mulai suka beberapa camilan hehehe. Tapi tetep aja, sih, camilan tidak bisa diganti menjadi makanan utama. Artinya, kami harus makan nasi atau pengganti nasi seperti mie, pasta, dan lain-lain. Pokoknya asal jangan roti.

Nasi menjadi bekal wajib untuknya. Bahkan saat Keke masih TK dimana durasi jam sekolahnya paling gak sampe 3 jam, tetep harus bawa bekal nasi. Padahal dia sarapan harus nasi. Pulang sekolah pun makan siang dengan nasi. Pokoknya Keke harus bawa bekal nasi dengan lauk-pauknya yang komplit.


Mulai Ngebento


Kalau Keke kayak bundanya banget, maka Nai itu ayahnya banget untuk urusan makan. Ngemilnya kuat dan kalau diturutin bisa ngemil melulu. Makanya, Chi lebih sering mendisiplinkan Nai untuk urusan makan. Biar bagaimana pun juga camilan gak boleh jadi pengganti makanan utama.

Nai juga susah kalau disuruh sarapan. Lagi-lagi ini ayahnya banget yang memang jarang sarapan dan lebih memilih minum kopi. Tapi, gak mungkin, dong, Nai minum kopi apalagi rutin. Roti atau kue adalah menu sarapan yang paling sering Nai makan. Karena dia penggemar roti (lagi-lagi) kayak ayahnya.

Nai memang harus sering diingetin sama urusan makan utama. Selain itu kalau gak ditemenin, makannya lama. Makanya bekalnya jarang habis padahal porsinya udah sedikit. Chi mulai mikir gimana caranya supaya bekal bisa habis dengan sukses. Mulailah belajar ngebento.


On-off Perbentoan


Awalnya, bento sukses bikin anak-anak jadi makin semangat membawa bekal dan menyantapnya. Keke pun Chi bawakan walaupun dia gak bermasalah sama urusan makan. Tapi setelah sekian lama ngebento, tenyata gak selamanya berhasil bikin anak menghabiskan bekal.

Keke pernah minta makannya gak usah dibento lagi karena katanya makin dimintain bekalnya kalau dibento. Teman-temannya gak sekadar minta, sih, mereka menawarkan tukar bekal. Awalnya Keke gak keberatan karena dia memang suka makan. Tapi, lama-lama kesal juga. Alasannya, masakan bunda itu enak. Kalau dimintain melulu Keke jadi gak bisa makan bekal masakan bunda. Sempat diberhentiin, tapi gak berapa lama kangen lagi dengan bekal bento. Supaya tetap bisa berbagi, bentonya didobel *berarti makin dobel juga kerjaan Chi ngebento hahaha."

Kalau Nai, sejak mulai suka bermain, bekalnya jarang habis. Bento pun mulai gak pengaruh. Pengennya buru-buru main. Udah berkali dikasih tau, tetep aja gak habis. Akhirnya, Chi berhenti bikin bentonya. Sekarang, Nai udah mulai habis lagi makna bekalnya. Dia mulai minta dibento lagi. Tapi, Chi udah keburu malas. Ngebento harus bangun lebih pagi lagi daripada nyiapin bekal biasa. Mending tidur aja, ah :p


Demi Nasi Hangat



Tadinya, Nai baru mau makan bekal nasi pas jam makan siang, sebelum dzuhur. Kalau istirahat pagi, dia lebih memilih camilan. Masalahnya, dia maunya makanan hangat aja. Sampai sekarang pun begitu. Dia suka agak rewel kalau makanannya dingin.

Supaya Nai mau makan, setiap kali menjelang istirahat makan siang, Chi ke sekolah buat antar bekal. Jadi, beneran masih hangat. Tapi, sejak Keke dan Nai pisah gedung sekolah, Chi berhenti antar makan siang. Karena waktunya serba salah. Kalau Chi bolak-balik, paling di rumah cuma istirahat gak sampe setengah jam. Sedangkan kalau nunggu di sekolah kelamaan. Makanya, dulu Chi sering tidur di parkiran sekolah hahaha. Kalau sekarang, sih, mereka udah satu gedung lagi. Tapi, Chi gak antar makan siang. Paling, menu makannya aja yang diubah. Nasi untuk istirahat pagi, siangnya baru camilan.

Sekarang, Nai juga pakai tempat makan yang bisa tahan panas. Lumayan banget, tuh, bisa tahan panas selama beberapa jam. Termasuk kalau bawa sayur berkuah. Nai bilang bekalnya tetap panas ketika dimakan di sekolah.

[Silakan baca: Perlukan Uang Jajan untuk Anak?]


Healthy Boy


Keke: "Keke sayurnya gak dimakan, Bun."
Bunda: "Kenapa? Biasanya habis makannya."
Keke: "Abis kesel. Keke sekarang dikatain healthy boy melulu."
Bunda: "Maksudnya?"
Keke: "Temen-temen kalau jam istirahat, sekarang kebanyakan pada jajan di kantin. Keke tiap hari bawa bekal. Keke jadi suka dipanggil healthy boy sama teman."
Bunda: "Ya, anggap aja do'a. Yang namanya sehat, kan, bagus."
Keke: "Iya, sih."
Bunda: "Kalau masih terus diledekkin gitu, Keke masih mau bawa bekal, gak?"
Keke: "Masih, lah. Paling Keke tadi bilang, 'Itu Andi (bukan nama sebenarnya) juga bawa bekal terus. Malah kayaknya dia lebih sehat bekalnya.'"
Bunda: "Ya, mungkin karena teman-teman lebih dekat sama Keke. Jadi Keke yang lebih sering diledekkin."

Memang ada 3 pilihan untuk urusan makan di sekolah. Pertama adalah catering. Komplit kalau catering tapi biaya makan per bulan untuk langganan catering di sekolah lumayan gede. Kedua adalah jajan di kantin sekolah (di sekolah Keke dan Nai, gak ada pedagang kaki lima). Tapi menunya itu-itu aja. Kalau 1-2 kali, sih, enak. Apalagi cilok di sekolah rasanya enak hehehe. Tapi kalau sering jajan di kantin kayaknya bakal bosan. Pilihan jajanannya sangat sedikit

Yang kami pilih adalah pilihan ketiga. Siapin bekal sendiri. Lebih murah dan lebih bervariasi. Sampai sekarang, Keke tetap mau bawa bekal, sih. Ya, mudah-mudahan rasa kesalnya sudah hilang. Tapi ternyata walaupun sudah dibiasakan bertahun-tahun, tetap aja urusan perbekalan suka ada aja nemuin masalah. Walaupun gak sering :)

Kalau teman-teman, serba-serbi tentang bekalnya apa, nih?

[Silakan baca: Agar Anak Cerdas, Biasakan Bawa Bekal ke Sekolah]