Agar Anak Cerdas, Biasakan Bawa Bekal Ke Sekolah - “Ini uang buat jajan di sekolah, ya?”

Pernahkah kita memberi anak-anak uang buat jajan di sekolah. Chi pernah. Biasanya seminggu sekali, setiap hari senin, Chi memberi Keke dan Nai uang untuk jajan di sekolah. Sebetulnya, Chi lebih suka membawakan mereka bekal setiap hari. Tapi, karena beberapa teman mereka ada yang terbiasa gak membawa bekal, anak-anak kadang ingin merasakan jajan juga.

Akhirnya, setelah berdiskusi keluarga, kami sepakat untuk memberi mereka uang jajan hanya untuk 1 hari aja setiap minggunya. Selebihnya mereka membawa bekal. Uang jajan 1 hari itupun hanya cukup untuk jajan 1x istirahat. Karena istirahatnya 2x, jadi tetap ada bekal yang dibawa dari rumah.

Sejak Keke dan Nai bersekolah, Chi memang selalu membiasakan untuk membawa bekal ke sekolah. Padahal kalau mau sedikit kembali ke belakang, Chi gak pernah dibiasakan membawa bekal ke sekolah. Chi gak tau persis apa alasannya kenapa gak pernah dibawakan bekal. Dan, Chi baru terbiasa bawa bekal pas SMA.

Saat itu, Chi ikutan ekskul. Karena latihan seringkali saat wiken, susah cari yang jualan. Akhirnya, Chi suka bawa bekal. Ternyata, enak juga bawa bekal sendiri. Selain sesuai selera, juga irit. Maklum, SMAnya di luar kota. Jadi, harus pinter-pinter ngatur uang bulanan :)
“Chi kan ibu rumah tangga. Kalau ibu yang bekerja gimana? Untuk menyiapkan diri sebelum berangkat kantor aja udah grabak-grubuk.”

Oke, nanti Chi coba kasih tips cara menyiapkan bekal sekolah yang simple tapi komplit dan bergizi. Tapi, tau gak sih…

Berdasarkan survey Badan POM pada 9 Desember 2010 menunjukkan bahwa pangan jajanan anak sekolah menjadi salah satu penyebab kejadian luar biasa (KLB) keracunan pangan (Sumber: Info POM vol. 12 No. 1 Januari – Februari 2011)

Baru mendengar kata ‘keracunan pangan’ aja kayaknya udah serem, ya. Jangan sampai kita ataupun anak-anak mengalaminya. Karena tidak hanya kurang baik bagi kesehatan bahkan nyawa pun bisa jadi taruhan. Biaya pengobatan juga mahal.

Untuk orang tua yang selalu memberikan uang jajan sebagai pengganti bekal, sebaiknya pastikan dulu makanan yang dijual di sekolah itu higienis dan bergizi gak? Jangan hanya makanan yang dijual di kantin, tapi juga di area luar sekolah harus dipastikan kebersihan dan gizinya.

Makanan di kantin sekolah yang eksklusif sekalipun, orang tua seharusnya tahu bagaimana kebersihan makanan yang dijual. Karena ada juga pengelola kantin yang tidak paham tentang bagaimana mengelola masakan secara higienis, lho.


Apakah kita yakin kalau makanan yang di jual di sekolah atau di luar sekolah itu higienis dan bergizi?


Bayangkan saja kalau setiap hari anak-anak dibiasakan mengkonsumsi makanan yang tidak higienis selama berada di sekolah, pastinya lama kelamaan tidak akan baik untuk kesehatannya. Anak bisa dengan mudah gampang jatuh sakit. Kalau sering sakit, akan ketinggalan pelajaran dan mungkin kesulitan untuk mengejar pelajaran yang tertinggal.

Disitulah pentingnya membawa bekal ke sekolah. Karena lebih bisa mengontrol kebersihan dan gizi bekal yang dibawa. Sebagai orang tua, Chi pun menjadi tenang kalau anak-anak memakan bekal makanannya sendiri. Walaupun bekalnya habis, Chi tetap bertanya ke mereka. Karena kadang Keke dan Nai suka berbagi atau tukeran bekal dengan teman-temannya. Ya, sebagai orang tua, Chi tetap harus tau apa yang dimakan oleh anak saat di sekolah.

Selain bekal, anak juga harus diajarkan menjaga kebersihan. Misalnya, mencuci tangan sebelum makan. Anak sudah dibawakan bekal yang sehat, tapi makan dengan tangan yang kotor. Ya… sama juga bohong, ya. Tetep aja ada kuman yang masuk. Jadi, anak pun harus mengerti bagaimana caranya menjaga kebersihan. Apalagi anak-anak kan memang gampang kotor tangannya. Pegang crayon, main di playground, pegang pagar, dan lain-lain. Ajarkan juga ke Keke dan Nai untuk jangan suka menghisap jari-jarinya, apalagi kalau belum cuci tangan.

Hari Sabtu, 10 Mei 2014, Chi menghadiri konferensi pers peluncuran “Tupperware Aku Anak Sehat 2014”. Narasumber saat itu adalah Nurlaila Hidayaty (Senior Marketing Manager PT. Tupperware Indonesia), Dr. Rose Mini A. P.M.Psi atau akrab dengan panggilan Bunda Romi (Psikolog), Drs. Momon Sulaiman MM (Kepala Dinas Pendidikan Wilayah Jakarta Timur), dan Dr. Nana Mulyana SKM. M.Kes (Kepala Bidang Advokasi dan KEmitraan Kementrian Kesehatan RI).

Program Aku Anak Sehat tahun ini mengusung tema “Membangun Karakter Hidup Bersih, Sehat, dan Mandiri”, Tupperware ingin menyebarkan kebiasaan hidup sehat. Salah satunya adalah membawa bekal makanan bergizi ke sekolah kepada murid SD di Indonesia

“Anak usia sekolah merupakan kelompok umur yang rawan terhadap masalah kesehatan. Padahal kondisi kesehatan anak sangat berpengaruh pada pencapaian prestasi. Oleh karena itu, gaya hiduip bersih dan sehat hendaknya diajarkan, ditanamkan, dan juga diterapkan sejak dini,” menurut ibu Nurlaila Hidayaty.

Ya, semakin dini anak diajarkan untuk hidup bersih biasanya lebih mudah. Tentu aja harus konsisten. Itulah kenapa program Tupperware yang berkesinambungan ini targetnya adalah anak-anak SD bekerha sama dengan berbagai sekolah di 5 kota besar di Indonesia.

Bunda Romi menjelaskan untuk mengajarkan anak untuk terbiasa dengan gaya hidup sehat adalah dengan memberikan contoh. Chi sependapat banget dengan penjelasan Bunda Romi, nih. Pengalaman pribadi, mengajarkan anak-anak memang lebih mudah dengan mencontohkan daripada mencekoki mereka dengan kata-kata. Anak-anak itu kan peniru ulung.

Jadi, kalau anak ingin selalu terbiasa menjaga kebersihan, misalnya mencuci tangan sebelum makan atau setelah bermain, membuang sampah pada tempatnya, dan lain-lain, orang tuanya dulu yang harus mencontohkan.

Untuk bekal sekolah, anak-anak juga harus diajarkan suka makan dulu. Biar apapun bekal yang dibawakan, mereka pasti suka. Dan, supaya bekalnya gak itu-itu aja. Misalnya nugget terus setiap hari. Atau mie goreng sama nasi. Ya kalau ini sih karbohidrat ketemu karbohidrat. Makan itu jangan cuma yang penting kenyang, lho.

Tips supaya anak senang dan mau makan bekalnya adalah: 


  1. Ajarkan dan contohkan anak supaya tidak susah makan. Apapun makanan yang diberikan, anak akan makan dengan lahap
  2. Buatlah bento supaya anak-anak tertarik makan bekalnya. Dan, itu yang Chi lakukan. Anak-anak bukannya gak suka dengan bekal yang dibawa, tapi kadang suka lebih memilih asik bermain kalau di sekolah. Sehingga, makannya sedikit. Kalau di bento biasanya mereka lebih bersemangat.
  3. Kalau bawa bento, biasanya resikonya adalah suka dimintain sama teman-temannya. Biasanya, Chi suka Tanya ke Keke dan Nai, “Mau dibanyakin bekelnya atau gak usah dibento?” Nah, Chi tergantung permintaan anak-anak aja, deh. Kadang mereka minta tetep dibento, tapi posrinya dibanyakin. Atau kalau lagi males bawa banyak, mereka memilih untuk gak dibento supaya temen-temennya gak pada minta. Walopun kenyataannya, dibento atau enggak tetep aja suka dimintain sama temen-temennya :D
  4. Biasanya, Chi bawain mereka bekal sekaligus untuk 2x istirahat. Tapi, ada kalanya anak-anak kepengen makanan yang lebih hangat. Untung aja, jarak sekolah-rumah itu dekat. Jadi, kadang untuk makanan kedua, Chi antar ke sekolah menjelang waktunya istirahat.
  5. Ajak anak untuk menyiapkan bekalnya. Ini juga bisa bikin anak semnagat bawa bekal. Karena mereka akan merasa bangga dengan bekal yang disiapkan sendiri. Sekaligus melatih kemandirian mereka juga.

Ini bekal sekolah untuk Keke dan Nai, untuk 1x makan. Biasanya mereka bawa 2 bekal setiap harinya.


“Bun, jangan lupa pakai sayur bekalnya. Supaya dapet bintang,” kata Nai

“Bun, bawain tumis kangkung yang banyak buat besok. Bu guru suka,” kata Keke

Yang Chi rasain, guru juga bisa membantu supaya anak-anak suka dan semangat makan bekalnya. Contohnya, celoteh Nai tadi. Wali kelasnya selalu memerikan reward berupa bintang kalau ada anak yang bekal sayur dan memakannya sampai habis. Kenapa harus sayur? Karena biasanya anak-anak lebih susah makan sayur daripada daging. Dan, dengan reward yang sangat sederhana, ternyata juga efektif mampu membuat anak-anak jadi suka makan sayur.

Kalau Keke lain lagi, dia tau wali kelasnya suka dengan tumis kangkung. Dia pun ingin berbagi tumis kangkung ke wali kelasnya untuk dimakan bersama saat istirahat. Kalau di sekolah Keke dan Nai, saat istirahat diawali dengan makan bersama. Ada anak yang membawa bekal, langganan catering di sekolah, atau jajan di kantin tapi makannya tetap bersama-sama. Di sekolah anak-anak, tidak ada tukang jualan makanan di luar area sekolah. Saat waktunya makan, wali kelas pun ikut makan bersama murid-muridnya. Bahkan, kadang saling berbagi.

Yang harus mengajarkan anak tentang kebersihan dan membiasakan membawa bekal ke sekolah memang gak cuma orang tua. Guru di sekolah pun sebaiknya ikut membantu. Apalagi kadang, anak itu lebih menurut sama guru daripada orang tua. Makanya, perlu kerjasama antara orang tua dan guru.

Bagaimana dengan orang tua yang bekerja. Bisakah menyiapkan bekal untuk anak? Bisa, kok. 


  1. Masak makanan yang bisa awet di sore atau malam hari. Misalnya, ayam goring kecap atau semur daging. Kalau untuk disantap keesokan hari, tetep masih nikmat. Asal dihangatin aja.
  2. Sayur memang sebaiknya jangan sampai dipanaskan 2x. Di sore atau malam hari, potong-potong sayur yang akan dimasak. Masukkan kantong plastic, simpan di kulkas. Besok paginya, tinggal tumis, deh. Menumis gak membutuhkan waktu yang lama.

Chi memang bukan ibu yang bekerja kantoran. Tapi, Chi beberapa kali pakai cara itu, jaga-jaga kalau sampe kesiangan bangun gak akan panik. Dan, Chi rasa tips di atas bisa juga dipraktekin untuk ibu yang bekerja.

Kalau begitu udah gak perlu pusing lagi sama urusan bekal, kan? Udah mulai mau membiasakan membawa bekal ke sekolah. Kalau dari kecil udah terbiasa membawa bekal dan menjaga kebersihan, biasanya sampai besar kebiasaan ini akan terus terbawa.

Membawa bekal + selalu menjaga kebersihan = Anak Cerdas :)