Boros, Mubazir, atau ... ketika kami menuruti keinginan Keke untuk tidak ikut tes memanah?
Ket: Di foto ini kegiatan memanah di salah satu tempat bermain. Tapi ekskul sekolah juga alat panahannya sama seperti ini.


"Bun, ada ekskul baru di sekolah. Ekskul panahan. Keke boleh ikut, gak?" tanya Keke saat tahun ajaran baru. Awal semester ganjil yang baru saja usai.


Ini adalah postingan lanjutan dari yang sebelumnya, yaitu Apa Harus selalu Kejar Prestasi? Ada lanjutannya karena di postingan awal, Chi tidak menjelaskan kenapa Keke akhirnya dibolehkan ikut panahan. Dan, juga tidak dijelaskan kenapa akhirnya kami mengizinkan Keke untuk tidak ikut tes kenaikan tingkat.

Awalnya, Chi gak langsung mengizinkan. Alasannya adalah kegiatan panahan itu sebaiknya berkelanjutan karena ada tingkatannya. Tapi, saat ini Keke sudah kelas 6. Dimana kebijakan sekolahnya adalah hanya memberikan kegiatan ekskul selama semester ganjil saja untuk siswa kelas 6. Semester genap sudah fokus kepada pendalaman materi untuk persiapan menghadapi ujian sekolah.

Kalau Keke dibolehkan ikut panahan, berarti dia hanya bisa ikut 1 semester saja. Buat Chi itu gak cukup. Kalau dia harus naik level bagaimana? Rasanya Keke susah buat Keke untuk naik hingga beberapa level kalau jatah ekskulnya hanya tinggal 6 bulan lagi. Kalau mau lanjut di luar sekolah juga bingung. Gak ada kursus panahan yang dekat dengan rumah. Kalau lokasinya kejauhan nanti kasihan. Bakalan capek di jalan.

Awalnya, Chi minta Keke untuk memikirkan kembali keinginannya. Apalagi dia sudah kelas 6. Cuma bisa ikut ekskul panahan 1 semester saja. Keke tetap ingin ikut panahan. Dia juga janji akan konsisten latihan walaupun cuma 1 semester. Chi juga meminta Keke untuk menjelaskan kenapa ingin ikut panahan. Dia, sih, cuma bilang kalau ingin ikut karena suka. Dulu, Keke memang pernah coba ikut panahan di acara ulang tahun Wanadri ke-49 dan dia suka.

Kemudian, Chi berdiskusi dengan K'Aie tentang keinginan Keke untuk ikut panahan tapi cuma bisa 1 semester. Berdiskusi juga tentang uang latihan yang harus dibayar. Boros, mubazir, atau tidak mengeluarkan sejumlah uang untuk kegiatan yang hanya bisa diikuti 1 semester. K'aie langsung membolehkan asalkan Keke serius latihannya. Ketika disampaikan ke Keke tentang keputusan kami, dia pun kesenangan.


Yup! Gak semua hal langsung kami putuskan. Gak setiap permintaan anak langsung kami kabulkan. Seringkali harus ada diskusi dahulu. Bahkan bisa juga berakhir penolakan kemudian anak-anak agak kecewa. Ya, siapa juga yang suka ditolak. Sedih dan kecewa itu wajar. Asal jangan berlebihan aja. Setelah ada keputusan, tugas kami berikutnya adalah menjelaskan kenapa permintaannya diterima atau ditolak.

Ketika kemudian Keke menolak untuk ikut tes kenaikan tingkat, Chi memang sempat kecewa. Bahkan sempat mempertahankan pendapat walaupun Keke bersikeras dan ayahnya juga sudah mengizinkan. Sayang uang yang sudah dikeluarkan memang menjadi salah satu alasan yang pertama kali terlintas. Alasan berikutnya adalah Chi ingin setidaknya Keke punya 1 sertifikat naik tingkat di panahan walaupun setelah itu belum tau mau melanjutkan kemana. Pada akhirnya, Chi pun ikut menyetujui keinginan Keke.

Apakah itu artinya kami sudah mendidik Keke menjadi anak yang boros? Keinginannya dikabulkan tapi kemudian dia menolak ikut tes. Kesannya jadi buang-buang duit. Apakah uang yang sudah kami keluarkan menjadi mubazir karena Keke memilih gak ikutan tes? Atau ada alasan lain?

Ya ... awalnya Chi juga berpikiran begitu. Duh, sayang ajah duitnya! *Ibu-ibu, kan, sudah karakternya menjadi sosok yang penuh perhitungan hehehe* Tapi ... setelah dipikir-pikir lagi dengan kepala dingin, rasanya gak sia-sia juga. Mungkin kesannya Keke jadi main-main karena cuma ikut latihan tapi gak mau ikut tes. Kalau begitu, kenapa gak main di tempat yang ada area panahan aja?

Bermain panahan di salah satu area bermain yang ada fasilitas itu memang bisa saja. Tapi, mencari tempat bermain seperti itu di sini lokasinya jauh. Kami harus piknik ke suatu tempat. Kalau udah piknik itu artinya


  1. Belum tentu dilakukan seminggu sekali 
  2. Pastinya ada uang bensin yang lumayan
  3. Kalau piknik berarti harus bayar tiket masuk lokasi wisata. Dan untuk area permain seperti panahan biasanya harus bayar lagi
  4. Kalau bermain panahan di lokasi wisata paling maksimal cuma dikasih 15 anak panah. Yang duraisnya paling cuma skeitar 15 menitan sekali main. Mau lebih, berarti harus bayar lagi
  5. Yang namanya piknik berarti harus ada uang makan dan uang bermain lain selain panahan

Kalau dilihat dari semua poin di atas itu artinya uang, uang, dan uang. Dihitung-hitung cuma untuk sekali main panahan di area wisata, malah pengeluarannya bisa lebih mahal dari biaya ekskul panahan Keke selama 1 semester. Karena banyak biaya lain-lainnya :D

Sedangkan kalau dia ikut ekskul panahan, ada beberapa manfaat yang bisa didapat


  1. Dilatih oleh pelatih profesional. Jadi gak sembarangan melepas anak panah
  2. Diajarinnya bertahap. Kalau di tempat wisata, kan, pelatihannya singkat. Cuma sekadar bisa melepaskan anak panah.
  3. Latihannya seminggu sekali dengan sekali latihan sekitar 1,5 jam
  4. Melatih fokus dan kesabaran secara rutin
  5. Sekalian olahraga juga karena kalau sampai meleset dari target disuruh push up

Jadi, kalau mau dipertimbangkan lagi, termasuk hitung-hitungan duitnya, gak rugi juga. Perbedaan antara bermain panahan di tempat bermain dengan kursus memanah di sekolah jelas ada. Kalau ikut ekskul jelas lebih dapat ilmunya.

Sedikit cerita di luar kegiatan memanah ... Beberapa bulan sebelumnya, Nai pernah mau ikut pertandingan Taekwondo. Tapi, ketika latihan untuk lomba, Nai mengundurkan diri dengan alasan belum siap. Sebagai orang tua, tentu saja kami menyayangkan keputusan Nai. Begitu juga dengan pelatihnya. Menurutnya, Nai walaupun berbadan kecil tapi berani. Kemampuan tendangannya juga bagus.

Ya, mau bagaimana lagi? Sudah dibujuk, Nai tetap gak mau dengan alasan belum siap. Kalau dipaksa tentunya gak baik, kan? Nanti malah asal-asalan. Seperti halnya dengan kursus menggambar. Berkali-kali tempat kursus memintanya untuk ikutan lomba, bahkan sampai ceritain kalau ada salah satu peserta yang akhirnya dikirim untuk lomba ke luar negeri karena juara nasional. Hingga detik ini Nai belum mau.

Tapi pernah dia ingin ikut lomba spelling bee. Dia berusaha keras belajar supaya terpilih audisi. Dan menjadi salah satu wakil sekolah. Ternyata Nai gagal terpilih. Rasa kecewa memang ada. Tapi, setidaknya dia sudah melakukan dengan sepenuh hati. Kayaknya kalau sudah melakukan dengan sepenuh hati memang lebih puas walaupun hasilnya belum seperti yang diharapkan, ya.

Itulah kenapa ada kalanya kami tidak memaksa. Semua disesuaikan dengan masalah dan juga kondisinya. Ini juga seperti mengajarkan anak-anak untuk bertanggung jawab. Keke dan Nai punya alasan yang bisa diterima oleh kami. Menurut Chi itu bagian dari tanggung jawab karena gak hanya sekadar gak mau dan harus dituruti. Akhirnya Chi merasa ini bukan sesuatu hal yang boros, mubazir, atau sia-sia, kok. Karena tetap ada yang bisa diambil dari setiap keputusan. :)