"Bunda, apa harus selalu kejar prestasi?"


Keke: "Bunda, ada surat dari panahan di tas Keke."
Bunda: "Surat tentang apa?"
Keke: "Surat kenaikan tingkat. Ada tesnya tapi harus bayar. Trus ada beberapa syarat lain."
Bunda: "Oh, ya udah, ikut aja."
Keke: "Emang harus, ya?"
Bunda: "Lho emangnya Keke gak mau ikutan?"

Keke bilang kalau dia sedang malas ikutan tes. Alasannya, tes dilakukan di hari Minggu. Hari dimana dia hanya ingin beristirahat dan bermain seperti yang selama ini dilakukan. Mana tempat tesnya agak jauh dari rumah. Bikin Keke semakin enggan untuk ikut tes.

Chi bukannya memahami keengganan Keke malah mencerewetinya dengan sangat panjang. Siapa yang waktu itu sampai merengek minta ikut kursus panahan? Tau, gak, berapa biaya yang harus dikeluarkan supaya bisa ikut panahan? Gak sayang uang segitu? Lalu buat apa ikut panahan kalau gak mau ikut kenaikan tingkat? Wah, pokoknya panjang ajah Chi ngomelnya. Keke pun hanya menjawab, "Iya, deh, iya ..." Tapi wajahnya muram.

Keke ikut kegiatan memanah di sekolah. Kegiatan memanah di sekolah Keke dan Nai termasuk ekskul spesial. Artinya ekskul yang diadakannya tidak bersamaan dengan ekskul wajib dan ada biaya kegiatan *kalau ekskul wajib tidak ada biaya apapun*.

Ekskul memanah termasuk kegiatan baru di sekolah Keke. Baru dimulai tahun ajaran ini. Tadinya, Chi keberatan Keke ikutan mengingat kelas 6 hanya boleh ikut ekskul di semester ganjil saja. Mulai semester genap sudah harus fokus dengan kegiatan persiapan menghadapi Ujian Sekolah. Tapi karena Keke terus meminta, kami pun akhirnya membolehkan. *Sebetulnya yang mempersulit kasih izin cuma Chi, sih. Kalau sama K'Aie langsung dikasih.* Nai gak ikut ekskul memanah karena bentrok dengan kursus menggambar yang dilakukan di luar sekolah.

Besoknya ...

Chi mencurahkan kekesalan karena Keke kelihatan setengah hati untuk ikutan tes ke K'Aie. Eh, K'Aie bukan dukung istrinya malah bilang, "Biarin aja kalau memang itu maunya. Mungkin lagi malas aja. Nanti juga kalau lagi mau dia akan semangat lagi." Kali ini giliran Chi yang merengut karena gak dibelain :p


Chi ingin memaksa Keke untuk tetap ikut tes. Tapi Chi juga paham karakter Keke. Kalau dia menjalankan setengah hati, biasanya akan melakukan asal-asalan. Walaupun dia ngakunya gak asal-asalan. Tapi kebaca dari bahasa tubuhnya. Kalau udah gitu percuma juga ikutan tes, bisa-bisa kekesalan Chi nanti semakin bertambah.

Chi coba ajak Keke ngobrol. Chi jelasin kenapa Keke harus ikutan tes.Keke kelihatan mendengarkan. Tapi dari raut wajah masih terlihat kalau dia benar-benar enggan. Susah ngebujuknya kalau udah begini, deh. Dia pengennya hari minggu dipakai untuk bermain. Main sepeda, main game, dan lain-lain.

Beberapa hari kemudian ...

Keke: "Bunda memangnya Keke beneran harus ikutan tes, ya?"
Bunda: "Maunya Bunda begitu, Ke. Tapi, Keke kayaknya gak mau."
Keke: "Iya, Keke mau Bunda maunya begitu. Tapi, memangnya semua hal harus dilihat dari sertifikat, ya, Bun?"
Bunda: "Maksud Keke?"
Keke: "Keke itu cuma pengen ikut panahan aja, Bun. Bener-bener cuma pengen menikmati. Gak pengen ikut tesnya."
Bunda: "Kan, ikut tes bukan berarti gak nikmati kegiatan panahan, Ke. Tes, kan, cuma sehari."
Keke: "Tapi, Keke lagi gak mau, Bunda."
Bunda: "Ya, Bunda pikir kalau Keke punya sertifikat, siapa tau bisa dipakai untuk kepentingan sekolah. Apalagi Keke udah mau lulus. Siapa tau sekolah yang Keke pilih nanti akan senang menerima murid yang punya banyak kegiatan. Apalagi sampai berprestasi."
Keke: "Keke ngerti, Bunda. Tapi, apa gak cukup prestasinya dari Taekwondo? Sertifikat kenaikan tingkat dari Taekwondo juga udah ada beberapa. Lagipula, Keke ikut panahan paling cuma sebentar"
Bunda: "Tapi yang minta ikut panahan, kan, Keke. Bunda gak pernah maksa."
Keke: "Iya, Bun. Tapi boleh, ya, kali ini aja. Kalau enggak, ya udah Keke ikutan tes."
Bunda: "Nanti Bunda pikirin lagi, ya, Ke."

Sebetulnya ada rasa jleb! saat ngobrol dengan Keke. Chi langsung merasa kayak jadi ibu yang penuntut. Iya, sih, Chi lakukan itu demi kebaikan Keke. Tapi ... (mendadak) jadi galau. Hiks ...

Setelah diskusi lagi dengan K'Aie, akhirnya Keke dibolehkan gak ikut tes. Tentu aja dia senang. Buat Chi, kalau bicara tentang 'sayang' atas pilihan Keke tentunya ada beberapa. 'Sayang' banget uang kursus yang sudah dikeluarkan kalau Keke hanya ingin bersenang-senang. 'Sayang' banget ada kesempatan untuk naik tingkat tapi gak digunakan oleh Keke. Walaupun memang benar dia hanya satu semester aja ikut ekskul panahan. Tapi, siapa tau ketika mau lanjut di tempat lain, dia gak harus mulai dari nol lagi tingkatannya. Pokoknya ada beberapa 'sayangnya', deh.

Tapi, setelah dipikir-pikir lagi kayaknya gak apa-apa sesekali melakukan kegiatan hanya untuk bersenang-senang. Tanpa ada hal lain, murni bersenang-senang. Selama masih dalam koridor kegiatan positif, sesekali boleh, lah. Gak selalu harus ada embel-embel mengejar prestasi.

Seperti halnya kalau jalan-jalan. Kadang, gak selalu kami mencari tempat wisata yang ada nilai edukasinya. Sekadar jalan ke mall, makan bersama, murni bersenang-senang. Asik juga sesekali seperti itu, kan?

Kalau di postingan beberapa waktu lalu, Chi menulis tentang sekolah untuk orang tua. Rasanya kejadian ini juga bisa menjadi salah satu pelajaran dari sekolah orang tua. Chi belajar dari anak. Belajar untuk tidak perlu menjadi orang tua yang terlalu penuntut. Tentu aja semua orang tua ingin yang terbaik untuk anak.  Tapi tentunya harus fleksibel. Dan, ada kalanya orang tua belajar dari anak