"Bayangkan di Posisi Ima, Bun. Bagaimana Perasaannya?" - Keke Naima

Kamis, 29 Oktober 2015

"Bayangkan di Posisi Ima, Bun. Bagaimana Perasaannya?"

Bunda: "Nai, mau gak?"

Chi menawarkan sepotong cheese cake untuk dimakan bersama. Tadinya, Chi kirain itu ice cream cake. Gak taunya bukan, untung aja gak dipotong besar.

Nai: "Kenapa? Bunda gak mau abisin, ya."
Bunda: "Mau, sih. Tapi, kali aja Ima mau juga." *Chi mulai membuat berbagai alasan*
Nai: "Bunda harus habisin. Bayangkan di posisi Ima, Bun."
Bunda: "Kenapa harus membayangkan posisi Ima?"
Nai: "Iya, setiap hari Ima harus menghabiskan bekal sekolah. Kalau gak habis nanti dicerewetin sama Bunda. Coba Bunda bayangkan ... Bayangkan gimana perasaan Ima waktu harus menghabiskan bekal."
Bunda: "Hahahha itu beda kali, Nai."
Nai: "Ih, enggak! Sama ajah."

Hahaha, Nai lebay, deh :p Nai memang harus selalu diingatkan untuk menghabiskan bekalnya. Karena kalau gak gitu bekalnya suka gak dihabiskan. Udah diingatkan aja, masih suka bersisa. Kalau dibolehkan memilih, Nai memang paling malas bawa bekal ke sekolah. Alasannya, jadi berkurang waktu bermainnya atau ada beberapa alasan lain. Tapi, gak mungkin juga Chi turutin kemauannya. Jam sekolahnya kan panjang, masa iya dia gak makan sama sekali.

Kalau bekalnya gak habis, Chi suka ceramahin tentang berbagai hal. Tentang kesehatan, tentang mubazir, hingga tentang usaha para petani *Biasanya yang sering gak habis itu nasinya. Kalau lauknya sering habis.* Nah, kali ini Chi dibalikin sama dia. Bundanya disuruh bercermin membayangkan posisinya hahaha.

Orang tua memang harus dihormati oleh anak. Tapi jangan mentang-mentang harus dihormati lalu berarti selalu benar, ya enggak juga. Orang tua kan juga manusia. Bisa ada salahnya. Orang tua juga bisa belajar dari anak-anak. Sesekali harus bercermin untuk introspeksi diri. Jangan cuma dijadikan dekorasi saja cerminnya :)

Chi bersyukur kami masih saling mengingatkan. Bersyukur punya komunikasi yang terbuka dengan anak-anak. Mereka tidak sungkan untuk memberikan kritik, saran, atau pendapat ke orang tuanya. Tentu saja ada batas kesopanan yang tetap harus mereka patuhi. Tapi, juga tidak kaku berkomunikasinya. Saat Nai mengkritik itu, kami juga ketawa-ketawa.

Keke: "Bunda, gak dihabisin kuenya."
Bunda: "Kalau gak ada yang mau, ya Bunda habisin." *Ngejawab dengan nada pasrah*
Keke: "Udah, sini buat Keke aja."
Bunda: "Beneran? Tapi, habisin, ya."
Keke: "Iya."
Nai: "Bunda curaaaang!"
Bunda: "Enggak, dong. Itu namanya sharing. Daripada gak habis, kan jadi mubazir."
Nai: "Ya, udah kalau gitu, besok-besok Ima mau sharing bekal aja sama teman. Ima mau kasih bekal ke teman daripada gak habis."
Bunda: "ya gak gitu juga Nai. Bla .... bla ... bla ..." Chi pun menjelaskan ke Nai maksud sharing. Jangan sampai dia beneran salah sangka. Bisa-bisa semua bekalnya dikasih ke temannya melulu dengan alasan, "Bunda juga begitu." Anak juga mencontoh orang terdekat, kan? ;)

Hadeuuuhh ... Inilah salah satu contoh kalau orang tua bakal dapat PR seumur hidup. Sambung-menyambung PRnya hahaha. Ya, udahlah enjoy aja! :D

40 komentar:

  1. kalo zaidan suka tuker2an bekal sama teman. temennya mau kue zaidan (padahal jajanan pasar 1000 rupiah), zaidan mau es tehnya temennya (karena saya ga pernah bekelin es ke sekolah)...:D

    BalasHapus
  2. hehehe..lucu ya ima,pingin ketemu aku mak hehe...
    coba aku jadi gurunya nai,tiap lunch nanti tak samperin biar sharing bekal gitu hahaha

    BalasHapus
  3. hahaha. Nai kritis banget. Kayaknya bisa jadi ahli debat. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe lihat gimana nanti dia mau jadi apa :)

      Hapus
  4. Hahaha... setiap tingkah laku ortu pasti jadi inspirasi anak yah bun..

    BalasHapus
  5. Hahaha.... Nai pinter banget deh. Lain kali makananya diabisin sendiri ya mak.:p

    BalasHapus
  6. hahahaa

    aku suka bilang sama Noofa... Noofa yang nurut yaa. jadi anak sholihah, gak rewel..

    eh sekarang dibalik.. Umi yang nurut sama noofa yaa.. yang sholihah.. nggak rewel...

    kalau nggak nurut nanti dijewer lhooo... naahh loooh :D :D

    BalasHapus
  7. Anak zama sekarang udah jagoan berdiplomasi yaa, mbak ^^

    BalasHapus
  8. anakku kalo dibawain bekal, pulangnya selalu dalam keadaan utuh. alasannya sama, pengen main2 sama teman2nya.. trus bekalnya malah dimakan di rumah..haha

    BalasHapus
  9. Yah begitulah anak2. Tp kl sdh besar pasti bakal kangen masa2 ini.

    BalasHapus
  10. Dulu juga suka malas makan bekal dari rumah. Tapi... pas sudah kerja kayaknya malah menyesal kalau ngga bawa makanan dari rumah ya :)

    BalasHapus
  11. Hehehehhe...anak-anak lucu kalo lagi ngasi komentar

    BalasHapus
  12. Kadang-kadang kalau dibalikin omongan kita sama anak-anak suka makjleb aja bawaannya ya teh...

    BalasHapus
  13. Sharing is Caring...Nai, kamu jadi semakin lebih pinter loh dari Bunda..hehee

    BalasHapus
  14. Eh tapi kayanya menurutku pendapat Nai itu bener sih.. Lebih baik makanannya di share (dibagi dengan teman lain, tapi dia juga tetep makan sebagian) dan makanannya habis, daripada maksain makan sendirian tapi ternyata gak habis. Kan mubazir juga :o

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya sih tapi kalau sering-sering kan sayang juga hehehe

      Hapus
  15. Iyaa, Bunda mah sering curaaang. Besok kita sharing bekal saja, Nai. Bekal Ibu hamil sama anak sekolah. Bhahaahaa

    BalasHapus
  16. Anak zaman sekarang emang udah cerdas & kritis yah mbak :)
    Nai keren :)

    BalasHapus
  17. whehehe Nai lucu bangeet, bisaa aja ngebalik-balikinnya..
    Ettapi aku juga suka gitu sik sama Ibuku ehehe

    BalasHapus
  18. Pinter ya Nai :D
    Tapi anak2 itu memang susah ya kadang disuruh makan. Lebih milih main

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^