Urusan venue udah beres. Kami berhasil mendapatkan tempat yang diinginkan. Sebuah tempat semi outdoor (sekitar 2/3 adalah area terbuka) yang masih berada di sekitar tengah kota Bandung. Urusan selanjutnya adalah catering.

Untuk catering, kami tidak menemui terlalu banyak kendala. Karena resepsinya di café jadi cateringnya pun sekaligus dari sana. Tinggal hitung jumlah porsi dan biaya aja. Chi sempat agak pusing ketika baca berita kalau setelah tahun baru harga-harga berbagai kebutuhan pokok akan naik. Duh! Bakal naik nih biaya catering. Mana catering kan termasuk pos yang paling memakan biaya besar.

Alhamdulillah, ternyata harga awal yang diberikan pihak café tidak mengalami kenaikan. Menurut mereka, karena kami sudah membayar penuh. Mereka pun sudah order ke supplier, sehingga harga tidak mengalami kenaikan.

Mengurus catering pernikahan itu gak cuma urusan biaya aja yang bikin pusing. Tapi, kekhawatiran kalau kami salah menentukan porsi. Sehingga tamu masih banyak, makanan sudah habis. Untungnya kami tidak perlu mengalami kekhawatiran seperti itu. Menurut pihak café karena menu yang pesan adalah menu yang biasa mereka jual, jadi tentu saja mereka sudah siap stok bahan lebih. Apalagi kalau café atau resto kan punya dapur. Jadi, kalau udah ada tanda-tanda makanan kurang sedangkan tamu masih banyak, mereka siap untuk menambah porsi baru.

Kalaupun sudah tidak tersisa bahan makanannya, mereka siap mengganti dengan menu lain. Kalau sampai terjadi memang akan ada biaya tambahan. Tapi, gak apa-apa lah daripada kami kekurangan makanan. Chi gak tau apakah semua resto atau café punya kebijakan seperti ini. Atau hanya café tempat kami menyelenggarakan resepsi saja. Yang jelas kami lega karena urusan makanan sudah beres.

Sejak itu, kami sempat membantu adik dan kerabat untuk mengurus pernikahan. Dari pengalaman kami membantu mengurus beberapa wedding, mencari venue dan catering adalah hal pertama yang harus dilakukan. Biaya catering termasuk yang memakan biaya besar. Nah, supaya teman-teman gak salah berhitung, ada baiknya mempelajari matematika catering pernikahan.

Vendor Rekanan

Seringkali kalau kita mendatangi venue pernikahan, mereka sudah mempunyai rekanan termasuk dengan vendor catering. Biasanya boleh aja pakai jasa catering diluar vendor rekanan tapi akan kena charge. Kalau dikalikan dengan total biaya catering, bisa lumayan banget lho chargenya. Jadi, sebaiknya pertimbangkan lagi kalau mau pakai vendor di luar rekanan. Kecuali teman-teman sudah mantap dengan vendor tersebut dan gak masalah dengan charge yang akan dibebankan

Hitungan porsi

Biasanya catering akan memberikan daftar menu dan harga paket cateringnya. Tapi, menurut Chi, catering yang baik itu gak hanya memberikan daftar saja. Mereka akan memulai dengan pertanyaan, “Acaranya siang atau malam?”

Untuk jumlah tamu yang sama, perhitungan porsi resepsi siang dan malam itu berbeda, lho. Sebetulnya ada hitungan matematikanya. Tapi, Chi udah lupa karena udah agak lama gak ngurusin wedding. Yang pasti berdasarkan pengalaman, kalau resepsi malam itu lebih banyak porsi makanan gubuk. Sedangkan kalau siang, lebih banyak porsi menu prasmanan. Karena umumnya tamu butuh makan berat saat siang, sedangkan malam para tamu lebih mencari camilan. Dan, biasanya biaya catering resepsi malam agak lebih mahal dibanding siang karena porsi gubuk lebih banyak.

Jumlah gubuk

Dalam list catering suka ada tawaran kalau ambil paket A dapet gubuk sekian. Biasanya sama Chi suka rada diubah. Sebaiknya jumlah gubuk jangan terlalu banyak tapi juga jangan terlalu sedikit. Berhubungan sama panjang pendek antrean, sih. Kalau terlalu banyak, antrean jadi pendek. Begitu juga sebaliknya. Akhirnya berpengaruh kepada jumlah porsi yang harus dipesan.

Banyaknya per porsi

 


Catering memang ada hitungannya. Tapi, gak baku, kok. Sebagai klien, kita juga harus tau berapa banyak makanan per porsinya. Itulah kenapa penting banget untuk melakukan test food. Ketika test food jangan hanya menilai apakah makanannya enak atau tidak. Pertimbangkan juga jumlah per porsinya. Kalau kebanyakan, tamu akan cenderung gak habis. Sayang banget kalau sampai dibuang. Sedangkan kalau terlalu sedikit, tamu akan sering bolak-balik antre makanan.

Beberapa hal di atas adalah matematika catering pernikahan. Tapi, selain itu ada pertimbangan lain ketika memilih catering. Pertimbangan tersebut adalah:

Rasa

Sebetulnya, setiap orang bisa punya selera berbeda untuk setiap makanan yang dirasa. Tapi, asalkan buat lidah kita dan keluarga itu enak, mudah-mudahan bagi para tamu juga enak.

Kebersihan

Ini juga pertimbangan mutlak. Beberapa kali Chi datang ke acara pernikahan, petugas cateringnya sangat jarang mengangkat peralatan makan yang ada di meja kotor. Hasilnya, pring dan gelas bekas pakai terlihat menumpuk. Merusak pemandangan banget.

Menyajikan makanan

Chi lebih suka kalau makanan sudah mau habis, petugas catering menambah porsinya dengan mengganti tray. Tray lama diangkat, diganti dengan yang baru. Tapi, akhir-akhir ini Chi agak jarang melihat yang seperti itu. Kebanyakan kalau makanan sudah mau habis, petugas catering membawa porsi tambahan lalu langsung dipindahkan ke tray lama. Akhirnya tambilan makanan jadi kurang cantik. Ya, tapi gak-apa, lah. Asal jangan jorok aja.

Ada petugas di setiap gubuk

Gak semua catering mau kasih petugas di setiap gubuk, lho. Padahal gubukan itu pentin ada petugasnya. Misalnya, di gubukan siomay kalau gak ada petugasnya, biasanya para tamu cenderung mengambil sebanyak yang mereka mau. Jadi memang sebaiknya ada petugas untuk membagi porsi.

Gak perhitungan sama air minum

Pernah beberapa kali Chi datang ke pernikahan, makanan masih banyak tapi air minumnya habis. Duh, haus ajah! Air minum sebaiknya disediakan lebih banyak oleh catering dari jumlah yang dipesan klien. Selain untuk cadangan, kalau sampe terjadi salah perhitungan porsi makanan dimana sudah habis sebelum acara selesai, setidaknya ada air minum. Banyak ajah pertimbangan memilih catering, ya. Memang iya, makanya suka memakan waktu rada lama. Mungkin kalau teman-teman sudah punya rekomendasi catering langganan udah gak terlalu bingung. Tapi, kalau yang belum punya, mencari info sana-sini itu penting banget. Kalau dulu, sebelum menikah, segala majalah wedding dibeli *soalnya, belum internetan*. Sekarang tinggal browsing ajah. Cari info yang bisa dipercaya. Salah satunya, coba cari di Bridestory, deh.

Banyak banget info tentang vendor wedding di sana. Bahkan ada reviewnya segala. :)

Keterangan: Semua foto di artikel ini adalah milik Culinary Concept Catering yang ada di website Bridestory

Bridestory

www.bridestory.com

Fanpage: thebridestoryID
Twitter: @TheBrideStory
IG: thebridestory
Pinterest: thebridestory