Senin, 19 Oktober 2015

Matematika Catering



Urusan venue udah beres. Kami berhasil mendapatkan tempat yang diinginkan. Sebuah tempat semi outdoor (sekitar 2/3 adalah area terbuka) yang masih berada di sekitar tengah kota Bandung. Urusan selanjutnya adalah catering.

Untuk catering, kami tidak menemui terlalu banyak kendala. Karena resepsinya di café jadi cateringnya pun sekaligus dari sana. Tinggal hitung jumlah porsi dan biaya aja. Chi sempat agak pusing ketika baca berita kalau setelah tahun baru harga-harga berbagai kebutuhan pokok akan naik. Duh! Bakal naik nih biaya catering. Mana catering kan termasuk pos yang paling memakan biaya besar.

Alhamdulillah, ternyata harga awal yang diberikan pihak café tidak mengalami kenaikan. Menurut mereka, karena kami sudah membayar penuh. Mereka pun sudah order ke supplier, sehingga harga tidak mengalami kenaikan.

Mengurus catering pernikahan itu gak cuma urusan biaya aja yang bikin pusing. Tapi, kekhawatiran kalau kami salah menentukan porsi. Sehingga tamu masih banyak, makanan sudah habis. Untungnya kami tidak perlu mengalami kekhawatiran seperti itu. Menurut pihak café karena menu yang pesan adalah menu yang biasa mereka jual, jadi tentu saja mereka sudah siap stok bahan lebih. Apalagi kalau café atau resto kan punya dapur. Jadi, kalau udah ada tanda-tanda makanan kurang sedangkan tamu masih banyak, mereka siap untuk menambah porsi baru.

Kalaupun sudah tidak tersisa bahan makanannya, mereka siap mengganti dengan menu lain. Kalau sampai terjadi memang akan ada biaya tambahan. Tapi, gak apa-apa lah daripada kami kekurangan makanan. Chi gak tau apakah semua resto atau café punya kebijakan seperti ini. Atau hanya café tempat kami menyelenggarakan resepsi saja. Yang jelas kami lega karena urusan makanan sudah beres.

Sejak itu, kami sempat membantu adik dan kerabat untuk mengurus pernikahan. Dari pengalaman kami membantu mengurus beberapa wedding, mencari venue dan catering adalah hal pertama yang harus dilakukan. Biaya catering termasuk yang memakan biaya besar. Nah, supaya teman-teman gak salah berhitung, ada baiknya mempelajari matematika catering pernikahan.

Vendor Rekanan

Seringkali kalau kita mendatangi venue pernikahan, mereka sudah mempunyai rekanan termasuk dengan vendor catering. Biasanya boleh aja pakai jasa catering diluar vendor rekanan tapi akan kena charge. Kalau dikalikan dengan total biaya catering, bisa lumayan banget lho chargenya. Jadi, sebaiknya pertimbangkan lagi kalau mau pakai vendor di luar rekanan. Kecuali teman-teman sudah mantap dengan vendor tersebut dan gak masalah dengan charge yang akan dibebankan

Hitungan porsi

Biasanya catering akan memberikan daftar menu dan harga paket cateringnya. Tapi, menurut Chi, catering yang baik itu gak hanya memberikan daftar saja. Mereka akan memulai dengan pertanyaan, “Acaranya siang atau malam?”

Untuk jumlah tamu yang sama, perhitungan porsi resepsi siang dan malam itu berbeda, lho. Sebetulnya ada hitungan matematikanya. Tapi, Chi udah lupa karena udah agak lama gak ngurusin wedding. Yang pasti berdasarkan pengalaman, kalau resepsi malam itu lebih banyak porsi makanan gubuk. Sedangkan kalau siang, lebih banyak porsi menu prasmanan. Karena umumnya tamu butuh makan berat saat siang, sedangkan malam para tamu lebih mencari camilan. Dan, biasanya biaya catering resepsi malam agak lebih mahal dibanding siang karena porsi gubuk lebih banyak.

Jumlah gubuk

Dalam list catering suka ada tawaran kalau ambil paket A dapet gubuk sekian. Biasanya sama Chi suka rada diubah. Sebaiknya jumlah gubuk jangan terlalu banyak tapi juga jangan terlalu sedikit. Berhubungan sama panjang pendek antrean, sih. Kalau terlalu banyak, antrean jadi pendek. Begitu juga sebaliknya. Akhirnya berpengaruh kepada jumlah porsi yang harus dipesan.

Banyaknya per porsi

 


Catering memang ada hitungannya. Tapi, gak baku, kok. Sebagai klien, kita juga harus tau berapa banyak makanan per porsinya. Itulah kenapa penting banget untuk melakukan test food. Ketika test food jangan hanya menilai apakah makanannya enak atau tidak. Pertimbangkan juga jumlah per porsinya. Kalau kebanyakan, tamu akan cenderung gak habis. Sayang banget kalau sampai dibuang. Sedangkan kalau terlalu sedikit, tamu akan sering bolak-balik antre makanan.

Beberapa hal di atas adalah matematika catering pernikahan. Tapi, selain itu ada pertimbangan lain ketika memilih catering. Pertimbangan tersebut adalah:

Rasa

Sebetulnya, setiap orang bisa punya selera berbeda untuk setiap makanan yang dirasa. Tapi, asalkan buat lidah kita dan keluarga itu enak, mudah-mudahan bagi para tamu juga enak.

Kebersihan

Ini juga pertimbangan mutlak. Beberapa kali Chi datang ke acara pernikahan, petugas cateringnya sangat jarang mengangkat peralatan makan yang ada di meja kotor. Hasilnya, pring dan gelas bekas pakai terlihat menumpuk. Merusak pemandangan banget.

Menyajikan makanan

Chi lebih suka kalau makanan sudah mau habis, petugas catering menambah porsinya dengan mengganti tray. Tray lama diangkat, diganti dengan yang baru. Tapi, akhir-akhir ini Chi agak jarang melihat yang seperti itu. Kebanyakan kalau makanan sudah mau habis, petugas catering membawa porsi tambahan lalu langsung dipindahkan ke tray lama. Akhirnya tambilan makanan jadi kurang cantik. Ya, tapi gak-apa, lah. Asal jangan jorok aja.

Ada petugas di setiap gubuk

Gak semua catering mau kasih petugas di setiap gubuk, lho. Padahal gubukan itu pentin ada petugasnya. Misalnya, di gubukan siomay kalau gak ada petugasnya, biasanya para tamu cenderung mengambil sebanyak yang mereka mau. Jadi memang sebaiknya ada petugas untuk membagi porsi.

Gak perhitungan sama air minum

Pernah beberapa kali Chi datang ke pernikahan, makanan masih banyak tapi air minumnya habis. Duh, haus ajah! Air minum sebaiknya disediakan lebih banyak oleh catering dari jumlah yang dipesan klien. Selain untuk cadangan, kalau sampe terjadi salah perhitungan porsi makanan dimana sudah habis sebelum acara selesai, setidaknya ada air minum. Banyak ajah pertimbangan memilih catering, ya. Memang iya, makanya suka memakan waktu rada lama. Mungkin kalau teman-teman sudah punya rekomendasi catering langganan udah gak terlalu bingung. Tapi, kalau yang belum punya, mencari info sana-sini itu penting banget. Kalau dulu, sebelum menikah, segala majalah wedding dibeli *soalnya, belum internetan*. Sekarang tinggal browsing ajah. Cari info yang bisa dipercaya. Salah satunya, coba cari di Bridestory, deh.

Banyak banget info tentang vendor wedding di sana. Bahkan ada reviewnya segala. :)

Keterangan: Semua foto di artikel ini adalah milik Culinary Concept Catering yang ada di website Bridestory

Bridestory

www.bridestory.com

Fanpage: thebridestoryID
Twitter: @TheBrideStory
IG: thebridestory
Pinterest: thebridestory

post signature

52 komentar:

  1. Dalam catering sih yang penting petugas catering bisa diajak kerjasama untuk mengatur makanan jangan sampai kurang pas resepsi heheh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu salah satu poin terpenting dari sekian pin terpenting lainnya, Mbak :)

      Hapus
  2. Saya dulu ga terlalu paham tentang catering ini karena di daerah sy masih awam orang resepsi pakai catering. Tapi semenjak kakak saya menikah dengan pengusaha catering sedikit2 jadi paham karena kakak ipar sering cerita2 ;-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. bagaimana cerita pengalaman kakaknya, Mbak? Mungkin kapan-kapan bisa berbagi cerita :)

      Hapus
  3. Catering sekarang canggih2, mereka nyimpen semua dokumentasi masakan mereka. Terus, terakhirnya malah bingung milih.

    BalasHapus
  4. Jadi inget jaman nikahan dulu. Pertama kalinya bikin gawe besar di keluargaku. Riweuh bener >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, setiap ngurusin pernikahan selalu riweuh :D

      Hapus
  5. wah, iya ya, mak. inget kalo gubuknya terlalu dikit biasanya langsung diserbu hihi. apalagi kalo makanannya favorit. ludes deh sebelum jam 2. xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. makanya ngitung catering itu memang deg-degan abis hahaha

      Hapus
  6. Aku pernah ngurusin nikahan, dan lelah. Jadi WO itu bener capek mondar mandir

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya iya bener banget, pingin pipis mulu bawaan nya

      Hapus
  7. Iya bener, pihak catering udah pny itung-itungan sendiri buat sajikan makanan dg jumlah yg pas. Pas nikahku kmrn, akhirnya aku tau. Jadi semisal lebih, ngga banyak juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul. Kalau catering yang bisa dipercaya, biasanya perhitungan mereka tepat. Gak cuma makanannya yang lezat

      Hapus
  8. paling sering ngalamin,air minum abiss..apalagi kalo siang,es abisss hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kita senasib mbak. Sering kehabisan air minum kalo pas kondangan. Siasatnya sih biasanya saya ngambil 2. Hehe

      Salam hangat dari Bondowoso..

      Hapus
    2. hahaha rasanya gak enak tuh ditenggorokan kalau air sampe habis, ya :D

      Hapus
  9. Belum pernah dapat undangan kayak gitu, mbak... :3
    Tapi aku lebih ga sreg kalau pas dapat undangan sprti biasa, trus tmpatnya yang kurang bersih, apalagi terkait makannya juga yang ga disediakan kurang :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. kebersihan memang termasuk faktor utama bisa dinilai

      Hapus
  10. kalau dulu pas nikah ibuku pesen makanannya dikali dua dari tamunya jadi kelebihan makanan. Sisa kelebihannya yang gak sempat disajikan dibagikan ke panti asuhan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. daripada mubazir trus dibuang, ya :)

      Hapus
  11. kalo urusan pernikahan, makanan memang salah satu hal yg utama. Soalnya kalau makanannya enak, biasanya diingat terus oleh undangan

    BalasHapus
  12. Andaikan dulu bridestory sudah ada pas kami mau kawin. Hihihi. Dulu paling rempong nyari catering sih emang Mbak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya pun berandai-andai begitu hehehe

      Hapus
  13. Alhamdulillah catering dimana saya pesan buat mantenan saya memuaskan. para tamu undangan puas....

    BalasHapus
  14. Lihat gambar Sate diatas...langsung ngileeer....heeee..apa lagi masuk blog Kekenaima pas jam makan siang....

    BalasHapus
  15. Kalo katering yg bagus emang tanya2 acaranya sampai sedetail-detailnya ya, Mak. Dan biasanya kalo kita pesennya banyak dikasih bonus sekian porsi gitu, buat jaga2 kalo kurang juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya. Tapi apapun catering yang kita pilih, sebaiknya kita juga aktif bertanya-tanya

      Hapus
  16. Ribet ya ternyata. Dulu aku pas nikahan ga ngurus catering, karena semua mamaku yg urus. Hehehe. Aku cuma ngurusin soal kartu undangan aja. Soale waktu itu nikahan di Palembang, sementara aku msh kuliah di Bandung & suami pun kerja di Jakarta, jadi kami cuma numpang nikah aja. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. catering memang paling ribet hehhee

      Hapus
  17. Rumus yg sering dipakai adalah 1,5x jumlah undangan. Ini untuk cadangan, kalau lebih ya dibawa pulang. Yang penting jangan sampai kurang agar tak jd bahan omongan.
    Terima kasih tipsnya.
    Salam hangat dari Jombang

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, Pakde. Ada rumusnya. Yup! Jangan sampe kurang karena mempertaruhkan nama juga hehe

      Hapus
    2. Setuju, bahkan di beberapa tempat dikali dengan 2 biar ga kekurangan

      Hapus
  18. Bener, kalau punya dana sebaiknya pesannya lebih banyak dari jumlah undangan, kalau lebih kan bisa dibawa pulang bahkan dibagiin ke tetangga, kalau sudah pengalaman ngurus sih sudah hafal matematikanya ya? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul. Dulu saya hapal. Sekarang lupa lagi haha

      Hapus
  19. Masalah ngangkut piring kotor, biasanya disiapin wadah piring kotor, sayangnya tamu Indonesia suka manja! *termasuk daku jg sih. Haha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau yang sering saya lihat bukan wadah, Mbak. Tapi meja untuk piring kotor. Cuma ada catering yang petugasnya jarang angkut piring kotor di meja itu. Jadi kesannya kumuh

      Hapus
  20. Aku suka ketring yang kalo masih banyak sisa makanan, pihak keluarga segera dihubungi unt bebungkus. Hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha saya juga suka. Apalagi kalau makanannya enak :D

      Hapus
  21. Di samping rasa, jumlah per porsi itu memang penting banget ya, Mbak. Jangan sampai makanan yang diambil oleh tamu cenderung sisa atau malah terlalu sedikit.

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi lebih malu kalau sampai habis sebelum waktunya wlaopun kalau sampe bersisa tentu aja jangan sampe kebanyakan. Nanti mubazir :)

      Hapus
  22. Memang harus ada matematika catering ya agar perhitungan bisa pas, nggak kurang dan juga nggak kelebihan. Soal penyajian makanan, pernah ngeliat makanan masih banyak, begitu ada menu baru muncul, petugas langsung asal ambil saja tray lama, padahal masih ada beberapa orang yang masih pingin makan menu itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. trus, gak diganti sama tray baru, Mbak? Atau biasanya diminta menunggu, ya. Itu bikin antrean jadi panjang

      Hapus
  23. Sering kewalahan karena tim pada sibuk sendiri, sehingga petugas kontrol ndak ada atau ikut sibuk, biasanya terhadap makanan atau minuman yang habis atau yang lebih parah tempat piring, gelas, mangkok dan lain2 sisa dipakai yang ndak ada tempat naruh, yang kadang ditaruh sembarang. jadi sedih nih walau ndak ikut punya gawe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itulah pentingnya bikin tim yang solid :)

      Hapus
  24. kalau ada acara biasanya aku nambah 50 persennya mak..misal undanganku 100..aku harus menyediakan 150 buat jaga2..biasanya kan mereka bawa suami/istri/anak :)

    BalasHapus
  25. Lengkap mbak, buat refrensi klo besok saya menikah hehehehe :D
    makasih mbak myra :)

    BalasHapus
  26. urusan perut memang tricky..dan bahaya kalau sampai bermasalah karena akan jadi ingatan yang buruk buat tamu ya. Bridestories komplit ya referensinya..

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge