5 tips mengajarkan anak terbiasa makan dengan tertib akan Chi bagikan di postingan ini. Karena menyenangkan rasanya punya anak yang bisa makan dengan cara tertib. Makannya gak berantakan, gak lari-larian, pokoknya sedikit atau zero drama saat waktunya makan hehe.

5 tips mengajarkan anak terbiasa makan dengan tertib

Teman Chi: "Anak lo mau, ya, duduk di meja makan. Coba kalau anak gue, udah jalan-jalan gak mau diem. Bikin gak tenang kalau lagi makan."

Temen Chi pernah berkata seperti itu saat kami bertemu. Eits! Chi bukan membanding-bandingkan siapa yang lebih baik, lho. Tapi, memang kalau anak mau tertib duduk saat makan, kita makannya juga tenang. Apalagi kalau anaknya juga udah bisa makan sendiri, nikmat deh rasanya hehehe.

Papah Chi: "Lihat Keke makan itu seneng. Anaknya tertib, gak mondar-mandir. Trus, gak pilih-pilih makan."

Itu ucapan Papah Chi sepulang dari mengajak Keke dan Nai berlibur ke Bali *tanpa Chi dan K'Aie hihihi*

Mamah mertua, "Kalau Keke liburan di sini, Mamah gak khawatir walopun gak sama ayah-bundanya. Makannya tertib. Mamah gak perlu nyuruh-nyuruh. Yang penting sediain aja makanan di meja makan. Pokoknya, Keke itu kalau udah jamnya makan pasti gak usah disuruh juga bakal ambil piring sama makanan sendiri. Makanan apapun juga dimakan sama dia. Apalagi ikan sama sambel. Lahap banget. Mamah suka khawatir kalau ketitipan cucu tapi susah makan. Khawatir sakit. Tapi, kalau Keke enggak. Dia gak pernah susah makan."

Mamah mertua sering bilang seperti kalau Chi titipin Keke. Kadang-kadang, Keke suka nginep di rumah kakek-neneknya kalau liburan sekolah. Nai belum pernah nginep tanpa orang tua. Kecuali waktu ke Bali itu.

Keke memang gak terlalu pemilih untuk urusan makanan. Di blog ini, Chi pernah menulis tip supaya Keke dan Nai tidak melakukan gerakan tutup mulut dan juga gak menjadi anak yang picky eater. Tapi, Chi belum pernah menulis tip tentang bagaimana membuat Keke dan Nai supaya mau makan dengan tertib.

Berikut adalah 5 tip supaya anak terbiasa makan dengan tertib


Biasakan Anak Makan Sambil Duduk


5 tip mengajarkan anak makan dengan tertib
 Gak perlu beli baby chair yang mahal. Ini kursi ada nilai sejarahnya karena dipakai waktu K'Aie mulai MPASI. Trus, dipake sama anak-anak, terutama Keke. Aslinya warna kayu, kemudian kami cat warna-warni. Walopun udah nyaris 30 tahun lebih usianya, kondisinya saat itu masih bagus. Tapi, kayaknya gak bisa diturunin ke generasi berikutnya karena sekarang udah hancur hehehe


Untuk anak yang sudah bisa duduk sendiri, biasakan anak makan sambil duduk. Kalau punya kursi makan, dudukkan di kursi makan. Kalau enggak, bisa didudukin di sofa atau kursi.

Pastikan kursinya aman. Jangan pernah membiarkan anak duduk sendirian tanpa pengawasan. Apalagi kalau kursinya tinggi. Bahaya kalau sampai jatuh Kalau anak belum mampu duduk, biasanya Chi suapin di kasur dengan posisi kepala dan bahu yang agak tinggi (bantalnya ditumpuk). Pokoknya, gak dibiasakan makan sambil jalan-jalan.


Jangan Makan Sambil Menonton TV atau Main Gadget


Waktu Keke dan Nai masih bayi, Chi aja belum akrab sama gadget. HP juga masih punya yang jadul. Cuma bisa nelpon dan sms hehehe. Jadi, gak mungkin juga Keke dan Nai akrab sama gadget.

Tapi, bisa aja Chi ajak mereka makan sambil nonton tv, kan? Itu gak Chi lakukan. 

Biasanya, saat makan tiba, Chi ajak ngobrol sambil bermain. Alasan kenapa Chi melakukan itu sebetulnya cuma karena seneng aja ajak anak-anak makan sambil ngobrol. 

Ternyata, belakangan ini Chi baru tau kalau anak yang dibiasakan makan sambil menonton tv atau main gadget, fokusnya gak ke makanan tapi ke gadget atau tv. Akibatnya anak gak paham sinyal tubuh kenyang dan lapar. Anak juga gak terlalu paham rasa makanan.


2 Porsi untuk Sekali Makan


2 porsi untuk sekali makan? Apa gak kebanyakan? Enggak, karena 1 porsi dipegang sama Chi untuk disuapin ke anak, 1 porsi lagi untuk mereka makan sendiri. Supaya anak bisa makan sendiri itu butuh latihan. Rasanya, gak mungkin tiba-tiba anak bisa makan dengan rapi dan tertib saat waktunya makan. Anak perlu diajari bagaimana memegang sendok hingga menyuapkan makanan ke mulut. 

Tapi, jangan langsung berharap instan, semuanya butuh proses panjang. Seringkali, makanan yang kita kasih ke mereka itu malah diacak-acak dan tumpah kemana-mana. Dan, itu menyenangkan buat mereka. Dibalik kegiatan mengacak-acak makanan, mereka sebetulnya sedang mengeksplor

Kalau udah begitu, pekerjaan tambahan, deh, setiap kali selesai makan. Beberes bekas makannya dan mandiin anak. Apalagi kalau abis makan sop ikan salmon. Bisa amis sekujur badannya karena belepotan kemana-mana. Makanya, Chi biasanya nyuapin anak dulu baru dimandiin hehehe.

Karena selalu menyiapkan 2 porsi, baby feeding set yang Chi punya gak cuma 1. Ketika masih bayi, peralatan makan mereka memang khusus untuk bayi. Warna dan bentuk baby feeding set umumnya lucu-lucu. Warna dan gambar yang lucu bisa menarik perhatian bayi. Lagipula ukurannya memang disesuaikan untuk kebutuhan bayi, terutama mulutnya. Sendok-garpu bayi kan kecil-kecil. Pas buat mereka, apalagi kalau lagi belajar makan sendiri. 

Trus, ada juga baby feeding set yang ada indikator makanan masih terlalu panas atau sudah bisa dimakan. Keke dan Nai pernah punya. Kan, katanya makanan itu gak boleh ditiup supaya cepat dingin. Gak baik untuk kesehatan. Nah, kalau ada indikator begitu di feeding setnya, enak. Karena tinggal tunggu aja alat makannya berubah warna yang meandakan makanan di dalamnya sudah bisa dimakan :)

Oiya, supaya anak gak menolak, biasanya kalau anak berhasil masukan 1 suapan dengan tangannya, Chi gak langsung kasih suapan dari mangkuk/piring yang Chi pegang. Bisa kepenuhan nanti mulutnya. Bergantian aja.


Waktu Makan yang Konsisten


Bayi dan balita memang belum mengenal konsep waktu. Tapi, kalau kita konsisten dengan waktu makan, tubuh anak akan memberikan sinyal secara teratur kapan dia lapar dan kenyang. Akhirnya, pada saat makan tiba, lebih mudah menyuapi mereka. Saat peralihan dari ASI eksklusif ke MPASI, Chi mengambil salah satu waktu dimana anak-anak biasanya menyusui.


Ciptakan Suasana yang Nyaman dan Menyenangkan


Sebetulnya ini berkaitan dengan poin nomor 2. Ketika melarang anak makan sambil menonton tv dan gadget, biasanya Chi suka ajak anak-anak ngobrol atau sambil nyanyi. Ajak juga mereka merespon obrolan kita. Walopun mereka membalasnya baru sebatas ekspresi atau menggunakan bahasa bayi. Tapi, yang penting merespon. Jadi, buat Chi gak ada itu yang namanya makan jangan bersuara, kayak lirik salah satu lagu anak hehehe. Gak apa-apa anak makan sambil bersuara yang penting bagaimana bersuaranya. Jangan sampe kita ajak mereka untuk tertawa tergelak-gelak saat makan. Bisa keselek nanti. Kalau udah keselek, trus muntah, mereka bakal nangis. Malah buyar kegiatan makannya. Jadi, buat Chi gak apa-apa bersuara, asal jangan berlebihan aja.

Itu adalah 5 tip mengajarkan anak terbiasa makan dengan tertib. Kelima tip itu konsisten Chi lakukan saat Keke mulai MPASI. Tapi, tidak dengan Nai. Saat baru melahirkan anak kedua, Chi memutuskan mempunyai asisten rumah tangga. Saat itu rasanya Chi kerepotan kalau harus mengasuh 2 orang anak sendirian.

Baik Keke maupun Nai, semuanya Chi buat sendiri makanan MPASInya. Tapi, saat memberi makan, Chi suka minta bantuan asisten untuk nyuapin Nai. Sayangnya, asisten ini selalu memberi makan Nai sambil jakan-jalan ke luar rumah. Atau sambil nonton tv kalau di luar lagi hujan. Dari 5 tip di atas, cuma poin 4 aja yang konsisten dilakukan. Karena yang menentukan kapan anak makan tetep Chi.

Chi udah berkali-kali mengingatkan supaya Nai dibiasakan duduk di kursi makan bayi. Tapi, asisten selalu beralasan kalau diajak makan sambil jalan-jalan itu lebih cepat habis. Ya, karena waktu itu memang berasa butuh, Chi jadinya pasrah aja. Gak pernah ngecek juga apa Nai beneran makan atau(jangan-jangan) dibuang. Karena ada kejadian juga, keponakan suka disuapin sambil jalan-jalan sama pengasuhnya. Trus, ada laporan kalau makannya itu gak pernah habis. Seringnya dibuang oleh pengasuhnya. Tapi, kalau pengasuhnya selalu melapor habis makannya.

Apalagi kemudian seperti ada pembelaan dari Mamah Chi kalau Chi juga dulu makan selalu sambil jalan. Kata Mamah, Chi itu kalau belum keliling 7 gang belom abis makannya. Artinya jalan-jalannya jauh dan lama hahaha. Ya, kalau udah digituin semakin aja Chi pasrah. Walopun hati rasanya beraaatt :D

Hasilnya memang berbeda, sih. Sejak memutuskan gak pake asisten (kira-kira Nai usia 1 tahun), salah satu yang harus Chi bereskan memang cara makan Nai yang belum terbiasa makan sendiri. Awalanya, chi sempat berpikir semakin besar anak maka dia akan semakin mengerti dan mudah untuk diajarin. Ternyata, gak sepenuhnya tepat. Nai memang lebih telat diajarkan untuk bisa makan secara mandiri. Tapi, jadinya dia lebih ngeyel kalau diajarin makan dengan tertib karena kebiasaan sebelumnya kan gak seperti itu. Dan, semakin besar uasia anak, dia semakin punya mau atau semakin bisa melawan. Jadi, harus banyak stok sabarnya saat berusaha mendisiplinkan hehehe.

Kalau Keke lebih cepat tertib makannya. Sementara Nai, butuh proses yang lebih lama supaya tertib. Sebagai contoh, ketika usia TK, Keke udah biasa makan sendiri dengan tertib. Sedangkan Nai, masih harus belajar supaya bisa makan dengan rapi. Sekarang, keduanya udah bisa makan dengan rapi dan tertib tanpa jalan-jalan, tapi masih ada kebiasaan yang harus terus diperbaiki dari Nai. Masih belum terlalu fokus sama makan. Makannya masih suka lama. Karena Kalau Nai makan sambil nonton tv, makannya jadi lama karena fokusnya ke tv. Begitu juga kalau sambil ngobrol, suka lama selesai makannya. Keke juga sekarang suka makan sambil nonton tv, tapi karena sejak dini memang sudah dibiasakan makan dengan tertib, dia udah bisa fokus. Gak berlama-lama kalau makan.

Urusan sarapan selalu jadi dilema di pagi hari sampe sekarang. Menyalakan tv di pagi hari adalah salah satu penyemangat anak untuk bisa bangun karena ada tayangan favorit mereka. Tapi, bikin sarapan jadi lebih lama. Sementara, Chi juga gak mau terus-terusan ngomel di pagi hari. Gak asik banget mengawali pagi dengan ngomel dan diomelin hehehe. Drama banget di pagi hari kalau udah ada omelan hehehe. Yaaa, karena dilema itu, Chi jadi kurang konsisten mengajarkan Nai supaya fokus ke makanan :D Tapi, untungnya sekarang udah gak berantakan dan sambil jalan-jalan makannya. Cuma lama aja karena kurang fokus.

Berdasarkan pengalaman, Chi jadi berkesimpulan kalau yang ingin anak terbiasa makan dengan tertib memang harus diajarkan. Diajarinnya harus konsisten. Jangan berharap proses instan. Pelan-pelan aja dan bertahap.

Bisa aja, sih, anak perlahahan akan sadar dengan sendirinya. Seingat Chi, juga dulu sampe usia SD, Chi masih suka jalan-jalan kalau makan. Tapi, menunggu anak-anak untuk sadar dengan sendirinya itu gak jelas kapan. Kalau dulu Chi Chi masih makan sambil jalan-jalan sampe SD, belum tentu anak-anak juga begitu. Apalagi zaman sekarang gangguan mereka untuk gak fokus semakin banyak. Kalau dulu paling cuma TVRI doang sama jalan-jalan sore hehehe.

Tapi, semuanya kembali ke pilihan masing-masing. Semoga tips di atas bermanfaat, ya. :)