Senin, 16 September 2013

Kurikulum 2013, Siapkah Kita?

Hayoo ... Siapa yang selama ini setuju bahkan protes kalao pendidikan di Indonesia itu lebih ke nilai-nilai akademis, sementara karakter diabaikan? Seandainya sekarang kurikulumnya adalah pendidikan karakter yang diutamakan, apa kita akan langsung senang? Kalau Chi, sih, senang, tapi ternyata ada pertanyaan lanjutan ... Kurikulum 2013, Siapkah Kita? *nanya ke diri sendiri

Sabtu kemarin, ada pertemuan orang tua murid kelas 4 dengan pihak sekolah untuk menjelaskan tentang kurikulum 2013 yang baru. Ini poin-poin yang coba Chi catat :
  1. Kurikulum 2013 ini baru percobaan. Hanya 30% sekolah yang ada di Indonesia (negeri dan swasta) yang ditunjuk Diknas untuk uji coba kurikulum 2013. Jadi jangan heran kalau ada orang tua yang anaknya masih pake kurikulum lama di sekolahnya.
  2. Dari 30% itu juga baru di uji coba untuk SD kelas 1 dan 4, SMP kelas 7, dan SMA kelas 10. Tahun depan untuk baru kelas 2 dan 5 ikut diuji coba. Kalo SMP dan SMA, Chi gak tau tahun depan kelas berapa lagi.
  3. Sekolah Keke-Nai juga bukan sekolah yang ditunjuk oleh Diknas untuk ikut uji coba kurikulum baru. Tapi melakukannya secara mandiri dengan alasan selama ini pendidikan karakter menjadi bagian utama dari  sekolah. Dan karena kurikulum yang baru ini mengutamakan pendidikan karakter, yayasan pusat merasa sejalan jadi memustuskan mengikuti kurikulum baru secara mandiri. Selain itu untuk sekolah yang sama, udah ada 4 sekolah yang ditunjuk oleh Diknas. Jadi tetep bisa belajar dari 4 sekolah itu.
  4. Melakukan kurikulum 2013 secara mandiri artinya sekolah menggunakan kurikulum 2013, tapi seluruh pembiayaan (termasuk pelatihan kurikulum baru untuk guru-guru) dan juga tanggung jawab efek dari kurikulum itu sepenuhnya ditanggung oleh sekolah.
  5. Sistem belajarnya adalah tematik. Jadi tidak lagi belajar per mata pelajaran tapi per tema (dengan beberapa sub tema untuk setiap tema). Didalamnya mencakup Agama, Matematika, Bahasa Indonesia, IPA, IPS, PPKn, Olahraga, dan Seni Budaya. Tapi katanya, sih, untuk kelas 1 pelajaran IPA dan IPS ditiadakan. => Karena Keke-Nai sekolah di sekolah islam jadi buku agama terbitan dari yayasan pusat.
  6. Contoh tematik seperti ini ... misalnya sub tema tentang pasar tradisional. Nanti akan dijelaskan apa itu pasar tradisional. cerita pendek tentang pasar tradisional.Pokoknya semua tentang pasar tradional dan didalamnya itu mencakup mata pelajaran yang Chi sebut di nomor 5.
  7. Ulangannya (ulangan harian, UTS, dan UAS) katanya juga bukan lagi per mata pelajaran, tapi per sub tema.
  8. Zaman dulu pernah ada istilah CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). Nah, sekarang model belajarnya seperti itu. Kalau sebelumnya guru mendiktekan murid, setelah itu biasanya ulangan. Sekarang murid diminta untuk aktif. Mulai dari aktif di kelas, aktif untuk menggali ilmu dari luar (misalnya internet) yang sesuai dengan tema yang sedang diajarkan saat itu.
  9. Chi sering nonton film barat yang ada setting sekolahan, kalo siswa suka dapet tugas untuk membaca sebuah buku trus dibuat siswa diminta untuk membuat pendapatknya di kertas dan kemudian dipresentasikan di depan kelas. Nah, nanti salah satu bentuk CBSA akan seperti itu. Mungkin untuk tahap awal bukan buku dulu, tapi sebuah cerita pendek, dimana siswa juga diminta membuat kesimpulannya sendiri dari cerita yang dia baca dan dipresentasikan di depan kelas.
  10. Pasti sering denger juga, kan, kalau pelajaran anak-anak zaman sekarang itu sulitnya minta ampun. Pelajaran waktu kita SMP bahkan SMA, sekarang udah diajarin di SD. Nah, kalo sekarang pelajaran kembali jadi jauh lebih mudah. 
  11. Berkaitan dengan nomor 10, gak cuma pihak sekolah yang ngomong kayak gitu tapi temen-temen Chi yang anaknya udah ada yang lebih gede juga bilang yang sama. Katanya pelajaran di kurikulum yang baru ini jauh lebih mudah. Contohnya dulu untuk pelajaran science kelas 4, ada pelajaran tentang tulang-tulang manusia. Dan siswa harus hapal semua bagian-bagian tulang itu (untuk bagian kepala aja ada beberapa tulang, tuh, belum tulang di bagian lain).Mana sekolah Keke-Nai itu, kan, billingual jadi gak cuma harus hapal susunan tulang dengan bahasa Indonesia, tapi bahasa Inggrisnya juga. Kalau sekarang udah gak ada lagi. Paling cuma disuruh belajar tentang fungsi panca indera aja. Gampang, kan?
  12. Pendidikan akademis menjadi jauh lebih mudah, tapi karakter diutamakan.Penilaiannya di raport adalah tentang Karakter, Pengetahuan, dan Ketrampilan.
  13. Raport di kurikulum baru gak ada angka-angka akademis lagi. Tapi berbetuk narasi. Bisa dibilang raportnya nanti mirip dengan raport TK yang isinya semuanya narasi. Contohnya tentang sopan-santun, aktif., ketertiban, dan lainnya.
  14. Ulangan, UTS, dan UAS tetap ada.Tapi penilaiannya di raport nanti tidak dalam bentuk angka, tetap narasi (nilai di konversikan ke karakter). Contohnya siswa A untuk nilai tematik pertama dapat 80. Nanti di rapor akan tertulis nilainya itu termasuk baik, cukup, atau kurang. Dan dijelaskan secara narasi kenapa untuk tematik pertama, siswa mendapat nilai cukup.Apa siswa A itu untuk tematik pertama siswa yang aktif tapi kelamahannya di tes tertulis, misalnya. Kira-kira seperti itu, deh, penilaiannya.
  15. PKn (Pendidikan Kewarganegaraan) berubah nama menjadi PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan). Perbedaannya, kalau sebelumnya lebih banyak pelajaran tentang ketatanegaraan yang harus dihapal anak, padahal sebetulnya belum waktunya anak SD belajar seperti itu.Sekarang lebih kepada sikap berpancasila dan gak hanya teori tapi perilaku sehari-hari terutama di sekolah juga dinilai. => Kalo gitu udah gak ada alasan lagi, kalo gak hapal pancasila, ya :)
  16. Chi gak tau apa di sekolah lain juga sama. Tapi berkaitan dengan kurikulum baru ini, untuk kelas 4 akan dibagikan buku 'kebaikanku'. Dimana setiap harinya siswa diminta mengisi kebaikan dan kesalahan apa aja yang mereka uah perbuat pada hari itu. Kemungkinan mereka berbohong itu ada, tapi di situlah kelebihannya karena anak dituntut untuk menilai diri sendiri dengan jujur, kan? Chi sendiri selalu menekankan ke Keke, sepintar-pintarnya berbohong ke manusia, Allah gak bisa dibohongi :)
  17. Kurikulum yang sebelumnya mulai kelas 4 s/d 6. nilai-nilai akademis harus dimasukkin ke Diknas. Tujuannya kalau sampe siswa nilai UANnya kecil, nilai akademis mulai dari kelas 4 itu bisa membantu kelulusan (Chi rasa hal ini yang gak banyak orang tau). Di kurikulum baru, peraturan itu tetap ada tapi dalam bentuk narasi laporannya.
  18. Pelajaran Komputer (TIK) termasuk yang ditiadakan tapi diintegrasikan ke seluruh mata pelajaran. Sekolah Keke-Nai tetep ada mata pelajaran komputer. Tapi karena diminta juga untuk diintegrasikan ke seluruh mata pelajaran, jadi kemungkinan ada tugas-tugas yang banyak berhubungan dengan penggunakan komputer termasuk siswa lihai mempresentasikan karyanya itu dengan komputer ketika diminta.
  19. Pelajaran Bahasa Inggris juga seperti TIK. Kalo Chi lihat seperti juga gak termasuk daftar pelajaran yang diwajibkan Diknas tapi kembali ke masing-masing sekolah. Karena sekolah billingual jadi di sekolah Keke-Nai bahasa Inggris masih ada. Tapi Chi gak tau di sekolah lain seperti apa.=> Dan untuk kelas 4 ini karena materi pelajarannya berubah, jadi lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia dulu. Sampai ada buku baru dalam bentuk bahasa Inggris dari yayasan pusat yang materinya sesuai dengan kurikulum baru.
  20. UN dihapus masih jadi wacana. Jadi sekolah tetap melakukan persiapan UN untuk siswa-siswinya.
Kurang lebih seperti itu gambaran kurikulum 2013 yang baru. Sekarang plus-minusnya menurut pendapat pribadi Chi :

Plus :
  1. Tas jauh lebih ringan bebannya. Kalau hari Rabu-Kamis, Keke malah cuma bawa 1 buku untuk pelajaran tematik aja (Hari lain ada pelajaran agama, bahasa sunda, bahasa inggris, dan komputer. Tapi tetep ringan juga). Tas yang ringan ini untuk jangka panjang bagus buat kesehatan anak. Karena anak SD itu, kan, masih bertumbuh kembang. Kasihan kalau masih kecil harus bawa tas yang sangat berat. Tas trolley, Chi rasa juga gak terlalu membantu. Karena untuk anak yang kelasnya ada di lantai atas tetep aja harus digendong tasnya kalau naik ke atas. => Dan ngomongin tentang beban tas, Chi jadi kasian sama Nai karena dia baru ikut kurikulum baru 2 tahun lagi. Jadi selama 2 tahun ini dia tetap bawa tas yang sangat berat. Duh :(
  2. Mendidik anak dengan pendidikan karakter itu juga lebih bagus daripada pendidikan yang berbasis kompetensi seperti sebelumnya. Karena membuat manusia lebih manusiawi, tidak menjadikan mereka "robot". Makanya Chi suka dengat kurikulum yang sekarang.
  3. Pelajaran akademis juga Chi nilai lebih pas untuk anak SD. Gak kayak sebelumnya, dimana otak anak dibikin melintir => lagi-lagi kasihan sama Nai, dia masih berat kurikulumnya. Sabar, ya, Nak. Tapi setidaknya kalau untuk akademis mungkin beban Bunda juga lebih ringan jadi bisa fokus ngajari Nai untuk akademis :)
  4. Di poin nomor 9, menurut Chi bagusnya anak jadi dituntut untuk suka membaca. Ya, syukur-syukur ke depannya minat baca masyarakat Indonesia semakin meningkat.
  5. Siswa juga dilatih untuk aktif. Presentasi-presentasi di depan kelas atau diminta aktif untuk bertanya membuat siswa menjadi berani tentu cara presentasi dan bertanyanya harus tetap sopan. => Nai walaupun masih pakai kurikulum lama, tapi Chi udah ajarin untuk lebih berani lagi bicara di kelas. Biar nanti dia udah terbiasa.
Minus :
  1. Setiap hari ada pelajaran tematik, kalo sekali ketinggalan bisa seharian anak belajar gak pake buku. Tapi kalau sampe ketinggalan bukan salah Diknas juga. Nanti jadi serba salah. Dikasih pelajaran banyak, bilangnya beban. Dikasih sedikit juga salah. Karena sebenarnya itu kewajiban kita untuk cek-ricek lagi sama buku pelajaran yang mau dibawa.
  2. Objektifitas bisa dipertanyakan. Walaupun pendidikan karakter itu sangat bagus tapi mendidik dan menilai karakter itu sebetulnya lebih sulit daripada menilai akademis. Kalau akademis. guru tinggal kasih soal setelah itu menilai. Nanti tinggal dilihat aja apakah siswanya itu nilainya bagus-bagus atau jelek-jelek? Tinggal tentuin siapa aja yang naik kelas berdasarkan nilai-nilai itu. Sementara menilai karakter itu lebih sulit. Chi aja yang 'cuma ' dikaruniai 2 anak, mendidik dan menilai karakter Keke dan Nai itu butuh proses panjang bahkan sampai sekarang dan nanti. Nah, kebayang gak seorang guru harus mendidik dan menilai karakter anak hanya dari awal tahun pelajaran trus berlangsung cuma 1 tahun aja? Dan yang harus mereka didik gak cuma 1-2 anak tapi puluhan, dengan setiap anak punya karakter masing-masing. Di sini Chi bersyukur, sekolah cuma memaksimalkan 26 anak untuk tiap kelas. Bagaimana dengan sekolah lain yang katanya bisa sampe 40 anak per kelas? Bisakah guru menilai secara objektif? Chi, sih, berpikiran positif dan berharap semoga banyak guru-guru yang bisa objektif. :)
  3. Masa transisi dan kurikulum yang benar-benar baru pula. Kurikulum sekarang bener-bener baru yang gak cuma sekedar ganti nama. Apalagi ini masa transisi, yang Chi tau dimanapun itu masa transisi gak pernah mudah. Kalau kata Chi, sih, kuncinya sabar. Semua pihak harus sabar :)
  4. Masih ada kebingungan dari guru-guru untuk mengisi penilaian. Karena selama ini, kan, guru-guru terbiasa mengisi dengan nilai, sementara sekarang harus berupa narasi. Menurut Chi, sih, itu karena belum terbiasa aja. Mungkin harus sering-sering bertanya sama guru TK gimana cara mengisi raport dalam bentuk narasi.
  5. Pilpres 2014. Umumnya saat pertemuan 2 hari lalu, orang tua murid suka dengan kurikulum baru tapi yang jadi kekhwatiran adalah adanya pilpres dimana kalau ganti presiden kemungkinan ganti menteri dan khawatir dengan adanya ganti menteri akan ganti kebijakan. Bisa-bisa kembali ke yang lama lagi kurikulumnya. Kalo Chi gak salah denger. kurikulum yang baru ini berlaku sampai 2016. Ya, semoga aja gak akan berganti lagi ke model kurikulum sebelumnya, ya. Tetep aja kurikulum yang berpendidikan karakter, kalopun ada kekurangannya diperbaiki.
Nah sekarang pertanyaannya.... kurikulum 2013, siapkah kita? Karena seperti dibagian minus poin nomor 2, Chi rasa untuk urusan karakter gak bisa sepenuhnya diserahkan ke sekolah. Orang tua - sekolah - murid harus semakin sering berkomunikasi. Selesai pertemuan itu, Chi malah langsung bilang ke wali kelas Keke, semoga gak keberatan kalau Chi sering-sering tanya tentang sikap Keke di sekolah. Alhamdulillah wali kelas gak keberatan, katanya malah seneng jadi bisa saling membantu pendidikan karakter anak. Nah, sekarang siapkah kita seperti itu? :)

Akhir-akhir ini Chi sering baca status yang di share beberapa teman di FB. Katanya di Australia, Guru SD lebih mengutamakan mengajarkan mengantri daripada matematika. Karena membutuhkan waktu hingga 12 tahun untuk anak bisa mendapat nilai-nilai positif dari mengantri, sedang untuk bisa matematika anak hanya butuh belajar intensif selama 3 bulan saja.

Nah, sekarang model pendidikan kita sedang mengarah ke sana. Tentu aja belum bisa langsung sebagus negara-negara yang udah dulu mengutamakan pendidikan karakter. Itu semua butuh proses yang panjang. Dan tentang segala kekurangan, Chi pikir sambil jalan aja perbaikinnya. Kalopun dianggap belum siap, trus siapnya kapan? Bisa-bisa gak jalan-jalan. Chi gak mau berpikir juga, mungkin karena mau pemilu jadi bikin kurikulum yang bisa memikat hati rakyat? Chi gak mau ribet-ribet kesana. Pokoknya jalanin aja dulu, yang penting udah ada perubahan seperti yang kita inginkan dan bersama-sama kita perbaiki. Semoga memang kurikulum 2013 ini lebih baik. Semangat, ah, buat semuanya :)
post signature

87 komentar:

  1. cbsa,,ppkn,,kyk balik jaman aku sekolah dulu ya mba,,waah,,klo kyk gni lembaga pendidikan tmptku ngajar sore bisa gulung tikar ini ha ha :) gk pp lah,,

    BalasHapus
  2. Buat anak koq coba2. . .Hihihi

    Setuju, lebih menekan-kan pada sikap ya, teh. Biar gak bermunculan lagi foto2 speedometer diatas 100. :D

    TIK dihapus. Gak masalah, yang penting saya masih bisa ngeBlog. Hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. sssttt gak boleh ngiklan hiihi

      semoga dg pendidikan karakter bs lebih baik, ya

      apa disru pada ngeblog aja, ya hahaha

      Hapus
  3. Anakku Nares kelas 1 SD Mak..kayaknya belum sepenuhn ya pake kurikulum 2013 ya..krn masih ada IPA, IPS, dll nya. Tematik terpadu ada juga sih... :D semoga tujuan dari kurikulumnya tercapai ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin kl ada IPA-IPS itu kebijakan dr sklh. Krn mnrt Diknas ditambah boleh, tp dikurangi jangan :)

      Hapus
  4. Hmmmm apalagi yang akan terjadi dengan anak2 kita yaa

    BalasHapus
  5. utk menuju pendidikan berkarakter, guru harus extra fokus dlm memahami satu persatu anak didiknya. Permasalhannya, apakah semua guru sudah mampu utk itu, karena ya.. itu tadi khawatir tidak obyektif dlm menilai anak didik. Pilpres juga menjadi masalah, karena biasanya menteri berganti, kurikulum pun ikut ganti, anak2 hanya sebagai ajang uji coba. Di kota saya juga sama, tidak semua sekolah menerapkan kurikulum baru ini. Kalaupun ada sekolah yg ditunjuk utk menerapkan kurikulum baru ini, hanya utk anak kelas 1 dan 4. Sekarang Farras kelas 2, jadi gak kena kurikulum baru :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama, Nai juga blm kena. Kayaknya masih 2 tahun, Mak.

      Seperti yg sy tulis kurikulum yg baru ini lebih bagus tp prakteknya memang mnrt sy justru lebih sulit dr yg sebelumnya. Makanya sy bertanya (termasuk ke diri sendiri) siapkah kita?

      Hapus
  6. wah mantep ringkesannya...kinan masih TK, TKnya sistem sentra jadi dibagi dalam beberapa sentra gitu...sentra persiapan 123, sentra persiapan ABC, sentra seni dan kreatifitas dll..murid yang nyari kelas...aku juga belom tahu apa ini penerapan kurikulum baru atau emang bukan....
    TFS mbak mira..jadi sedikit banyak update dunia pendidikan

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga nanti kalo Kinan udah SD, kurikulum yg ada skrg udh semakin berjalan dg baik, ya, Mak :)

      Hapus
  7. sungguh sangat disayangkan ya negeri kita ini, apa2 coba2....ganti mentri ganti kurikulum,ah basi.... *kesel sendiri hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. jgn kesel, Mak. Mendingan kita ngejus aja haha

      Hapus
  8. Keren ringkasannya, Chi. Untungnya Intan udah gede, kls tiga SMU dan sebentar lagi tamat, jadi emaknya ga direpotkan untuk ikutan belajar dan mensupportnya menghadapi pola kurikulum baru ini. Tapi sepakat dg Chi, setiap sesuatu pasti ada plus minusnya, walau masih coba-coba, hendaknya ini memberikan nilai plus yang jauh lebih banyak dibandingkan nilai minusnya yaaaa. Karena, untuk anak, walau coba-coba, tapi tetap yang bernilai positif tinggi sih maunya. :)

    Semangat ya untuk semuanya. Thanks for share, Chi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kl memang bagus kyknya hrs kita support, ya, Mbak. Walaupun jalannya mungkin masih terseok2.

      Salam buat, Intan. Semoga lulus dengan nilai baik nanti :)

      Hapus
  9. Kurikulum tematik itu sepertinya lebih mudah bagi anak2 untuk belajar ya Mbak. Semuanya saling terkait. Dari sisi orang tua kayaknya juga lebih mudah karena gak mesti beli buku bejibun. Setidaknya ini lah yang saya alami sewaktu anak2 SD dulu krn sekolah mereka sudah menerapkan hal ini. Reportnya karena kita terbiasa belajar dari buku yang banyak, mau ulangan BI atau SEjarah harus melihat buku yang sama hehehe..Kadang2 saya jadi bingung

    BalasHapus
    Balasan
    1. banyak yg bilang gitu, Mbak. Termasuk anak2 (anak sy dan anak2 teman2 sy) juga mengakui kalo pelajaran mereka lebih gampang.

      Ini memang masalah kebiasaan. Sy juga awalnya kagok hehe

      Hapus
  10. Kurikulum baru? wiih baru tau.. *kemana aja saya?* hehe.. Sekolah Daffa' masih kurikulum lama sih :D

    BalasHapus
  11. aby sudah seminar kur baru untuk PAI... kayane emang lebih bagus ya Mbak..semangat Nai.. gpp walaupun berat tasnya.. hehe

    BalasHapus
  12. Sekolah anakku pakainya kurikulum Inggris, hampir sama dengan kurikulum yang baru. Anak-anak lebih semangat belajar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. mnrt cerita bbrp teman sy anak2nya juga lebih senang belajar dg kurikulum baru ini :)

      Hapus
  13. Saya makin bingung dengan pergantian kurikulum. Tp saya tetap mendukung jika memang itu untuk kemajuan, bukan sekedar proyek belaka :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak usah bingung. Diikutin aja. Klpun itu cuma proyek belaka jgn mau begitu aja ngikutin, hidup kan pilihan hehehe

      Hapus
  14. Teorinya sih sudah bagus mbak.. semoga saja penerapannya juga bagus sehingga hasil yang diinginkan dapat tercapai.

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga, prakteknya juga sebagus teorinya, ya, Mbak :)

      Hapus
  15. Selama ini negara kita sepertinya terlalu berambisi mengejar ketinggalan dari negara2 lainnya... dengan membebankan kurikulum yang sangat berat bagi anak2 sejak SD.

    BalasHapus
    Balasan
    1. skrg mengejar ambisi kurikulum yg beray diturunkan diganti sm pendidikan karakter. Semoga menjadi lebih baik :)

      Hapus
  16. masih blum ada arahan soal kurikulum baru ini dari skul Bun..tapi kelas I sih bukunya udah tematik2 gitu, sementara Dzaky dikelas n gak pakai kurikulum baru itu, hadeeh pusing deh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. kyk sy. Nai masih pk yg lama, Keke udah yg baru :D

      Hapus
  17. wah, aku gak ngerti nih kalo bahas kurikulum, kayaknya dari jaman aku sekolah sampe sekarang sistem pendidikan udah ganti2 terus ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebetulnya sy pribadi gak terlalu mau ambil pusing sm sistem yg berubah2. Sy lebih memilih mikir bagaimana supaya anak seneng belajarnya apapun sistem yg ada :)

      Hapus
  18. aplikasinya kapan? kayaknya masih sama aja tuh, Chi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. udah dr tahun ajaran ini, kok. Kalau masih keliatan sama, spt yg sy tulis di postingan ini bs jd ada 2 kemungkinan :

      1. Kurikulum yg baru ini, kan, baru 30% sklh yg ditunjuk itupun cm kelas 1 & 4 aja utk SD, SMP kls 7, dan SMU kls 10. Jd mungkin anaknya mbak Hilsya blm merasakan perbedaan krn sklhnya blm melaksanakan kurikulum baru dan sy juga gak tau anaknya Mbak Hilsya ada di kelas berapa :)

      2. Kl sklhnya udah ditunjuk tp ternyata blm melaksanakan, mungkin itu bs ditanyakan ke sekolahnya kenapa2nya Mbak :)

      Hapus
  19. Kayaknya lebih enakan zaman kita sekolah dulu deh Mbak satu buku punya kakak bisa di pke sama adik-adik kita selanjutnya. Lagian kurikulum CBSA kan sudah ada sejak zaman kita, mungkin penerapannya aja yang di perbaiki mengikuti perkembangan pendidikan sekarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kl buku, sebetulnya sy masih tanda tanya sm sy sp skrg. Krn utk SD aja kan katanya ada BOS. Nah, mslhnya yg sy tau dr bbrp temen dan keluarga yg ngalamin sendiri ada yg bukunya gratis tp ada juga yg tdk. Knp bs beda2? Itu yg masih sy bingung sp skrg :)

      CBSA memang produk lama, tapi kan sempet gak ada. Dan skrg diadain lagi. Cuma kl sy berpikir lagi, dulu sy juga akrab dg istilah CBSA ini, tp sbg siswa sy juga gak merasa diminta aktif sm sklh. Penilaian jg tetap menggunakan angka2. Malah justru sklh anak2 sy dr kurikulum msh pk yg lama, siswanya bs aktif di sklh

      Hapus
  20. waktu denger kurikulum 2013 ini tematik, aku cuma senyum senyum aja karena emang di sekolaan anak anak kurikulum nya udah tematik, trus emang raportnya ada 2 chie, 1 isinya angka 1 lagi isinya narasi..kalo aku sih ngeliatnya anak anak lebih enjoy dan happy belajar nya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. enak kl gitu udah gak kagok lagi gurunya. Iya, keliatannya mereka lebih enjoy dan happy.

      Sy juga senyum2 pas tau kurikulum ini. Senyum krn seneng hihihi

      Hapus
  21. Anak didik selalu menjadi ajang percobaan... bagaimana Nasib negeri ini ?/ apakah nanti setelah anti Mentri Pendidikan di tahun 2014 akan ganti lagi ?? beee... parah.. parah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe sebetulnya org tua mendidik anak itu kan juga spt 'coba2'. Krn gak ada yg namanya sklh org tua. Dan segala macam teori juga blm tentu cocok plek ketiplek utk anak kita krn masing2 punya karakter yg berbeda.

      Lagipula bukanka kurikulum yg baru ini spt yg byk org mau? Lebih mengutamakan pendidikan karakter? Krn katanya di Indonesia itu nyaris tdk ada pendidikan karakter? Udah gt muatan pendidikan akademisnya juga berat bgt.

      Kl sy, sih, berpikiran positif aja dulu. Akhirnya seperti yg diharapkan. Sambil berharap semoga semakin baik sistemnya dan gak gonta-ganti lagi :)

      Hapus
  22. Bila memang penekanan kepada kurikulum 2013 ini menuju dan menitik beratkan pada pendidikan karakter, kalau menurut saya sih, hal ini kembali kepada dasar pembentukan karakter anak dari usia sedini mungkin dalam hal pemahaman materi pelajaran yang ditangka.

    Namun, dalam hal ini juga harus menjadi tugas dari setiap orang, bahwa dalam pendidikan karakter anak tidak bisa dilepas dari pendidikan budipekerti yang juga harus diterapkan bagi para generasi anak bangsa ini. Jangan sampai hal yang menjadi dasar karakter budipekerti malah terlupakan ya Mba. Sebab hal ini sudah tipis dalam kehidupan dunia anak pada saat sekarang ini. He,,, he,,,, he,,,,

    Salam wisata

    BalasHapus
    Balasan
    1. pendidikan budi pekerja memang seharusnya sepaket sm pemdidikan karakter. Dan sepertinya begitu. Yg bs jd masalah kan gimana prakteknya di lapangan. Ya, semoga aja kita bs saling membantu, ya. Krn pendidikan spt itu gak cuma sekolah yg bertanggung jawab :)

      Hapus
  23. masih tetap kok anak dijadikan eksperimen kurikulum oleh pemerintah.. Yah, semoga nanti saat mahkota ganti, enggak gonta ganti lagi kurikulum.. mumet rek gurune, apalagi muride

    BalasHapus
    Balasan
    1. hrs diakui kelemahan pendidikan di negeri kita memang msh suka gonta-ganti. Tp apapun sistem pendidikannya, sy menolak kl anak2 sy dikatakan eksperimen kurikulum krn apapun sistemnya sy tetap punya cara sendiri utk mendidik anak2 sy. Insya Allah gak mumet, kok :)

      Hapus
  24. benerrrrrrrrrrr........... aku sendiri ngrasain bedanya... si kakak kls 3, adekny kls 1. yg kls 3 bener.... pelajarannya susah dr kls 1. tp yg kurikulum bru ini, kls 1 gampang.... tp y itu... msh percobaan.... ntr ganti lg... pdhl smua blm familiar sm kurikulum ini, ganti lagi... yg kasian sbnrny sp? emaknya ato anaknya ya... hehheehee....

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahah kasian siapa, yaaaa? :p

      itu juga jd kekhawatiran sy, Mbak Sekaligus harapan semoga nanti siapapun menteri pendidikannya gak lagi gonta-ganti sistem tp justru memperbaiki. Semoga, ya :)

      Hapus
  25. mengantri membutuhkan waktu 12 tahun untuk dipetik hikmahnya? pantas saja mengantri selalu diutamakan :)

    BalasHapus
  26. Pergantian kurikulum tu ribet! Buku-buku pelajaran kakaknya gak bisa lagi ama adiknya. So, biaya gak keduganya kan jadi membengkak? Tapi it's OK, kita ambil hikmah dan pemikiran positifnya! Semoga anak-anak Indonesia jadi semakin pinter! Aamiin.. :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. biarin aja urusan yg berkepentingan itu. Kita mah jgn mau dibikin ribet hehehe

      kl ttg buku sy udah jawab di salah satu komentar di atas

      kl ttg biaya, sy lebih milih sekolah aturan pembayarannya jelas. Artinya cuma spp dan iuran tahunan aja. Selebihnya gak ada iuran apapun :)

      Hapus
    2. Yah, dalam hal apapun kita emang lebih condong ke arah yang fasilitasnya tinggi tapi dg pengeluaran serendah mungkin. Itu kan prinsip ekonomi. Walopun masih banyak ortu siswa yg masih labil ekonomi. *keadaan finansial ortu yg gak stabil. :-)

      Apalagi kalo biaya sekolah memberlakukan diskon atau cashback kayak beli motor. Pasti lebih banyak anak Indonesia yg sekolah. :-)

      Hapus
  27. Dalam menyusun suatu kurikulum pasti ada Working Group (Kelompok Kerja) Draft awal mereka lalu di paparkan di depan pejabat terkait. Lalu diskusikan dan disempurnakan.

    Para penyusun kurikulum tentu sudah melakukan aneka kegiatan agar kurikulum yang dihasilkan tidak asal jadi tetapi teruji untuk kurun waktu tertentu (misalnya 5 tahun). Jika dalam waktu tersebut tidak valid lagi maka disusun kurikulum baru.

    Terima kasih penjelasannya

    Salam sayang selalu dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, Pakdhe. Pokoknya buat sy masing2 kerjakan saja tugasnya dg baik :)

      Hapus
  28. pergantian kurikulum yang selalu saja membuat kacau dan bingung...muridnya juga bingung terlebih pencapaian yg diharapkannya semakin kabur...:(

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak usah dibikin bingung. Di setiap zaman tetep ada yg sukses, kok

      Hapus
  29. semuanya ada plus minusnya ya mbk :)

    BalasHapus
  30. Betul Chi, pendidikan versi negara kita memang lebih memprioritaskan segi akademis, agar jenjang pendidikan formal yang baik bisa diikuti optimal oleh para siswa. Misalnya nih, kalo dari SD favorit, diupayakan bisa ke SMP favorit. Kalo udah di SMP favorit, diharapkan masuk SMA favorit biar bisa kuliah di PTN favorit.
    Dengan demikian siswa selalu dipacu hanya untuk mengejar bilai bagus, bukan karakter dan perilaku positif.

    Dua orang keponakan saya, satu di tingkat SD, satunya SMP, kebetulan dua-duanya sekolah di sebuah sekolah internasional di Surabaya sejak mereka play group. Pas ikutan UAN SD kemarin, dia malah dikasih bocoran soal sama guru-gurunya, karena para siswa di sekolah tersebut nggak paham yang namanya IPA, bahasa Indonesia, atau apapun mata pelajaran yang dijadikan UAN.

    Tapi untuk perilaku, keberanian berpendapat dan pemahaman terhadap permasalahan, mereka betul-betul mendalami. Contohnya nih, pas saya ajak ke Gramedia, mereka minta beli bukunya di Periplus saja karena mereka lebih nyaman berbahasa Inggris. Dan tau nggak topik apa yang dipilih anak kelas 1 SMP dan kelas 4 SD?
    Ilmu pengetahuan, Chi...bukan cerita fiksi!
    :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. selalu ada plus minusnya, ya, Mbak. :)

      Hapus
  31. Semua emang butuh proses ya mak, daku juga lagi menimbang2 skolah spereti apa yg bagus buat thfa nanti

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga Thifa dpt sekolah yg cocok ya

      Hapus
  32. rangkuman yang komplit Jeng Chi, sungguh kerjasama sekolah dan orang tua diharapkan dalam pembelajaran putra-putri terkasih. Salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. pendiidkan tanggung jawab bersama ya Mbak. Jd butuh kerjasama yg baik dr byk pihak :)

      Hapus
  33. Semoga pendidikan anak-anak Indonesia menjadi lebih baik.

    BalasHapus
  34. penilaiannya jd kaya' di TK gt ya mak.. Wah klo pas ambil rapot bisa panjang nih curhat2an ma gurunya. Bs tambah panjang antriannya.. hehehe. Coz ga pake angka, jd perlu penjelasan lgsg dr gurunya secara verbal jg. Soalnya kan ga semua guru jago menarasikan sebuah penilaian. Eh mgkn klo gurunya itu blogger, pasti bisa.. hhihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bakalan ama. Jd kayaknya hrs dtg pagi biar dpt antrian awal hihi

      Hapus
  35. sudah kaya anak TK lagi ya Mak untuk penilaiannya.
    Semoga pendidikan Indonesia semakin ke sini semakin baik mutunya dan untuk orang tua harus lebih ekstra lagi belajar mengajari putera-puterinya soalnya pelajarannya susah-susah sekarang :D

    BalasHapus
  36. setuju banget dengan kurikulum yg ini. jadi pengen pakai ijasah guruku lagi. xixi.....

    BalasHapus
  37. Kalau kurikulum ini berdampak baik untuk pendidikan Indonesia, jangan sampai beberapa tahun ganti lagi. Salah satu faktor mengapa pendidikan Indonesia kualitasnya terpuruk ya karena pergantian kurikulum terus menerus. Finlandia sebagai negara dengan pendidikan sekolah terbaik konsisten menjalankan kurikulum yang sama sejak tahun 70, tidak terpengaruh keadaan politik negara. Pergantian kurkulum begitu cepat membuat murid harus terus menyesuaikan diri dengan kepentingan pemerintah. Jadinya terbalik, bukan pemerintah yang menyesuaikan diri dengan kebutuhan pendidikan siswa, justru siswa yang masih kecil-kecil ini yang menyesuaikan diri dengan maunya pemerintah...

    BalasHapus
  38. Sepertinya kurikulum 2013 lebih baik darii kurikulum kompetensi. Tapi whateverlah, yang saya harapkan hanya standar kelulusan PT tidak lagi 144 SKS, dikurangi -__________-

    BalasHapus
    Balasan
    1. yg penting tetep semangat belajar :)

      Hapus
  39. Jadi inget, pas masuk sma kelas 1(tahun 1994) saya ngalamin kurikulum baru dan bikin saya pusing. Mulai dari semester jadi triwulan, penjurusan baru kelas 3 dan kebijakan aneh lainnya. Sampai kapan, ya kebijakan pendidikan di Indonesia enggak dibongkar pasang melulu? Kesannya anak-anak sekolah jadi korban eksperimen nih.

    O, ya jaman SMA eh dulu sempet ganti nama jadi SMU (akronim yang enggak penting dan enggak keren kedengarannya hehehe), nama mapel PMP diganti jadi PPKn, seh sekaranng balik lagi ya, jadi PPKn? Balik lagi jadi CBSA pula? Ehm, nostalgia, kah? hehehe

    Padahal Jepang, Finlandia bisa jadi percontohan sistem pendidikan yang sukses, ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga ke depannya spt itu. Gak bongkar pasang :)

      Hapus
  40. Mbak Chi detail banget ya perhatiannya ke kurikulum. Lha saya juga [mendadak] seorang ibu tp blm paham seluk beluk pelajaran sekolah.

    Palingo yo ngancani jika ada PR Mbak #Ibu songong

    BalasHapus
    Balasan
    1. buat catatan sy juga, Mbak. Makanya ditulis detil :)

      Hapus
  41. Gurunya kk ina juga sekarang lagi penataran kurikulum baru 2013....tp mungkin penerapannya nanti yach di tahun ajaran baru...soalnya kalo sekrangkan tanggung....mudah2an aja ina nanti bisa ngikutin pelajaran dgn baik.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga apapun kurikulumnya, Ina tetep berprestasi, ya. aamiin

      Hapus
  42. waduhhh sekarang udah th 2014 nih sob :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya, gpp. Kurikulumnya tetap berlaku, kan

      Hapus
  43. Kalau nilai sikap ada c naik kelas atau tidak

    BalasHapus
    Balasan
    1. di kurikulum baru semua sisw harus naik kelas

      Hapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge