Lanjutan dari Seminar Parenting : Pendidikan Karakter Anak dengan pembicara Prof. DR. H. Arief Rachman, M.Pd di sekolah Keke dan Nai beberapa waktu lalu.

Chi baru tau kalo Pak Arief, walopun bicaranya lemah lembut tapi tegas. Beliau juga gak segan mengkritik tapi dengan cara yang apik, menurut Chi. Nah, pas seminar waktu itu Pak Arief mengkritik ketua yayasan sekolah Keke dan Nai.Tapi Chi merasa kritiknya kena ke semua :D

Jadi gini, acara dibuka dengan sambutan dari ketua yayasan. Dari sekian panjang sambutannya, Pak ketua yayasan bilang kalo kita harus seperti bangsa Jepang. Ya, pokoknya intinya generasi ke depan harus seperti Jepang.

Ketika giliran Pak Arief bicara, beliau tanya ke semua yang hadir tentang bagaimana pandangan kita terhadap media? Lebih banyak membawa pengaruh baik atau buruk? Serempak pada jawab buruk, dong.

Udah tau buruk, tapi pernah gak kita berpikir, kok, media kita selalu memberitakan sisi buruk pemerintah, ya? Padahal seburuk-buruknya, pasti ada lah kebaikannya. Kok, media kita jarang sekali menampilkan prestasi bangsa Indonesia? Lebih banyak membesar-besarkan berita tentang ribut di sana-sini, padahal prestasi anak bangsa juga banyak. Kalopun berita tentang prestasi, biasanya prestasi dari negara lain yang di beritakan. Mau itu pemerintah, hiburan, dan lain-lain.

Kita udah tau media membawa pengaruh buruk, tapi kita sendiri sadar atau enggak terbawa arus media. Banyak yang langsung percaya tanpa mencari tahu berita pembanding.

"Selama ini kan kita hanya melihat yang baik-baiknya saja tentang Jepang. Sekarang saya mau cerita tentang segala keburukannya. Saya punya beberapa puluh kenalan warga negara Jepang yang sampai sekarang masih tinggal di sana, dan mereka sendiri yang bercerita kepada saya"

Penjabaran Pak Arief tentang keburukan bangsa Jepang bikin kami yang hadir tertawa. Intinya, beruntung deh kita tinggal di Indonesia! :D

Maksud Pak Arief menceritakan keburukan bangsa Jepang tentu saja bukan sekedar ingin membuat kami lebih mensyukuri sebagai WNI dan mengolok-olok bangsa lain. Tapi maksud Pak Arief setiap negara itu pasti punya kelebihan dan kekurangan. Masalahnya, kita ini terlalu sibuk menjelekkan bangsa sendiri dan bangga dengan bangsa lain. Akibatnya apa? Kita selalu ingin mencontoh bangsa lain, seperti yang di ungkapkan oleh Pak ketua yayasan *beneran loh Pak Arief nunjuk Pak ketua yayasan hihihi.

Bangsa Jepang dan juga bangsa lain yang dianggap maju itu karena mereka selalu bisa menampilkan wajah baik di dunia. Sementara yang buruk-buruk, konsumsi intern aja. Akhirnya warga dunia pun menilainya baik. Pak Arief mencontohkan film-film, lagu, fashion, dan industri lain dari negara lain yang kebanyakan memperlihatkan kehidupan negara mereka yang sukses dan gemerlap. Sehingga yang nonton pun jadi silau :)

Berbeda dengan bangsa kita yang selalu aja menampilkan wajah buruk. Jadi bagaimana bangsa lain bisa tau kebaikan bangsa kita kalo yang ditampilkan selalu buruk. Kita itu terlalu sibuk dengan keburukan.

Chi pikir betul juga, ya. Ambil contoh kayak film Hollywood, sering banget kan Amerika bikin cerita sebagai polisi dunia? Mereka yang berjasa menyelamatkan dunia ketika bumi diserang alien, terkena bencana dahsyat, dan lainnya. Sadar atau tidak, kita akan berpikir Amerika memang hebat.

Padahal Chi juga pernah beberapa kali menonton film dokumenter atau bahkan film seri, ternyata banyak juga, kok, sisi buruk Amerika. Yang bahkan kita di Indonesia ini lebih baik. Cuma memang harus diakui 'gempuran' berita tentang kehebatan Amerika itu lebih dahsyat, hingga pikiran masyarakat pun terpengaruh.

Untuk ruang lingkup yang lebih kecil lagi, bisa juga di praktekkan ke keluarga atau bahkan ke diri sendiri. Kalo kita lebih sering menampilkan wajah masam, selalu mengeluh, banyak ngegalau, dan ngomel. Wajar kalo orang akan menilai karakter kita negatif.

Karena menurut Pak Arief, yang menilai karakter kita seperti apa itu orang lain, bukan diri sendiri. Tapi kita yang harus membentuk. Kalo kita ingin dinilai berkarakter baik oleh orang lain, maka tunjukkan tampilan yang baik.

Jadi mulai sekarang mau dong menjadi Indonesia. Kenapa tidak? :)

Yang mau ikut proyek WB, menulis buku kumpulan cerita tentang parenting. Silakan, DL masih sampe tanggal 31 Mei 2013. Saya tunggu, ya. Baca syarat dan ketentuan di Woro-woro : Buku Kumpulan Cerita Parenting :)