Senin, 13 Januari 2014

Rapor Kurikulum Baru

Akhir Desember 2013, Keke dan Nai terima rapor semester 1. Tahun ini, Keke mendapatkan kurikulum baru 2013. Jadi, rapornya pun baru. Di bawah ini penampakan rapor barunya.

 Kiri - rapor kurikulum baru. Kanan - rapor lama

Rapor baru 2013 lebih besar dan lebih tebal daripada rapor lama. Penyebabnya :
  1. Rapor kurikulum baru isinya seperti rapor TK lagi. Penuh dengan deskripsi. Semua tingkah laku anak kita ditulis. Karena penialain kurikulum 2013 adalah karakter bukan angka.
  2. Ada halaman untuk nilai akademisnya juga. Kalau ini, sebetulnya inisiatif sekolah. Karena rapor kurikulum baru harusnya murni berisi tentang karakter anak selama di sekolah. Tapi kenyataannya, gak semua orang tua setuju dengan penilaian murni karakter. Ada beberapa orang tua yang kurang sreg kalau dalam rapor anaknya mendapatkan 'catatan khusus'. Ada kemungkinan jadinya nanti guru-guru dianggap pilih kasih. Untuk menghindari hal tersebut, sekolah berinisiatif untuk memberikan nilai akademis juga diraport. Setidaknya orangtua dapat menilai sendiri kecerdasan anaknya secara karakter maupun akademis.
Ngomong-ngomong tentang nomor 2, Chi setuju sama inisiatif sekolah. Kurikulum 2013 ini menurut Chi lebih baik daripada kurikulum sebelumnya. Tapi, prakteknya lebh sulit. Resikonya juga lebih besar. Oiya, info lengkap seperti apa kurikulum yang baru, silakan baca tulisan Chi yang berjudul "Kurikulum 2013, Siapkah Kita?"

Menilai karakter anak itu gak semudah memberi penilaian akademis. Di penilaian akademis, guru tinggal menilai melalui hasil ulangan harian, UTS, dan UAS. Semua hasil tes itu pun diberikan ke orang tua setelah dinilai. Jadi, orang tua bisa menilai apakah anaknya bisa mengikuti atau tidak.

Sementara karakter gak sesimpel itu. Kita menilai karakter anak sendiri aja seringkali masih terus mencari. Setiap anak mempunyai karakter yang berbeda. Bahkan sesama saudara kandung sekalipun. Nah, kabayang kan kalau setiap wali kelas harus bisa memahami semua karakter anak muridnya satu per satu?

Kalau gak sesuai dengan harapan orangtua, bisa jadi mereka akan menuduh gurunya pilih kasih. Padahal mungkin guru-guru sudah berusaha menilai karakter masing-masing anak seobjektif mungkin. Makanya, akhirnya sekolah berinisiatif untuk memberi penilaian akademis juga di rapor.

Satu lagi yang suka bikin Chi gregetan kalau ngobrol dengan sesama orangtua yang anaknya juga mendapat kurikulum baru (gak cuma orangtua murid di sekolah Keke aja). Sebelum ada kurikulum baru, suka ada aja yang protes katanya pendidikan di kita ini terlalu mementingkan nilai akademis, bukan karakter. Pelajaran anak-anak semakin susah, bikin anak-anak jadi stress sejak kecil. Materi pelajaran SD aja udah berat banget kayak anak SMA jaman orangtuanya dulu. Belom lagi beban tas sekolah yang sangat berat, saking banyaknya buku pelajaran yang harus dibawa.

Tapi, di kurikulum baru banyak hal yang selama ini jadi protes diperbaiki. Yang diutamakan adalah karakter, materi pelajaran lebih mudah (pas untuk anak SD), dan tas sekolah jadi jauh lebih ringan. Eits, ternyata tetep aja ada yang protes, lho.

Katanya, kenapa bobot pelajaran harus diturunkan. Itu sama aja mundur ke belakang karena gak bikin anak jadi pinter. Kenapa karakter? Nanti gak ketauan anak kita pinter atau enggak. Dan, segala protes lainnya. Yang bikin Chi gregetan, yang protes tuh orangnya itu-itu ajah. Duh, ibu-ibu, bapak-bapak, maunya apa, siiiihhhh? Tapi, ya, sudahlah biar itu jadi problem yang suka serba salah hehehe :p

Gimana dengan Keke? Alhamdulillah, penilaian wali kelasnya baik-baik aja. Sebetulnya, rapor Keke diambil sama K'Aie. Chi ambil rapor Nai. Menurut K'Aie dan juga catatan di rapor, secara umum Chi ambil kesimpulan kalau Keke baik-baik aja selama di sekolah.

Penilaian akademisnya pun alhamdulillah juga bagus-bagus. Mayoritas di atas angka 90. Yang lumayan drop adalah pelajaran bahasa Arab. Keke dapet 78, mendekati KKM. Tapi, Chi coba mengerti penyebabnya, yaitu:
  1. Ini pertama kalinya Keke belajar bahasa Arab
  2. Chi juga selama ini gak pernah belajar bahasa Arab. Jadi, Chi dan Keke sebetulnya sama-sama belajar dari nol hehehe. Sekedar info, bahasa Arab tentu aja beda dengan belajar iqro dan membaca Al-Qur'an, ya.
  3. Di sekolah, menurut cerita Keke, untuk pelajaran bahasa Arab sempet gonta-ganti guru. Awalnya guru yang seharusnya mengajar bahasa Arab, cuti melahirkan. Padahal tahun ajaran baru dimulai. Setelah cuti melahirkan, gak taunya resign. Jadinya, gonta-ganti guru pengganti. Namanya juga gonta-ganti guru pengganti, walopun yang diajarkan sama tetep aja akan beda-beda hasilnya. Dan, mungkin sedikit menimbulkan kebingungan. Udah gitu materi UAS juga salah info. Katanya cuma sampe bab 2, tapi gak taunya sampe bab 3.
    Chi gak menyalahkan sekolah, kok. Chi cuma memaklumi kalau Keke dapet nilai 78 untuk bahasa Arab. Sekarang, tinggal gimana caranya mengajarkan Keke mengejar ketinggalannya dlama bahasa Arab. Walopun Chi juga msih sangat belajar untuk bahasa Arab.
Jadi, seperti itu lah kira-kira rapor kurikulum baru di sekolah Keke. Ada yang udah dapet kurikulum baru juga? :)
post signature

27 komentar:

  1. Rapor anakku dari dulu juga seperti iu Mak. Tak ada nilai angka, hanya pencapaian level aja.

    BalasHapus
  2. bagus yaa..mulai ga membebani anak keliatannya. Moga2 percobaannya ga cuma setahun ya mak. Yg ditakutin (ktnya) cepatnya pergantian kurikulum. Tiap ganti menteri ganti kurikulum (sotoy deh eike).
    Soal protes, yah emang ga bakalan ada yg perfect kali ya mak. Tinggal gimana kita menyikapinya. Cuma kalo protes mulu dan orangnya yg L4 (loelagiloelagi), begah juga kali ya sebagai pendengar ;)

    BalasHapus
  3. Dari pengalaman saya Mba, angka merupakan sebauh standar penempatan saja. yangterpenting berapa besar atau kecil nilai sebuah stnadartnya, prestasi dan suport itulah yang diperlukan anak dari orang tuanya. Dengan tidak mempermasalhakan sebuah angka nilai merupakan langkah yang patut kita ambil agar anak tidak meraa tertekan ya Mba. karena dunai anak adalah dunai main untuk mendapatkan sebuah prestasi yang dia gemari.


    Salam

    BalasHapus
  4. Orang tua berpartner dengan sekolah dalam pendidikan putra-putrinya, senang sekali berpartner dg Jeng Chi yg senantiasa berpikiran terbuka positif ini. Selamat berproses dan berprestasi ya Keke dan Naima. Salam

    BalasHapus
  5. Kalo saya, kemaren kebetulan dipercaya oleh 3 wali kelas (yang kebetulan waktu itu mereka ujian PLPG) untuk mengisi raport kurikulum 2013 ini. Benar memang diraport kurikulum 2013 ini penilaannya memang lebih kepada karakter bukan angka.

    BalasHapus
  6. Kl dulu penilaian karakter sllu larinya ke saya,tapi cuma 1 kolom aja...guru bk nya cm saya sendiri jd kasihan kan kl byk kolom hahaha....bntr lg gnt presidn.spa tw gnt mentri..psti kurikulum gnt lg...miris :(

    BalasHapus
  7. Rapor-nya sama kayak punya Kk Rasyad. Kaget juga dikasih 2 buku kayak map tebel ini. Yg satu rapor, satunya kumpulan kertas ulangan. Waktu Aa Dilshad di Palangkaraya, rapotnya jg modelnya spt ini tapi ukurannya kecilan lg dan msh pake sistem nilai yg lama.

    BalasHapus
  8. Terkadang saya bingung dengan sistim penilian hasil di raport anak sskolah sekarang...terkesan banyak point2 nya...berbeda sama sekolah dulu yg sederhana..hehe

    BalasHapus
  9. Rapot model gini tentu yang repot, mikir standart dan capek nulisnya adalah wali kelasnya. Tapi ini hal yang positif karena penilaian berdasarkan karakter lebih memberikan makna.
    Positipnya lagi, Mbak Chi bisa ikutan belajar bahasa arab

    BalasHapus
  10. waw.. keke keren banget mayoritas nilainya di atas 90 :)

    BalasHapus
  11. kok Bo tetap dapet raport model lama yaaa mak..hmmm....atau itu yang model baru? karena Bo memang baru kelas 1..tapi bicara soal karakter, memang susah susah gampang...paling tidak, guru dituntut untuk benar-benar memperhatikan murid, tidak secara general aja...apapun standar penilaian yang digunakan, saya sih tetap memastikan mereka menyukai apa yang mereka pelajari..

    BalasHapus
  12. rapot Cici masih rapot lama, tapi rapotnya memang beda dengan rapot SD umum, Cici sekolah di SDIT jadi agamanya dapet lima bidang yakni alquran, fiqih, ski, aqidah dan bahas arab.
    btw ... Keke pinter yaaa, seneng deh

    BalasHapus
  13. Raport anak saya juga kaya begitu, asyiknya kita jadi mudah evaluasi perkembangan belajar anak, dan tau dimana lebih kurangnya.. :)

    BalasHapus
  14. Keke heiibaaatt nilainya rata2 90 ... ;))

    apalagi pas baca tentang penilaian gurunya yaa...waah aku juga pasti bakalan exciting kalo nanti baca rapot anak nantinya..:)))

    BalasHapus
  15. kayaknya tiap ganti menteri ganti kurikulum ya mba, anak2 kadang jadi bahan percobaan kurikulum ajaa hehe

    btw: bagus nilai anak2nya mba D

    BalasHapus
  16. anak-anakku belum dapat raport model baru. Baru yang SMA malah yang nilainya 'cuma' huruf huruf. A dan B banyakan B-nya. hehe

    BalasHapus
  17. begitulah manusia bu, selalu merasa tidak pernah puas..kalau semuanya belum sesuai dengan keinginannya..jadi jangan heran...kalau besok hari..raport ditiadakan...kemungkinan mereka juga bakalan protes lagi.....keep happy blogging always..salam dari makassar :-)

    BalasHapus
  18. Penilaian yang tak ada ukuran pasti memang sulit dan subyektif. Beda dengan matematika dengan nilai antara 0-100.
    Semoga anak-anak tak selalu jadi kelinci percobaan
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
  19. Memang rapornya lebih tebal..kan detail kayak TK penilaiannya ..dan tas anak kok masih berat walau sudah ada tematik2 gitu Bun..

    BalasHapus
  20. selamat ya keke dapat penilaian yang bagus dari gurunya,,, semoga semakin semangat belajarnya
    membaca deskripsi mbak chi tentang kurikulum 2013 keknya tantangan menjadi guru semakin gede ya, tapi mudah2an dengan kurikulum baru ini bisa menghasilkan anak didik yang lebih berkarakter baik...:)

    BalasHapus
  21. ya kurikulum baru rapotnya balik seperti TK ya myr. Sekolahnya ikut ditunjuk kurikulum baru juga ya

    BalasHapus
  22. Pada kurikulum 2013, guru harus lebih melakukan pendekatan dengan anak. Kalau pendekatan tidak ada, bagaimana bisa menyimpulkan karakter anak, kan. Dan itu lumayan berat. Hehehe

    Lebih mudah belajar B.Inggris ketimbang B. Arab ya, Keke. :)

    BalasHapus
  23. Baru besok dapet rapor anak... Kyk gmn ya??

    BalasHapus
  24. Nadya baru mau masuk SD, tapi aku seneng2 aja sih dengan kurikulum baru ini. Aku lebih setuju kalo anak enggak melulu dinilai oleh angka :)
    Apalagi di poin 10 di posting yang di-link sama Chi, pelajaran anak harusnya emang lebih mudah tapi komprehensif. Jadi ilmunya bener-bener kepake.
    Kalo cuma 30% sekolah yang nerapin, sekolah Keke termasuk yang bagus dong ya :)
    Mudah-mudahan kurikulum baru nanti cocok sama Keke :)

    BalasHapus
  25. mak, maaf ya, sebelumnya susah banget mau komen. eh, tau-tau malah di bilang komentar anda sudah muncul, kan belum nulis apa-apa. hehehe..
    di raport anakku juga ada nilai dan kolom utk karakternya. menurutku itu penting banget, karena kita perlu tau gimana perkembangan emosional anak di sekolah. Khususnya dalam pergaulan, kompetisi dan cara dia menghadapi masalah. Apalagi utk anakku yg sekarang sudah kelas 6.Karakter teman yang beragam membuat dia harus belajar keras tentang kesabaran. Ya, memang pembentukan karakter itu sangat penting mengingat begitu banyaknya contoh yang nggak baik yg bisa kita temukan sekarang.tawuranlah, saling menghujat. dll.Buat yang masih banyak protes, semoga cepat sadar, nilai bukanlah segalanya.
    oh ya, untuk pelajaran bahasa arab, anakku dua-duanya juga gitu.susah dapat nilai bagus. sampai kelas 4 baru bisa paham, dan bisa ngikutin.Ya,wajarlah kalau kaget, aku juga sama kayak dirimu mak, ikut belajar.. :D

    BalasHapus
  26. Saya baru liat nih rapor barunya

    BalasHapus
  27. artinya guru harus tau setiap anak karakternya gimana ya? kalo yang biasa-biasa aja gimana, mak? sebab sering dulu liat yang diingat guru hanya anak2 yang pintar atau anak yang nakal sekali, selain itu mungkin cuma sekilas2 aja ingatnya

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge