Asuransi Sebagai Bagian dari Gaya Hidup - Apakah teman-teman sudah memiliki asuransi? Atau justru masih ragu dengan asuransi? 

asuransi sebagai bagian dari gaya hidup

Kalau untuk Chi pribadi, keinginan memiliki asuransi tuh udah lama banget. Dari sebelum menikah pernah punya asuransi. Waktu itu ada sales asuransi yang menawarkan dan Chi tertarik dengan penawarannya.

Polis asuransi pun dikirim ke rumah. Dengan bangga Chi tunjukin dong ke papah. Eh, yang ada malah dimarahin hehehe.

Papah gak anti asuransi. Tetapi, Chi dianggap kurang berhati-hati. Hanya termakan ‘penawaran manis’ sales langsung menyetujui. Harusnya ditanya dan dibaca dulu lebih detil.

Singkat cerita, Chi langsung membatalkan asuransi tersebut. Terlebih setelah curhat sama salah seorang teman, ternyata dia punya pengalaman gak enak dengan asuransi tersebut. Semakin mantaplah untuk dibatalkan.

Tentu aja ada kerugian materi. Tetapi, gak apa-apa lah daripada nanti kerugiannya semakin besar. Sejak itu, Chi kapok berasuransi.

Hingga kemudian punya anak pertama. K’Aie langsung membuatkan asuransi pendidikan begitu Keke lahir. Chi yang masih merasa kapok, menyerahkan semua keputusan ke K’Aie.

Baru merasakan manfaat asuransi ketika Chi harus dirawat karena DBD. Keke juga pernah dirawat karena typus. Semua pembayaran menggunakan asuransi. Padahal waktu K’Aie cerita kalau kami sekeluarga punya asuransi kesehatan, Chi sempat ngedumel. Seberapa penting sih punya asuransi kesehatan?


Bincang-Bincang Asuransi Bersama FWD Blogger Squad


Senin, 12 April 2021, Chi mengikuti acara virtual FWD Blogger Squad. Acara ini bukan tentang peluncuran produk. Tetapi, berdiskusi tentang literasi keuangan, khususnya asuransi.

Di acara ini, blogger tidak sekadar hadir dan mendengarkan. Kami dibagi menjadi 3 kelompok. Bersama tim dari FWD Insurance, kami saling mengeluarkan pendapat tentang asuransi secara umum.

Asuransi seharusnya menjadi pelindung dari berbagai risiko di masa depan. Ibaratnya seperti sedia payung sebelum hujan.

Sayangnya, literasi keuangan masyarakat kita memang harus ditingkatkan. Termasuk kesadaran berasuransi di Indonesia yang masih rendah. Kami pun saling mengeluarkan pendapat dan berdiskusi tentang penyebab keengganan masyarakat memiliki asuransi.

Faktor pertama adalah alasan ekonomi. Apalagi di saat pandemi COVID-19 ini. Di mana banyak yang ekonominya terganggu. Jadi semakin tidak kepikiran memiliki asuransi.

Asuransi masih dianggap sesuatu yang merugikan. Tidak ada ada seorangpun yang menginginkan mengalami kejadian buruk di masa depan. Tetapi, bila tidak terjadi sesuatu, uang pun akan lenyap. Makanya masih banyak yang berpikir lebih baik berinvestasi daripada memiliki asuransi.

Klaim yang ribet, kasus penipuan asuransi, dan lain sebagainya juga menjadi alasan enggan berasuransi. Atau seperti yang Chi ceritain di awal. Akhirnya sempat kapok dengan asuransi.

Seringkali ketidakpercayaan dan keengganan memiliki asuransi juga timbul karena pengaruh orang lain. Mendengar/membaca berita tentang ribetnya mengurus klaim hingga kasus penipuan, membuat masyarakat berpikir ulang.


Menjadikan Asuransi Sebagai Lifestyle


Pendapat orang memang bisa sangat berpengaruh. Pendapat orang lain pun gak harus dengan yang sudah saling mengenal. Apalagi sekarang era digital. Bila ada netizen yang menceritakan pengalaman buruk berasuransi dan kemudian viral pun sudah bisa mempengaruhi beberapa masyarakat menjadi ragu memiliki asuransi.

Tetapi, gak hanya pendapat buruk aja, kok. Pengalaman baik tentang asuransi juga bisa berpengaruh. Intinya sih pendapat seseorang baik itu positif atau negatif lebih efektif dibandingkan ucapan agen asuransi.

Bukan berarti agen asuransi tidak dibutuhkan, lho. Tetapi, seseorang memang bisa tertarik atau enggan karena mengetahui pengalaman orang lain. Kalau sudah tertarik, baru deh minta info lebih jelas ke agen asuransi.

Salah satu cara membuat masyarakat tertarik dengan asuransi adalah dengan menjadikannya sebagai gaya hidup. Bisa juga untuk melengkapi lifestyle yang sudah ada.

Misalnya, gaya hidup sehat semakin banyak dijalankan oleh masyarakat. Akan lebih baik bila dilengkapi dengan asuransi kesehatan untuk berjaga-jaga dari risiko yang ada. Berwisata juga sebaiknya dilengkapi dengan asuransi perjalanan. Agar jalan-jalannya semakin merasa aman dan nyaman.

Seperti itu lah kurang lebihnya diskusi kami beberapa waktu lalu. Sebagai perusahaan asuransi terkemuka di Asia Pasifik, FWD Insurance berkomitmen mengubah cara pandang masyarakat tentang asuransi.

FWD memiliki produk Asuransi Bebas Handal yaitu asuransi kesehatan dengan fitur utama sebagai berikut:


  1. Terjangkau – Kontribusi mulai dari Rp75.000,00 per bulan
  2. Simple – Mudah dibeli setiap saat secara online 
  3. Lengkap – Tidak hanya biaya kamar. Semua biaya perawatan dengan nilai manfaat hingga Rp100 juta per tahun
  4. Cashless – Proses masuk dan keluar rumah sakit rekanan tidak ribet. Cukup dengan menunjukkan kartu asuransi 


Download FWD Max juga, yuk! Di aplikasi ini gak hanya bisa membeli asuransi secara online. Ada banyak hot promo yang akan mendukung gaya hidupmu.

Baca-baca juga berbagai artikel di fitur Passion Story. Ada berbagai artikel menarik yang bisa meningkatkan literasi keuangan, terutama tentang asuransi. Mengajak kita semua untuk bisa mandiri secara finansial juga. Cek juga akun IG @fwd.id, ya