Minggu, 21 April 2013

Tentang Sebuah Nilai

Ketika Keke dan Nai bergantian kena gondongan, dan Chi pun pasrah dengan nilai-nilai yang bakal menghiasi raport bayangan, Chi pun mulai merenung tentang sebuah nilai.

Dulu waktu Keke masih PG, Chi dan K'Aie pernah terpikir untuk meng-home schooling kan mereka kalo SD nanti. Alasannya Chi terlalu khawatir dengan sistem pendidikan kita yang banyak denger sana-sini tidak ramah dengan psikologis anak-anak. Terlalu 'merajakan' nilai-nilai akademis.

Kami gak ingin anak-anak hanya untuk mengejar nilai bagus dan ijazah. Tapi mereka juga harus paham apa yang mereka cari, minatnya di mana?

Karena satu dan lain hal, kami pun membatalkan rencana untuk home schooling (HS). Bukan karena HS itu jelek. Enggak, karena apapun model pendidikan yang kita pili asal itu cocok bagus kok. Bahkan untuk HS sesekali masih kami ikuti perkembangannya sampe sekarang karena siapa tau Keke dan Nai bakal HS suatu saat nanti. Kalopun kami membatalkan lebih karena alasan pribadi.

Akhirnya Keke dan Nai pun bersekolah di sekolah formal. Alhamdulillah mereka bersekolah di sekolah yang friendly dengan anak-anak.Keke dan Nai kelihatan happy sekolah di sana. Nilai-nilai mereka pun terus bagus-bagus.

Sampe kemudian mereka bergantian terkena gondongan ketika pekan ulangan dan UAS lagi berlangsung. Gimana dengan nilai-nilai mereka nanti? Pasrah, sih, tapi kejadian itu juga bikin Chi merenung dan berdiskusi dengan K'Aie.

Ya, lama-lama Chi merasa terlena dengan nilai-nilai akademis anak-anak yang selalu bagus. Ketika Keke mendapat nilai di bawah 9 untuk hasil ulangannya, Chi selalu bertanya "Kok bisa sih, Ke?"

Tentu aja sebagai orang tua harus bertanya kalo nilai anak-anaknya mengalami penurunan untuk cari tau apa penyebabnya. Masalahnya Chi bertanyanya sambil menujukkan nada dan wajah yang kecewa. Yang pada akhirnya suka bikin Chi nyesel juga. Kok Chi jadi kayak terobsesi sama nilai-nilai mereka.Langsung kecewa kalo nilai mereka turun. Padahal turunya juga gak jelek nilainya. Lupa dengan tujuan awal memberikan pendidikan bagi mereka :(

Chi pun mulai berdiskusi dan lega rasanya. Ternyata kami masih sependapat dengan niat awal kami, hanya aja akhir-akhir Chi emang aga sedikit 'terlena'. Setelah berdiskusi Chi akhirnya bisa pasrah. Pokoknya yang penting berusaha dulu yang terbaik dan tidak terfokus dengan nilai semata.

Dan ternyata hasil raport bayangan semester ini adalah ... (klik aja link hidupnya itu :))

post signature

12 komentar:

  1. Jangan dimarahin dong mbak keponakan saya :(

    Pokoe belajar yang rajin ya anak-anak, insya ALLAH nilainya nanti bagus..

    BalasHapus
    Balasan
    1. namanya juga manusia kadang kelepasan juga buat kecewa hehe

      Hapus
  2. Iya Mba Myra ya. Nilai bukan tujuan utama dan jangan sampai kita terlena. Poin yang bagus Mba Myra. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi kadang bs bikin kita terlena ya nilai itu :)

      Hapus
  3. Kalau menurut saya pembelajaran tidak semata pada masalah akademis atau pelajaran seperti matematika, IPA dsb, tapi anak juga perlu berinteraksi dengan sebayanya, apa yang didapat disekolah kadang tidak didapatkan di HS, seperti leadership, dan kekuatan mental.

    saya juga merasakan seperti yang pernah saya tulis disini
    http://www.mediarobbani.com/2012/03/kalau-bisa-lembut-kenapa-harus-keras.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. hmmmm ... sebetulnya mau itu HS atau sekolah bisa sama kok, Mas. Cuma masih byk yg berpikir kalo HS itu diem aja di rumah, padahal enggak juga. Semua tergantung kitanya :)

      Hapus
  4. setuju dengan nilai yang selalu di nomor satukan :)

    sedih kasian anak2 saya juga pernah jadi anak2 :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi kadang stlh jadi org tua pikiran kita malah kayak 'org tua' suka gak mempertimbangkan dr sisi anak, ya :)

      Hapus
  5. Mbak Myra, anak2mu keduanya pintar2 dan sehat. Tapi tak adil kalau hanya melihat kepintaran mereka dengan hitam diatas putih. Banyak indikator yang bisa dipakai.

    Bukankah kita juga butuh dipahami kalau kita tak selamanya tegar. Saat kita rapuh, kita juga membutuhkan pengertian dari orang2 disekitar kita, termasuk anak2. Tentunya sama dengan anak2, juga membutuhkan pengertian kita saat mereka down.

    Aku sih yakin mbak Myra paham semua itu. Hanya kadang sikon yang mendorong kita sedikit bersikap "berlebihan".

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang seperti itu Mbak. Ada kalanya kita kan salah juga. Ya mungkin sy saat itu terlena dg nilai2 mereka :)

      Hapus
  6. seperti yang aku bilang sebelumnya keke dan nai anka pintar

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge