Udah masuk liburan sekolah, ya. Gimana rasanya? Berencana jalan-jalan atau
kegiatan di rumah aja?
Beberapa waktu lalu, di timeline medsos ramai konten tentang GEMAR atau
Gerakan Ayah Mengambil Rapor ke Sekolah. Ada beragam konten dan opini dari
yang lucu hingga perdebatan. Chi dan K'Aie tentu udah lewat masa-masa
mengambil rapor karena anak-anak udah pada lulus sekolah. Tapi, dari dulu,
kecuali SD, seringkali K'Aie yang ambil rapor.
Imbauan Mengambil Rapor di Sekolah untuk Para Ayah
"Kenapa HARUS ayah yang ambil rapor? KASIHAN anak-anak yang gak punya
ayah!"
Chi sengaja capslock kata harus dan kasihan. 2 kata tersebut memang langsung
menjadi perhatian.
Pertama, bahas yang tentang kasihan dulu. Maaf, bukan bermaksud nir-empati,
tapi bukankah gak semua anak memiliki orang tua yang lengkap?
Katakanlah gak ada kebijakan GEMAR. Umumnya, rapor diambil oleh ibu. Lalu,
bagaimana perasaan anak yang udah gak punya ibu? Harusnya kasihan juga.
Semua akan jadi kasihan jatuhnya. Apa gak usah ada yang namaya ambil rapor
aja? Atau rapor biar dibagikan langsung ke anak? Menurut Chi, bukan itu
solusinya. Kasihan tentu sesuatu yang baik. Tandanya kita punya empati.
Tapi, sebaiknya jangan mudah menjadi suatu kemarahan. Kalau pun anaknya
sedih, bisa pelan-pelan menjelaskan ke anak supaya dia bisa mengelola rasa
marahnya dengan baik.
Berikutnya, membahas tentang kata 'harus'. Karena anak-anak udah pada
selesai sekolah, Chi coba googling tentang kebijakan GEMAR ini termasuk
menyimak berbagai opini lain.
Seluruh ayah yang memiliki anak usia sekolah diimbau mengambil rapor anak ke sekolah pada waktu penerimaan rapor akhir semester.
Program GEMAR ini berdasarkan Surat Edaran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Nomor 14 Tahun 2025. Ada beberapa poin yang tertuang di dalamnya. Tapi, poin nomr satu sudah menjawab pertanyaan Chi.
Diimbau BUKAN diharuskan. Menurut KBBI, imbau itu artinya meminta
(menyerukan) dengan sungguh-sungguh; mengajak. Tidak ada unsur kewajiban dan
juga sanksi bila tidak mengikuti imbauan.
Mencoba mencari lebih lanjut. Chi tidak menemukan info kalau imbauan
tersebut sudah ada revisi. Pertanyaannya sekarang adalah kenapa juga harus
sewot kalau memang sekadar imbauan? Apakah ada sekolah yang kemudian
mewajibkan atau banyak orang tua yang salah mengartikan? Entahlah.
Tapi, berdasarkan pengalaman pribadi, terkadang orang tua juga suka kurang
menyimak informasi. Ketika anak-anak masih sekolah kan suka ada WAG kelas.
Pasti suka ada aja deh orang tua yang menanyakan hal-hal yang sebetulnya
udah sangat jelas. Tinggal dibaca gitu pengumumannya.
Ketika Keke SMA juga pernah menolak ikut acara perpisahan. Tapi, kemudian
ada info dari beberapa orang tua kalau gak ikut nanti ijazah bisa dipersulit
atau ditahan. Padahal setahu Chi, Disdik Jakarta sangat tegas terhadap
aturan tentang pungutan. Bener-bener gak boleh. Sekolah pun berkali-kali
mengingatkan aturan ini di setiap awal tahun ajaran.
Akhirnya, kami memilih konfirmasi ke pihak sekolah. Ternyata gak dipersulit
sama sekali, tuh. Alhamdulillah. Chi inget banget kepala sekolahnya bilang
terkadang ada beberapa orang tua yang salah mengartikan aturan. Tapi,
bukannya mengkonfirmasi malah memilih kasak-kusuk dan langsung menyalahkan
sekolah.
Meskipun pengalaman kami tersebut bukan tentang GEMAR. Tapi, apabila terjadi ketidaksinkronan memang sebaiknya konfirmasi dulu daripada langsung misuh-misuh di media sosial. Kalau pun sekolah tetap mewajibkan, tanya alasan dna minta solusinya. Karena menurut aturan resmi kan sifatnya hanya imbauan.
Ayah Selalu Mengambil Rapor untuk Anak-Anak
Meskipun aturan GEMAR baru keluar saat ini, tapi bagi kami ayah mengambil
rapor di sekolah bukan hal aneh. Keke dan Nai selau diambilkan rapor sama
ayahnya.
Chi selalu mengambil rapor anak-anak ketika masih SD. Ketika Keke SMP, Chi
sempat kesal dengan wali kelasnya. Sampai bilang ke K'Aie gak mau lagi ke
sekolahan Keke. Ditambah lagi, waktu itu masih setengah hati memilih sekolah
negeri. K'Aie yang pengen anak-anak bisa masuk sekolah negeri kalau udah jenjang SMP
dan SMA. Sedangkan Chi pengennya tetap di swasta.
Jadinya Chi minta K'Aie yang ambil rapor Keke. Meskipun kekesalan Chi lekas mereda, tapi sejak itu memang K'Aie terus yang ambil rapor anak-anak. Paling Chi ambil rapor kalau K'Aie lagi ada kesibukan yang gak bisa ditunda atau digantikan jam atau harinya.
Jadinya Chi minta K'Aie yang ambil rapor Keke. Meskipun kekesalan Chi lekas mereda, tapi sejak itu memang K'Aie terus yang ambil rapor anak-anak. Paling Chi ambil rapor kalau K'Aie lagi ada kesibukan yang gak bisa ditunda atau digantikan jam atau harinya.
"Tapi, kalau ayah yang ambil rapor biasanya singkat banget. Gak pake
nanya-nanya dulu ke wali kelas. Jadi, gak tau dong perkembangan anak."
Dari dulu, mau Chi atau pun K'Aie yang ambil rapor memang gak pernah
lama. Beneran cuma ambil dan basa-basi sekejap hehehe.
Waktu SD kan ada buku catatan harian siswa. Tiap hari guru kasih menulis laporan di buku tersebut. Tinggal dibaca aja laporannya, kalau masih kurang jelas biasanya Chi akan bertanya lewat WA atau minta waktu untuk ketemu dengan walas. Makanya udah nyaris gak ada lagi yang dibahas ketika ambil rapor. Ketika anak-anak SMP dan SMA juga gitu. Memang udah gak ada buku laporan harian. Tapi, biasanya kalau ada yang perlu dibicarakan, suka langsung WA saat itu juga.
Ketika anak-anak diambil rapor ma ayahnya belum ada imbauan GEMAR. Tentu hampir semuanya ibu-ibu yang ambil rapor. Tapi, rasanya gak ada tuh Keke atau pun Nai merasa sedih karena bukan bundanya yang ambil rapor. Buat mereka yang penting ada yang ambil rapor.
Waktu SD kan ada buku catatan harian siswa. Tiap hari guru kasih menulis laporan di buku tersebut. Tinggal dibaca aja laporannya, kalau masih kurang jelas biasanya Chi akan bertanya lewat WA atau minta waktu untuk ketemu dengan walas. Makanya udah nyaris gak ada lagi yang dibahas ketika ambil rapor. Ketika anak-anak SMP dan SMA juga gitu. Memang udah gak ada buku laporan harian. Tapi, biasanya kalau ada yang perlu dibicarakan, suka langsung WA saat itu juga.
Ketika anak-anak diambil rapor ma ayahnya belum ada imbauan GEMAR. Tentu hampir semuanya ibu-ibu yang ambil rapor. Tapi, rasanya gak ada tuh Keke atau pun Nai merasa sedih karena bukan bundanya yang ambil rapor. Buat mereka yang penting ada yang ambil rapor.
Chi pernah bertanya juga ke anak-anak. Apalagi khusus untuk Nai gak hanya
rapor yang diambilkan ayah. Sampai antar jemput pun sama ayahnya. Nai bilang
gak malu. Alhamdulillah. Chi bilang ke dia, masih diantar jemput ma ayah
sebagai salah satu privilledge.
Baidewei, Gerakan Ayah Mengambil Rapor ini kan katanya karena isu
fatherless.
Berdasarkan data, sekitar 25% anak Indonesia mengalami fatherless
(kehilangan atau kurangnya kehadiran figur ayah). Tentu ini imbauan yang
bagus. Chi dukung Gerakan Ayah Mengambil Rapor. Tapi, jangan diartikan secara sempit, ya.
K'Aie termasuk yang fleksibel jam dan tempat kerjanya. Makanya, Nai hingga
sekarang udah kuliah pun masih suka diantar jemput oleh ayah bila memang
memungkinkan. Tapi, gak semua bisa seperti itu. Sekadar izin ambil rapor pun
aturan kantor bisa cukup atau sangat ketat.
Makanya, kalau sampai ada ayah yang tidak bisa mengambil rapor karena memang
sulit izin dari kantor atau hal lain yang masih bisa diterima, jangan
langsung berkesimpulan anaknya mengalami fatherless. Gak sesempit itu.
Banyak sekali cara supaya anak bisa tetap merasakan dan dekat dengan sosok
ayah.
Jadi, gimana pengalaman mengam bil rapor semester ini untuk para ayah? Seru
gak? Hehehe




0 Comments
Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)
Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^