Secangkir Kopi dalam Rumah Tangga

Ketika suami membuatkan kopi untuk istri setiap hari

"Enaknya kalau udah menikah, ada yang bikinin kopi setiap hari."

Mungkin teman-teman pernah mendengar kalimat seperti itu? Kalimat yang awalnya terkesan biasa aja bagi Chi. Tapi, rupanya akhir-akhir ini menimbulkan emosi bagi beberapa netizen.

"Ih! Patriarki!"
"Gak punya kaki, ya? Sampe bikin kopi aja harus punya istri dulu!"

Wow! Awalnya Chi hanya menganggap kalimat tersebut sebagai angin lalu, jadi kaget juga. Langsung mikir, lebih setuju yang mana?

Setuju bikin suami kopi setiap hari? Hmmm ... kopi buatan Chi gak pernah enak hahaha!

Berarti setuju dengan netizen yang protes? Enggak juga, sih. Menurut Chi, kalau pun gak sepakat, gak perlu marah sampai segitunya. Apalagi sampai langsung mengkaitkan ke isu patriarki hanya karena secangkir kopi.


Suami yang Bikinin Istri Kopi Setiap Hari

 
"Mau kopi gak, Bun?"
"Samain aja ma ayah. Ayah ngopi, bunda ikut ngopi."
"Pake kopi ini ya. Ditubruk."
"Oke."
 
Seperti yang Chi bilang sebelumnya. Hampir gak pernah bikinin K'Aie kopi. Kopi bikinan Chi gak pernah enak hehehe. Yang ada malah K'Aie yang bikinin istrinya ini kopi setiap hari hehehe.
 
Apa susahnya bikin kopi? Tinggal tuang bubuk kopi trus kasih air panas kan?
 
Nope! K'Aie itu dari dulu selalu punya takaran sendiri untuk kopinya. Sedangkan Chi, dah males aja gitu mengingat takarannya hahaha! Alhamdulillah, K'Aie selalu menyikapi dengan santai. Lebih memilih bikin kopi sendiri daripada dibikin, tapi rasanya gak enak wkwkwk!

Dulu, Chi memang gak paham kenapa takaran kopi bisa mempengaruhi rasa. Hanya menyukai aromanya yang menguar. Setelah mulai menyukai kopi hitam tanpa gula, baru deh mulai paham.

Baidewei, butuh sekian tahun lho buat K'Aie bisa membujuk Chi untuk mau minum kopi tanpa gula. Selama ini, Chi minum yang sachetan sedangkan K'Aie memilih kopi bubuk.


Bestie sama Suami untuk Perkopian


Ya, sejak mulai suka kopi hitam tanpa gula, Chi jadi paham kenapa K'Aie selalu menakar. Kopi bisa punya banyak rasa. Gak sekadar pahit. Perbedaan jenis kopi, tingkat roasting, takaran, hingga cara menyeduh akan menghasilkan rasa kopi yang berbeda-beda.

Contohnya, nih, untuk menikmati kopi hitam, kami lebih menyukai kopi jenis arabika karena gak sepahit robusta dan masih ada rasa asamnya. Itu pun masih ada sedikit perbedaan. Chi menyukai Arabika Gayo karena rasanya termasuk paling enak buat americano dingin. Sedangkan K'Aie lebih suka Arabika GunungHalu untuk secangkir kopi hitam panas.

Sejak menyukai kopi hitam, Chi jadi merasa makin bestie. Semakin sering ngobrolin kopi. Bahkan kami suka sengaja berkeliling untuk membeli kopi bubuk. Ya, meskipun kami punya favorit beans, tapi selalu tertarik untuk mencoba biji kopi jenis lainnya. Bahkan alat membuat kopi di rumah rasanya makin lengkap. Awalnya bikin kopi tubruk melulu, sekarang gonta-ganti sesuai mood. Terkadang pakai mesin kopi, ditubruk, v60, atau lainnya.

Dulu, gak pernah deh kayak gitu. Sekadar rutinitas harian aja. K'Aie sehari bisa 2-3x ngopi. Yang pasti paginya ngopi di rumah, Kopi kedua dan ketiga bisa di rumah atau ngantor. Sedangkan Chi paling sekali aja ngopinya. Sore hari dengan kopi sachet hehehe.

Ya udah rutinitas gitu aja. Gak ada diskusi atau sengaja jalan beli kopi bubuk. Selalu beli di tempat yang sama. Tapi, sejak Chi mulai terpengaruh kebiasaan K'Aie malah jadinya urusan perkopian makin asik. Jadi makin bestie kami berdua hahaha!


Membuat Kopi untuk Suami Bukan Berarti Patriarki


Itulah kenapa Chi gak sepakat bila ada istri membuatkan suami kopi berarti suaminya patriarki. Begitu pun sebaliknya, bila istri menolak berarti feminisme banget. Sama halnya kayak dulu pernah ada seorang istri yang rutin bikin konten bekal untuk suami ke kantor. Langsung dituduh suaminya patriarki dan menimbulkan pro kontra yang ramai di X.

Duh! Gak sesederhana itu memaknai patriarki!

Kalau Chi dan K'Aie sebaliknya. Malah Chi yang dibikinin kopi terus. Apa itu artinya K'Aie termasuk anggota ISTI (Ikatan Suami Takut Istri)? Ya enggak lah!

Menurut kami, berumah tangga itu selalu tentang komunikasi. Selama komunikasinya sehat ke pasangan, semua bisa dibicarakan atau didiskusikan.

Jadi, ketika ada suami yang selalu dibuatkan kopi atau malah sebaiknya, kemungkinan besar sudah ada obrolan. Selama keduanya melakukan sukarela dan bahagia, gak perlu dimasalahkan harusnya. Tapi, memang ya, suka ada aja orang luar yang menilai berdasarkan standar mereka. Padahal setiap rumah tangga punya standar masing-masing.

Kalau ada keramaian seperti itu di medsos, Chi suka ketawa bareng K'Aie. Ada-ada aja ya netizen. Urusan dapur orang pun diatur! Hehehe.

Tapi, ada kalanya membahas ini secara serius ke anak-anak. Usia keke dan Nai kan udah bukan belasan. Meskipun mereka belum pernah bicara tentang keinginan menikah, tapi Chi mulai mengajak mereka ngobrol tentang dunia pernikahan.

Hmmm ... bagian ini enaknya dibuat di artikel terpisah kali ya. Karena Chi kalau ngebahas kan suka panjang hahaha!

Post a Comment

0 Comments