Setelah pro kontra wisuda mulai mereda, netizen kembali diramaikan dengan PPDB. Awalnya, mau diam aja karena pengalaman 2 tahun lalu rasanya mengesalkan. Sistem seleksinya yang berubah banget yang bikin Chi merasa marah.

[Silakan baca: Setuju Gak Wisuda untuk TK Hingga SMA?]

Kalau diperhatikan, PPDB DKI memang baru kisruh di 3 tahun terakhir. Sebelumnya tuh sistem seleksinya memuaskan dan transparan. Makanya adem ayem. Bahkan saking puasnya, Chi selalu menulis pengalaman Keke dan Nai mengikuti PPDB beserta tata caranya. Tapi, yang terakhir ini, saat Nai ikut untuk seleksi SMAN, Chi males banget nulisnya. Saking keselnya hahaha!


jangan lakukan atau katakan hal ini saat ppdb

Tadinya, Chi mau melupakan aja. Mendingan kembali fokus dengan pendidikan Nai. Alhamdulillah masih bisa menyekolahkan anak di swasta. Masih ada rezekinya.

Seperti sudah diduga, semakin ramai yang protes. Semakin banyak korban anak-anak usia sekolah karena sistem seleksinya yang 'gak banget' dan kelihatannya minim evaluasi pula. Tapi, di sini, Chi gak akan cerita detil tentang tata caranya, ya. Hanya selain sistem, juga ada beberapa hal lain yang bikin kesel bahkan sampai nyakitin hati.


Ikut PPDB Sekadar Coba-Coba = Minim Empati


Peserta yang ikut PPDB tuh selalu banyak sekali jumlahnya setiap tahun. Mau sistem seleksinya kayak apapun juga pasti akan ada yang gak lolos

Herannya selalu ada aja yang ikut sekadar iseng. Cuma pengen coba-coba. Tujuannya apa, sih?

Dulu, Chi mikir mungkin orangtuanya pengen pamer NEM anaknya. Biar orang-orang tau kalau anaknya pinter. Kan, kalau sampai lolos PPDB berarti NEMnya bagus. Apalagi kalau dapatnya sekolah negeri favorit di DKI. Udah pasti NEM anaknya tinggi (banget), tuh.

Bukan sesuatu yang dibenarkan sebetulnya. Karena niatannya kan cuma pengen pamer. Padahal sebetulnya udah mantap di sekolah swasta. Buat Chi, yang coba-coba gini tuh minim empati. Kepala Sekolah Keke waktu SMA aja sampai geram lho dengan orang-orang yang iseng begini.

Eh, pas sistemnya berubah, tetap ada yang kayak gini. Yang dicari apaan, siiiiiih? Sedihnya ada pula yang Chi kenal melakukanhal itu. Dengan bangganya bilang, "Anak saya sejak awal udah milih swasta. Ikut PPDB cuma iseng aja. Ternyata gampang banget. Anak saya dengan mudah diterima."

YAEYALAH MUDAAAAH! RUMAHNYA CUMA BEBERAPA LANGKAH DARI SEKOLAH! SATU RT PULA!

Seriusan emosi bacanya hahaha! Sejak UNBK dihapus Mendikbud, seleksi PPDB DKI udah gak lagi pakai NEM. Tapi, lihat dari lokasi dan usia.

Saat Nai ikut aturan PPDB SMA Negeri aturannya berubah total karena UNBK sudah dihapus. Zonasi dibadi menjadi 3 wilayah (zona 1 hingga 3), tapi dilaksanakan dalam seleksi yang sama. Yang masuk zona 1 adalah yang rumahnya se-RT ma sekolah. Zona 2 se-RW, tapi beda RT. Sedangkan zona 3 hanya sama di kecamatan ma sekolah yang dituju.

Tentu yang didahulukan adalah zona 1. Kalau kuotanya udah habis di zona 1, zona 2 dan 3 tinggal gigit jari. Nah, Nai termasuk yang gigit jari karena masuk zona 3.
 
Makanya kalau dibilang masuk sekolah negeri di Jakarta itu gampang, ya jelas gampang kalau rumahnya di zona 1. Apalagi kalau usianya tua. Karena untuk menentukan urutan hanya dilihat dari usia. Jadi, kalau ada siswa yang keterima berada di urutan atas, kemungkinan besar rumahnya di zona 1 dan usianya udah tua. Gak heran di Jakarta usia 20-21 tahun pun ada! Karena aturan yang membolehkan.

Siapapun boleh ikut PPDB DKI asalkan sesuai aturan. Mereka yang coba-coba pun gak ada aturan yang dilanggar. Sah! Gak ada pelanggaran. Tapi, rasanya tetap gimana gitu, ya.

Di sisi lain, ada ratusan bahkan ribuan yang sangat ingin bisa belajar di sekolah negeri. Tapi, harus tersingkir dan kuotanya diisi oleh yang hanya ingin coba-coba.

Mereka yang ingin sekolah negeri gak selalu karena alasan sekolah negeri tuh favorit. Banyak yang karena alasan ekonomi. Apalagi di Jakarta sampai jenjang SMA tuh gratis sekolahnya.

Makanya, coba deh bayangin mereka yang gak mampu menyekolahkan anak ke swasta karena alasan biaya. Sekolah negeri menjadi harapan. Gak apa-apa, deh, bukan skeolah favorit juga. Tapi, kemudian gagal mendapatkannya, sedangkan di sisi lain diperlihatkan fakta ada yang mampu menyekolahkan di swasta yang mahal trus ikut negeri cuma untuk coba-coba. Nyesek gak lihatnya?

Ditegur gak nih kalau ada yang dikenal melakukan seperti itu? Tentu aja. Tapi, selalu alasannya merasa berhak.

Iya, siapa pun berhak. Tapi, kalau sekadar iseng mendingan jangan ikutan. Karena jadinya merampas hak orang lain. Tolonglah empatinya dipakai. Kan, udah mantap sekolah di swasta, ya udah gak usah ikutan seleksi sekolah negeri hanya dengan alasan iseng.

[Silakan baca: Ssstt! Ternyata Ada Seleksi Umur di PPDB Online DKI]


Kalau Pintar Harusnya Ikut Japres, Bukan Zonasi!


Setiap kali bahas PPDB, Chi selalu bilang INI MEMBAHAS PPDB DKI. Karena meskipun namanya sama-sama PPDB, jalurnya pun sama, tetap aja aturannya bisa beda-beda.

Waktu Nai ikut PPDB DKI untuk jenjang SMAN, japres tuh CUMA DAPAT KUOTA 5%. Seuprit banget! Jomplang banget dengan kuota ketika masih pakai NEM. Bisa sekitar 60-70%. Dengan kuota sebesar itu aja masih ada yang tersingkir. Apalagi kalau cuma seuprit.

Makanya, Chi gregetan banget kalau ada netizen yang dengan entengnya komen, "Katanya anaknya pinter. Kok, gak ikut japres, tapi malah zonasi." Padahal jelas banget si pembuat konten tentang PPDB DKI, Gregetan baca komennyaaaaa ...

Sejak awal pun Chi kurang setuju kalau Japres berdasarkan nilai raport. Cukup yakin sih bakal ada beberapa kecurangan karena raporti nilainya lebih mudah dikatrol dibandingkan NEM. Udah gitu, di PPDB DKI itungannya agak ribet. Ada beberapa istilah yang Chi baru tau seperti persentil dan sidanira.

Ya, pokoknya gak hanya raport yang dinilai. Tapi, kemudian banyak sertifikat yang dipertanyakan. Kalau ngikutin PPDB 2 tahun lalu, pasti tau, deh. IGS Chi aja sampai bersemut waktu itu saking banyak protes hahaha.

Yuk, ah, jangan biasain enteng jarinya. Apalagi kalau gak tau permasalahannya.

Hmmm ... apa lagi, ya?

2 hal itu sih yang paling gregetan. Terutama untuk alasan yang coba-coba itu. Cukup tau aja lah kalau ada yang Chi kenal pun melakukan hal itu.

Bagaimana dengan yang numpang KK? Ya, itu juga salah satu bentuk kecurangan. Tapi, Chi kurang sreg juga kalau hanya menyalahkan pihak orangtua. Seolah-olah yang melakukan itu hanya para ortu yang ambis menyekolahkan anak ke sekolah favorit.

Faktanya gak bisa digeneralisir hanya karena alasan itu. Masih ada rumah di area blind zone juga termasuk salah satu masalah Zonasi.

Lain kali aja dibahasnya. Karena sebetulnya, Chi kurang semangat membahas sistem PPDB yang baru ini sejak UNBK dihapus. Tapi, karena gregetan aja melihat 2 hal tadi. Jadi mau sedikit curhat.

Di manapun sekolahnya, tetap semangat, ya! InsyaAllah, dilancarkan jalannya dan menjadi orang sukses. Aamiin Allahumma aamiin.