Hansaplast - Pentingnya Proteksi Terhadap Tumbuh Kembang Anak. Setiap orang ingin selalu memberikan perlindungan kepada anak. Tetapi, apakah pelindungan yang diberikan sudah tepat? Jangan sampai malah mengganggu tumbuh kembang anak, lho.  
 
perlindungan keluarga terhadap tumbuh kembang anak
 
"Ayah gak kerja?"
 
Sejak pandemi, K'Aie hanya sesekali aja pergi ke kantor. Masih lebih banyak bekerja di rumah. 
 
Chi ngebayangin seandainya Keke dan Nai masih anak-anak pasti deh bakal seneng banget. Menganggap bisa puas main seharian dengan ayahnya. Padahal kan di rumah bukan berarti lagi libur. Tetapi, karena sedang pandemi sehingga harus bekerja dari rumah.

Meskipun Chi bukan ibu pekerja kantoran, tetapi pernah merasakan kerempongan membagi waktu ketika anak-anak masih kecil. Pengennya urusan rumah, keluarga, dan diri sendiri terurus. 
 
Makanya harus ada cara. Supaya gak khawatir berlebihan kalau sesekali anak dibiarkan main sendiri saat Chi sedang mengerjakan postingan. Tetapi, juga tetap ada waktu untuk mereka tanpa harus berbenturan dengan aktivitas lain.

 

Pola Asuh Otoritatif di Saat Pandemi

 
pola asuh otoritatif
Membuat kreasi tentang beberapa aktivitas yang membuat nyaman

 

Sabtu (6/3), Chi mengikuti zoom yang diadakan oleh Hansaplast dengan tema "Seberapa Penting Proteksi Terhadap Tumbuh Kembang Anak." Acara ini bertujuan untuk mengedukasi orang tua tenteng pentingnya memberikan perlindungan bagi anak sebagai salah satu untuk membantu tumbuh kembang anak secara optimal.
 
Bagi ibu pekerja, work from home dirasa lebih menantang daripada bekerja di kantor. Menyeimbangkan antara keluarga, kantor, dan rumah bukanlah perkara mudah. Apalagi kalau masih memiliki anak kecil. 
 
Sangat penting untuk membuat skala prioritas. Agar semua aktivitas bisa dikerjakan dengan lancar. Ibu pun tidak merasa panik bila terjadi sesuatu.

Tetapi, terkadang anak-anak belum paham situasi pandemi. Disangka anak, ibunya berada di rumah karena sedang berlibur. Sehingga anak merasa bisa bermain sepuasnya dengan ibunya kapan pun dia mau.
 
Menurut Grace Eugenia Sameve, M.A, M. Psi, Psikolog Anak,  dalam kondisi seperti itu, pola asuh yang tepat adalah otoritatif. Sebetulnya pola asuh ini bisa cocok untuk situasi apapun. Tidak hanya saat pandemi. Dan otoritatif berbeda dengan otoriter.

Pola asuh otoritatif adalah tentang mencari jalan tengah antara memberi kemandirian dan rasa aman serta nyaman.
 
Karakteristik otoritatif adalah anak diberi kesempatan yang luas untuk menjadi mandiri. Tetapi, orang tua meyakinkan anak bahwa akan selalu ada untuk mereka. Sehingga si Kecil tidak perlu khawatir bila suatu saat membutuhkan pertolongan orangtuanya.
 
Selain menentukan prioritas, ibu juga harus mengajarkan anak untuk mandiri. Ada kalanya membiarkan anak bermain sendiri. Tetapi, pastikan tempatnya sudah aman dan bersih untuk meminimalkan risiko terjadi kecelakaan saat sedang bermain.

Lebih lanjut, Grace mengatakan bahwa apapun tantangannya tetap harus membuat anak merasa aman dan nyaman. Rasa aman dan nyaman saat berada di rumah bisa didapat dari 2 hal berikut

  1. Kehadiran orang terdekat, misalnya orang tua
  2. Melakukan kegiatan yang membuat nyaman
 
Aktivitas yang nyaman sifatnya personalized. Ada yang nyaman bila menonton serial favorit, membuat berbagai kreasi, dan lain sebagainya. Sesekali ajak juga anak untuk melakukan aktivitas seru bersama.
 
Setiap anak terlahir dengan karakter yang berbeda. Cenderung dominan ke sifat tertentu. Tetapi, bukan berarti karakter ini akan terus menetap. Misalnya, ada anak yang waktu kecilnya pemalu, setelah dewasa menjadi sosok yang supel.

Orang tua sangat berperan penting dalam pembentukan karakter anak. Kepribadian anak masih bisa dibentuk sampai usia 17-18 tahun. Setelah itu karakternya mulai stagnan. 
 
[Silakan baca: Keke dan Makna Usia 17 Tahun


Perlindungan Terhadap Keluarga Berawal dari Rumah 

 
 hansaplast cara menangani luka ringan

Seorang anak sudah mulai bereksplorasi sejak lahir. Meskipun untuk usia bayi seperti terlihat 'belum bisa apa-apa'. Padahal sebetulnya seluruh inderanya mulai berkembang. Untuk itulah perlu distimulasi agar tumbuh kembangnya optimal.

Semakin bertambah usia, anak semakin ingin bebas bereksplorasi. Melalui kegiatan bermain dan belajar dengan cara yang menyenangkan, daya imajinasi dan motorik anak bisa meningkat kemampuannya.

Tetapi, pada saat bereksplorasi bukan berarti selalu dalam kondisi aman, lho. Meskipun berada di rumah, risiko terjadinya kecelakaan tetap ada. Misalnya anak terjatuh di halaman sehingga membuat lututnya terluka, kejedot pinggiran meja,  atau berbagai kejadian lainnya. Begitu pun dengan orang tua. Bisa saja terluka saat sedang memotong sayuran dan lain sebagainya.

Oleh karenanya perlindungan terhadap keluarga tidak hanya dilakukan saat sedang berada di luar rumah. Justru harus dimulai dari rumah. Apalagi saat pandemi saat ini, sebaiknya aktivitas tetap lebih banyak di rumah.

Beberapa hal di bawa ini bisa dilakukan untuk meminimalkan risiko kecelakaan yaitu

  1. Lapisi ujung meja dengan karet atau spons agar anak terhindar dari luka saat membentur meja
  2. Jauhkan berbagai benda yang berbahaya dari jangkauan anak-anak
  3. Selalu pastikan lantai bebas dari bahaya, misalnya ada air yang tumpah dan belum dipel
  4. dan lain sebagainya
 
Selain mengetahui cara meminimalkan risiko terjadi luka pada saat di rumah, orang tua juga harus tau berbagai jenis luka serta cara penanganannya. Selalu tersedia pula obat dan perlengkapan penanganan luka lainnya di kotak P3K. 


Jangan Panik Saat Anak Terluka, Ketahui Cara Mengatasinya


hansaplast plester disney untuk anak
Hansaplast Plester motif karakter begini biasanya disukai anak-anak 


Anak yang sedang aktif bereksplorasi memang bisa saja berisiko mengalami kecelakaan.  Sikap orang tua pada saat anak terluka ternyata bisa mempengaruhi tumbuh kembang anak.

Mungkin kita pernah melihat atau bahkan tanpa sadar melakukan hal ini. Ketika anak terluka yang langsung dilakukan adalah memarahinya. Kalau pun bukan anak yang dimarahi, benda-benda di sekitar yang disalahin. Misalnya, ketika anak terjatuh yang dianggap 'nakal' adalah lantainya.

"Salah satu langkah optimalisasi stimulasi perkembangan anak, orangtua harus membiarkan anak bergerak bebas dan eksplorasi lingkungan sekitarnya. Tugas orang tua, memastikan lingkungan si Kecil aman dari segara bahaya. Namun terkadang, kecelakaan kecil tak bisa dihindari, seperti terjatuh dan anak mengalami luka lecet. Jika itu terjadi, tugas orang tua berusaha memahami dan mengartikulasi perasaan anak, seperti "Adik sakit ya kakinya, Bunda bantu obati ya supaya cepat sembuh," ujar dr. Mesty Ariotedjo, Sp.A, Dokter Spesialis Anak.
 
Bila terluka sudah pasti sakit. Wajar bila anak sampai menangis. Daripada memarahi atau malah menyalahkan benda lain, sebaiknya berusaha memahami perasaan anak. 
 
Anak akan nyaman bila perasaan sedihnya dimengerti. Juga merasa aman bahwa apapun yang terjadi, orang tua akan membantunya. Kemudian anak akan belajar dari kejadian tersebut, termasuk untuk menangani luka.

"Jangan panik dan no drama," ujar Tyna Kana Mirdad, Mom Influencer.

Sebagai ibu dari 2 orang anak perempuan, Tyna selalu berusaha tidak panik saat anaknya terluka. Selalu mengajarkan tentang sebab-akibat kepada kedua putrinya. Bahkan sekarang mereka sudah mengerti tentang cara mengobati luka ringan sendiri.


Pertolongan Pertama Terhadap Luka Ringan dan Selalu Sedia Plester Hansaplast dengan Bacteria Shield


 keunggulan hansaplast pacterial shield
Hansaplast kini hadir dengan logo baru berbentuk senyuman, kemasan yang ramah lingkungan, serta logo bacteria shield (pojok kiri bawah)


Ada berbagai luka yang bisa dialami di rumah. Menurut dr. Meisty, orang tua harus mengenal terlebih dahulu jenis lukanya. Supaya penanganannya lebih tepat. Penanganan luka bakar tentu beda dengan luka lainnya.

Perhatikan juga bentuk lukanya agar bisa tau waktu yang tepat untuk ke dokter. Paling tidak salah satu dari kejadian ini sudah harus membawa anak untuk dibawa ke dokter.

  1. Luka anak terlalu dalam
  2. Pendarahan tidak berhenti lebih dari 5 menit
  3. Jatuh di tempat yang sangat kotor
  4. Anak tidak diimunisasi tetanus
  5. Luka yang sudah diobati, ternyata bernanah

Tyna selalu menyediakan berbagai produk Hansaplast di kotak P3K di rumahnya.
Tidak hanya untuk berjaga-jaga bila sampai ada kecelakaan di rumah. Memiliki hobi berlari, juga berisiko terluka. Plester Hansaplast selalu tersedia
  
Baginya, Hansaplast sudah seperti bagian dari keluarga. Sejak kecil selalu menggunakan produk ini bila terluka. Sekarang menurun ke anak-anaknya. Kedua putrinya dengan kompak mengatakan menyukai plester Hansaplast karakter Disney. 
 
Yup! plester yang untuk anak memang memiliki beberapa karakter yang menarik. Jadi ingat Nai ketika masih balita. Ada gak ada luka, setiap hari maunya pakai plester bermotif karena merasa keren hehehe.

[Silakan baca: Nai dan Plester]

Berikut adalah tips bagi orang tua bila anak mengalami luka ringan

  1. Bersihkan: Bersihkan luka dari kotoran untuk mencegah infeksi. Gunakan Hansaplast Spray Antiseptik yang dilengkapi Polyhexamethylene Biguanide (PHMB) yang dapat mengobati luka tanpa rasa perih.
  2. Lindungi: Lindungi luka dari kotoran dan bakteri untuk mencegah infeksi. Gunakan plester Hansaplast dengan Bacteria Shield yang telah teruji secara klinis dapat melindungi luka dari kotoran dan bakteri penyebab infeksi.
  3. Sembuhkan: Setelah luka mulai mengering, rawat luka dengan Hansaplast Salep Luka untuk mencegah bekas luka. 
 
Pada acara virtual gathering tersebut, Hansaplast hadir dengan logo dan kemasan baru. Plesternya sudah dilengkapi dengan Bacteria Shield.
 
Lebih dari 100 tahun, Hansaplast terus berkomitmen untuk mendampingi perawatan luka seluruh keluarga, memberikan dukungan, dan perlindungan saat dibutuhkan. Hansaplast memahami bahwa luka sekecil apapun dapat mengganggu aktivitas dan berisiko infeksi.
 
Sebagai pelopor plester perawatan luka, Hansaplast mempersembahkan generasi terbaru plester di Indonesia. Sebagai bentuk lebih lanjut komitmen pada perlindungan dan perawatan luka, yaitu Hansaplast Plester dengan Bacteria Shield.
 
Terkadang kita suka bingung apakah luka harus ditutup atau tidak. Ternyata menurut dr. Mesty, luka seharusnya ditutup agar tidak kemasukkan bakteri. Seluruh rangkaian plester dengan Bacteria Shield telah teruji dapat menghalang kotoran dan bakteri, yang berarti luka akan mendapatkan perlindungan optimum dan kondisi yang ideal untuk proses penyembuhan tanpa resiko komplikasi. Keunggulan menggunakan Hansaplast Plester dengan Bacteria Shield adalah sebagai berikut:
 
  1. Material dengan anyaman sangat rapat sehingga menutupi luka
  2. Materialnya berkualitas tinggi sehingga membantu penyembuhan lebih baik
  3. Bantalan plesternya tinggi sehingga tidak menempel pada luka 
 
Hansaplast juga hadir dengan logo baru berbentuk senyuman. Menunjukkan bahwa Hansaplast membantu perawatan luka yang nyaman dan cepat untuk seluruh keluarga. Kemasan terbarunya ramah lingkungan. Terbuat dari material yang tersertifikasi oleh FSC untuk pelestarian hutan.


Lindungi Keluarga Sekaligus Menggalang Dana bersama 1000 Guru Foundation


donasi hansaplast

Siapakah orang tersayang yang ingin teman-teman lindungi?

Mungkin akan langsung teringat anak-anak. Tetapi, tentunya kita juga ingin melindungi pasangan dan diri sendiri.

Hansaplast bersama 1000 Guru Foundation mengajak kita semua untuk berpartisipasi dalam penggalangan dana untuk edukasi dan perlindungan kesehatan anak. Mekanismenya adalah sebagai berikut:

  1. Upload foto orang kesayangan di IGS atau IG Feed menggunakan filter Bacteria Shield. Silakan scan QR Code untuk mendapatkan filternya.
  2. Tag akun IG @hansaplast_id dan hashtag #SelaluAdaMelindungiKeluargaAnda
  3. Simpan di highlight bila upload di IG story. Buat caption yang menarik tentang perlindungan Hansaplast bila memilih upload di IG feed
 
Periode donasi ini berlangsung dari tanggal 6 Maret s/d 6 April 2021. Setiap 1 post yang diupload = donasi Rp10.000,00. Juga akan ada hadiah mingguan senilai Rp500.000,00 untuk 3 orang.

Yuk ah semangat melindungi keluarga dan juga berdonasi!