5 Pengeluaran Terbesar Dalam Pendidikan - Keke Naima

Senin, 11 Maret 2019

5 Pengeluaran Terbesar Dalam Pendidikan


Walaupun terkesan masih jauh dari sekarang, persiapan kuliah untuk buah hati adalah salah satu hal utama bagi setiap orang tua untuk dipikirkan. Sistem perkuliahan bisa berbeda di setiap zaman. Transisinya bisa dimulai dari penilaian, pengajaran, penilaian, hingga struktur kurikulumnya. Sementara di sisi lain, biaya kuliah terus melonjak. Akibatnya, tak sedikit orangtua yang terpaksa berhutang karena kurangnya persiapan sejak dini.

Mungkin banyak yang menyangka kalau kuliah di luar negeri itu jauh berbeda dan lebih mahal dibanding kuliah di dalam negeri. Patinya yang namanya kuliah di setiap negara ada caranya sendiri termasuk biayanya. Begitupun dengan kualitas pendidikan dan tata cara pendaftarannya juga bisa mengalami perbedaan. Dari beberapa biaya pendidikan ada yang termasuk cukup membutuhkan biaya banyak yaitu biaya kuliah (uang pangkal dan SPP), biaya pendidikan informal, sampai biaya study tour (ekskursi).

Gambaran beberapa jenis pengeluaran di bawah ini lebih merefleksikan biaya kuliah universitas-universitas swasta di kota besar di luar negeri. Karena universitas negeri biasanya mendapatkan subsidi dari pemerintah. Berikut ini gambarannya:

Tuition Fees (biaya kuliah)


Tentunya hal ini berbeda-beda untuk setiap jurusan, gelar, dan negaranya masing-masing. Tidak bisa serta-merta dipukul rata bahwa biaya kuliahnya akan sama. Harus disesuaikan dengan jurusan yang dipilih. Kalau bicara soal biaya kuliah di luar negeri, mungkin akan bisa terbantu biladikategorikan perwilayah, dari yang termurah hingga yang termahal (rata-rata). Contohnya:

  1. Asia Tenggara (Malaysia, Singapura, dll): 80 juta - 450 juta
  2. Australia dan Selandia Baru: 750 juta - 1,000 juta
  3. Kanada: 600 juta - 900 juta
  4. Inggris: 500 juta - 1,100 juta
  5. Eropa (Belanda, Perancis, Spanyol): 500 juta - 1,500 juta
  6. Asia Timur (Jepang, Korea Selatan, Taiwan: 600 juta - 1,000 juta

Resource Fees/ SPP per semester


Rata-rata universitas di luar negeri masih memerlukan biaya yang dipungut dari luar biaya kuliah persemester. Biaya inilah yang pada akhirnya bakal digunakan untuk gaji staf dan dosen, pemeliharaan bangunan, buku di perpustakaan, dll.

Meski tidak terbilang amat besar, tapi biaya ini tida bisa dianggap remeh. Normalnya, biaya SPP ini bisa mencakup sekitar 10-20% dari total biaya kuliah.

Study Tour/ Aktivitas di Luar Kampus


Meskipun tidak setiap universitas mewajibkan mahasiswanya mengikuti kegiatan ini atau bahkan menempatkan hal ini sebagai bagian dari silabusnya. Ibaratnya kalau di universitas di Indonesia kegiatan ini biasa dikenal sebagai KKN (Kuliah Kerja Nyata).

Tapi, berhubung dunia perkuliahan itu bagian yang datang hanya sekali buat sebagian besar orang, sayang sekali kalau harus ketinggalan hal ini diakibatkan kendala biaya. Pada akhirnya orangtua juga pasti ingin anak-anaknya memiliki pengalaman baru dan berfaedah untuk pembelajarannya.

Biaya ini akan tentunya bergantung dengan jenis kegiatan/ study tour nya. Tapi, karena memberdayakan institusi pendidikan dan melibatkan rombongan mahasiswa, maka biayanya tidak akan spektakuler. Kira-kira kurang dari setengah biaya semesterannya.

Pendidikan Informal


Kalau waktu anak masih di bangku SD - SMA dulu, pendidikan informal di luar sekolah yang normalnya dijalankan siswanya itu dalam bentuk les atau bimbingan belajar (bimbel). Sama halnya dengan jenjang kuliah. Hanya saja prasarananya berbeda.

Banyak dari mahasiswa Indonesia yang merasa bahwa kurikulum universitas tidaklah cukup memadai untuk mempersiapkan skill-skill yang diperlukan di dunia kerja. Terkadang, kegiatan organisasi di kampus juga masih belum cukup karena banyaknya ketentuan yang ditetapkan perusahaan-perusahaan besar.

Dimudahkan dengan fasilitas internet dan segala perangkat yang bisa diakses lewat online, mahasiswa jadi semakin kreatif dalam mencari informasi dan pengetahuan. Terbitnya kelas-kelas online pun menjadikannya semakin mungkin. Tapi, hanya karena kelasnya bersifat online dan bukan tatap muka itu tidak menjadikannya gratis atau murah, lho.

Rata-rata kelas online yang ditemukan di situs-situs resmi berkisar USD 50 minimal atau sekitar 500 ribu rupiah. Tentunya 1 kelas saja tak cukup untuk dapat sertifikat atau sekadar menuntaskan pelajarannya.

Keperluan Kuliah


Banyak yang berargumen kalau ini tidak berlaku untuk semua mahasiswa. Tapi tentunya keperluan kuliah seperti fotokopi, buku dan materi kuliah, alat tulis, dll itu sulit dipungkiri. Apalagi kalau bicara soal kuliah, yang mana tugas-tugas dan proyek UAS tidak bisa dianggap mudah atau di-skip.

Meskipun biaya ini memang bersifat fleksibel atau amat mudah diatur (pinjem buku dan bahan materi kuliah dari kakak kelas), tapi rata-rata mahasiswa menganggapnya sebagai salah satu pengeluaran terbesar setelah biaya akomodasi.

Salah satu cara yang paling bijak untuk mempersiapkan biaya-biaya di atas bagi adalah dengan berinvestasi. Langkah lainnya adalah dengan melakukan survei biaya pendidikan supaya dapat gambaran yang lebih jelas lagi soal biaya pendidikan saat ini. Selain itu, tidak bisa melupakan faktor inflasi ke dalamnya juga.

Memulai persiapan dana pendidikan seawal mungkin. Karena itulah satu-satunya cara agar anda tidak perlu mengkhawatirkan akan masa depan anak-anak.

1 komentar:

  1. Mbak, kenapa sih biaya kuliah di Singapura masih lebih murah daripada biaya kuliah di negara-negara selain Asia Tenggara?
    Padahal kan universitasnya Singapura itu dapat ranking juga di 100 Top World University?

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^