Apa yang terpikirkan oleh teman-teman ketika mendengar kata sampah?

Sesuatu yang sudah tidak lagi ada harganya? Eits! Jangan salah, lho. Sampah rumah tangga yang selama ini sering dikira tidak lagi berguna, sebetulnya masih bisa memiliki nilai ekonomis. Tentunya teman-teman pernah mendengar atau membaca yang namanya daur ulang sampah, kan? Sampah organik bisa diolah menjadi pupuk. Sedangkan sampah anorganik bisa didaur ulang menjadi berbagai benda yang juga masih memiliki nilai ekonomis.


Membiasakan Diri untuk Memilah Sampah


PRAISE dan Waste4Change Meluncurkan 100 Dropping Box untuk Membantu Memilah dan Mendaur Ulang Sampah

Pastinya kita sudah sering dengar ungkapan "Buanglah Sampah Pada Tempatnya." Yup! Untuk urusan membuang sampah pada tempatnya aja, masih jadi PR besar bagi sebagian masyarakat Indonesia. Masih ada aja yang suka buang sampah sembarangan. Meskipun begitu, gak ada salahnya lebih meningkatkan lagi kesadaran masyarakat dengan membiasakan diri untuk memilah sampah.

Saya punya pengalaman yang bisa dibilang cukup mengesalkan untuk urusan memilah sampah. Udah dipisah-pisah mana sampah organik dan tidak, di tempat sampah malah diacak-acak lagi sama pemulung. Begitu aja terus. Hadeeeuuh!

Tetapi, saling menyalahkan juga memang gak menjadi solusi. Para pemulung hingga para petugas kebersihan mungkin punya alasan masing-masing. Ya katakanlah salah satu alasannya adalah pendapatan yang masih kurang layak. Andai saja gajinya cukup tinggi mungkin akan lebih semangat bekerjanya. Kita pun juga jangan jadi skeptis kalau urusan sampah gak akan pernah selesai. Tetap aja konsisten memilah sampah. Dan terus berharap semoga kebiasaan ini akan semakin banyak yang mengikuti.


Menurut riset terbaru dari Sustainable Waste Indonesia (SWI) pada 2018, Sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sekitar 67%. Dan hanya 7% dari sampah yang masuk ke TPA yang baru didaur ulang.

Tidak semua sampah berakhir di TPA. Berarti kemungkinan sampah-sampah tersebut berada di mana-mana dan mengotori lingkungan. Dengan persentase daur ulang yang masih kecil, juga gak heran kalau tumpukan sampah di TPA semakin banyak seperti sebuah bukit. Bahkan menurut situs Waste4Change jumlah rata-rata sampah di Jakarta adalah 7,2 ton. Dengan sampah sebanyak ini, TPS Bantar Gebang bisa membuat candi Borobudur setiap 2 hari!


PRAISE dan Waste4Change Meluncurkan 100 Dropping Box



Packaging and Recycling Alliance for Indonesia Sustainable Environment (PRAISE) atau Aliansi Untuk Kemasan dan Daur Ulang Bagi Indonesia yang Berkelanjutan sebuah aliansi yang diprakarsai oleh 6 perusahaan besar di Indonesia yaitu Coca-Cola, Unilever, Danone-AQUA, Tetrapak, Indofood, dan Nestle. Aliansi yang dideklarasikan pada tanggal 19 Februari 2017 ini berkomitmen untuk mengelola sampah berkelanjutan dan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya mengelola sampah.

Sebagian besar dari kita mungkin pernah mengkonsumsi makanan atau minuman kemasan yang diproduksi oleh 6 perusahaan tersebut. Pertanyaan selanjutnya adalah lari kemana sampah-sampah kemasannya? Dengan membuang sampah pada tempatnya, tentu sudah menjadi solusi awal untuk sellau menjaga kebersihan. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Sinta Kaniawati, perwakilan PRAISE, sampah bukanlah sesuatu yang sudah tidak memiliki nilai. Sampah masih bisa didaur ulang dan kembali memiliki nilai ekonomis.

Kebiasaan memilah sampah di masyarakat Indonesia masih sangat rendah, hanya berkisat 18,84% menurut Biro Pusat Statistik pada tahun 2014. Tentunya butuh partisipasi aktif peran serta masyarakat agar kebiasaan ini terus bertumbuh.


PRAISE dan Waste4Change Meluncurkan 100 Dropping Box untuk Membantu Memilah dan Mendaur Ulang Sampah

Kamis (8/8) bertempat di Colony6, Jakarta, PRAISE bekerjasama dengan Waste4Change beluncurkan dropping box. 100 Dropping box nantinya akan ditempatkan di berbagai tempat keramaian seperti perkantoran, sekolah, dan lain sebagainya. Dropping box ini juga memiliki 4 keunikan PASTI yaitu


1. Pasti Pemilahannya

Dalam 1 dropping box terdapat 2 tempat pembuangan sampah yaitu kertas dan non kertas. Teman-teman tinggal tinggal memilah sampah sesuai dengan tempat pembuangannya.


2. Pasti Prosesnya

Setelah dropping box ini penuh, secara berkala Waste4Change akan meyerahkan sampah yang sudah dipilah ke bank sampah


3. Pasti Daur Ulangnya

TPA bukanlah tempat yang buruk. Tetapi, persentase daur ulang di sana juga masih kecil dibandingkan jumlah sampah yang datang setiap harinya. Oleh karena itu dengan membuang sampah di dropping box sudah dipastikan kalau sampah tersebut akan didaur ulang.


4. Pasti Edukasinya

PRAISE dan Waste4Change Meluncurkan 100 Dropping Box untuk Membantu Memilah dan Mendaur Ulang Sampah

Bila diperhatikan, dropping box ini terlihat menarik karena dilengkapi dengan infografis edukasi tentang sampah. Kita jadi tau bagaimana cara memilah sampah dengan benar dan bagaimana proses daur ulang sampah akan berjalan hingga menjadi produk bernilai ekonomis.

Dropping box ini hanya untuk sampah kertas dan non kertas. Bukan untuk sampah basah dan elektronik. Itulah kenapa dropping box ini tidak disediakan di skala rumah tangga.

Untuk skala rumah tangga, biasanya ada sampah basahnya. Walaupun tidak disediakan dropping box, kita semua tetap harus membiasakan memilah sampah. Nanti sampah yang sudah dipilah bisa disetor ke bank sampah. Kalau bukan dimulai dari diri sendiri, siapa lagi yang akan menjaga lingkungan?