Jakarta Food Security Summit 2018: Optimis Meningkatkan Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Petani Indonesia di Masa Depan - Keke Naima

Sabtu, 10 Maret 2018

Jakarta Food Security Summit 2018: Optimis Meningkatkan Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Petani Indonesia di Masa Depan

Jakarta-Food-Security-Summit

Jakarta Food Security Summit (JFSS) 2018 baru saja usai. JFSS adalah event 2 tahunan dari KADIN Indonesia yang sudah digelar sejak tahun 2010. Tahun ini merupakan gelaran ke-4 dan diselenggarakan di JCC Senayan pada tanggal 7-8 Maret 2018. Setiap JFSS selalu memiliki tema. Pada JFSS 4 bertemakan ‘Pemerataan Ekonomi Sektor Pertanian, Peternakan dan Perikanan Melalui Kebijakan dan Kemitraan’

Sejak dahulu, tanah Indonesia dikenal subur. Indonesia juga kayak akan bahan pangan. Tetapi mengapa berbagai persoalan pangan kerap melanda Indonesia?

Menurut bapak Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI, saat memberikan sambutan pada pembukaan JFSS 4 bahwa persoalan pangan tidak hanya dialami oleh Indonesia. Seluruh negara memiliki berbagai persoalan pangan sejak dahulu.

Menghadapi berbagai persoalan pangan ingi terbagi 2 sikap yaitu  pesimis dan optimis. Mereka yang bersikap pesimis selalu merasa persoalan pangan tidak akan bisa diselesaikan karena pertambahan jumlah penduduk per tahun akan selalu lebih tinggi daripada kenaikan jumlah bahan pangan. Sedangkan mereka yang optimis akan menganggap berbagai persoalan tersebut sebagai tantangan dna menjawabnya dengan teknologi dan ilmu ppengetahuan lainnya.


Jumlah penduduk Indonesia yang tercatat per Juni 2016 mencapai 267 juta jiwa, dan berada di nomor 4 negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. Bila diperkirakan kenaikan jumlah penduduk sekitar 1.3% per tahun berarti akan ada penambahan sebesar 3 juta jiwa setiap tahunnya. Bayangkan pada 10 atau 20 tahun ke depan. Ada berapa banyak jumlah penduduk Indonesia di masa depan? Ketersediaan bahan pangan harus selalu diantisipasi dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk.

Jakarta-Food-Security-Summit

Tidak hanya meningkatnya jumlah penduduk, masih ada masalah lain yang berkaitan tentang pangan misalnya perubahan iklim, semakin terbatasnya lahan,  ketersediaan air, dan lain sebagainya menjadi tantangan yang harus terus diselesaikan. Indonesia juga negara kepulauan sehingga untuk urusan logistik lebih sulit daripada negara daratan.

Pertanian adalah sektor yang paling menyerap tenaga kerja. Jumlahnya sekitar 31%. Bapak Jusuf Kalla juga mengatakan kalau petani adalah kelompok masyarakat yang paling banyak kerjanya. Dengan semakin banyak jumlah masayarakat Indonesia dan kebutuhan akan pangan pun meningkat maka seharusnya kesejahteraan petani pun meningkat. Tetapi kenyataannya tidak demikian. Kesejahteraan petani masih menjadi masalah. Oleh karenanya tidak heran bila banyak generasi muda yang enggan menjadi petani. Masyarakat yang menjadi petani pun mulai banyak yang beralih untuk bekerja di pabrik. Semua itu karena tuntutan ekonomi.

Jakarta-Food-Security-Summit
Salah satu teknologi pangan adalah dengan menggunakan teknologi dari jepang untuk masalah air. Lihat saja hasil pertaniannya, tidak hanya lebih segar tetapi juga ukurannya lebih besar

Indonesia bisa mencontoh beberapa negara yang sudah berhasil, misalnya India yang berhasil meningkatkan jumlah pangan tanpa menambah lahan. Dulu impor gandum, sekarang India bisa ekspor gandum. Indonesia harus belajar banyak dari India. Wapres juga sempat menyinggung Mentan Amran Sulaiman yang menggunakan TNI untuk meningkatkan produktivitas pangan. Menurut wapres, sudah saatnya teknologi pangan yang menjadi solusi.

Jakarta-Food-Security-Summit

Jakarta-Food-Security-Summit

JFSS 4 yang dihadiri oleh sekitar 1500 delegasi dari berbagai kalangan ini terbagi dalam 2 bagian yaitu Seminar Nasional dan Pameran Pangan Nasional. Usai JFSS resmi dibuka, saya menyempatkan diri untuk melihat pameran. Ada berbagai kelompok bahan pangan di sana. Tidak hanya hasil pertanian tetapi juga peternakan dan perikanan. Seperti yang Wapres katakan bahwa pola konsumsi masyarakat di satu negara biasanya mengikuti pendapatan. Semakin tinggi pendapatan di satu negara, maka konsumsi karbohidrat menurun dan konsumsi protein hewani/nabati meningkat.

Jakarta-Food-Security-Summit

Secara singkat, JFSS 4 ini berfokus kepada kemitraan. Kalau saya perhatikan berbagai skema kelompok bahan pangan dari petani hingga ke tangan konsumen, zaman dahulu dan sekarang masih menempuh jalan panjang. Skema seperti ini sedang diusahakan untuk diubah.

Sederhananya, petani akan bermitra dengan pengusaha. Petani memiliki lahan dan akan diberikan edukasi bagaimana produktivitas bisa meningkat serta disediakan bibit unggul. Pengusaha bekerjasama dengan para akademisi dan berbagai pakar lainnya untuk melakukan segala macam riset di bidang pertanian. Pihak asuransi akan memberikan asuransi bila petani gagal panen. Pinjaman dengan bunga rendah dari perbankan. Serta, pendampingan di tingkat SDM oleh koperasi Hasil pertanian akan dibeli oleh pengusaha yang bermitra dengan petani. Pemerintah juga berperan misalnya dengan memberikan kepastian hukum untuk meningkatkan daya saing di dalam dan luar negeri. Memang membutuhkan kerjasama banyak pihak agar  program kemitraan ini berhasil. Menurut KADIN, petani yang sudah bermitra kesejahteraannya lebih meningkat dibandingkan petani yang belum melakukan kemitraan.

Banyak harapan baik dari event seperti ini. Saya pribadi berharap petani, peternak, dan nelayan Indonesia semakin sejahtera. Bila ingin ketahanan pangan semakin meningkat seharusnya disokong dengan meningkatnya kesejahteraan masayarat khususnya di bidang pertanian, peternak, dan nelayan.

Jakarta-Food-Security-Summit

9 komentar:

  1. Wah menarik sekali acaranya. Terimakasih sdh berbagi ๐Ÿ˜Š

    BalasHapus
  2. Nice article. Seneng bisa dapet ilmu dari hasil reportasenya. Memang masalah pangan ini harus bekerja sama dengan berbagai sektor karena menjadi salah satu kebutuhan utama masyarakat. Semoga Indonesia bisa terus berinovasi dalam hal teknologi pangan :)

    BalasHapus
  3. Aamiin...
    baca ini jadi ingat petani di daerah suami

    BalasHapus
  4. Zaman sekarang masalah pangan memang bukan tanggung jawab petani saja, tapi melibatkan banyak pihak. bahkan setiap individu sebenarnya punya tanggung jawab terkait hal ini. Makanya bercocok tanam di rumah juga terus digiatkan. Nice Sharing Mbak Myra

    BalasHapus
  5. Suka sama topik yang begini, karena potensi kita untuk bisa swasembada seperti dulu sebenernya gede :)

    BalasHapus
  6. Dengan adanya JFSS kita semua jadi tahu ya mbak masalah ketahanan pangan yang nggak cuma dihadapi Indonesia saja tapi juga seluruh dunia.

    BalasHapus
  7. kita memang harus perkuat sektor pangan ini. Petani Indonesia harus sejahtera supaya makin banyak yg mau nyemplung jadi petani

    BalasHapus
  8. Mesti meningkat ya kesejahteraan petani, peternak, semoga deh

    BalasHapus
  9. Mantap.Muliakan profesi petani, eratkan kemitraan.jadikan petani sbg profesi bergengsi sprti di negara2 tetangga

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^