Pengalaman Anak yang Diasuh oleh Asisten Rumah Tangga - Keterangan: Ini bukan cerita tentang Keke dan Nai yang diasuh oleh asisten rumah tangga. Tapi cerita tentang pengalaman Chi yang sejak kecil diasuh oleh asisten rumah tangga karena mamah bekerja.

Males sebetulnya membahas tema mom's war yang paling legend ini. Apalagi kalau bukan tentang "Ibu Rumah Tangga vs Ibu Bekerja". Kayaknya dari zaman rikiplik, perang yang satu ini udah ada. Kali ini Chi tergelitik untuk bikin postingan dengan tema ini. Tapi bukan untuk menimbulkan pro-cons, lho. *Postingan kali ini, Chi bikin dalam bentuk tanya jawab, ya.

Pernah ikut war dengan tema ini? Alasannya?

Enggak pernah. Chi malas ikut war karena memang gak suka ribut apalagi di social media.

Kedua, ya karena mamah seorang ibu bekerja. Sebelum pukul 6 pagi udah berangkat kerja karena kantornya jauh banget. Sampe rumah paling cepat pukul 9 malam. Otomatis sehari-hari Chi lebih sering sama asisten rumah tangga.

Kalau Chi 'menyerang' ibu bekerja itu sama aja dengan menyerang ibu sendiri. Kalaupun misalnya mamah bukanlah ibu yang baik, Chi lebih suka mengatakan langsung secara personal daripada mengeneralisir semua ibu bekerja pasti gak baik.

Sedekat apa dengan asisten rumah tangga?

Asisten rumah tangga zaman dulu tuh setia. Dulu kami hanya punya 1 asisten rumah tangga yang bertahan lama. Namanya bi Noh dan udah ikut kami sejak Chi kecil hingga lulus SMA. Berhenti bekerja karena dijodohin sama orang tuanya dan akhirnya tinggal di kampung.

Chi masih inget banget, saat itu bi noh sampai menangis tapi juga gak kuasa menentang keinginan orang tuanya. Apalagi untuk ukuran masyarakat di kampung, usia bi Noh saat itu udah termasuk perawan tua. Makanya ma orang tuanya diharuskan menikah dengan cara dijodohkan. Karena hubungan keluarga kami dengan bi Noh baik, hingga sekarang bi Noh dan suaminya dipercayakan untuk mengurus rumah papah di kampung.

Jadi, kalau dibilang dekat sih udah pasti dekat banget, lah. Chi pernah ada masa tidur sekamar ma bi Noh. Paling suka kalau mau tidur diusapin rambutnya. Bi Noh juga pintar masak. Telaten banget sampai buku pelajaran juga tiap hari disiapin ma bi Noh. Deket banget lah pokoknya.

Berarti bi Noh udah bisa dibilang menggantikan posisi orang tua, dong?

Ya, enggak lah. Anggap aja bi Noh udah jadi bagian dari anggota keluarga. Tapi pengganti orang tua? Ya enggak.

Seberapa dekat dengan orang tua, terutama mamah?

Lumayan dekat. Chi memang gak pernah bermanja-manja ma orang tua tapi kan bukan berarti gak dekat. Kuantitas mamah ke anak-anaknya memang gak banyak. Gak usahlah bandingin dengan semua ibu rumah tangga. Bandingin aja dengan Chi sekarang yang jadi ibu rumah tangga. Chi berani bilang kalau kuantitas kebersamaan dengan anak-anak lebih banyak Chi daripada mamah. Kuantitas lho ya BUKAN kualitas.

Berarti kualitas mamah sebagai ibu tetap baik? Kalau begitu kenapa Chi gak jadi ibu bekerja juga?

Lulus kuliah, Chi pernah kerja kantoran. Sama lah kayak mamah, berangkat pagi trus sampai ke rumah lagi udah larut malam. Kalau udah sampai rumah maunya langsung tidur. Cape banget meskipun di kantor suasanya menyenangkan.

Trus, menjelang menikah Chi mulai mikir. Apa iya bisa menjalankan 2 peran sekaligus? Kalau mamah, udah terbukti bisa. Tapi kalau Chi rasanya gak sanggup, deh. Ngebayanginnya aja udah langsung kibar bendera putih. Makanya Chi akhirnya pilih jadi ibu rumah tangga aja. Tentunya setelah berdiskusi dengan K'Aie. Kedua belah pihak harus sepakat, lah. *Eits! Jangan komen seharusnya dicoba dulu, siapa tau sebetulnya sanggup. Iya, Chi memang belum pernah menjalankan 2 peran sekaligus. Tapi kita kan juga bisa menilai diri sendiri. Rasanya Chi cukup tau seperti apa kemampuan diri sendiri makanya bisa mengatakan gak sanggup.

Memang apa yang mamah lakukan bersama anak-anak kalau lagi di rumah?

Kalau hari kerja mungkin gak banyak, ya. Seringnya mamah sampai rumah, anak-anaknya udah tidur. Paling ketemu sebentar di pagi hari. Tapi kebersamaannya paling terasa saat weekend. Kadang-kadang kami jalan ke mall, sekadar cari makan.

Atau kami suka ngumpul di kamar orang tua, gelar kasur tambahan, kruntelan bareng, dan tidur bersama. Saat kruntelan, kami ada ngobrolnya sambil nonton tv bareng. Dulu belum jamannya gadget, jadi gak ada cerita masing-masing sibuk dnegan gadget meskipun satu ruangan. Lupakan dulu deh ya segala teori kalau anak sebaiknya tidur terpisah dari orang tua. Lagipula yang kami melakukannya juga gak setiap hari.

Mamah juga pintar memasak. Chi banyak belajar memasak dari mamah. Meskipun bi Noh bisa memasak tapi kalau weekend giliran mamah yang masak. Kami juga suka piknik. Dan kalau piknik, semua masakannya mamah yang buat. Chi aja yang sekarang di rumah kalau mau jalan-jalan jarang banget bawa makanan sendiri. Beli aja, lah. Praktis! πŸ˜‚

Ada satu hal dari mamah yang Chi gak bisa yaitu menjahit. Sampai SD kelas berapa gitu, semua baju anak-anak selalu dijahitin mamah. Kalau di sekolah ada teman pakai baju yang kelihatan bagus, mamah bilang bakal bikinin. Jadi kami gak pernah beli baju di toko sampai usia tertentu *Chi lupa usia berapa*. Chi sampai sekarang gak bisa jahit, semua baju anak-anak ya tinggal beli. Apalagi sekarang udah ada toko online hehehe.

Itu sedikit contoh dari apa yang mamah lakukan sebagai ibu. Jadi biarpun mamah sibuk bekerja, tetap aja kalau ada waktu masih berusaha menyenangkan anak-anak.

Berarti harus pinter masak, dong?

Ya enggak juga. Chi punya temen gak bisa masak. Dia sendiri yang ngaku begitu, lho. Tapi dia bilang tetap akan menyajikan makanan terbaik untuk anak-anaknya meskipun harus beli.

Masakan ibu adalah yang terbaik? Iya, buat Chi makanan ibu adalah yang terbaik. Makanya Chi tetap berusaha memasak. Terinspirasi dari mamah juga yang tetap memasak untuk anak-anaknya. Tapi setiap orang kan punya tolok ukur sendiri. Lagipula dia ini yang mengeluarkan uang. Suami serta anak-anaknya juga gak bermasalah dengan itu. Jadi, kenapa juga harus kita yang ribut?

Katanya anak yang diasuh oleh orang lain (asisten rumah tangga. day care, baby sitter, atau nenek) gak bahagia. Trus gak juga bikin si anak jadi pintar. Makanya tetap sebaiknya ibu yang mengasuh anaknya.

Hmmm ... Apa Chi harus upload semua nilai raport saat masih sekolah? Ya, meskipun gak pernah ranking 1 tapi 10 besar aja sering, lah. Kayaknya zaman SMA aja yang kadang agak jeblok. Mulai mengenal cinta, sih *uhuk! πŸ˜‚

Bi Noh memang gak pernah ngajarin Chi belajar. Ya tidak mampu juga. Sedangkan mamah sibuk bekerja. Paling sesekali aja tanya pelajaran sekolah ke anaknya. Tapi bukan berarti bikin kita jadi bodoh, kan? Sekarang aja, Chi punya banyak teman yang bekerja tetapi anak-anaknya pada berprestasi, lho.

Chi malah pernah baca komen yang lebih parah. Katanya anak yang diasuh bukan sama ibunya adalah produk gagal. Ya mungkin saat itu Chi juga lagi PMS jadinya langsung merasa kesal juga. Enak aja dianggap produk gagal. Manusia kok disamain ma barang. Rasanya pengen langsung balas komen orang itu. Kalau perlu sambil ngamuk.

Tapi dipikir lagi, ngapain juga ngeladenin. Kenal juga enggak. Kalau dia merasa gagal, biarin aja lah. Chi sendiri gak pernah merasa jadi anak yang gagal. Alhamdulillah bahagia aja sampai sekarang. Bersyukur dengan apa yang bisa dinikmati saat ini.

Pernah gak berpikir, seandainya mamah gak kerja?

Sering. Biasanya kalau lagi ngiri lihat teman yang ibunya di rumah. Pengen lah punya ibu kayak gitu. Tapi Chi gak pernah minta ke mamah juga untuk berhenti bekerja. Contoh lainnya adalah Chi malah pernah beberapa kali ditanya sama Keke kenapa gak kerja. Dia pengen kayak beberapa temannya yang ibunya kerja. Nah, lho! Chi malah pernah pengen punya ibu yang di rumah. Giliran sekarang Chi jadi ibu rumah tangga, anaknya malah minta bundanya kerja. πŸ˜‚

Sebetulnya itu cuma keinginan sesaat seorang anak. Kayak Chi suka mikir gitu kalau lagi timbul rasa iri. Sedangkan Keke berpendapat begitu karena melihat teman-temannya lebih bebas. Punya pikiran seperti itu bukan berarti anak-anak gak mengerti apa yang dilakukan orang tua. Chi mengerti kenapa mamah harus kerja. Keke pun mengerti kenapa bundanya memilih di rumah.

Malah Chi pernah bilang ke Keke bakal kerja lagi kalau memang dia maunya begitu. Eh, giliran digituin, dia malah bilang kalau bundanya gak boleh kerja hihihi. Ya begitulah. Namanya juga anak-anak, kadang-kadang punya keinginan sesaat juga.

Tapi kalau lihat berbagai kasus remaja rasanya semakin bikin was-was. Apa gak sebaiknya seorang ibu jadi ibu rumah tangga aja?

Kalau lihat/dengar berbagai kasus remaja memang bikin was-was. Tapi apa iya, semua remaja yang bermasalah itu ibunya bekerja? Chi memang gak pernah survey. Tapi rasanya gak mungkin ya kalau kasus ini hanya dialami oleh anak yang ibunya bekerja. Di lingkungan sendiri aja, beberapa anak yang bermasalah ada yang ibunya bekerja dan ada yang tidak. Anak yang berprestasi pun ada yang ibunya bekerja atau ibu rumah tangga.

Jadi siapapun bisa mengalaminya. Nah, masalahnya kadang dalam setiap perdebatan, Chi jarang banget melihat yang membahas penyebab kenapa remaja jadi bermasalah. Kebanyakan langsung saling menyalahkan status ibunya bekerja atau tidak. Atau saling klaim yang terbaik tentang posisinya sebagai ibu rumah tangga atau ibu bekerja.

Tapi yang mendukung ibu rumah tangga ada yang dari ahli parenting, lho.

Trus kenapa? Eits! Jangan salah sangka dulu, ya. Chi gak anti dengan ahli parenting, kok. Sejak hamil anak pertama, Chi banyak beli buku parenting. Langganan majalah dan tabloid tentang ibu-anak juga. Apalagi saat itu Chi belum akrab dengan internet. Terbantu banget dengan adanya buku, majalah, dan tabloid. Chi juga kadang-kadang suka datang ke acara parenting sampai sekarang.

Tapi pendapat ahli parenting kan bisa beragam. Chi pernah datang ke salah satu seminar parenting, trus pas sesi tanya jawab ada seorang ibu yang minta saran tentang pola asuh anak bagi ibu bekerja. Sehari-hari anaknya bersama baby sitter. Ahli parenting tersebut dengan halus menolak menjawab. Alasannya, dia pernah bekerja kantoran dan ternyata anaknya kurang terurus. Sehingga akhirnya memilih resign. Makanya ahli parenting ini menolak menjawab untuk sesuatu yang beliau sendiri pernah gagal.

Apakah ahli tersebut salah? Tentu aja enggak. Beliau hanya menolak tapi tidak menghakimi ibu yang bekerja. Jadi seandainya kita tidak sependapat ya gak usah memaksa juga. Di luar sana kan juga banyak ahli parenting yang memberikan berbagai solusi bagi ibu bekerja. Kalaupun gak bertanya ke ahli parenting, bisa berdiskusi dengan keluarga, teman, atau siapapun yang sekiranya bisa menjadi tempat untuk berdiskusi. *Daripada nyari perbedaan melulu kan malah pusing.

Chi kan suka dengan quote Rio 2, "Happy Wife, Happy Family". Alasannya?

Chi pernah menyarankan seorang teman untuk kerja lagi. Ya abisnya sejak dia resign bawaannya jadi curhat segala keluhan melulu. Padahal tadinya teman Chi ini selalu ceria. Bukannya Chi gak mau jadi pendengar yang baik, tapi sampai kapan jadi pendengar kalau terus mendengar keluhan yang sama? Beberapa saran seperti gak dianggap.

Chi pikir bekerja akan bikin dia bahagia lagi. Lagipula saat bekerja juga anaknya terurus dengan baik. Kalau di rumah trus dia ngeluh melulu kan malah kasihan anaknya. Tapi Chi cuma kasih saran, kalaupun sampai sekarang dia tetap memilih untuk jadi ibu rumah tangga ya itu hak dia. Dan pada akhirnya dia pun berbahagia juga sebagai ibu rumah tangga. Alhamdulillah.

Perempuan juga makhluk yang rumit. Kadang kita aja suka gak ngerti ma diri sendiri apalagi kalau lagi sensi. Iya, gak? πŸ˜‚ Makanya harus bahagia dulu. Pasti lebih suka lihat perempuan bahagia daripada baper, kan? Perempuan kalau udah baper tuh ngeselin. Serba salah. *ups! Itu kayaknya Chi aja 😁 Bahagia bukannya berarti egois, ya. Tapi biasanya kalau hati perempuan udah bahagia, apapun rintangannya juga bisa atau lebih semangat untuk dijalani. Kalau udah menikah, model kebahagiannya diskusikan dengan suami

Berarti antara ibu bekerja vs ibu rumah tangga gak ada pemenangnya, ya? Trus kira-kira kapan war ini berakhir?

Emangnya perlombaan? Pakai ada pemenang segala hehehe. Silakan mau memilih jadi ibu bekerja atau ibu rumah tangga. Setiap orang pasti punya ukuran masing-masing. Jangan ngurusin 'dapur' orang lain terus. Bahagialah dengan ukuran sendiri tanpa harus menyakiti orang lain 😊

Kapan akan berhenti? Kalau kata Chi, perang akan berhenti kalau gak ada lagi yang ngeladenin. Maksudnya kalau ada yang ngejudge gitu mending abaikan aja. Chi memang gak pernah ikut war kayak gini tapi bukan berarti hati gak pernah panas kalau baca komen yang gak enak. Kadang sampai uring-uringan, lho. Yah namanya juga manusia. Wajar  kalau kadang-kadang bisa emosi juga hehehe. Tapi, sebisa mungkin menghindari war.

Mendingan berusaha cuek aja, deh. Caranya kalau lagi PMS mending jauh dari socmed hihihi. Tapi cara yang terampuh adalah dengan melihat ke suami dan anak-anak. Mereka bahagia, gak? Mereka menerima, gak? Kalau suami dan anak-anak menerima kita sebagai istri/ibu dengan apa adanya dan bahagia pula, ngapain juga harus ngeladenin judgement orang lain yang bahkan kita gak kenal? Malah bisa-bisa suami atau anak-anak yang jadi korban. Iya karena kita uring-uringan gara-gara pendapat orang trus yang dicemberutin orang serumah. Padahal apa salah mereka? Kalau buat Chi sih resep jitunya itu, lihat suami dan anak-anak. Bukan berarti mengabaikan keberadaan orang tua, ya. Tapi kan teman curhat Chi ya suami. Anak-anak juga sehari-hari ma Chi.

Sesuatu yang memicu war memang biasanya awalnya karena ada yang cenderung nge-judge. Ya mungkin maksudnya baik tapi tetap aja kalau ada pihak yang merasa dihakimi jadinya ramai. Tips lainnya mending cari informasi positif yang sekiranya dibutuhkan aja. Misalnya bagaimana seorang ibu rumah tangga mengasuh anak. Atau buat ibu bekerja, silakan cari artikel tentang kualitas bersama anak meskipun sehari-harinya anak bersama pihak lain.

Cari circle yang saling mendukung lebih adem daripada ikutan berdebat. Gak harus dari yang pilihannya sama. Kayak Chi ma mamah, meskipun pilihan kami beda tapi bisa saling belajar juga. Chi kadang-kadang masih suka minta saran mamah bagaimana mengasuh anak, memasak, dan lain sebagainya. Mamah juga kadang-kadang suka nanya Chi termasuk kalau lagi bete ma papah suka minta saran ma anaknya hahaha. Lucu ya kesannya kok orang tua minta saran ma anak. Tapi sebetulnya itu karena kami cukup dekat aja jadi kadang suka saling curhat dan memberi saran.

Ya udah gitu aja. Jadi masih mau ikutan war? Ini udah tahun 2018, lho. Mau sampai kapan?😁