Pengalaman Anak yang Diasuh oleh Asisten Rumah Tangga - Keke Naima

Kamis, 08 Maret 2018

Pengalaman Anak yang Diasuh oleh Asisten Rumah Tangga

Pengalaman-Anak-yang-Diasuh-oleh-Asisten-Rumah-Tangga
Sumber foto: Pixabay

Keterangan: Ini bukan cerita tentang Keke dan Nai yang diasuh oleh asisten rumah tangga. Tapi cerita tentang pengalaman Chi yang sejak kecil diasuh oleh asisten rumah tangga karena mamah bekerja.

Males sebetulnya membahas tema mom's war yang paling legend ini. Apalagi kalau bukan tentang "Ibu Rumah Tangga vs Ibu Bekerja". Kayaknya dari zaman rikiplik, perang yang satu ini udah ada. Kali ini Chi tergelitik untuk bikin postingan dengan tema ini. Tapi bukan untuk menimbulkan pro-cons, lho. *Postingan kali ini, Chi bikin dalam bentuk tanya jawab, ya.

Pernah ikut war dengan tema ini? Alasannya?

Enggak pernah. Chi malas ikut war karena memang gak suka ribut apalagi di social media.

Kedua, ya karena mamah seorang ibu bekerja. Sebelum pukul 6 pagi udah berangkat kerja karena kantornya jauh banget. Sampe rumah paling cepat pukul 9 malam. Otomatis sehari-hari Chi lebih sering sama asisten rumah tangga.

Kalau Chi 'menyerang' ibu bekerja itu sama aja dengan menyerang ibu sendiri. Kalaupun misalnya mamah bukanlah ibu yang baik, Chi lebih suka mengatakan langsung secara personal daripada mengeneralisir semua ibu bekerja pasti gak baik.

Sedekat apa dengan asisten rumah tangga?

Asisten rumah tangga zaman dulu tuh setia. Dulu kami hanya punya 1 asisten rumah tangga yang bertahan lama. Namanya bi Noh dan udah ikut kami sejak Chi kecil hingga lulus SMA. Berhenti bekerja karena dijodohin sama orang tuanya dan akhirnya tinggal di kampung.

Chi masih inget banget, saat itu bi noh sampai menangis tapi juga gak kuasa menentang keinginan orang tuanya. Apalagi untuk ukuran masyarakat di kampung, usia bi Noh saat itu udah termasuk perawan tua. Makanya ma orang tuanya diharuskan menikah dengan cara dijodohkan. Karena hubungan keluarga kami dengan bi Noh baik, hingga sekarang bi Noh dan suaminya dipercayakan untuk mengurus rumah papah di kampung.

Jadi, kalau dibilang dekat sih udah pasti dekat banget, lah. Chi pernah ada masa tidur sekamar ma bi Noh. Paling suka kalau mau tidur diusapin rambutnya. Bi Noh juga pintar masak. Telaten banget sampai buku pelajaran juga tiap hari disiapin ma bi Noh. Deket banget lah pokoknya.

Berarti bi Noh udah bisa dibilang menggantikan posisi orang tua, dong?

Ya, enggak lah. Anggap aja bi Noh udah jadi bagian dari anggota keluarga. Tapi pengganti orang tua? Ya enggak.

Seberapa dekat dengan orang tua, terutama mamah?

Lumayan dekat. Chi memang gak pernah bermanja-manja ma orang tua tapi kan bukan berarti gak dekat. Kuantitas mamah ke anak-anaknya memang gak banyak. Gak usahlah bandingin dengan semua ibu rumah tangga. Bandingin aja dengan Chi sekarang yang jadi ibu rumah tangga. Chi berani bilang kalau kuantitas kebersamaan dengan anak-anak lebih banyak Chi daripada mamah. Kuantitas lho ya BUKAN kualitas.

Berarti kualitas mamah sebagai ibu tetap baik? Kalau begitu kenapa Chi gak jadi ibu bekerja juga?

Lulus kuliah, Chi pernah kerja kantoran. Sama lah kayak mamah, berangkat pagi trus sampai ke rumah lagi udah larut malam. Kalau udah sampai rumah maunya langsung tidur. Cape banget meskipun di kantor suasanya menyenangkan.

Trus, menjelang menikah Chi mulai mikir. Apa iya bisa menjalankan 2 peran sekaligus? Kalau mamah, udah terbukti bisa. Tapi kalau Chi rasanya gak sanggup, deh. Ngebayanginnya aja udah langsung kibar bendera putih. Makanya Chi akhirnya pilih jadi ibu rumah tangga aja. Tentunya setelah berdiskusi dengan K'Aie. Kedua belah pihak harus sepakat, lah. *Eits! Jangan komen seharusnya dicoba dulu, siapa tau sebetulnya sanggup. Iya, Chi memang belum pernah menjalankan 2 peran sekaligus. Tapi kita kan juga bisa menilai diri sendiri. Rasanya Chi cukup tau seperti apa kemampuan diri sendiri makanya bisa mengatakan gak sanggup.

Memang apa yang mamah lakukan bersama anak-anak kalau lagi di rumah?

Kalau hari kerja mungkin gak banyak, ya. Seringnya mamah sampai rumah, anak-anaknya udah tidur. Paling ketemu sebentar di pagi hari. Tapi kebersamaannya paling terasa saat weekend. Kadang-kadang kami jalan ke mall, sekadar cari makan.

Atau kami suka ngumpul di kamar orang tua, gelar kasur tambahan, kruntelan bareng, dan tidur bersama. Saat kruntelan, kami ada ngobrolnya sambil nonton tv bareng. Dulu belum jamannya gadget, jadi gak ada cerita masing-masing sibuk dnegan gadget meskipun satu ruangan. Lupakan dulu deh ya segala teori kalau anak sebaiknya tidur terpisah dari orang tua. Lagipula yang kami melakukannya juga gak setiap hari.

Mamah juga pintar memasak. Chi banyak belajar memasak dari mamah. Meskipun bi Noh bisa memasak tapi kalau weekend giliran mamah yang masak. Kami juga suka piknik. Dan kalau piknik, semua masakannya mamah yang buat. Chi aja yang sekarang di rumah kalau mau jalan-jalan jarang banget bawa makanan sendiri. Beli aja, lah. Praktis! πŸ˜‚

Ada satu hal dari mamah yang Chi gak bisa yaitu menjahit. Sampai SD kelas berapa gitu, semua baju anak-anak selalu dijahitin mamah. Kalau di sekolah ada teman pakai baju yang kelihatan bagus, mamah bilang bakal bikinin. Jadi kami gak pernah beli baju di toko sampai usia tertentu *Chi lupa usia berapa*. Chi sampai sekarang gak bisa jahit, semua baju anak-anak ya tinggal beli. Apalagi sekarang udah ada toko online hehehe.

Itu sedikit contoh dari apa yang mamah lakukan sebagai ibu. Jadi biarpun mamah sibuk bekerja, tetap aja kalau ada waktu masih berusaha menyenangkan anak-anak.

Berarti harus pinter masak, dong?

Ya enggak juga. Chi punya temen gak bisa masak. Dia sendiri yang ngaku begitu, lho. Tapi dia bilang tetap akan menyajikan makanan terbaik untuk anak-anaknya meskipun harus beli.

Masakan ibu adalah yang terbaik? Iya, buat Chi makanan ibu adalah yang terbaik. Makanya Chi tetap berusaha memasak. Terinspirasi dari mamah juga yang tetap memasak untuk anak-anaknya. Tapi setiap orang kan punya tolok ukur sendiri. Lagipula dia ini yang mengeluarkan uang. Suami serta anak-anaknya juga gak bermasalah dengan itu. Jadi, kenapa juga harus kita yang ribut?

Katanya anak yang diasuh oleh orang lain (asisten rumah tangga. day care, baby sitter, atau nenek) gak bahagia. Trus gak juga bikin si anak jadi pintar. Makanya tetap sebaiknya ibu yang mengasuh anaknya.

Hmmm ... Apa Chi harus upload semua nilai raport saat masih sekolah? Ya, meskipun gak pernah ranking 1 tapi 10 besar aja sering, lah. Kayaknya zaman SMA aja yang kadang agak jeblok. Mulai mengenal cinta, sih *uhuk! πŸ˜‚

Bi Noh memang gak pernah ngajarin Chi belajar. Ya tidak mampu juga. Sedangkan mamah sibuk bekerja. Paling sesekali aja tanya pelajaran sekolah ke anaknya. Tapi bukan berarti bikin kita jadi bodoh, kan? Sekarang aja, Chi punya banyak teman yang bekerja tetapi anak-anaknya pada berprestasi, lho.

Chi malah pernah baca komen yang lebih parah. Katanya anak yang diasuh bukan sama ibunya adalah produk gagal. Ya mungkin saat itu Chi juga lagi PMS jadinya langsung merasa kesal juga. Enak aja dianggap produk gagal. Manusia kok disamain ma barang. Rasanya pengen langsung balas komen orang itu. Kalau perlu sambil ngamuk.

Tapi dipikir lagi, ngapain juga ngeladenin. Kenal juga enggak. Kalau dia merasa gagal, biarin aja lah. Chi sendiri gak pernah merasa jadi anak yang gagal. Alhamdulillah bahagia aja sampai sekarang. Bersyukur dengan apa yang bisa dinikmati saat ini.

Pernah gak berpikir, seandainya mamah gak kerja?

Sering. Biasanya kalau lagi ngiri lihat teman yang ibunya di rumah. Pengen lah punya ibu kayak gitu. Tapi Chi gak pernah minta ke mamah juga untuk berhenti bekerja. Contoh lainnya adalah Chi malah pernah beberapa kali ditanya sama Keke kenapa gak kerja. Dia pengen kayak beberapa temannya yang ibunya kerja. Nah, lho! Chi malah pernah pengen punya ibu yang di rumah. Giliran sekarang Chi jadi ibu rumah tangga, anaknya malah minta bundanya kerja. πŸ˜‚

Sebetulnya itu cuma keinginan sesaat seorang anak. Kayak Chi suka mikir gitu kalau lagi timbul rasa iri. Sedangkan Keke berpendapat begitu karena melihat teman-temannya lebih bebas. Punya pikiran seperti itu bukan berarti anak-anak gak mengerti apa yang dilakukan orang tua. Chi mengerti kenapa mamah harus kerja. Keke pun mengerti kenapa bundanya memilih di rumah.

Malah Chi pernah bilang ke Keke bakal kerja lagi kalau memang dia maunya begitu. Eh, giliran digituin, dia malah bilang kalau bundanya gak boleh kerja hihihi. Ya begitulah. Namanya juga anak-anak, kadang-kadang punya keinginan sesaat juga.

Tapi kalau lihat berbagai kasus remaja rasanya semakin bikin was-was. Apa gak sebaiknya seorang ibu jadi ibu rumah tangga aja?

Kalau lihat/dengar berbagai kasus remaja memang bikin was-was. Tapi apa iya, semua remaja yang bermasalah itu ibunya bekerja? Chi memang gak pernah survey. Tapi rasanya gak mungkin ya kalau kasus ini hanya dialami oleh anak yang ibunya bekerja. Di lingkungan sendiri aja, beberapa anak yang bermasalah ada yang ibunya bekerja dan ada yang tidak. Anak yang berprestasi pun ada yang ibunya bekerja atau ibu rumah tangga.

Jadi siapapun bisa mengalaminya. Nah, masalahnya kadang dalam setiap perdebatan, Chi jarang banget melihat yang membahas penyebab kenapa remaja jadi bermasalah. Kebanyakan langsung saling menyalahkan status ibunya bekerja atau tidak. Atau saling klaim yang terbaik tentang posisinya sebagai ibu rumah tangga atau ibu bekerja.

Tapi yang mendukung ibu rumah tangga ada yang dari ahli parenting, lho.

Trus kenapa? Eits! Jangan salah sangka dulu, ya. Chi gak anti dengan ahli parenting, kok. Sejak hamil anak pertama, Chi banyak beli buku parenting. Langganan majalah dan tabloid tentang ibu-anak juga. Apalagi saat itu Chi belum akrab dengan internet. Terbantu banget dengan adanya buku, majalah, dan tabloid. Chi juga kadang-kadang suka datang ke acara parenting sampai sekarang.

Tapi pendapat ahli parenting kan bisa beragam. Chi pernah datang ke salah satu seminar parenting, trus pas sesi tanya jawab ada seorang ibu yang minta saran tentang pola asuh anak bagi ibu bekerja. Sehari-hari anaknya bersama baby sitter. Ahli parenting tersebut dengan halus menolak menjawab. Alasannya, dia pernah bekerja kantoran dan ternyata anaknya kurang terurus. Sehingga akhirnya memilih resign. Makanya ahli parenting ini menolak menjawab untuk sesuatu yang beliau sendiri pernah gagal.

Apakah ahli tersebut salah? Tentu aja enggak. Beliau hanya menolak tapi tidak menghakimi ibu yang bekerja. Jadi seandainya kita tidak sependapat ya gak usah memaksa juga. Di luar sana kan juga banyak ahli parenting yang memberikan berbagai solusi bagi ibu bekerja. Kalaupun gak bertanya ke ahli parenting, bisa berdiskusi dengan keluarga, teman, atau siapapun yang sekiranya bisa menjadi tempat untuk berdiskusi. *Daripada nyari perbedaan melulu kan malah pusing.

Chi kan suka dengan quote Rio 2, "Happy Wife, Happy Family". Alasannya?

Chi pernah menyarankan seorang teman untuk kerja lagi. Ya abisnya sejak dia resign bawaannya jadi curhat segala keluhan melulu. Padahal tadinya teman Chi ini selalu ceria. Bukannya Chi gak mau jadi pendengar yang baik, tapi sampai kapan jadi pendengar kalau terus mendengar keluhan yang sama? Beberapa saran seperti gak dianggap.

Chi pikir bekerja akan bikin dia bahagia lagi. Lagipula saat bekerja juga anaknya terurus dengan baik. Kalau di rumah trus dia ngeluh melulu kan malah kasihan anaknya. Tapi Chi cuma kasih saran, kalaupun sampai sekarang dia tetap memilih untuk jadi ibu rumah tangga ya itu hak dia. Dan pada akhirnya dia pun berbahagia juga sebagai ibu rumah tangga. Alhamdulillah.

Perempuan juga makhluk yang rumit. Kadang kita aja suka gak ngerti ma diri sendiri apalagi kalau lagi sensi. Iya, gak? πŸ˜‚ Makanya harus bahagia dulu. Pasti lebih suka lihat perempuan bahagia daripada baper, kan? Perempuan kalau udah baper tuh ngeselin. Serba salah. *ups! Itu kayaknya Chi aja 😁 Bahagia bukannya berarti egois, ya. Tapi biasanya kalau hati perempuan udah bahagia, apapun rintangannya juga bisa atau lebih semangat untuk dijalani. Kalau udah menikah, model kebahagiannya diskusikan dengan suami

Berarti antara ibu bekerja vs ibu rumah tangga gak ada pemenangnya, ya? Trus kira-kira kapan war ini berakhir?

Emangnya perlombaan? Pakai ada pemenang segala hehehe. Silakan mau memilih jadi ibu bekerja atau ibu rumah tangga. Setiap orang pasti punya ukuran masing-masing. Jangan ngurusin 'dapur' orang lain terus. Bahagialah dengan ukuran sendiri tanpa harus menyakiti orang lain 😊

Kapan akan berhenti? Kalau kata Chi, perang akan berhenti kalau gak ada lagi yang ngeladenin. Maksudnya kalau ada yang ngejudge gitu mending abaikan aja. Chi memang gak pernah ikut war kayak gini tapi bukan berarti hati gak pernah panas kalau baca komen yang gak enak. Kadang sampai uring-uringan, lho. Yah namanya juga manusia. Wajar  kalau kadang-kadang bisa emosi juga hehehe. Tapi, sebisa mungkin menghindari war.

Mendingan berusaha cuek aja, deh. Caranya kalau lagi PMS mending jauh dari socmed hihihi. Tapi cara yang terampuh adalah dengan melihat ke suami dan anak-anak. Mereka bahagia, gak? Mereka menerima, gak? Kalau suami dan anak-anak menerima kita sebagai istri/ibu dengan apa adanya dan bahagia pula, ngapain juga harus ngeladenin judgement orang lain yang bahkan kita gak kenal? Malah bisa-bisa suami atau anak-anak yang jadi korban. Iya karena kita uring-uringan gara-gara pendapat orang trus yang dicemberutin orang serumah. Padahal apa salah mereka? Kalau buat Chi sih resep jitunya itu, lihat suami dan anak-anak. Bukan berarti mengabaikan keberadaan orang tua, ya. Tapi kan teman curhat Chi ya suami. Anak-anak juga sehari-hari ma Chi.

Sesuatu yang memicu war memang biasanya awalnya karena ada yang cenderung nge-judge. Ya mungkin maksudnya baik tapi tetap aja kalau ada pihak yang merasa dihakimi jadinya ramai. Tips lainnya mending cari informasi positif yang sekiranya dibutuhkan aja. Misalnya bagaimana seorang ibu rumah tangga mengasuh anak. Atau buat ibu bekerja, silakan cari artikel tentang kualitas bersama anak meskipun sehari-harinya anak bersama pihak lain.

Cari circle yang saling mendukung lebih adem daripada ikutan berdebat. Gak harus dari yang pilihannya sama. Kayak Chi ma mamah, meskipun pilihan kami beda tapi bisa saling belajar juga. Chi kadang-kadang masih suka minta saran mamah bagaimana mengasuh anak, memasak, dan lain sebagainya. Mamah juga kadang-kadang suka nanya Chi termasuk kalau lagi bete ma papah suka minta saran ma anaknya hahaha. Lucu ya kesannya kok orang tua minta saran ma anak. Tapi sebetulnya itu karena kami cukup dekat aja jadi kadang suka saling curhat dan memberi saran.

Ya udah gitu aja. Jadi masih mau ikutan war? Ini udah tahun 2018, lho. Mau sampai kapan?😁

28 komentar:

  1. aq gak pernah terlibat moms war ini mbak myra, malah kalo bisa menghindari deh, jadi kalo ada temen yang irt mulai nanya2 kenapa masih kerja, kenapa gak jd irt saja, langsung to the point jawabnya : msh pgn kerja dan suami mengijinkan jd kenapa gak. biasanya sih gak di perpanjang lagi itu obrolan.hehehe

    harusnya perempuan saling dukung yah bukan saling menjatuhkan apalagi saling serang, sedih juga kadang kalo masih ada yang egois itu.

    BalasHapus
  2. ya topik ini ga ada habisnya ya mab dan bener kecuali kalau ga ada yang meladeni, aku ibu bekerja tapi aku ga nganggep ibu RT itu bla..bla.. karena almh ibu juga IRT dulunya. Setiap pilihan emang punya konsekuensi jadinya yah akan ada plus minusnya yang penting happy :)

    BalasHapus
  3. Aku tuh bener2 ga abis pikir mba kalo ada yaaa orang yg ngeributin masalah sepele begini, sampe dijadiin mom's war. Yg bingungnya sampe bisa bilang anak itu produk gagal kalo ga diasuh oleh ibunya.. Rasa2 mulutnya pengen dicabein, ato selama ini dia tinggal dlm tempurung :p

    Akupun diasuh ama babysitter. Dan bisa dibilang dialah yg paling deket ama aku wkt kecil dulu. Sabarnya, baiknya, ngajarin aku semuanya, dan ortuku sendiri sampe bilang, "uwak jinem itu ibu kamu yg kedua. Jangan pernah berkata kasar ama dia"

    Buatku yaaa, siapapun yg mengasuh kita, apalagi kalo orangnya juga menganggab kita kyk anak sendiri, dia ttp bisa aku anggab ibu. Ank2ku juga diasuh ama babysitter yg aku liat udh anggab mereka kyk anaknya sendiri. Kliatan lah sikap yg tulus dan bnr2 sayang, dngan sikap palsu.

    Anak yg diasuh ama ibunya sendiri aja blm tentu baik (bukti ama anak tetanggaku) , trs aku bakal generalisir semua anak yg diasuh ibunya pasti jd badung, gaa kaan...

    Tergantung siapa yg mengajari kok. Semoga yaaa orang2 yg hobi debat ga penting begini, bisa sadar :p.

    BalasHapus
  4. balik lagi keputusan jadi irt atau ibu bekerja ke diri masing-masing. jangan karena ikut2an atau karena judge orang lain. itupun harus memahami diri sendiri, lebih bahagianya jadi yg mana

    BalasHapus
  5. Setujuu.. Cara Terampuh ya balik ke suami & anak2 yaa.. Mereka dan kita sendiri ngerasa bahagia ya udah deh selesai, gk repot mikirin omongan orang, hihihi

    BalasHapus
  6. Saya jg dulu mikir ko mama ga kerja kan nanti dpt duid wkwkw tp dipikir lagi sekarang saya py anak, dpt duit juga ga seberapa yaudah saya berkarya d rumah aja sambil mendoakan suami, tfs ya mba mungkin nanti gakan ada war lagi diantara wanita😍

    BalasHapus
  7. Sama mbaa.. ga pernah ikutan mom war juga, malah support banget sama temen2 yang masih bisa kerja. Sbg irt pun suka ngerasa kurang waktu ke anak krn kerjaan rumah juga menyita waktu

    BalasHapus
  8. Sama mba, ibu saya kerja kantoran, tp saya ibu rumah tangga hihi...
    Kalau kata psikolog di sekolah jav: terserah ibu mau jadi irt, kerja freelance, atau kerja full time. Yg penting tau risiko & cara mengatasinya...

    BalasHapus
  9. dulu ibuku gak bekreja dan aku dekat sekali dg ibuku, sekarang aku bekreja dan berusaha untuk selalu dekat dan mau mendengarkan curhatan anak2 dan itu pilihan kok, semau pilihan punya konsekwensinya

    BalasHapus
  10. Menjahit? Pe er banget buatku.hahahaha. anakku juga pernah nyuruh bundanya kerja saja, tapi memang benar itu hanya keinginan sesaat mereka kalau lagi bete sama bundanya.

    BalasHapus
  11. Hihii... setujuuuu... ga usah ikut war. Pilihan masing2.. jalannya masing2.. yang penting saya hepy situ hepy damily hepy ya kan Mba Chi...

    Biasanya males mampir ke tulisan yg judulnya begini eh tapi lihat Mba Myra share malah kepo mau tahu pandangan my favorit parenting blogger soal ini. Dan tetappp you are the best mba. Nenangin banget bacanya... Lafff....

    BalasHapus
  12. Mba Mira beruntung mamanya dibantu oleh asisten setia dan terpercaya. Mamaku baru dapat asisten yg baik itu setelah aku SMP. Tapi saat umur 5 tahunan, asisten ganti-ganti dan masih muda-muda. Aku trauma dgn ART-ART itu karena kelakuannya macam-macam. Ada yg galaknya minta ampun. Ada yg bergaul bebas dgn laki2 di rumah orangtuaku. Ada yg suka nyuri. Dampaknya ya ke aku juga karena anak yg diasuhnya masih kecil nggak bisa melawan. Umur 6 thn pernah kabur dari rumah gara2 ART yg galak. Makanya pas SMA, aku sudah bertekad akan asuh anak sendiri. Kalaupun pakai ART ya aku masih bisa memperhatikan anak-anak karena khawatir seperti itu. Jadi buat ibu bekerja, memilih asisten yg baik itu kudu. Jangan asal dapat asisten. Dan tetap perhatian ke anak. Begitu sampai di rumah, jangan lagi pegang kerjaan kantor atau nambah kerjaan lain. Dampaknya akan terasa sampai anak dewasa.

    BalasHapus
  13. Makanya nih founder di komunitas yang saya ikuti selalu berpesan "tidak ad yng salah menjadi ibu yang bekerja di ranah publik ataupun domestik. Karena pada dasarnya ibu sama-sama bekerja hanya berbeda ranahnya. Yang penting kita melakukannya dengan bersungguh-sungguh tnpa melupakan peran utama menjadi ibu". Tapi jaman sekarang juga ibu bekerja diranah publik kudu pinter2 nyari ART. Soalnya ART jamam dulu dengan sekarang udh beda banget. Kudu lebih selektif. Mamanya mbak beruntung dapet ART yang bersahabat dan setia :)

    BalasHapus
  14. Aku merasakan seperti Chi rasakan. Karena aku ansk hasil asuhan ART juga. Dan aku berprestasi dan selalu positif. :)

    BalasHapus
  15. menurutku kuncinya, kita sebagai orangtua tu gak boleh kotor hatinya ya mbak. Lihat anak deket sama asisten, ya udah Alhamdulillah. Jangan malah cemburu, atau mikir macem-macem yg negatif. Iya gak sih mbak?

    BalasHapus
  16. setuju, mbak. sebaiknya para ibu menghindari war seputar ibu bekerja vs ibu rumah tangga ini. setiap ibu memiliki pilihannya masing-masing dan insya Allah berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya

    BalasHapus
  17. Intinya yang penting kedua orang tuanya harus aware kepada anak2nya ya Mba', mau bekerja atau tidak. Tidak lepas tangan begitu saja. Semua orang tua pasti tahu yang terbaik untuk anak-anaknya. Thanks for sharing Mba'. :)

    BalasHapus
  18. Kalau menurut saya nih ya, topik ini sebenarnya gak ada yang jadiin war.
    Yang terjadi adalah emak-emak galau zaman sekarang yang menghibur diri di sosmed, lalu dibaca oleh ibu lainnya dan baper. hihihi

    BalasHapus
  19. Topik Mom War tuh hanya digede-gedein aja jaman now mah, sepertinya butuh eksistensi di sosmed dan merasa paling benar.

    Perasaan dulu mah adem2 aja ya, Trus jaman dulu ma sekarang assisten RT beda jauh banget ya Chi.
    Aku dulu ga deket, ga manja sama Mama jauh lah dr kata akrab.Digedein sama si Mbah, udah SD di asuhnya sama Bulek2 dan Bibi2 Adik dr Mama/Bapak yg tinggal bareng di rumah hahahahhaa (Ada 4 orang)

    BalasHapus
  20. Apa kabarnya akuuu, Makchi. Ditinggal ibu jadi TKW di Arab, bertahun-tahun. Kalau kayak mamahnya Makchi mah kan tiap hari pulang, ini ibuku dua tahun sekali, hahhaha. Masalah prestasi malah patut bangga lah, selalu 3 besar sampai SMA. Ada sih masanya jeblok juga, mulai merasakan gejolak masa remaja *uhuk juga.

    Makanya ya sama kayak Makchi, nggak pernah ikutan mom war. Karena tau bangeeet, kondisi masing-masing keluarga itu beda. Lelah amat saling ngedudje satu sama lain. Biar mereka aja ya Makchi yang war2an, kita piss love and gawl :v

    BalasHapus
  21. Dan saya bukan produk gagal meskipun ibu saya bekerja, hih minta dicabein tuh mulut nya orang yg bilang begitu. Saya juga dulu tidur yg ngelonin mbak pengasuh tapi saya enjoy2 saja. Nggak sedih, nggak ngiri sama teman yg dikelonin ibunya, dan nggak pernah menyalahkan ibu saya. Saya justru bersyukur karena ibu saya bekerja karena saya jadi lebih mudah minta2 dibelikan baju, tas, sepatu... hahaha... karena kalau minta bapak agak sulit karena bapak sangat menghargai uang dan melatih kami utk giat menabung serta tdk konsumtif. Jadi saya kalau sedang pengen minta2 apa gitu pasti larinya ke ibu. Saya bersyukur ibu saya dulu bekerja dan saya bangga. Meskipun srkarang saya jadi IRT tp saya tetap sangat menghargai para ibu bekerja

    BalasHapus
  22. Ketika anak ketiga belum genap berusia 2 tahun aku hamil lagi. Berhubung aku ambruk, sementara suami di luar kota, akhirnya si anak diasuh oleh ART. Sebelumnya dititipkan ke buliknya. Sayangnya aku salah memilih ART, tiap hari ada saja drama dengan anakku.Entah itu ditakut-takuti, dsb. Aku jadi merasa bersalah. Tapi mau bagaimana lagi kalau tidak ada ART. Perlahan aku kasih tahu ART gimana cara mengasuh anakku.
    Sayangnya lagi, kehamilan itu berakhir dengan keguguran. Ah, jadi curhat.

    BalasHapus
  23. Terus bergulir dan ga abis2 ya mba xD
    Aku salah satu yang ngindari war2an xD
    Capek ah. XD

    BalasHapus
  24. Topiknya seru banget ya, Mbak. Sampe ada 'Mom's War' segala.. πŸ˜„. Menurut aku sih, gak masalah (karena belum ngerasain jadi istri dan ibu). Mau kerja atau jadi IRT, toh kan niatnya sama-sama baik. Yang jelas berani tanggung konsekuensinya aja lah. Tutup telinga dari omongan orang.. πŸ˜„

    BalasHapus

  25. Menurutku, siapapun yg mengasuh kita, baik ibu, art ataupun keluarga lain semuanya sama. Yang penting orangnya sayang ke kita dan anggap seperti anak sendiri. Meski diasuh ibu sendiri, tapi ibunya gak bener suka main tangan kan malah sengsara

    BalasHapus
  26. Sejak kecil ibu saya bekerja di rumah, beliau single parent. Dan memang enggak ada pilihan juga sih makanya ibu kerjanya sehari-hari di rumah sambil ngawasin saya yang masih kecil, sementara kakak-kakak sudah pada besar. Rasanya enak sih punya ibu yang selalu ada di rumah tiap saat, dan saya sama sekali enggak pernah kepikiran 'gimana ya kalau ibu bekerja di luar rumah'.

    Akhirnya hal itu membentuk saya 'mau juga kayak ibu, mau kerja di rumah sambil ngurus anak'. Tapi enggak menutup kemungkinan juga sih kalau suatu saat saya ingin bekerja lagi di kantor. Siapa tahu ada saatnya keluarga kami butuh sumber dana tambahan untuk biaya sekolah anak yang konon kabarnya enggak murah itu...

    Jadi ibu rumah tangga dengan ibu bekerja itu sama aja, sama-sama mengusahakan yang terbaik untuk keluarga :)

    BalasHapus
  27. Aku males ngeladenin war kayak gini, mending energi disalurkan pada hal2 yang prosuktif ajah

    BalasHapus
  28. set dah ,,
    semua udah terjawab ,, jadi yg mau WAR ,, sebodo teuing ya mbak mira ^_^

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^