korban kdrt
Sumber foto: Pixabay


Korban KDRT - "Lo lagi sakit, ya?"
"Enggak."
"Kok, kelihatan pucat? Pasti karena gak pake lipstik."

Dulu banyak banget yang menyangka Chi lagi sakit setiap kali gak pake lipstik. Makanya walaupun termasuk yang cuek tapi akhirnya Chi selalu mengulaskan lipstik dulu setiap kali ke luar rumah. Gak apa-apa gak pake bedak yang penting pake lipstik. Abis bosen disangka lagi sakit melulu.

Sekarang udah gak ada yang nyangka Chi lagi sakit meskipun gak pake lipstik. Apa ini ada hubungannya dengan berat badan juga, ya? Dulu kan berat badan Chi jarang nyampe 40 kg. Cungkring abis! Giliran sekarang gemukan udah mulai gak ada yang bilang muka Chi pucat kayak lagi sakit meskipun tanpa make up.

Oke lah kalau cuma dianggap lagi sakit, Chi masih nyantai nanggapinnya meskipun jadinya lipstikan terus. Bagaimana kalau kemudian dianggap korban KDRT padahal justru lagi bahagia sama pasangan? Kejadian tuh ma Chi beberapa bulan lalu.

Mamah: "Chi, Ibu A tanya ke mamah tentang hubungan kamu sama Arie. Apa baik-baik aja?"
Chi: "Tumben?"

*Namanya sengaja Chi samarin. Lagian Chi gak inget juga siapa nama ibu A yang sebenernya. Chi pun gak pernah bergaul ma tetangga makanya heran aja tiba-tiba ibu A tanya kabar Chi ma K'Aie ๐Ÿ˜‚

Mamah: "Chi inget gak beberapa hari lalu, pas mamah lagi pergi, ada yang anter uang iuran? Chi yang terima, kan?" *mamah Chi bendahara RT
Chi: "Iya. Itu ibu A?"
Mamah: "Bukan, itu ibu B. Katanya pas anter uang iuran dia lihat muka Chi sembap, matanya merah kayak abis nangis."
Chi: "Trus?"
Mamah: "Ya ibu B cerita ke ibu A dan dia langsung menduga kalau Chi lagi kena KDRT. Trus ibu A sampein cerita ibu B ke mamah."
Chi: "Ibu B gak ngomong apa-apa ke Mamah?"
Mamah: "Enggak, tuh. Cuma ibu A aja yang tanya ke Mamah."
Chi: "Iya sih waktu Chi memang lagi nangis. Tapi kan Mamah tau kenapanya. Trus Mamah jawab apa?"
Mamah: "Mamah bilang aja kalau kalian lagi baik-baik aja. Males nanggepinnya."

Sejujurnya, Chi merasa agak kesal dengan cerita mamah. Bukan kesal sama mamah tapi sama ulah 2 ibu itu, terutama ibu B. Mencoba untuk menahan prasangka tapi  rasanya Chi gak begitu yakin kalau ibu B cuma bercerita sama ibu A. Mau marah, Chi merasa gak enak hati sama mamah. Jadi paling nyengir aja. Lagian mamah juga tau kenapa Chi menangis saat itu.

Bel rumah berbunyi saat Chi lagi nangis. Tadinya Chi gak mau bukain pintu karena males aja muka kelihatan sembap banget. Tapi mendengar suara seorang ibu memanggil-manggil nama mamah, Chi pun tergerak untuk bukain pintu.

Udah hampir sebulan keke sakit Typhus dan perkembangannya begitu-gitu aja. Ada peningkatan tapi lambat banget. Di saat yang sama, Chi pun lagi resah sama urusan sekolah Keke. Dia belum tau mau masuk SMP mana. Deg-degan banget ikut seleksi sekolah negeri. 2 kejadian itu yang bikin Chi menangis hampir setiap hari.

[Silakan baca: Keke dan Pencernaan Sensitif]

Untungnya K'Aie lebih sabar, lebih tenang, dan lebih optimis. Gak berhenti kasih Chi semangat dan berusaha bikin suasana ceria. Coba kalau K'Aie juga panikan dan sedihan kayak istrinya bisa-bisa suasana rumah jadi makin muram. Bisa-bisa Chi makin nangis. Jadi ketika Chi dituduh sebagai korban KDRT justru sebenernya lagi deket-deketnya ma suami.

Duh, Bu mending tanya langsung ke orangnya daripada menduga trus nyebarin berita yang gak bener gitu. Tapi yang namanya ngegosip memang sip markusip, sih *eh ๐Ÿ˜“

Jujur aja waktu mamah cerita kayak gitu hati Chi sempat panas. Rasanya pengen nyemprot ibu B saat itu juga. Abis sok tau banget, sih. Masa hanya karena mukanya kelihatan abis nangis langsung digosipin korban KDRT. Emang yang nangis cuma karena KDRT aja?

[Silakan baca: Beginilah Cara dan Rasanya Ikut PPDB Online DKI]

Kalau aja gak enak hati ma mamah, mungkin Chi udah melakukan itu. Tapi Chi akhirnya cuma (terpaksa) nyengir aja. Untung Chi gak melampiaskan emosi. Karena sekarang Chi udah bisa ketawa kalau inget kejadian waktu itu. Dijadikan pelajaran dan ambil hikmahnya aja, deh.

Belajar lebih sabar. Membayangkan kalau aja saat itu Chi langsung melampiaskan emosi pasti akhirannya jadi gak enak. Tarik napas panjang, banyakin istighfar. Digosipin ternyata gak enak. *Kebayang kalau jadi orang ternama yang bisa setiap saat digosipin. Gimana perasaan mereka, ya?

Orang terdekat lebih mengerti. Untuk kejadian itu Chi malas mengklarifikasi apapun, walaupun sempat kesal. Biarin aja, lah Chi gak kenal juga. Lagian yang penting orang-orang tredekat lebih tau dan mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Belajar untuk tidak melakukan hal yang sama. Chi coba berpikir ulang mungkin pernah ada masa dimana Chi pun melakukan hal yang sama. Mudah berprasangka jelek hanya karena melihat sekilas. Ya mungkin sengaja atau tidak Chi pun pernah melakukannya. Jadi sempat ada rasa sesal. Belajar dari pengalaman, berusaha mencoba selalu berprasangka baik saja. Mengurangi prasangka buruk. Dan jangan sampai menggosip serta mengolok-olok yang sebetulnya gak tau kejadian sebenarnya.

Itu cerita di dunia nyata. Cerita antar tetangga. Gimana dengan dunia maya? Justru lebih banyak kayanya. Coba aja perhatikan setiap hari selalu aja ada kehebohan baru. Yang kadang kita berkomentar hanya sebatas ikutan. Baru sebatas katanya dan katanya tapi udah ikut kehebohannya. Bahkan kita terlihat diam pun bisa disangka begini begitu. Sekarang senyum aja, deh. Cape hati kalau dibawa perasaan melulu ๐Ÿ˜‚

[Silakan baca: Tetangga yang Menyebalkan]


There are so many reason to be happy ๐Ÿ’‹