tentang remaja dan trend 
Tentang Remaja dan Trend


Keke: "Bunda, apa kalau udah remaja harus ikut segala hal yang lagi nge-trend?"

Kira-kira seperti itulah pertanyaan Keke sekitar 1 bulan lalu. Chi memilih untuk untuk tidak langsung jawab, malah bertanya balik. Maksudnya, biar Chi tau dulu seperti apa yang Keke pikirkan.

Bunda: "Menurut Keke?"
Keke: "Gak harus, Bun. Kalau kita gak suka atau gak mau, masa harus ikutan?"
Bunda: "Ya, Bunda setuju. Yang namanya trend itu gak harus diikuti. Apalagi di zaman sekarang ini, trend berubahnya bisa setiap hari bahkan kurang. Kayaknya ada aja trend baru. Kita harus punya prinsip dan tegas. Apalagi trend gak selalu baik."

Chi tersenyum ketika berdiskusi tentang hal ini dengan Keke. Remaja dan trend memang mulai menjadi keresahan Chi. Di satu sisi, Chi mengerti tentang hal ini. Biar gimana pernah mengalami masa remaja. Dan, tau banget kalau yang namanya remaja pengen segala diikutin. Apalagi kalau teman-temannya juga ikutan. Rasanya berasa jadi gak bergaul kalau gak ikutan.

Untungnya dulu lingkungan Chi memang baik-baik. Rasanya, trend yang Chi ikutin yang masih baik-baik aja. Sedangkan kalau sekarang udah beda. Alhamdulillah masih berada di lingkungan yang baik. Tetapi sekarang akses informasi udah sangat luas. Dulu paling TVRI aja. Sekarang? Saluran televisi aja udah banyak banget, apalagi kalau kita langganan tv kabel. Belum lagi internet. Dan, anak-anak zaman sekarang, setidaknya Keke dan Nai itu gandrung banget sama YouTube.

Sebetulnya, dari dulu pun udah sering diingatkan untuk bisa berprinsip. Termasuk ketika menyikapi sebuah trend. Untuk belajar mana baik dan buruk. Jangan sekadar ikutan supaya terlihat gaul. Tapi seneng aja kalau dari anak juga memulai obrolan seperti ini. Setidaknya, semacam pernyataan dari anak kalau dia siap untuk berdiskusi.

Bukan berarti, Chi terus bisa bernapas lega, lho. Sesekali Keke juga masih ada rengekannya ketika menginginkan sesuatu. Padahal menurut Chi dan K'Aie, apa yang Keke inginkan itu belum saatnya atau bahkan tidak perlu. Tapi, selama ini masih dalam batas kewajaran, kok. Artinya, kalau permintaannya ditolak gak terjadi drama yang heboh gimana gitu, deh. Masih bisa berdiskusi.

Beberapa hari lalu (7/5), kami sekeluarga long wikenan di Dieng. Ketika sedang berada di Sikunir untuk menikmati sunrise, ada sepasang orang tua yang bercerita kalau mereka sengaja membelikan anaknya kamera untuk 'dimainkan'. Maksudnya, daripada anaknya salah bergaul dan menghabiskan uang orang tua untuk hal yang gak benar seperti narkoba, mendingan beliin kamera aja, deh.

Ternyata, anaknya suka banget. Bahkan, sekarang ini anaknya yang masih di semester 6 salah satu universitas negeri, sudah bisa mencari uang sendiri dari dunia photography. Kabarnya, sudah beberapa lama dikontrak oleh salah satu brand ternama, sehingga sering bepergian kemanapun.

Yang Chi 'tangkap' dari cerita tersebut tentu saja bukan berarti anak harus dibelikan kamera. Tetapi bagaimana usaha mereka supaya anaknya tidak sampai salah pergaulan. Artinya, walaupun anak udah remaja bahkan dewasa sekalipun, orang tua tetap masih bisa bahkan harus berperan. Ya, mungkin tinggal gimana caranya aja kali, ya. Tentunya beda dong cara orang tua menangangi anak ketika masih bayi, balita, dan remaja?

Ah, urusan trend memang sedap sedap gimanaaa ... gitu. Karena Chi pun pernah punya darah muda. Jadi bisa ngerti juga. Tapi, sebagai orang tua juga pastinya sekarang udah punya pertimbangan beda. Sejauh ini belum ada masalah yang berat banget. Semoga aja jangan sampai terjadi. Dan, semoga aja kami semua selalu bisa terus menjaga komunikasi yang baik. Supaya bisa tetap berdiskusi. Aamiin Allahumma aamiin.