Ini cerita sekitar awal bulan Juni. Beberapa hari sebelum kenaikan kelas.

K'Aie: "Kira-kira gimana rapornya anak-anak nanti?"
Chi: "Kayaknya semester ini bagus. Kalau lihat hasil ulangan Keke, nilai-nilainya banyak yang naik. Yang ngeri nilai-nilai Nai, tuh."
K'Aie: "Kenapa? Pada turun semuanya?"
Chi: "Justru pada naik. Dan hampir semua nilai ulangannya 100 terus. Nyaris gak ada yang di bawah 100. Wuiiihh!"
K'Aie: "Bagus, dong. Ngeri kenapa? Dia masih memaksakan diri untuk belajar?" *Baca postingan yang berjudul "Sepertinya Nai Butuh Piknik."
Chi: "Enggak, sih. Alhamdulillah, dia udah lebih santai."
K'Aie: "Trus ngerinya kenapa?"
Chi: "Sebetulnya sih bukan ngeri dalam artian sesuatu yang harus diperbaiki atau gimana. Sejauh ini Nai juga baik-baik aja, udah bisa lebih santai. Tapi, Ayah tau kan gimana Nai. Apalagi kalau sensinya lagi dateng. Bunda sih terus berharap Nai bisa mempertahankan nilai-nilainya. Cuma Bunda juga mikir kalau suatu saat nilainya jeblok, dia bakal kecewa panjang gak, ya? Ya, ini cuma sedikit kekhawatiran Bunda aja, sih."

Chi bukannya gak bahagia anak dapat nilai bagus, lho. Tapi buat Chi berapapun nilai yang di dapat anak, Chi harus tau bagaimana anak mendapatkannya. Kalau anak dapat nilai jelek, cari penyebabnya. Bisa jadi karena malas belajar, sedang sakit, soal ulangannya beda dengan yang dipelajari, dan lain sebagainya. Begitu juga ketika anak mendapat nilai bagus. Karena sebelumnya sudah belajar, soalnya terlalu mudah, atau bahkan mencontek? Dengan tau penyebabnya Chi jadi tau harus bersikap apa. Chi sih gak merasa berlebihan kalau setiap tau hasil ulangan yang diapat anak-anak trus Chi evaluasi.

Seperti Keke, tahun ajaran lalu, dia beberapa kali harus menyelesaikan ulangan math sampai 2 kali pertemuan. Bukan karena gak ngerti, tapi selalu aja waktunya sudah habis sebelum dia menyelesaikan semuanya. Berarti solusinya adalah terus melatih dia supaya bisa lebih cepat mengerjakan soal. Tapi tetap harus teliti.

Bangga anak punya nilainya bagus terus? Nanti dulu... Chi harus yakin kalau nilai bagusnya bukan dari hasil nyontek. Tapi cara nyari taunya bukan dengan cara menginterogasi seperti terdakwa. Bisa-bisa nanti anak malah kecewa karena gak dipercaya usaha jujurnya. Trus kalau semangatnya jadi kendur kan gak baik. Tanya atau ajak ngobrol aja baik-baik. Bisa sambil becanda, sambil ngobrol, dan lain-lain. Sebelumnya puji dulu hasilnya.

Alhamdulillah, Keke dan Nai masih pakai usaha sendiri. Memang Chi gak melihat langsung ketika anak ulangan. Tpai kan bisa tau dari laporan guru. Dan, dari hasil ngobrol dengan anak-anak. Orang tua pasti bisa lebih tau bagaimana karakter anak. Bisa pakai feeling apakah anak berbohong atau tidak.

Hasil rapor kenaikan tahun ajaran lalu, nilai Keke naik dibanding semester ganjil. Kalau semester ganjil, nilai akademisnya banyak angka 9 bawah (nilai 90 s/d 94). Semester genap, mulai lebih naik angka 9nya. Naima nilai-nilainya juga naik dibanding semester ganjil. Dan Nai mendapat ranking 1. Mulai tahun ajaran lalu, setiap anak yang mendapatkan rangkin 1 s/d 3, mendapatkan sertifikat. Tapi di luar ranking 3, gak disebutkan rangkingnya.

Ngomong-ngomong tentang was-was. Chi bukan gak bahagia dan bersyukur anak-anak nilainya bagus, lho. Termasuk Nai yang ranking 1. Tapi selain Chi harus tau darimana mereka mendapatkan nilai bagus, Chi juga harus mempersiapkan mental anak-anak kalau sewaktu-waktu dapat jelek. Keke pernah dapat nilai jelek. Dan dia orangnya cuek. Dapet nilai bagus dia happy, dapet jelek dia cuek hahaha. Paling Chi sesekali harus mengingatkan jangan terlalu cuek. Harus belajar mengevaluasi. Nai belum pernah dapat nilai jelek. Ada kekhawatiran kalau dia sekalinya dapat nilai jelek akan kecewa. Makanya, Chi merasa perlu berdiskusi hal ini dengan K'Aie. Semoga Nai bisa menyikapi dengan baik kalau sampai terjadi. Walopun semoga jangan juga dapet nilai jelek :p

Semangat terus belajarnya ya, Nak. Semoga nilai Keke dan Nai bisa terus baik. Attitudenya juga. Alhamdulillah, attitude Keke dan Nai pun di mata para guru juga masih positif. Satu pesan khusus buat Nai, semoga tahun ajaran ini gak keseringan ketinggalan tempat pensil hehehehe