Cerita waktu Keke lahir, ya. Namanya juga melahirkan anak pertama, pasti bahagia banget, dong. *Waktu ngelahirin anak kedua juga bahagia banget, ding :D* Apalagi Keke lahir dengan tubuh yang sehat dengan berat 3,99 kg dan tinggi 51 cm. Pokoknya dari proses melahirkan hingga memberi ASI semuanya lancar. Sampai sehari sebelum pulang dari rumah sakit, hasil lab menyatakan kalau Keke kelebihan bilirubin akibatnya badannya kuning.

Lebihnya gak banyak, sih. Cuma nol koma sekian dari angka normal. Dokter menyarankan supaya Keke tetap di rumah sakit hingga bilirubinnya kembali normal. Setelah berdiskusi dengan K'Aie, kami memutuskan untuk tetap membawa Keke pulang. Chi bener-bener gak siap kalau anak sekecil itu udah harus dirawat. Chi panik dan stress, lah. Trus merasa bersalah juga.

Kami pikir lebihnya kan gak banyak. Mudah-mudahan cukup dengan dijemur di pagi hari, bilirubinnya bakal turun. Karena permintaan pulang pasien berasal dari kami, maka kami diminta untuk menandatangani surat pernyataan. Dan diminta untuk kontrol 2 hari kemudian.

Lha, gak taunya besok dan lusanya matahari gak muncul-muncul. Memang sih lagi musim hujan saat Keke lahir. Jadi aja dia dijemurnya gak maksimal. Hasilnya begitu kami kontrol lagi, bilirubin Keke semakin tinggi. Over 2 koma sekian gitu, deh. Dokter langsung mengharuskan dirawat kecuali kami mau menanggung resiko yang lebih besar lagi. Kalau bilirubinnya udah sangat over bisa berpengaruh ke tumbuh kembang anak, lho. Malah darahnya harus diganti dulu. Serem, ya. Makanya jangan anggap remeh kuning pada bayi. Gak mau ambil resiko lebih tinggi lagi, kami pun nurut sama perintah dokter. Tapi tetep aja bikin Chi sedih banget melihat anak masih bayi udah harus dirawat.

Dokter bertanya beberapa hal ke Chi. Apa setelah melahirkan, Chi minum jamu? Minum soda? Kasih kamper ke pakaian bayi? Dan beberapa pertanyaan lain. Pertanyaan tersebut untuk mengetahui dari mana penyebab bayi kuning. Memang sih kebanyakan bayi kuning itu bukan karena penyakit karena umumnya bayi baru lahir fungsi hatinya belum sempurna. Tapi tetep harus dicari tau. Siapa tau ada sesuatu yang dikonsumsi atau dipakai yang menjadi pemicunya. Atau bisa juga kuningnya karena penyakit.

Setelah melakukan serangkaian pertanyaan, dokter anak mempunyai kesimpulan sementara kalau penyebab badan Keke kuning adalah perbedaan golongan darah dengan bundanya. Ibu yang bergolongan darah O memang bisa menyebabkan anaknya kuning apabila golongan darah anaknya tidak sama. Penyalurannya bisa lewat ASI. Ada penjelasan medisnya, sih. Tapi bisa dicari juga ke Google kenapa perbedaan golongan darah ibu dengan anak bisa menyebabkan kuning. *sempet feeling guilty pas tau penyebabynya karena beda golongan darah*

Karena over bilirubinnya belum terlalu besar, dokter anak meminta Chi untuk tetap memberi ASI. Tapi karena Keke masuk ruang perawatan, jadi ASInya Chi perah trus dimasukin ke botol. Kalau lagi menjenguk, bisa Chi kasih ASI langsung.

Untung juga ada yang kasih kado botol susu saat Keke lahir. Ya, walopun Chi udah bertekad ASI, tapi itu botol susu tetep kepake juga kalau lagi darurat gitu hehehe. Pompanya aja yang mendadak beli. Jadi kalau ada calon ibu yang sama kayak Chi bertekad untuk ASI, tetep sediain aja perlengkapan bayi kayak botol susu. Gak perlu banyak, cukup 1-2 botol. Yang penting ada, siapa tau mendadak butuh.

Pokoknya walopun belum tentu penyakit, tapi jangan pernah anggap remeh kuning pada bayi yang baru lahir. Alhamdulillah, Keke cuma 2 malam di rumah sakit. Ketika Nai lahir juga dia sempat kuning. Karena udah pengalaman waktu Keke, kami pun lebih tenang. Nai uga disarankan dirawat, tapi kami memilih untuk dibawa pulang dan dirawat di rumah. Gak cuma dijemur, kami membeli lampu buat terapi sinar

Untuk terapi sinar, sebaiknya kita jangan sok tau. Harus konsultasi dulu ke dokter. Tanya sebanyak-banyaknya. Karena kalau gak benar melakukannya juga bisa berbahaya buat bayi. Jadi selalu hati-hati banget, ya :)