Yaelah, udah mau naik kelas, ini masih nulis tentang rapor bayangan hihihi. Gak apa-apa lah, tetep harus ditulis karena bagian dari perjalanan Keke. :)


Akademis


Alhamdulillah, akademisnya masih bagus-bagus nilainya. Malah di pelajaran bahasa Arab Keke dapat 100. Peningkatan yang cukup pesat mengingat pas semester ganjil cukup ngos-ngosan untuk pelajaran bahasa Arab.


Sikap


Menurut wali kelas, ada yang mulai berubah dari sikap Keke. Dia masih tetap anak yang berani bicara, berani tampil beda, tapi kali ada perubahan yang mengarah ke arah yang perlu 'dikasih catatan'.

Dulu, kalau kelas lagi berisik, Keke bisa mengajak teman-temannya untuk tertib dan belajar. Tapi, sekarang justru dia yang kadang mengajak teman-temannya berisik. Contohnya, ketika wali kelasnya pamit sebentar untuk meninggalkan kelas, wali kelas meminta anak-anak untuk mempelajari buku pelajaran di halaman yang udah ditentukan.

Keke : "Santai aja lah, Pak. Kan, nanti diajarin juga sama Bapak. Jadi, kenapa harus belajar sendiri, sih?!"

Wadaaaauu!! Langsung tepok jidat hehehe..

Trus, kalau di sekolah Keke dan Nai itu ketua kelas bergantian. Jadi, gak kayak zaman Chi dulu kalau yang pegang jabatan itu-itu aja :D

Ketika Keke dapat giliran menjadi pemimpin kelas. dia kurang bisa menyikapi kalau terjadi perbedaan pendapat antara dia dengan anggota kelas. Keke biasanya akan ngotot dengan pendapatnya. Dia gak akan maksa teman-temannya untuk ikut pendapatnya, sih. Dia justru akhirnya cenderung cuek, membiarkan masing-masing anggota mengambil jalannya sendiri-sendiri.

Comtohnya, ketika waktunya sholat dzuhur. Semua siswa berjamaah di aula lantai 4. Jalan terdekat dari kelas Keke (lantai 1) ke aula adalah lewat sebelah kiri kelas. Hari itu, Keke kepengen lewat sebelah kanan. Alasannya, bosen lewat jalan yang sama setiap harinya. Sementara, mayoritas temannya gak setuju dengan alasan kalau lewat kanan agak jauh.

Karena gak juga ada kesepakatan, akhirnya Keke membiarkan teman-temannya tetep lewat jalan yang sama. Dia dan salah seorang temannya lewat jalan lain hehehe.

Selesai sholat, Keke ditanya sama wali kelas kenapa mengambil jalan yang berebda dengan temannya. Dengan alasan yang sama, Keke pun memberikan penjelasan ke wali kelas. Dia juga bilang apa salahnya mencoba sesuatu yang baru. Kan, bosen lewat jalan yang sama terus setiap hari.

Wali kelas gak menyalahkan Keke. Bisa dimengerti kalau Keke pengen suasana baru. Tapi, kadang keinginan kita harus terhalang dengan yang namanya kebersamaan. Disitulah Keke harus belajar mengalah demi kebersamaan.

Apa Chi marah denger laporan dari wali kelasnya itu? Enggak, kok. Pas wali kelasnya cerita aja Chi ketawa aja hehehe.

Memang sikap Keke ada beberapa yang harus mulai dikasih catatan, tapi bukan berarti sepenuhnya dia salah, kok. Ini beberapa catatan yang kemudian Chi ajak Keke untuk berbicara:


  1. Tentang sikap Keke yang mulai menentang untuk menolak belajar memang gak bisa dibenarkan. Tapi, dia punya keberanian untuk berpendapat. Hanya aja perlu kita luruskan supaya jangan seperti itu lagi. Keberanian berpendapatnya sih jangan sampai hilang. Tetap harus ada,.
  2. Keinginan Keke yang ingin sesekali merasakan sesuatu yang baru memang bukan hal aneh. Dari dulu Keke selalu bosan kalau yang dilakukan itu-itu terus. Dan, memang gak salah kan? Cuma, dia memang harus belajar juga untuk bertoleransi. Ya, pokoknya belajar lihat situasi, lah.

Yup! Itu catatan dari wali kelas Keke pas rapor bayangan lalu. Hmmm... kira-kira rapor kenaikan kelas nanti kayak gimana, ya? Mudah-mudahan bagus :)