Buat Chi salah satu hal terberat ketika punya anak laki-laki adalah kapan waktu terbaik untuk disunat? Apalagi bagi kami yang muslim, sunat itu wajib bagi laki-laki. Ya, walopun ada juga yang bilang sunat itu sunnah, tapi Chi gak mau berdebat tentang hal ini. Lagipula apapun itu sunat bagi laki-laki juga baik buat kesehatan.

Tapi membuat anak mau disunat hanya dengan bilang kalau itu adalah wajib, rasanya gak semudah seperti kita mengucapkannya. Setidaknya bagi Keke seperti itu. Apalagi Chi juga termasuk yang gak tegaan. Dari dulu kalau anak harus disuntik untuk imunisasi aja rasanya Chi lebih memilih untuk gak ikut ke ruang periksa. Walopun tetep aja Chi akhirnya pasti masuk untuk nemenin anak-anak :D

Selasa kemarin (2/7), alhamdulillah, Keke sudah disunat. Sebetulnya dia udah minta dari lebaran tahun lalu. Cuma setelah kami pikir-pikir, kayaknya ribet banget, ya. Disaat banyak orang saling bersilaturahmi, kami malah sunatan. Jadi kami pun bilang ke Keke untuk ditunda dulu sampe waktu yang belom ditentukan :p Dan setiap ada tanggal merah long wiken, Keke suka tanya kapan disunat?

Ya udah karena dia nanya terus akhirnya kami putusin liburan ini Keke disunat. Awalnya Chi sempet merasa bakal gagal lagi rencana sunatnya, kerena tanpa diduga K'Aie ngajak jalan-jalan. Eh, gak taunya hari Kamis minggu lalu, K'Aie putusin Keke disunat setelah pulang jalan-jalan dan Keke pun gak keberatan. Bener-bener rencana mendadak, karena daftar aja belom. Dan sukses bikin kaget kakek-nenek Keke :D

Oiya, ini tips yang kami lakukan supaya Keke mau disunat :


  1. Mulai mengenalkan apa itu sunat. Seperti yang Chi tulis diawal, anak belum tentu langsung mau kalau kita hanya mengatakan sunat itu wajib. Paling gak kalau Keke pasti akan bertanya kenapa begini-begitu, yang panjang pertanyaannya bisa jauh melebihi panjang kereta api :D tapi bukan berarti kita gak bisa mengenalkan tentang sunat, kan? Pake bahasa yang mereka mengerti alias jangan yang terlalu ilmiah yang bikin mereka makin susah paham.
  2. Sunat itu sakit. Walopun metode sunat zaman sekarang katanya udah jauh lebih canggih, tapi kalau dari info-info yang Chi baca atau denger, tetep aja ada rasa sakitnya. Paling gak saat disuntik bius atau ketika efek biusnya mulai hilang. Dan Chi pernah baca katanya kalau anak tanya apakah sunat itu sakit, sebaiknya bilang tidak. Karena kalo bilang yang sebenarnya, anak akan jadi takut. Tapi Chi justru berpendapat sebaliknya, walopun resiko kemungkinan membuat Keke jadi takut itu bisa terjadi. Cuma Chi gak mau kalo bilang sunat itu gak sakit dan ternyata keadaan berbicara lain, Keke jadi menganggap kami udah berbohong. Ribet urusannya kalo anak sampe gak percaya sama orang tuanya nanti. Yang harus dicatat adalah, mengatakan yang sebenarnya BEDA dengan menakut-nakuti.
  3. Besarkan hatinya. Karena udah membuat Keke jadi jadi takut dengan menjawab apa adanya, maka kami pun bertanggung jawab harus membesarkan hatinya. Biasanya Chi dan K'Aie puji-puji Keke kalau dia anak yang hebat pasti bisa mengadapi rasa sakit. Trus kan Keke kalo ditanya cita-citanya selalu aja menjawab pengen jadi tentara, Chi suka bilang kalau pengen jadi tentara berarti harus belajar kuat dan tabah. Chi pikir dengan cara memberikan pujian akan mampu memberi sugesti ke anak kalo dia memang hebat dan kuat.
  4. Ingatkan tentang rasa sakit. Semua manusia pasti pernah ngerasain sakit, kan? Begitu juga Keke. Kadang kalau Keke lagi khawatir tentang rasa sakit kalau disunat, Chi suka ingatkan gimana rasanya waktu digigit semut. Keke bilang rasanya sakit. Trus Chi bilang walaupun sakit, tapi kan gak lama setelah itu sakitnya hilang. Nah, begitu juga kalau disunat. Chi juga ingetin waktu Keke harus dirawat karena typus, dimana dia beberapa kali harus pindah telapak tangan untuk infus dan juga ambil darah. Yang awalnya sempet takut pas ambil darah, lama-lama jadi cuek aja tiap kali jarum infus masuk telapak tangannya. Chi sengaja ingetin masa-masa itu supaya Keke bisa ngebayangin kira-kira sakitnya saat disuntik seperti apa jadi dia bisa mencoba untuk mengontrol rasa takutnya.
  5. Pengaruh lingkungan. Chi juga pernah baca katanya sebaiknya anak yang belum sunat dijauhkan dulu dari anak yang sudah sunat. Tujuannya supaya anak yang belum sunat tidak takut gara-gara mendengar cerita proses tentang sunat. Cuma Chi pikir ribet banget, ya. Kadang kita kan gak bisa ngontrol hal kayak gitu. Contohnya temen sekelas Keke udah ada beberapa yang sunat, biasanya tiap kali ada temennya yang abis sunat, Keke suka cerita. Nah masa' Chi harus minta jauhin temennya yang udah sunat hehehe. Lagian kata Chi malah lingkungan bisa mempengaruhi. lho. Bisa jadi karena udah ada beberapa temennya yang sunat, Keke jadi makin kepengen sunat. Yang pasti, sih, ada sepupu Keke yang usianya sepantaran, beberapa hari lalu juga abis sunat. Kalo menurut cerita orang tuanya (kakak ipar Chi), anaknya udah ditawarin dari tahun lalu untuk sunat tapi belum mau juga karena takut. Kira-kira 2 minggu lalu ketemuan sama Keke dan Keke cerita kalo mau disunat. Langsung, deh, sepupu Keke ini minta sama orang tuanya untuk disunat. Alasannya karena Keke mau disunat. Orang tuanya begitu tau anaknya minta, langsung daftar ke rumah sakit. Ya, daripada anaknya berubah pikiran lagi. Nah, itu bukti kalo lingkungan juga bisa mempengarui, kan? :)

Itu 5 tips dari Chi dan terbukti berhasil untuk Keke. Semoga tip ini berguna untuk para orang tua yang lagi galau dengan pertanyaan kapan anak mau disunat :D Silakan kalau ada yang mau menambahkan lagi. Untuk cerita proses sunatnya, nanti dipostingan selanjutnya. Kepanjangan kalo di tulis di sini semua :)