Kedua anak saya, Keke (9th) dan Nai (7th) lahir di era teknologi. Sebetulnya saya gak ingin anak-anak gagap teknologi, tapi mengingat banyaknya info yang saya dengar atau baca tentang bahaya teknologi bagi anak-anak, antara lain menjadikan anak malas, ancaman obesitas, terganggunya kesehatan mata, pornografi, dan lainnya, sempat membuat saya 'parno' dan tidak ingin mengenalkan teknologi kepada anak.

Waktu baru punya Keke, saya hanya mengenalkannya kepada televisi itupun dengan tayangan yang sangat dipilih dan waktu menonton yang terbatas. Sedangkan untuk teknologi lain tidak saya kenalkan sama sekali. Salah satu konsekuensinya adalah saya dan suami harus mengurangi kegiatan bermain video games yang menjadi kegemaran kami berdua. Setidaknya jangan bermain video games saat anak belum tidur.


Berawal dari video game


Sayangnya seketat apapun peraturan yang saya berikan, akhirnya 'kecolongan' juga. Karena Keke mulai mengenal game dari Om-nya. Bisa aja, sih, sebetulnya saya tetap memberikan larangan ke Keke, tapi setelah dipikir-pikir lagi kami memutuskan untuk mengenalkan. Alasannya banyak hal umumnya seperti mata uang yang memiliki dua mata sisi. Sisi mana yang mau kita diambil itu pilihandan ada usaha yang kita lakukan sekaligus meminimalkan sisi yang lainnya. Dan berkaitan dengan teknologi saya dihadapkan pada pilihan hobi atau candu?

Lagipula saya khawatir kalau terlalu melarang, anak-anak malah akan sembunyi-sembunyi melakukannya. Karena pada dasarnya keingin tahuan anak itu tinggi. Terbukti setelah Keke dan Nai mulai bisa berkomunikasi, mereka selalu bertanya 'kenapa' setiap kali mendapat larangan. Alasan itu penting.

Walopun begitu mereka tidak bebas begitu aja, ada rambu-rambu yang harus dipatuhi oleh anak-anak yaitu :


  1. Ada batasan waktu - Senin s/d Jum'at, sepulang sekolah (sekitar pukul 14.00) mereka boleh bermain sepuasnya sampai sore hari (sekitar pukul 17.00). Itu artinya mereka punya waktu bermain kurang lebih sekitar 3 jam. Kalau lagi libur, mereka boleh bermain agak lama.
  2. Kombinasi permainan - Saya selalu mengingatkan, walopun mereka punya waktu bebas untuk bermain, sebaiknya tidak terus menerus duduk untuk bermain game tapi kombinasiin dengan permainan fisik seperti lari-larian atau bersepeda. Permainan fisik itu ka seperti berolahraga. Atau kalau pun tetap ingin bermain game, pilihkan juga game yang mengajak pemainnya menggerakkan badan.
  3. Kewajiban harus diutamakan - Dalam waktu bermain itu ada waktunya untuk sholat, makan, dan mandi. Sehabis maghrib, mereka juga harus belajar. Dan itu gak bisa diabaikan. Tidak melaksanakan kewajiban, berarti tidak mendapatkan hak untuk bermain.
 
    Keseharian mereka dalam bermain tetap diselingi dengan kegiatan bersepeda. Kadang mengendarai sepeda masing-masing, tapi kadang Nai pengen dibonceng sama kakaknya.


    Selama ini, Keke dan Nai cukup tertib menjalankan rambu-rambu yang sudah diberikan. Walopun sesekali mereka lalai. Biasanya ketika waktunya belajar malam, kadang kalau siangnya terlalu cape bermain atau mereka lagi asyik nonton tv atau kegiatan lain, suka agak susah diajak belajar. Kalo udah begitu saya suka mengingatkan tentang hak dan kewajiban mereka. Lagipula kalo mereka tertib belajarnya, biasanya gak perlu memakan waktu lama. 1 jam juga cukup, setelah itu mereka boleh bermain lagi sejenak kalau belum mengantuk. Lalu saya suka ngingetin lagi, waktu untuk belajar dan bermain lebih banyak setiap harinya. Nanti biasanya mereka cengengesan dan mau belajar lagi :)


    Mulai mengenal internet hingga smartphone


    Walau kelihatannya sedang asik sendiri tapi sebetulnya mulut mereka juga asik ngobrol dan becanda-canda


    Setelah sebelumnya mereka hanya bermain video game menggunakan konsol, lama-lama mereka mulai mengenal internet melalui komputer kemudian merambah hingga smartphone. Menakjubkan sebetulnya melihat anak-anak cepat sekali mengerti bagaimana menggunakan beraneka teknologi tersebut.

    Walopun sudah merambah hingga smartphone, rambu-rambu yang diberikan tidak mengalami perubahan. Selain rambu-rambu untuk Keke dan Nai, sebagai orang tua kami juga melakukan hal-hal berikut :


    1. Konsisten - Dalam menerapkan rambu-rambu kita harus konsisten
    2. Jangan gaptek - Perkembangan teknologi itu pesat sekali. Dan anak-anak  bisa dapat informasi dari mana saja. Saya aja beberapa kali mendapat info baru justru dari anak-anak. Dan saya tidak merasa malu untuk bertanya kepada mereka.
    3. Pegang password mereka - Keke dan Nai sudah punya blog, walopun mereka masih jarang-jarang menulisnya. Dan saya dan suami tau password mereka. Pernah suatu hari Keke bertanya 'Kenapa Ayah dan Bunda harus tahu password Keke? Bukannya password itu kata Bunda rahasia?'. Saya lalu jelaskan kalo mereka masih dibawah umur yang artinya masih tanggung jawab penuh orang tua. Dan selama masih tanggung jawab penuh orang tua, maka dalam segala hal orang tua harus tahu.
    4. Proteksi dari link-link porno - Kalau di rumah semua link yang mengandung kata-kata tertentu itu di protect. Mereka tidak bisa membuka. Jadi setidaknya di rumah cukup aman. Cuma memang kalau di luar rumah tidak ada proteksi. Untungnya karena mereka masih anak-anak, penggunakan mobile internet masih dalam pengawasan orang tua. Mereka belum boleh membawa gadget sendiri tanpa orang tua. Jadi setidaknya kami masih bisa mengawasi.Untuk orang tua yang anaknya suka ke warnet, coba sesekali mengunjungi warnet terutama yang sering didatangi anaknya. Kadang bahasa-bahasa pengunjung warnet suka ada yang kasar dan gak pantas didengar. Kalo orang tua menemukan hal seperti itu harus sering-sering memberitahu anaknya untuk jangan ikut-ikutan.
    5. Ajarkan mereka cerdas - walopun sudah ada rambu dan beberapa proteksi tapi penting untuk mengajarkan mereka juga menjadi pintar. Saya beritahu mana hal yang baik dan buruk. Menguatkan ajaran agama. Mengajarkan mereka untuk tidak mudah ikut-ikutan. Tetap menjaga perilaku yang baik dan jaga lisan. Jangan sembarangan buka link-link ketika sedang internetan. Jangan mudah menyebarkan berita-berita yang kita sendiri gak paham. Ketika menggunakan smartphone, seringkali mendapat sms atau broadcast yang gak jelas. Yang ujung-ujungnya diminta menyebarkan berita tersebut, kalo enggak akan begini-begitu. Saya mengajarkan anak-anak untuk jangan menyebarkan, apalagi kalo udah pakai 'ancaman'. Selain mengganggu yang menerima juag seringkali mengarah musyrik. Lagipula pengguna smartphone harus cerdas, jangan cuma untuk gaya-gayaan. Makanya saya harus mengajarkan mereka untuk cerdas menggunakan segala teknologi itu.
    6. Ajarkan mereka untuk bisa memproteksi diri sendiri - Kami selalu mengingatkan mereka untuk tidak memberikan data pribadi seperti alamat, no telpon sembarangan. Kalau mereka mau upload foto pun harus dipilih-pilih, jangan sampe yang aneh-aneh yang bisa disalahgunakan oleh orang gak bertanggung jawab.
    7. Kasih mereka kepercayaan - Kalo saya perhatiin Keke dan Nai lebih suka dikasih kepercayaan daripada dilarang. Walopun sesekali pernah melanggar kepercayaan orang tua, tapi kalo dilarang mereka pasti suka lebih banyak protesnya. Lagipula mereka lebih semangat menjalankan sesuatu kalo dikasih kepercayaan
    8. Tunjukkan kegiatan lain yang menyenangkan - Anak bisa menjadi hobi bahkan kecanduan terhadap mobile internet karena gak punya kegiatan lain yang menyenangkan. Selain bermain sepeda, Keke senang main mobil-mobilan, sedangkan Nai senang menggambar dan berkreasi. Jadi keseharian mereka juga gak terus-terusan diisi dengan internetan atau main video game saja.

     

      Komunikasi memegang peranan utama


       
      Mereka juga sering main bersama-sama hanya dengan menggunakan 1 gadget saja. Seru juga kalo melihat mereka asik bermain berdua :)


      Berkomunikasi dengan anak-anak itu sangat penting. Rambu-rambu dan segala peraturan lainnya akan berjalan baik kalau komunikasi terjalin dengan baik. Keke dan Nai bebas bertanya dan mengungkap apa saja pemikiran mereka kepada orang tuanya.

      Dari zaman apapun biasanya anak lebih suka berkomunikasi dengan teman. Alasannya, sih, ngobrol dengan teman itu lebih asik daripada dengan orang tua. Mungkin karena teman tidak menggurui. Dan karena kami juga pernah mengalami masa seperti itu, maka saya dan suami berusaha menjadi teman mereka ketika berkomunikasi walopun untuk saat-saat tertentu tetap harus menunjukkan bahwa kami adalah orang tua mereka.


      Manfaat dari semua teknologi itu


      Ya, sekali lagi semua seperti mata uang. Dan sisi yang bisa kami dapat dengan mengenalkan mereka kepada teknologi adalah :

      1. Pintar dan berani berbahasa inggris - video game dan juga dunia internet umumnya berbahasa inggris. Oiya Keke dan Nai juga suka nonton channel seperti disney, disney junior, dan nickleodeon. Mereka sering bertanya tentang kata-kata dalam bahasa inggris. Lama-lama saya mengajarkan mereka cara mencari arti kata melalui internet. Kosa kata mereka bertambah, dan keberanian mereka untuk berbahasa inggris pun meningkat.
      2. Membantu belajar - Orang tua gak selalu tau segalanya. Pelajaran sekolah yang semakin susah, pertanyaan anak-anak yang juga kritis-kritis, keberadaan internet sangat membantu. Seringkali saya juga mengajak mereka untuk sama-sama mencari tahu melalui internet. Selain supaya mereka tau caranya, juga mengajak mereka untuk berdiskusi
      3. Tidak gaptek - Cepat atau lambat mereka pada akhirnya juga akan bersentuhan dengan teknologi. Waktu liburan kemarin, Keke yang membantu ayahnya selama dalam perjalanan. Dia sering membantu ayahnya mengarahkan jalan, caranya dengan membaca GPS. Keke sudah mahir menggunakan GPS walopun diajarkan sesaat.
      4. Menambah keakraban - katanya kalo kita sudah bersentuhan dengan teknologi terutama mobile internet, akan asik dengan dunianya sendiri. Sosialisasi dan juga kebersamaan berkurang. Kami tidak merasakannya sampai saat ini. Seringkali kami membuka internet bersama-sama, entah itu untuk belajar ataupun sekedar mencari hiburan. Ada kalanya kami juga asik dengan gadget masing-masing. Tapi sering juga walopun masing-masing pegang gadget (bahkan sering duduknya saling bersebelahan), kami tetap seru berkomunikasi. Bahkan komunikasinya suka seru, karena campur aduk. Komunikasi dengan jari-jari (chatting) tapi mulut juga berkomunikasi membicarakan chat yang sedang dilakukan. Seru aja! Sering ketawa-tawa juga jadinya :D
       
      Saya bisa mengatakan kalo kedekatan Keke dan Nai masih sebatas hobi, belum sampai kecanduan. Terlihat dari nilai-nilai pelajaran mereka masih bagus-bagus sampai sekarang. Begitu juga dengan perilaku mereka. Masih wajar dan belum mengkhawatirkan. Alhamdulillah. Tentu aja cara yang sudah kami lakukan ini harus terus dipertahankan, dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

      Saya adalah seorang ibu rumah tangga yang tentu saja punya banyak waktu untuk mendampingi anak-anak. Saya tidak mempunyai pengalaman sebagai ibu yang berkarir ketika sudah mempunyai anak. Tapi semasa saya kecil hingga dewasa, mamah saya adalah wanita karir. Dan saya melihat sesibuk apapun orang tua, komunikasi juga merupakan bagian terpenting dalam mengawasi dan mengajari anak-anak.